
"Gimana kabarnya Danang, Nak?." Narti sedang menelpon anak bubgsu yang akhir-akhir ini ramai di perbincangjan di kampung halaman mereka.
Bagaimana tidak, seorang adik sepupu merebut suami kakak sepupunya sendiri. Gunjingan itu membuat Narti tidak bisa bergerak bebas di luar rumah. Dua tidak sanggup berlama-lama di tempat umum. Sebab tidak mau mendengar ucapan dan tatapan tajam dari para tetangga yang mengetahui kebenaran perselingkuhan tersebut.
Tidak hanya itu, idenya untuk meminta harta gono gini Danang yang ada pada Riska semakin mempersempit ruang geraknya. Sebab dimana-mana Narti selalu di pandang dengan tatapan jijik dan rendah. Sebab mereka semua menganggap Narti gagal mendidik anaknya. Sebagai seorang Ibu buang menasehati anaknya yang salah jalan justru mendukung kesesatan tersebut. Padahal sejatinya perbuatan Siska ini adalah atas ide dari ibunya itu sendiri.
"Nggak tahu, Bu. Kami akhir-akhir ini sedang banyak perselisihan. Sepertinya Mas Danang pun benci padaku setelah mengetahui anak ini bukan darah dagingnya, Bu." Siska mendesah panjang. Perempuan yang terlihat kuat di depan Danang itu sedang mengeluarkan unek-unek nya pada Ibunya.
Hanya pada Narti, Siska berani bercerita sebab ibunya adalah orang yang memberikan ide gila saat anaknya di campakkan oleh Farel-pria dari bapak biologis anak dalam kandungan Siska. Gagasan untuk terus memepet Danang itu merupakan datang dari ibunya Siska. Kebencian Narti pada Ratih yang merupakan ibunya Riska, membuatnya hilang akal. Niat untuk menghancurkan kehidupan Ratih yang semakin menggila membuat Narti tega membisikan kejahatan pada anaknya.
"Bu, bagaimana kalau akhirnya kaki bercerai?." takut-takut Siska menanyakan hal itu kepada ibunya.
"Kamu mau memberikan kotoran ke muka ibumu ini, Nak? Ibu sudah malu di pergunjingkan di sini. Apalagi nanti kalau akhirnya mereka mendengar kalian bercerai. Ibu semakin menjadi bulan-bulanan mereka. Ibu tidak mau itu terjadi, Siska. Memangnya mengapa kamu ingin bercerai? Bukankah lebih baik kalian seperti itu? Hidup bersama seolah bahagia walaupun suami sepupu yang kamu dapatkan. Ibu tidak akan setuju kami cerai dari Danang. Pertahankan dia." Narti mewanti-wanti anaknya dengan bersungut-sungut.
Tatapan sinis dan merendahkan dari orang-orang sekitarnya membuat Narti bergidik ngeri.
"Aku tahu itu, Bu. Doakan semoga usahakan untuk membujuk Mas Danang agar tetap bertahan dengan pernikahan ini berhasil, Bu." suara Siska melemah. Kedengaran jelas ia sedang putus asa.
__ADS_1
"Ibu akan mendoakan itu. Kamu tenang saja. Dia ibu pasti akan terkabul." Penuh semangat Narti memberikan dukungan untuk anaknya.
"Semoga ya, Bu. Untuk saat ini sepertinya Mas Danang sudah tidak mau terus bersama Bu." Siska mengeluarkan kegelisahannya di depan Ibunya.
Di hadapan Danang seolah ia tegar tidak butuh siapapun. Seolah-olah kuat. Padahal rapuh.
"Usahakan apapun yang terjadi kalian tidak boleh bercerai. Ibu tidak mau menjadi bahan gunjingan kesekian kalinya. Cukup kamu membuat kehebohan karena merebut suami sepupu sendiri. Itu pun cukup membuat ibu ngeri ke luar dari rumah, Siska."
"Bu, gimana kabar nya anak Pak Sahwi? Seno. Dia baik-baik saja kan, Bu?." Siska tiba-tiba ingat dengan pemuda yang ia suruh untuk melemparkan bom molotov waktu itu.
"Kenapa kamu menanyakan dia, Siska? Ada masalah apa ?." Narti pun di landasan penasaran yang tinggi. Masalahnya dia heran mengapa anaknya yang tidak tinggal di kampung bisa menanyakan hal demikian?.
"Seno baik-baik saja. Tapi, memang anak itu kemarin juga tampak berbeda terhadap ibu. Biasanya pemuda itu tersenyum ramah dan suka basa basi kemarin diam seribu bahasa. Bahkan cenderung menghindari ibu. Kok kamu nggak ngomong terlebih dahulu kalau mau bertindak seperti itu. Lain kali hati-hati jangan gegabah." Narti sedikit takut dengan kegilaan anaknya.
"Habisnya aku kesel banget, Bu. Bagaimana bisa Mbak Riska membeli mobil sedangkan Mas Danang di sini tidak dapat apa-apa. Awalnya aku ingin memberikan pelajaran pada manusia egois itu. Naas, malah ada yang menghalanginya. Ibu tahu bagaimana orang yang menjadi pelindung bagi Mbak Riska?. Dia tampan, mobilnya pun tidak murahan. Dan satu lagi, Bu. Pria yang tidak aku kenali wajahnya itu mengaku calon suami Mbak Riska. Kesel banget kan Bu. Terlebih laki-laki itu mengetahui semua rahasia aku, Bu. Termasuk siapa bapak dari bayi ini. Bahkan, pria itu dengan lancang membongkarnya di depan Mas Danang, Bu. Padahal kita sudah menjaga rapat perihal ini. Dia pun menakuti-nakuti agar aku tidak lagi mengganggu mba Riska. Siapa sebenarnya dia, Bu?." lagi-lagi Siska menahan geram.
"Benarkah? Riska sudah ada calon suami nya yang lebih baik dari Danang? Bagaimana bisa Riska selalu lebih baik dari kamu. Dari dulu Riska selalu beruntung, memang sih Riska lebih cantik walaupun tidak pernah dandan. Tapi seharusnya kamu jangan kalah dengan nya."
__ADS_1
Di sebrang sana, Siska mendengus kesal mendengar pujian ibunya untuk sepupunya itu.
"Sudahlah Bu, Aku tutup dulu, mendadak suasana hatiku buruk mendengar pujian ibu untuk Mbak Riska." sambungan terputus sepihak tanpa mendengar kan kejelasan ibunya.
***
Setelah acara perkenalan kemarin, Riska mulai kehidupan yang baru di lingkungan yang baru.
Dia akan membangun tempat usaha, kebetulan kemarin Riska dan Ibunya sudah akad jual beli tanah kepada sang pemilik. Jadi tanah di samping rumah kontrakan itu adalah miliknya.
Riska memperhatikan tanah miliknya, ia sedang mengamati dan membayangkan bagaimana desain rumah dan ruko yang ia inginkan. Riska membawa buku tulis dan pensil di tangannya.
Saat Riska berbalik terlihat Suci yang mengintip di jendela kamar nya. Karena kepergok akhirnya Suci menutup kembali hordeng jendela miliknya.
Riska heran dengan sikap tetangga yang satu itu.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...