Sepupuku Maduku

Sepupuku Maduku
Bab 56 Menjual Kayu Jati milik Narti


__ADS_3

Setelah Ratih dan Riska menemui Lek Saswi di desa sebrang, Riska langsung menghubungi temannya Wisnu yang seorang pengrajin Furniture. Beruntung uang hasil padi sawah milik Ratih belum di ambil oleh Bibi nya, jadi Riska dan Ratih tidak menemui hambatan apapun.


"Gimana Nu, bisakan kamu datang kemari untuk melihat langsung kayu jati nya?." tanya Riska di telepon.


"Oke Siap, Ris. Aku otw ke rumah mu." jawab Wisnu di sebrang sana.


"Ya aku tunggu." Riska mengakhiri panggilan telepon nya dengan temannya Wisnu.


"Nak! Apa sebaiknya nanti saja jual kayu jatinya. Kamu pasti capek, sejak kepulangan mu dari kota. Kamu sama sekali belum istirahat." ujar Ratih khawatir kemudian duduk di samping putrinya.


"Lebih cepat lebih baik, Mah. Riska tidak apa-apa kok, keburu nanti Bi Narti pulang dari tempat Siska, malah nggak bisa menjual kayu jati nya."


"Mama cuman khawatir sama kamu, tapi kalau menurut kamu itu lebih baik, ya sudah mama ikut saja."


.


.


.


"Assalamualaikum." salam seseorang dari luar.


"Itu kayaknya Wisnu deh, Mah." ucap Riska kemudian bangkit dari duduknya kemudian keluar untuk menyambut kedatangan teman lamanya. Di susul Ratih di belakang.


"Waalaikumsalam, eh Nu. Cepat sekali kamu datang."


"Aku memang sedang ada keperluan di sekitar sini, Ris. Kamu apa kabar?." tanya Wisnu.


"Aku baik. Silahkan duduk dulu!. Aku buatkan minum dulu." Tangan Riska di miringkan dan di arahkan ke bangku.


Wisnu berjalan sesuai dengan arahan tuan rumah, lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kursi yang ada di teras depan rumah orang tua Riska.


Riska masuk ke dalam untuk membuatkan minum untuk Wisnu dan membawakan sedikit cemilan.

__ADS_1


"Nak Wisnu teman nya Riska di sekolah?." Ratih duduk menemani Wisnu dan berbasa-basi.


"Nggeh Bu, saya teman nya Riska. Kebetulan tadi diminta Riska untuk datang kesini katanya untuk melihat kayu jati yang akan di jual." Wisnu menjelaskan sembari mengambil bungkusan rokok dari dalam saku celananya.


"Maaf, Bu. Saya merokok." Wisnu tersenyum sungkan ke arah ibunya Riska yang di balas dengan anggukan oleh Ratih. Sebenarnya, Ratih adalah orang yang tidak biasa menghirup asap rokok. Namun, menolak teman putrinya pun merasa tidak enak.


"Nih, aku ada cemilan pengganti rokok. Maaf, ibuku tidak bisa menghirup asap rokok." Riska sudah muncul dengan sebungkus permen dan segelas kopi. Riska yang tahu teman yang satu ini hobi merokok pun segera mampir ke warung dan membelikan sebungkus permen.


"Ah, maaf ya, Bu. Ah, terima kasih, Ris. Ini lumayan menggantikan rokok. Mulut ini rasanya asem kalau tidak merokok, Ris." Riska nyengir saat temannya menatap dengan wajah salah tingkah.


"Nak, Mas Wisnu. Ibu masuk dulu ya. Mau sholat Dzuhur." Ratih menepuk pundak putrinya setelah bangkit dari tempat duduknya.


"Oh, nggih, Bu. Saya sudah sholat tadi di mesjid sebelum ke sini." Wisnu manggut-manggut melepaskan kepergian ibunya Riska.


Kini Riska yang duduk di sebrang Wisnu. Wanita itu sedang berhalangan sehingga tidak memiliki kewajiban untuk menjalankan perintah Tuhannya.


"Kemana suamimu, Ris?." Pertanyaan Wisnu membuat Riska terdiam beberapa detik. Senyum terpaksa ia berikan pada Wisnu untuk menutupi luka di hatinya.


"Aku sudah menjanda, Nu." Wajah Riska di buat sebiasa mungkin. Perempuan itu tidak ingin menunjukkan kesedihan dengan status barunya.


Hening menyergap mereka berdua. Riska yang bingung harus ngomong apalagi hanya bisa menatap lurus ke depan - ke arah jalan.


