Sepupuku Maduku

Sepupuku Maduku
Bab 54


__ADS_3

"Saya minta maaf Mbak, saya akui saya teledor. Bu Ratih saya minta maaf." Di tatapnya Ratih yang sedang mengurut dada dengan penuh rasa penyesalan.


"Kata maaf tidak akan cukup untuk menyelesaikan perkara ini, Lek. Uang mama yang di tunggu sekian bulan melayang begitu saja. Berapa bagian yang harus di terima Mama setelah di potong biaya njenengan?." dengan tegas Riska menekan kata demi kata untuk membuat Lek Yani merasa terpojok.


"Tujuh juta Mbak, karena singkong nya bagus dan harga nya sedang mahal." jawab Lek Yani dengan wajah menunduk.


"Astaghfirullah.... Lek, Njenengan benar-benar ceroboh. Uang segitu bagi mama itu sangat banyak. Beliau harus menunggu beberapa bulan, harus memperkejakan orang untuk menanam singkong, menyemprot gulma, membajak lahan, memupuknya juga. Tapi ketika menunggu hasilnya, malah sampean serahkan begitu saja pada musuhnya. Astaghfirullah." Riska memekik penuh emosi.


Suara Riska yang kencang membuat orang-orang yang melintas berhenti dan menoleh. Tapi Riska tidak peduli, amarah nya sudah berada di puncak.


"Sekali lagi saya minta maaf Mbak, Bu Ratih atas kesalahan dan kecerobohan saya." Lek Yani tidak berani menatap Riska yang sedang di kuasai amarah.


"Maaf saja tidak cukup, Lek. Saya tidak mau tahu. Tolong ambilkan uang itu ke rumah Bi Narti. Njenengan tahu kan rumah nya?. Ini bentuk tanggung jawab njenengan."


Dengan dada naik turun, telunjuk Riska mengarah ke arah jalan memberi isyarat kepada Lek Yani untuk segera pergi menemui Narti.


"Baik Mbak, untuk menebus kesalahan saya. Saya akan pergi menemui Bu Narti. Kalau gitu saya permisi." dengan rasa bersalah Yani meninggalkan rumah Ratih.


"Saya tunggu secepatnya, Lek. Jangan coba-coba kabur, kalau tidak saya perpanjang urusan ini di pengadilan!." gertakan Riska menghentikan langkah Yani.


Pria berkulit gelap itu membalikkan badan dan menangkupkan tangan di depan dada.


"Jangan Mbak, saya mohon. Saya akan usahakan mendapatkan uang itu kembali." Yani membalikkan badan kembali ke arah jalan.


"Buktikan!." teriak Riska.


"Kurang ajar sekali, Bi Narti Bu! Seenaknya sendiri dia mau mengambil uang Ibu. Dan bodohnya Lek Yani percaya begitu saja pada orang lain." Riska menjatuhkan bobot tubuh nya di bekas kursi duduk Lek Yani.


Lalu di pijit-pijit nya lengan Ibunya. Seolah dia sedang memberi dukungan penuh pada wanita yang sudah berjuang membesarkan nya.


"Mama, yang sabar yah. Riska akan usahakan uang itu kembali pada mama. Itu hak mama. Enak saja Bi Narti main ngambil-ngambil saja!." tatapan Riska mengarah ke jalan dengan dada yang kembali naik turun.


"Mama tunggu di sini. Riska ambil air minum." Riska yang sedang marah tidak kepikiran untuk mengambilnya air minum untuk ibunya yang sedang pusing.


"Nak, apa kamu benar-benar memperkarakan kasus ini?." Ratih menatap putrinya yang sedang bersungut-sungut. Riska tersenyum tipis setelahnya.


"Buang-buang uang, Ma. Membawa kasus ini ke pengadilan. Pekarangan nggak seberapa. Tapi urusan nya ribet banget."


"Syukurlah kalau kamu hanya mengancamnya. Mama takut kamu benar-benar membawa ini ke meja hijau." Kelegaan jelas terpancar dari wajah perempuan berdaster bunga tersebut.


