
"Gimana Ris? kamu cari pedagang yang lain pun tak jauh berbeda. Diameter segitu rata-rata harganya pun 12 juta-an." Wisnu menyakinkan Riska.
Perempuan yang sedang melamun itu menatap Wisnu yang tengah serius menatap wajahnya.
Kemarin aku beli di bawah itu harganya aku kasih 9 jutaan. Makannya aku kasih ke kamu ini termasuk berani, Ris. Dua belas jutaan."
Sebagai seorang pedagang sekaligus pengrajin Wisnu tahu saat ini Riska sedang di landa kebimbangan.
Seorang pedagang emang harus pandai bernegosiasi agar lawannya mudah luluh.
"Oke baiklah. Aku setuju. Tapi tolong kirim langsung ke rekening ku, takut berubah pikiran."
"Oke, deal. Sebutkan no rekening kamu. Aku transfer sekarang." Wisnu yang seorang pembisnis tidak pernah kekurangan uang untuk modalnya.
Dengan cepat Riska menyebutkan nomer rekeningnya.
Setelah mengutak-ngatik handphone nya, beberapa menit kemudian Wisnu menunjukkan bukti mutasi saldo ke Riska.
"Oke terima kasih." Ucap Riska setelah menerima notifikasi m-banking. Sejumlah uang sebesar 12 juta masuk ke dalam rekening miliknya.
"Sepertinya besok sore aku menebangnya." Wisnu pun mulai berkemas. Wisnu memakai jaket nya kemudian memasukkan rokok milik nya ke dalam saku jaket miliknya.
"Kalau bisa jangan sore lah, besok pagi saja. Soalnya aku takut keburu di jual sama orang yang punya tanah." Ada kekhawatiran dari raut wajah Riska.
Takut-takut bibi nya sedang membutuhkan uang, lalu uang itu di jual ke orang lain. Sementara Riska sudah menerima transferan dari Wisnu.
"Aku usahakan yah. Tapi kenapa buru-buru?." tanya Wisnu.
"Iya itu tadi. Sebenarnya itu bukan punyaku atau milik orang tuaku. Tapi pemiliknya sudah mengambil uang Ibuku secara paksa sebesar 7 juta. Tentu aku tidak terima, makanya aku jual pohon itu secara diam-diam."
Mendengar keterangan Riska, wajah Wisnu pias seketika. Takut membanyangi dirinya. Wisnu tidak menyangka membeli pohon sengketa itu merasa takut kalau urusan nya akan runyam.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak ngomong dari tadi Ris? Bagaimana kalau yang punya menuntut ke pengadilan. Ini akan menjadi perkara berat, Ris. Dan aku tidak mau di seret-seret. Aku tidak mau di sangka sebagai penadah kayu bermasalah, Riska!" Wisnu protes terhadap sikap Riska seolah melibatkan dirinya pada urusan hukum.
"Kamu tenang saja, saudara. Masalah ini tidak akan menjadi besar dan ribet. Percaya sama aku. Masalah itu akan cepat selesai. Aku tahu bagaimana orang itu. Dia tidak akan berani menuntut, hanya dengan cara ini aku bisa menagih uang yang dia ambil dari ibuku, Nu. Seandainya ada masalah pun aku punya teman seorang pengacara. Kamu tenang saja!." Riska menyakinkan Wisnu.
"Benar yah! Aku tidak mau terlibat dengan hukum." Wisnu mewanti-wanti yang di balas anggukan oleh Riska.
"Ya udah gitu aku pamit." Wisnu pamit kepada Riska. Riska melepas kepergian temannya dengan senyum kemenangan.
"Sudah beres, Nak?" Ratih muncul dari balik pintu. Suara nya membuat Riska membalikkan badan.
"Sudah, Mah. Laku dua belas juta. Itu rezeki mamah." Riska bersemangat, berbanding terbalik dengan Ratih.
"Nanti yang lima juta kembalikan kepada Narti. Mama tidak mau mengambil hak orang lain, cukup mengambil hak Mama saja."
"Okelah! Tapi, nanti yah. Setelah semuanya beres. Riska suka geregetan dan ingin memberikan pelajaran pada adik Mama itu!" Riska mengelus pundak ibunya yang terus berjalan masuk.