"Ooh lupa, Ris ini tadi aku bawain titipan undangan dari Rizki. Dia mau menikah besok lusa. Datang yah. Sekalian kita reuni sama teman-teman yang lainnya." Wisnu mengeluarkan undangan dari balik saku jaketnya.


Rizki Tanjung teman mereka yang belum menikah di usia mereka, sebab selepas SMA dia selalu merantau di luar negeri hingga mau menjelang pernikahan ini.


"Rizki? Sudah pulang dia dari Taiwan?." Riska membolak balikan kartu undangan dari teman sekaligus rivalnya dalam meraih juara kelas dulu."


"Iya, baru dua bulan yang lalu. Dia nikah dengan adik kelas kita tahu, Anissa. Dia sama-sama perantauan. Makannya, kamu datang yah. Jangan sampai nggak datang." Wisnu meraih gelas yang penuh dengan kopi tersebut. Lalu menyeruputnya.


"Insyaallah aku datang. Kangen dengan anak-anak. Apa kabar mereka semua ya? Eh, kamu ingat dengan Vino?." mengenang zaman putih abu-abu mengingatkan Riska pada Vino.


"Vino pengusaha keripik itu ya. Aku beberapa kali bertemu. Dia juga sudah resmi bercerai." Keterangan Wisnu membuat Riska beroh ria.

__ADS_1


"Kemarin aku ketemu dia bahkan katanya tinggal di lingkungan sekitar rumah ku dikota. Aku pangling banget sama dia. Bahkan aku merasa tidak mengenalnya. Seandainya aku tidak di tegur terlebih dahulu pasti lupa dan bahkan tidak akan menyapa terlebih dahulu."


"Kabar yang aku dengar dari Vino, dia bercerai karena istrinya selingkuh waktu di tinggal kerja di luar negeri. Vino juga lama di korea makannya aset nya dimana-mana. Istrinya tidak bersyukur malah enak-enakan sama suami orang lain. Akhirnya istrinya di usir tanpa membawa apapun. Dan yang aku dengar, istrinya sekarang lagi berusaha untuk balikan." Wisnu memberikan keterangan panjang lebar tentang Vino.


Riska hanya manggut-manggut saja untuk merespon laki-laki yang sejak dulu hobi bercerita.


***


Tiba menjalankan misi Riska untuk menjual kayu jati, mereka saat ini sedang berada di pekarangan rumah Narti. Jalan yang di tempuh untuk datang ke sana pun tidak melalui jalan yang biasa di lalui, mereka berjalan memutar dengan mengendarai sepeda motor.


"Ini, Nu." Riska menunjuk pohon jati yang cukup besar. Riska mencoba memeluknya, namun wanita memiliki rambut panjang sedikit ikal itu tidak mencangkupnya, pohon itu jauh lebih besar.


"Wah ini besar, Ris." Wisnu memindai pohon tersebut yang menjulang ke atas.


"Berapa ini, Nu?." tanya Riska tidak sabar ingin tahu harganya.


"Aku hargai sebelas juta." Wisnu mengukur lingkar kayu jati tersebut dengan meteran.


"Idih, masak cuman segitu. Naikkan dong, masak cuman 11 juta pohon segede gini. Lima belas yah, Nu?."


"Nggak bisa kalau Lima belas juta, nanti bisa-bisa aku nggak di bukain pintu sama istri gara-gara bangkrut bukan untung bertransaksi sama kamu." Wisnu menolak permintaan Riska dengan bercanda.


"Yuk kita pulang, tidak enak berduaan di tempat seperti ini, nanti di kira ngapain lagi." Setelah melihat dan menilai batang pohon jati yang bisa di jadikan bahan furniture itu, Riska mengajak Wisnu keluar dari pekarangan itu.


Mereka pun keluar dari jalan yang tadi, panas terik membuat orang-orang enggan untuk keluar rumah. Tentu, hal yang menguntungkan bagi Riska sebab bisa keluar masuk sesuka hatinya tanpa ada yang mencurigainya.


"Dah lah ini pas nya 12 juta, Ris. Ini pun aku kasih harga mahal karena kamu temanku." ucap Wisnu setelah mereka kembali ke rumah Riska.


Riska diam sejenak, menimbang beberapa alasan.


'Murah, tapi ini cukuplah untuk mengganti uang mama yang dia pakai. Lebih dari cukup malah, salah siapa membuat ulah. Gara-gara ngambil uang 7 juta malah kehilangan aset dua belas juta. Emang enak!.' Riska kembali bermonolog dalam hati.


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2