Sepupuku Maduku

Sepupuku Maduku
Bab 46 Kegalauan Danang


__ADS_3

Waktu telah berlalu tapi hubungan Danang dan Siska tidak juga membaik setelah kedatangan tamu misterius itu. Danang semakin menjaga sikap terhadap istrinya. Karena hanya dengan begitu Siska bisa tahu isi hati Danang yang benar-benar marah besar.


"Mas, kapan mau mendaftarkan pernikahan kita ini ke KUA?." Siska menatap suaminya dengan lekat.


Padahal, saat ini Danang tidak banyak bicara sebab sedang menghukum istrinya agar tidak lagi membahas tentang KUA. Sayangnya, wanita yang sedang di diamkan itu tak peduli Siska seolah masa bodoh dengan sikap Danang.


Pri yang baru saja selesai makan siang itu hanya memandang nya sekilas. Lalu Danang menghembuskan napas kasar sembari membuang muka. Isyarat bahwa laki-laki itu tidak menginginkan peresmian perkawinan mereka. Sebab, menurutnya, pernikahan itu akan semakin mengikutinya.


"Kalau nggak kamu nggak mau juga nggak papa, sih, Mas. Aku pun sudah ikhlas harus menjadi janda. Toh, sebagian orang juga tahu kalau aku sudah pernah menikah denganmu. Dan mereka semua pasti akan mengira anak ini adalah anakmu. Gampangkan? Dan setelah bercerai dari kamu, aku pasti menikah dengan orang lain. Setidaknya masih ada orang yang mau menerima aku meskipun sudah menjadi janda dan memiliki anak. Kalau kamu? Memang masih ada perempuan yang menerima pria cacat seperti kamu, Mas? Di mana-mana di zaman sekarang itu perempuan realistis, Mas. Mereka tidak mau menikah dengan orang yang tidak mampu memberikan apa pun. Saat ini sudah bukan waktunya menerima laki-laki apa adanya, pikir kan itu!. Aku yakin hanya diriku wanita yang sanggup menerima kekuranganmu. Tapi, itu sih terserah kamu, Mas! Keputusan ada di tanganmu. Mau meresmikan maka rumah tangga ini berjalan sebagaimana mestinya. Tidak pun tak apa. Mungkin sampai di sini jodoh kita. Ini pertanyaan terakhir ku. Dan tolong nanti malam di jawab. Kalau dalam satu minggu hubungan kita tetap seperti ini, aku dengan terpaksa aku akan minta talak dan mengantarkan kamu pulang. Aku tidak main-main."


Siska acuh tak acuh. Seolah tidak butuh, padahal di dalam hatinya sangat berharap Danang menginyakan permintaan nya. Biar bagaimana pun dia tidak mau bercerai dengan Danang secepat itu. Perempuan itu masih berusaha menjaga nama baik di mata keluarga besarnya. Walaupun sebenarnya nama baik itu sudah hancur sejak lama.


Tanpa kata Danang meninggalkan Siska seorang diri. Laki-laki itu memutar kursi rodanya hingga menjauh dari rumah yang beberapa bulan terakhir menjadi tempat tinggalnya. Danang pergi ke sebuah tanah lapang yang tidak terlalu jauh dari kediamannya saat ini.


Di bawah pohon sengau yang tumbuh di pojok lapangan. Danang memarkirkan kursi rodanya. Laki-laki itu diam menenangkan diri. Kenyataan yang baru di ketahui itu cukup mengguncang jiwanya. Hingga akhir-akhir ini membuatnya kehilangan semangat hidup.

__ADS_1


Danang termenung di bawah pohon tersebut. Pikirannya melayang jauh. Otaknya berusaha keras menekuni apa yang terjadi dalam hidupnya akhir-akhir ini.


"Siska kamu wanita jahat yang pernah aku temui! wajahmu cantik tapi ternyata hatimu sangat busuk. Tega kamu menjebakku hingga sampai hati menyakiti dan meninggalkan istriku demi kamu perempuan murahan yang suka celap celup sana sini." Dalam kesendiriannya, Danang merutuki Siska. Dada nya naik turun sebab menahan emosi. Tangan nya pun mengepal dengan kuat. Rahangnya mengeras. Danang marah besar akhir-akhir ini, tapi tidak mampu meluapkan di depan Siska selain dengan cara diam. Dada nya selalu merasa sesak setelah mengetahui kenyataan tentang kandungan Siska. Janin yang di sangka anak kandungnya ternyata benih orang lain. Perempuan yang di kira mampu memberikan kebahagiaan ternyata seorang pembohong besar.


