
Mata Siska tertuju pada bom molotov [Bom molotov adalah sebuah bom bakar yang terbuat dari botol yang diisi oleh bensin, alkohol atau pun Minyak Tanah dan diberikan sumbu berupa tali atau kain. Bom ini hanya memberikan efek terbakar karena sebelum dilemparkan sumbu dibakar terlebih dahulu] yang ada di genggaman tangan sang tamu yang ada di hadapan nya.
Seorang pria yang tidak di kenal tengah berdiri di hadapan Siska. Lalu, tersenyum sinis di balik masker nya saat melihat ekspresi kaget Siska.
"Apa yang kamu pikirkan tentang ini, Siska? takut? Cemen!. ternyata nyalimu tidak sebanding dengan ambisimu." Pria yang sedang menyembunyikan ciri fisiknya tersebut mengacungkan bom molotov ke arah Siska.
Mantan madu nya Riska sempat menegang beberapa detik setelah mendengar ucapan tamu tak di undangnya tersebut. Namun, detik berikutnya dia sudah bisa menguasai keadaan. Seolah tak paham dengan apa yang di katakan pemuda tersebut.
"Ada apa, ya?." dengan suara terbata Siska menyapa tamu nya. Basa basi, padahal degub jantungnya bertalu-talu sebab rasa bersalah. Tapi, sekuat mungkin dia berusaha tetap tenang.
"Masih sanggup kamu bersandiwara ya, Siska?. Hebat memang kamu. Saya hanya mau ngasih tau. Upaya mu untuk meneror Riska gagal. Sekaligus saya mau memperingati kamu, Siska! Sekali lagi kamu coba dekati Riska maka penjara tempatmu. Saat ini bukan saya tidak bisa menjebloskan kamu ke penjara, bukan. Tapi, saya masih memiliki hati nurani. Kamu sedang hamil dan suamimu sedang dalam kondisi cacat. Namun, bukan berarti kamu bisa menyalah gunakan kesempatan ini untuk menyentuh Siska. Ancaman saya tidak main-main. Barang bukti ini akan saya amankan sebagaimana sudah saya simpan rekaman suara orang suruhanmu." Pria yang sedang memakai topi dan masker penutup wajah itu menatap tajam ke arah Siska yang mematung di tempatnya.
"Usahamu menghancurkan Riska saya pastikan akan selalu gagal. Sebab, saya akan mati-matian melindunginya. Jangan pernah main-main dengan Riska. Cukup sudah kamu menghancurkan rumah tangganya. Apabila masih nekat setelah mendengar peringatan saya ini, maka semua rahasia mu akan saya bongkar, termasuk masalah dengan ayah kandung dari janin yang kamu kandung. Camkan! dan saya tidak main-main. Sebab kartu As kamu ada di tangan saya."
Mendengar ancaman Pria itu, Siska kembali menegang. 'Apa yang sebenarnya dia tahu tentang aku?.' Batin Siska.
"Kaget yah kenapa saya tahu semua rahasia kamu?." Pria dengan kemeja biru laut dan lengan yang di lipat hingga ke bawah siku itu menaik turunkan alis nya ke arah Siska yang menegang.
"Siapa tamu ya, Sayang? kok ngga di suruh masuk?." Danang datang menghampiri mereka dengan kursi roda nya. Spontan Siska menoleh ke arah suaminya.
"Kenalkan Pak Danang. Saya calon suami Riska Sri Rahayu. Saya ucapkan terima kasih banyak kepada Bapak Danang Hermansyah karena telah membuang emas permata seperti Riska. Saya akan memungutnya dan saya akan jadikan barang berharga yang anda tidak bisa di miliki siapapun selain diri saya sendiri. Semoga anda tidak merasakan penyesalan di kemudian hari. Sekali lagi terima kasih, Pak Danang." Pria misterius itu mengulurkan tangan kanan nya ke arah laki-laki yang sedang membeku di tempatnya.
Otak Siska dan Danang sama-sama sedang mencerna pengakuan laki-laki yang tidak mereka ketahui tersebut. Dalam benak mereka berdua timbul pertanyaan. "Calon suami Riska? ketemu dimana Riska dengan orang tersebut."
__ADS_1
Mendengar kata calon suami Riska, entah mengapa tiba-tiba ada yang panas dalam diri Danang. Ada perasaan tidak terima jandanya di dekati orang berkelas macam Pria di hadapan nya.
"Sejak kapan anda mengenal istri saya? Apa kalian sudah pacaran sebelum kami bercerai?." Alih-alih menerima uluran tangan tamu yang hanya berdiri di depan pintu itu, Danang malah melemparkan pertanyaan yang menyakitkan.
