
Setelah reuni itu, Riska kembali ke kota untuk meneruskan bisnis nya yang sudah ia tinggal beberapa hari karena harus pulang ke kampung. Dia tidak mendengar kabar tentang tuntutan Bi Narti soal kayu jati miliknya. Riska bernafas lega sekaligus bersyukur karena dia tidak harus adu mulut lagi dengan bibi nya itu dan tidak perlu menggunakan jasa Abian untuk menjadi pengacara nya.
Sementara Narti di rumah nya amat sangat gelisah. Dia tidak bisa menghubungi anaknya, Siska. Bahkan Narti juga menelpon ke Danang tapi di rijeck. Awalnya Narti ingin mengadu kepada anaknya soal Riska yang mengambil kayu jati miliknya kepada Siska, namun sampai saat ini Siska tidak bisa ia hubungi. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk kepada anak bungsu nya itu.
"Kenapa akhir-akhir ini Siska sulit di hubungi?" Narti mondar mandir di pelataran teras rumah nya. Ia tidak peduli dengan tatapan orang yang lewat.
"Ah, aku akan hubungi Arman saja." kemudian Narti menghubungi Arman, putra sulungnya yang ada di luar pulau. Sudah lama ia tidak bertemu dengan putra sulungnya, tepat nya setelah Arman memutuskan untuk merantau tepat setelah kepergian Almarhum Ayahnya.
Beberapa bulan merantau Arman, Arman mendapatkan pekerjaan yang lumayan hingga ia sering mengirim sejumlah uang pada Narti untuk kebutuhan adik-adiknya. Tapi karena sifat Narti yang banyak menuntut, Arman kesal dan marah kepada Ibunya. Hingga suatu hari Arman memutuskan untuk menikah dan juga memutuskan hubungan dengan Narti karena Narti yang tidak setuju Arman menikah dengan orang pribumi.
Karena lelah mondar-mandir akhirnya Narti duduk di bangku teras depan rumah nya sembari mencari nomer kontak Arman.
"Apa nomer nya masih aktif?" gumam Narti yang memang sudah lama ia tidak bertukar kabar dengan Arman.
Dddrrttt,
Dddrrrtt,
Dddrrttt,
Dua kali panggilan tidak ada jawaban. Nmun panggilan ke tiga baru di angkat.
"Ha-halo Arman? Ini Ibu. Ibu mau ...." ucap Narti lembut, ia bangkit dari duduk nya.
"Denger yah Bu, Bang Arman sedang sibuk. Jadi tidak usah hubungi Bang Arman lagi!" suara di sebrang sana terdengar ketus. Tak lama panggilan itu terputus. Bahkan Narti belum menyelesaikan kalimatnya, namun kalimatnya di potong oleh seseorang yang Narti duga adalah menantu nya.
"DASAR MENANTU KURANG AJAR! BERANI NYA DIA MENUTUP PANGGILAN KU! BAHKAN SAMPAI MENGANCAMKU SEGALA!." Narti mencak-mencak, ia tidak mengira jika istri dari Arman berani bersikap tidak sopan kepada mertua nya yang bahkan belum pernah ia temui.
"Wanita apa yang kamu nikah Arman!" gerutu Narti geram menahan kesal.
Harapan nya pupus Narti meminta tolong Arman, ia tidak tahu harus meminta tolong siapa untuk mencari Siska.
__ADS_1
Putra kedua nya pun tidak bisa di harapkan, perilaku Doni sama hal nya dengan mendiang suami nya yang suka menghambur-hamburkan uang dan judi serta bermain wanita, entah di mana dia sekarang. Narti tidak peduli.
Selama ini ia selalu bersama dengan putri bungsu nya, putri sangat ia sayangi karena Siska sangat menurut padanya. Bahkan jalan pikiran Siska sama dengan nya, yaitu merusak kebahagian dua orang yang sangat mereka benci, Ratih dan Riska.
Tapi sekarang Narti tidak tahu kemana Siska, untuk menyusul Siska ke kota. Dia sudah tidak punya simpanan uang lagi. Ia bingung dan hanya bisa berdoa semoga putri kesanyangan nya baik-baik saja.
***
"Masih hidup kamu rupanya?" tanya Max yang masih di posisi semula.