"Bodoh! bodoh kamu, Danang! Bodoh karena kamu telah membuang wanita sebaik Riska demi mendapatkan Siska. Hanya gara-gara janin yang ternyata bukan anak ku." Danang memukuli kepala nya sendiri. Tak lama kemudian ia menjerit seperti orang kesakitan.


Beruntung di tempat itu sedang sepi, sebab panas yang terik membuat orang enggan untuk keluar rumah. Dan itu membuat Danang leluasa untuk mengeluarkan jeritan hatinya yang menuntut peluapan.


Sudah satu jam Danang berada di bawah pohon dengan tatapan kosong. Rambutnya yang gondrong bergerak karena tiupan angin yang sedang kencang.


Siapa pun orang nya yang melihat Danang saat ujung akan menaruh rasa prihatin terhadapnya. Bagaimana, tidak, rambutnya yang gondrong, badan kurus dan mata yang cekung, pipu kurus menegaskan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja serta tak terurus. Tekanan batin akibat ulah sendiri membuatnya seperti mayat hidup, mati segan hidup pun tak mau.


Danang memejamkan mata sejenak sembari meresapi sesaknya dada. Dalam mata tertutup muncul wajah Riska yang sedang tersenyum sinis ke arahnya.


"Riska." Danang menggelengkan kepalanya kuat guna mengenyahkan bayangan mantan istri yang gentanyangan seolah mengejeknya.

__ADS_1


"Apa kamu puas melihat kehancuran ku, Riska? Apa kamu bisa bahagia di atas penderitaan ku, Riska? Maafkan aku yang telah bodoh." Danang bergumam sendiri. Tiba-tiba matanya merasakan panas.


"Danang! jadi laki-laki itu jangan cengeng! kamu tidak salah-salah amat dalam hal ini. Tidak ada salahnya pria itu berpertualang. Kalau saat ini kamu sedang dalam kondisi seperti ini, wajar. Anggap saja sedang kena apes." seolah ada yang membisikan kata-kata tersebut di sebelah kiri.


"Terima dan nikmati apa yang sedang terjadi, Danang! Inilah ganjaran dari apa yang kamu tanam. Kamu berzina sebelum menikah. Padahal, saat itu kamu punya istri. Kamu melepaskan wanita yang telah berjasa dalam hidupmu demi seorang perempuan yang kamu kira mengandung benihmu? Padahal jelas-jelas itu milik orang lain. Kamu korbannya kebahagiaan bersama Riska demi mengejar kebahagiaan semu. Ini adalah seuil balasan untukmu. Kaki cacat dan harga diri yang di injak-injak adalah balasan kecil dari apa yang kamu lakukan. Sekarang pikirkan bagaimana bertahan hidup. Dengan Siska setidaknya kamu bisa makan meskipun kamu tidak bekerja. Di luapan sana kamu harus banting tulang demi sesuap nasi. Tidak apalah menyanyangi anak orang lain. Anggap saja anak sendiri." suara itu sayup-sayup terdengar oleh telinga kanan Danang.


Entah dari mana bisikan itu berasal. Tapi, cukup mampu mengusik pikiran laki-laki yang sedang frustasi tersebut.


Saat ini Danang benar-benar di puncak kebingungan. Entah kesimpulan apa yang akan diambil. Apabila meneruskan pernikahan berarti merendahkan dirinya sendiri. Tapi kalau ingin menyudahi, takut di permalukan oleh keluarga besarnya. Mendadak curhatan perasaan ibunya yang terngiang di telinga nya. Kemarin, Bu Zainab pun sempat bercerita bagaimana adik-adiknya menyalahkan atas kepergian Riska. Mereka mengatakan bahwa Bu Zainab tidak bersyukur dengan menantu yang di miliki saat itu. Bahkan, mereka pun kompak menertawakan Ibunya Danang yang saat ini tidak bisa mendapatkan jatah bulan dari anak-menantunya. Saat ini, untuk menghidupi dirinya, Bu Zainab terpaksa harus ikut menjadi buruh pada orang-orang yang memperkerjakan ladangnya.


bersambung...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


...----------------...


__ADS_2