Pertanyaan Danang membuat Siska mengepalkan tangan nya. Sebab rasa cemburu yang tiba-tiba menjalari tubuhnya. Siska dapat melihat dengan kecemburuan di mata suaminya untuk sepupu yang merangkap kakak madunya itu.
"Riska tidak serendah anda yang bermain selingkuh selama menjalani ikatan pernikahan. Riska bukan wanita murahan yang mudah pindah hati ke sembarang orang. Sampai pengkhianatan kalian di ketahui oleh mata kepala nya sendiri, Riska pun masih mencintai anda-suaminya. Namun, sayangnya anda bukannya insyaf atau menyadari kekeliruannya justru kembali menorehkan luka yang amat dalam. Hingga cinta Riska memudar dengan sendiri nya. Jadi tolong, jangan samakan Riska dengan wanita di samping anda atau diri anda sendiri yang sanggup mengkhianati sucinya pernikahan."
Danang tertegun sesaat. Danang merasa Pria tersebut sedang menguliti dirinya habis-habisan. Mantan suaminya Riska itu pun sempat terkejut. Namun sekuat tenaga dia berusaha baik-baik saja. Hingga masih sanggup memberikan wejangan untuk tamu tak di undangnya.
"Riska masih dalam masa iddah, jangan coba-coba mendekati dia. Bersabarlah hingga semua nya selesai." Danang menilai penampilan Pria tersebut dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dengan tatapan sulit di artikan.
"Jangan ajari kamu tentang menjaga diri antara saya dengan Riska. Anda cemburu? Sayangnya, sudah telat!.
Beberapa menit berhadapan dengan cowok misterius itu membuat jantung Siska tidak sehat. Sudah berulang kali Siska tersentak kaget dengan sindiran orang tersebut. Bocoran-bocoran rahasia apa saja yang Pria tersebut ketahui bagai sengaja listrik yang menyentuh tubuh Siska. Kaget dan syok itu yang di rasakan nya.
"Apa maksudnya? Anda jangan ngomong sembarangan!." tatapan elang Danang menyoroti ke arah pria yang sedang tersenyum tipis ke arahnya.
Danang merasa Pria asing ini telah mengatakan hal yang tidak-tidak. Danang marah, tapi ke laki-laki bertopi yang berusaha mengungkapkan kebenarannya.
Berbanding terbalik dengan Siska yang terlihat pias. Ketakutan tercetak jelas di wajahnya.
"Sudah tidak usah tegang begitu, santai saja. Nanti bisa di jelaskan kok sama suaminya kalau saya sudah mau pulang." lagi-lagi pria bermasker itu berhasil mengaduk-ngaduk perasaan Siska dan Danang.
__ADS_1
"Bu Siska, tolong camkan kata-kata saya tadi. Kalau begitu saya pamit ya. Silahkan di teruskan berantemnya." tanya menunggu jawaban tuan rumah, pria Barcelona chino dengan sepatu berwarna hitam itu melenggang pergi.
Dua orang berbeda kelamin itu memandang punggung tamu tak di undang nya dengan perasaan kacau, pasangan suami istri siri tersebut masih mematung dengan pikiran yang sama-sama berkecamuk.
Siska segera membalikan badan menuju dalam rumahnya dengan penuh pertanyaan di kepala nya.
'Siapa dia? mengapa dia bisa tahu semua rahasia aku? Mbak Riska, kenaka kamu selalu beruntung dari segal hal di banding aku? Aku pikir setelah kurebut suami mu aku akan hancur. Tapi, perkiraan ku salah. Belum apa-apa kamu sudah di dekati pria berkelas macam dia. Dasar sialan!.' Siska menjerit dan merutuki Riska dalam hatinya.
Danang pun memutar kursi roda ke arah ruang tamu dengan perasaan campur aduk.
'Apa benar yang di katakan pria tadi, kalau aku telah menanam di benih orang? benarkah itu? Apa itu artinya anak yang di kandung Siska bukan anakku?.' Danang masih bermonolog seorang diri.
Di pandangnya wajah Siska yang pias dengan tatapan tajam.
Siska yang sedang duduk di sofa itu semakin kecut menyadari suaminya mulai curiga.
"Siapa ayah anak yang kamu kandung ini, Siska?." suara Danang meninggi beberapa oktaf hingga perempuan yang dulu membuatnya tergila-gila itu mengkerut. Saking takutnya!.
bersambung...
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...