***
"Nak, kamu makanlah dulu!." ujar Narti pada anaknya, Siska. Dia menyendokkan bubur ke arah mulut anaknya. Tapi sama sekali tidak diindahkan oleh Siska.
Nampak Siska yang masih termenung memandang lurus ke depan. Siska sedang memikirkan bagaimana nasib nya ke depan, bagaimana jika Sanusi mengetahui kalau anak nya meninggal dunia? begitu lah yang sejak tadi dia pikirkan.
Sementara Danang, dia tertidur di kursi roda miliknya, tampak gurat lelah menghiasi wajahnya.
"Ada apa, Nak? kenapa kamu diam saja?." tanya Narti yang cemas dan khawatir dengan kondisi anaknya.
Siska mengalihkan pandangan nya ke arah ibunya.
"Bu, Ibu mau kan bantuin Siska?." tanya Siska menatap penuh harap Ibunya.
"Bantuin apa? tentu Ibu akan berusaha untuk membantu kamu."
__ADS_1
"Ibu bisa kan cari bayi yang usia nya seusai dengan anak Siska?."
Narti mengerutkan kening, dia heran dengan pertanyaan Siska yang terdengar aneh.
"Apa yang ingin kamu lakukan Siska? jangan aneh-aneh deh!"
"Shuutt... Bu jangan keras-keras nanti Mas Danang bangun. Ibu mau bantuin aku ngga?"
Narti terdiam, "Untuk apa bayi itu Siska?." rasa penasaran mengungkung Narti saat ini.
"Ibu nggak usah banyak tanya, Ibu mau kan duit yang banyak?."
"Duit? jangan bilang kamu mau menjual anak itu, Siska?." Narti yang sebenarnya sudah pusing dengan gunjingan saudara serta tetangga tentang kelakuan anaknya itu, tidak mau lagi mencari adalah baru.
"Siapa yang mau menjual sih, Bu? Ini, ada orang yang sedang mencari bayi dan mau di adopsi sama dia. Nah, kalau aku berhasil mencarikannya maka akan dapat uang. Banyak loh, Bu. Ibu mau kan duit?."
"Maksud mu Ibu harus mencari bayi yang mau di adopsi, begitu?."
"Iya begitu, Bu. Ibu harus segera mencarikan dan segera kasih tahu aku secepatnya. Ini sangat, sangat menguntungkan, Bu." Siska yang sudah kehilangan akal pun tidak peduli lagi bagaimana resiko nya mengganti anaknya yang telah mati dengan anak orang lain.
"Baiklah, kalau itu mau mu. Ibu akan carikan. Kamu sudah pulih kan sekarang? rencana nya besok, ibu akan pulang ke kampung. Ibu nggak akan tenang kalau kamu masih dalam keadaan lemah seperti ini, makannya kamu makan ini, supaya lekas pulih." ucap Narti.
"Iyah, Siska sudah tidak apa-apa kok Bu. Pokoknya ibu cepat carikan bayi itu yah, keuangan kita sudah semakin sulit sekarang. Beruntung Siska masih punya tabungan, jadi masih bisa membayar biaya rumah sakit ini." ujar Siska mengambil mangkuk berisi bubur lalu menyendok bubur tersebut dan menyuapkan bubur tersebut ke mulutnya sendiri.
Kondisi nya yang masih lemah pasca melahirkan, tidak memungkinkan untuk mencari bayi pengganti anak nya yang sudah meninggal untuk di serahkan kepada Pak Sanusi. Cepat atau lambat berita tentang Siska yang melahirkan pasti akan di dengar oleh orang kepercayaan Sanusi. Jadi Siska meminta bantuan Ibunya.
Siska amat menyesal mengingat kejadian sebelum ia dilarikan ke rumah sakit ini. Saat itu Siska lapar dan ingin makan sesuatu, kemudian ia berinisiatif untuk menggoreng telur. Kepala nya tiba-tiba pusing tanpa sengaja menyenggol minyak sayur yang baru saja dia buka dari botolnya. Minyak itu jatuh ke lantai dapur dan akhirnya kecelakaan itu tak terelakkan, saat Siska tak sengaja menginjak tumpahan minyak sayur tersebut dan membuatnya terpeleset.
Jika saja kecelakaan itu tidak terjadi, pasti anaknya akan baik-baik saja dan tidak akan meninggal. Dia juga tidak akan pusing mencari pengganti anak nya untuk di serahkan kepada Sanusi.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...