Siska menatap Max dengan sinis yang membuat Mas terkekeh melihat tatapan tajam Siska.
"qKamu kira kamu siapa menatapku seperti itu?" sinis Max.
Max menatap Siska dari atas sampai bawah.
"Sayang sekali jika tubuh mu tidak di manfaatkan."
"Diam kamu!" bentak assisten kepercayaa Sanusi itu.
"Kamu berani menipu Tuan Sanusi beginilah akibatnya!, jadi rasakan saja dan nikmati. Toh kamu juga nggak bakalan bisa melunasi uang itu."
"Bunuh saja aku!" ucap Siska tiba-tiba. Ia sungguh tidak tahan dengan penyiksaan yang di lakukan anak buah Sanusi. Berhari-hari ia di sekap di gudang yang entah berada di mana, dia sekarang justru mengharapkan kematian menjemputnya, ia tidak menyangka kehidupan nya akan berakhir seperti ini.
Selama ini ia begitu iri dengan kehidupan yang di miliki Riska sepupu nya, keluarga sempurna, kecantikan, semua mata selalu tertuju pada Riska bahkan sejak mereka kecil. Puncak nya saat Riska di lamar oleh pujaan hatinya, Abian yang bahkan menolak dirinya sebelum Abian melamar Riska.
Siska benar-benar membenci Riska, kebencian nya di dukung oleh Ibunya untuk menghancurkan rumah tangga nya bersama Danang. Apalagi saat Ibunya tahu jika Siska tengah hamil, anak dari majikan nya. Tapi majikan nya itu tidak mau menikahi Siska, perjanjian nya hanya menginginkan anaknya saja. Sanusi siap memberikan jatah uang bulanan untuk Siska karena janin yang ada di perut nya adalah darah dagingnya.
Harta kekayaan yang di miliki Siska, ia gunakan untuk menggaet Danang. Siska tahu, Danang adalah laki-laki pengangguran yang menginginkan seorang anak yang kerjanya pun hanya menengadah harta istrinya.
Karena kebencian dan rasa iri terhadap Riska membuat Siska merencanakan rencana jahat untuk mengambil Danang dari sisi Riska, ia juga butuh suami untuk menjaga kehormatan karena ia telah hamil tanpa seorang suami.
__ADS_1
Istilah nya sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.
Segala macam cara Siska lakukan untuk mempermalukan Riska, tapi ada saja cara Riska untuk melawannya. Seperti vidio viral nya bersama Danang waktu di taman. Bahkan untuk membuat Riska jatuh miskin pun gagal. Siska gagal membuat Riska kehilangan rumah yang Riska tempati bersama Danang, itu karena Danang yang sangat bodoh. Justru malah membuat usaha yang di rintis dari kucuran dana Sanusi mengalami kebangkrutan akibat vidio viral itu.
Dan sekarang, Siska berada di gudang tua mengalami berbagai penyiksaan dari anak buah Sanusi, karena ia gagal memberikan seorang anak untuk Sanusi.
"Aku akan memberikan reward kepada anak buah ku agar menikmati tubuhmu itu sebelum malaikat menjemput."
Perkataan Max membuat lamunan Siska mengenai perjalanan hidupnya buyar.
Siska menggeleng cepat.
"Jang-jangan! jangan macam-macam kalian!"
Max menepuk tangan di udara. Lalu ada tiga orang anak buah yang masuk.
"Aku akan beri waktu 60 menit untuk kalian bertiga." Kata Max lalu pergi lalu tangan nya merogoh saku celana untuk menjawab panggilan.
[Wanita sedang dieksekusi, Bos!] ucap Max pada seseorang di sebrang sana.
[Siap, Bos. Saya jamin tidak akan ada yang tahu soal ini.] ucap Max mengangguk patuh seraya berjalan keluar meninggalkan gudang.
Ketiga anak buah Max menatap Siska dengan penuh nafsu. Tanpa ampun ia mencabik-cabik pakaian yang di kenakan Siska. Tak peduli batas Siska. Untuk melawan pun ia tidak bisa, karena tangan dan kaki nya yang di ikat begitu kuatnya.
Hingga Siska mulai terkulai lemas walaupun ia masih sadar.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...