"Ah, Mah. Tunggu di sini. Riska mau menyusul ke rumah Bi Narti. Takut-takut Lek Yani tidak berhasil mengambilnya. Mama doakan Riska yah." Riska pamit setelah menyerahkan segelas air putih dan memastikan ibunya sudah lebih baik dan bisa di tinggalkan. Tak lupa Riska mencium kening pahlawan hidupnya tersebut.


Dengan langkah panjang dan semangat empat lima, Riska berjalan ke arah rumah Narti. Sepanjang jalan ia merutuki kecerobohan Lek Yani dan keserakahan Bi Narti.


Tak lama kemudian rumah Ibunya pelakor itu pun sudah terlihat dengan jelas. Di sana terparkir motor Lek Yani yang tadi di bawa ke rumah mama.


Langkah Riska yang semula panjang kini di perpendek setelah sampai di pekarangan rumah tersebut.


"Aku tidak mau tahu, Bu. Tolong kembalikan uang tujuh juta milik Bu Ratih!." Suara menggelegar milik Lek Yani terdengar jelas hingga ke telinga Riska yang sedang berada di halaman rumah Narti.


"Kalau uang nya sudah nggak ada saya harus gimana, Lek?." Tanpa berdosa Narti menjawab seperti itu.


Perempuan yang menganggap Ratih sebagai musuhnya itu malah memainkan tangannya.

__ADS_1


"Usahakan harus ada sekarang! Kamu yang mengambil kamu juga yang harus mengembalikan! Di sini kamu sudah berhasil mempermainkan aku, Bu Narti!." Yani kembali menekan Narti. Suara laki-laki meninggi beberapa oktaf.


Narti melotot ke arah pria tersebut.


"Nggak usah teriak-teriak di rumah orang! ini bukan hutan. Aku tak ada waktu meladeni kamu, aku harus segera ke rumah sakit. Anak ku sudah mau melahirkan." Narti mendelik ke arah tamunya.


Riska yang mendengar teriakan terkejut dengan berita yang di sampaikan oleh Bibinya. Karena ia tahu seharusnya Siska melahirkan 1 bulan lagi.


"Pokoknya saya tidak mau tahu, kembalikan dulu uang Bu Ratih sekarang juga!. Saya takut di salahkan oleh Bu Ratih!" Yani kembali menghardik Narti.


"Halah, Lek. Nggak usahlah terlalu merasa bersalah. Uang Mbak yu ku itu banyak, anaknya saja sukses. Duit segitu tidak ada artinya bagi dia." Enteng saja bibir Narti mengatakan kalimat itu.


"Uang Bu Ratih banyak bukan urusan ku, Bu Narti. Tapi uang tujuh juta yang merupakan tanggung jawabku itu yang menjadi urusanku. Dan tolong kembalikan sekarang!" Yani sudah kehilangan kesabaran menghadapi Narti yang terlihat masa bodoh.


"Kalau saya nggak mau mengembalikan gimana? Sekali lagi ini urusan saya sama kakak saya! Jadi tolong pulanglah dan sampaikan kalau saya akan membayar nya nanti!." Narti tanpa rasa bersalah dan malu mengungkapkan hal itu pada Yani.


"Kapan Bi Narti mau mengembalikan?." Suara Riska di ambang pintu yang secara tiba-tiba membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Mbak, Bu Narti tidak mau mengembalikan uang nya, Mbak. Maafkan saya." Yani yang tadi kasar dan sangar saat menghadapi Narti kini seperti ayam sayur di depan Riska.


Omongan Yani sama sekali tidak di gubris oleh Riska. Wanita yang sedang marah itu memilih menatap nyalang ke arah bibi nya yang memasang wajah tanpa dosa.


"Kamu pikir aku akan mengembalikan uang tujuh juta itu? Tidak akan, Riska! Aku hanya ingin menikmati hasil panen singkong dari kebun orang tuaku. Apa itu salah?." Dibalas tatapan Riska dengan tajam. Setelah nya perempuan itu memainkan cincin yang melingkar di jarinya.


Narti yang sudah tidak memiliki rasa malu dan tanpa rasa bersalah mengatakan kebun orang tuanya. Padahal sudah jelas itu sudah di warisan ke Ratih. Sertifikat nya pun atas nama Ratih. Seolah Narti tidak di beri. Sementara jatah warisan Narti sendiri sudah ludes di jadikan uang sejak awal oleh suaminya.


Riska tersenyum sinis ke arah Narti. Tangannya pun di lipat di depan dada. Otaknya sedang menyusun kata-kata untuk menghabisi Narti.


"Kebun orang tua? Bukankah sekarang sudah menjadi hak Ibuku, Bi. Bibi hidup kok dipenuhi rasa iri seolah Bibi tidak mendapatkan jatah kebun dari orang tuanya padahal sudah dikasih jatah sama rata, salah sendiri kenapa dulu tanah warisan dari Eyang dijual kalau mau punya panen hasil kebun seperti Ibuku. Suruhlah anakmu itu membelikanmu kebun bukan merampas uang milik orang lain. Katanya anakmu itu kaya raya, katanya menantunya memiliki uang banyak. Minta belikan dong! jangan mengambil uang orang lain." Riska yang sedang dikuasai amarah itu berjalan ke arah Narti yang sedang duduk dengan tenang di atas kursinya.


Yani yang menonton aksi Riska yang bar bar hanya terdiam di tempat dengan pikiran campur aduk. Melihat kelegaan di wajah Narti terbersit dijahil erat tangan itu kembali meraih perhiasan palsu yang melingkar di leher Narti. Kali ini cengkramannya lebih kuat dengan dua tangan sekaligus Riska menarik perhiasan tersebut.


"Kembalikan uang Ibuku, Bi. Kalau tidak mau cucumu tidak bisa melihat neneknya seumur hidup." Riska menatap Narti yang kesakitan, ia tersenyum menyeringai.


Riska yakin tarikan emas palsu yang mengenai leher perempuan itu pasti menimbulkan rasa sakit di leher.


Yani yang melihat aksi Riska bergidik ngeri sendiri, dia tidak menyangka perempuan yang terlihat lemah lembut itu bisa berlaku bar bar seperti itu.


"Mana uang Ibuku, Bi?." sekali lagi Riska menggertak Narti.


"Su-sudah diberikan kepada Siska untuk biaya kehidupan sehari-hari mereka." dengan terbata-bata Narti menjaganya


Jawaban Narti spontan membuat Riska melepaskan tarikan emas palsu pada leher bibinya tersebut. Di tatapnya Narti yang sedang mengusap-ngusap tengkuknya akibat goresan emas palsu di leher bagian belakang tersebut.


"Sudah miskin toh mereka, tidak heran saat itu aku melihat Danang berjualan tisu di jalan." ucap Riska mencemoh. "Aku memang tidak begitu percaya dengan hukum karma, tapi hukum tabur tuai sudah jelas ada. Dan sekarang mereka sudah jelas sedang menuai atas apa yang mereka lakukan kepada ku."


Narti berdiri menatap tajam Riska di hadapan nya, "Diam kamu bocah gemblung! Kamu yang membuat usaha Siska bangkrut. Gara-gara vidio viral itu, mereka tidak punya pemasukan."


"Bibi jangan suka menyalahkan atas kesalahan yang mereka lakukan. Aku tidak melakukan apa-apa. Apa yang terjadi kepada mereka itu karena salah mereka sendiri. Pokoknya Riska tidak mau tahu, uang itu harus di kembalikan!."


"Tolong lah Riska jangan seperti kita, kita ini saudara. Jadi apa salahnya sesama saudara saling tolong menolong."


Riska memasang wajah sinis ke arah wanita yang sedang memasang wajah sedih tersebut. "Cih! saudara? dalam keadaan terhimpit, bibi baru mengatakan kalau kita saudara. Kemarin kemana saja?."

__ADS_1


Narti terdiam.


"Riska, Bibi butuh uang untuk pergi ke kota, Siska masuk rumah sakit, dia jatuh di dapur. Entah bagaimana kabarnya sekarang, tolong bantulah sepupumu itu. Kasihan dia. Mereka pasti butuh uang banyak untuk operasi."


Riska pun membalikkan badan berniat untuk meninggalkan tempat itu setelah mendengar penjelasan Narti dan ia tidak tega untuk menekan jika mereka sedang terkena musibah. Hatinya sedikit terenyuh.


"Siska masih punya suami." jawab Riska.


"Danang tidak bisa di harapkan, kamu tidak punya anak, Ris. Jadi tidak tahu bagaimana rasanya saat anak sakit. Siska dan bayi nya sedang berjuang di sana." ucapan Narti membuat langkah Riska yang sudah berada di ambang pintu berhenti. Lau wajahnya yang tadi sempat melupakan kini kembali mengeraskan rahangnya.


"Lebih baik belum punya anak, Bi. Daripada punya keturunan tapi tidak jelas siapa bapak nya. Silahkan tanyakan pada Siska siapa bapak biologis dari bayi tersebut! Aku pastikan dia pun akan menjawab bukan Mas Danang. Jadi, jangan bangga punya cucu hasil benih banyak orang!."


Mendapatkan jawaban Riska yang nyelekit Narti kehilangan kata-kata dan muka di depan Yani.


Setelah puas menikmati ekspresi wajah Narti, Riska pun kembali pergi meninggalkan rumah tersebut. Lalu Yani menyusul di belakangnya.


"Mbak, lalu bagaimana ini?." Yani yang merasa tidak menemukan titik terang nya pun masih mengejar Riska untuk mendapatkan kepastian.


Riska mengendorkan langkahnya. Lalu, menghadap Yani yang tengah di landa kebingungan.


"Saya anggap selesai, Pak. Tapi tolong lain kali jangan memberikan kepada siapa pun kecuali pada orang yang bersangkutan. Saya harap kejadian ini tidak terulang lagi, Pak. Karena kalau sudah seperti ini repot urusannya." Riska dengan tegas menyampaikan itu.


"Terima kasih banyak, Mbak. Mohon maaf sudah merepotkan dan menyusahkan, Mbak. Semoga Allah ganti rezeki Mbak Riska. Sekali lagi saya mohon maaf, Mbak. Tolong sampaikan permohonan maaf saya ke Bu Ratih." Yanj menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Sebagai permintaan maaf nya yang tulus.


"Saya sudah memaafkannya, Lek. Urusan dengan mama biar menjadi urusan saya." Riska kembali melangkahkan kakinya.


"Riska tunggu! Riska!." teriakan Narti dari dalam rumah kembali menghentikan langkah Riska yang akan pulang.


Riska membalikkan badan melihat Narti berlari tergopoh-gopoh menghampirinya. "Ada apa lagi, Bi."


"Tolong Bibi, Riska. Bibi mau ke kota menjenguk Siska, tapi Bibi tidak punya ongkos." ucap Narti yang terdengar lembut.


Riska mengenyitkan alis mendengar permintaan Narti.


Riska menatap cincin dan kalung yang dikenakan Narti.


Melihat tatapan Riska yang mengarah ke perhiasan nya. Narti mengerti. Kemudian dia melirik kiri kanan seolah sedang melihat sekitar nya. "I-ini bu-bukan emas asli, ini imitasi Ris." Narti menunduk malu.


"Apa bibi tidak bohong?." tanya Riska memastikan.


"Tidak, bibi tidak bohong. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa lihat ini Siska yang akan masuk ruang operasi. Sekarang bibi tidak tahu bagaimana keadaan nya. Karena Danang tidak menjawab telepon bibi."


Riska menatap layar ponsel Narti, terlihat jelas Siska yang berbaring di brankar di dorong oleh beberapa perawat di sana.


"Aku bukan orang yang tidak berperikemanusiaan macam kalian." Riska merogoh saku nya kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet nya dan menyerahkan uang itu kepada Narti.


Setelah menerima uang itu, tanpa mengucapkan terima kasih, Narti melengos berlari masuk ke dalam rumah. Riska sangat geram dengan tingkah bibinya itu, dia tidak mengira ada manusia macam Narti di dunia ini.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2