
"Ada apa Bi? kata teman saya. Bibi memanggil saya, ada apa?" dengan santai tanpa merasa berdosa, Riska menghampiri Narti yang sedang bersitatap dengan Wisnu.
"Tuh Bu orang nya sudah datang. Silahkan selesaikan masalah kalian. Kami akan menyelesaikan pekerjaan kami."
Wisnu yang tadi di tahan oleh Narti kini melenggang pergi dari bibinya Riska tersebut. Laki-laki itu kembali ke tempat kerjanya. Wisnu pun membantu karyawan nya mengangkat kayu untuk di masukkan ke dalam mesin serkel.
"Riska! Apa yang kamu pikirkan sampai kamu menjual pohon jati milikku?." Narti melotot ke arah keponakannya, di acungkan telunjuk nya tepat ke arah muka Riska.
"Biasa aja Bi, nggak usah nunjuk-nunjuk seperti itu." Jari telunjuk Narti di turunkan oleh Riska dengan santai.
Tidak nampak ketakutan atau rasa bersalah di wajah Riska. Menunjukkan bahwa Riska merencanakan ini dengan matang.
"Jawab Riska! Apa maksud kamu menjual pohon jati ini?. Apa? Ibu sama anak sama-sama kurang ajar." Dengan lantang Narti mengucapkan itu.
Ucapan Narti hanya di tanggapi dengan senyum sinis oleh Riska. Perempuan yang pernah gagal dalam berumah tangga itu berdiri dengan santai. Di lipat kedua tangan nya di depan dada, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Jaga omongan mu, Bi! Ibu dan anak siapa yang kamu maksud, Bi? Bukannya kalian berdua? Bi Narti dan juga Siska termasuk pasangan ibu dan anak yang sangat kurang ajar. Buktinya, berkolaborasi menghancurkan kebahagiaan orang lain. Jadi jangan mengatakan kepada orang lain kurang ajar kalau diri sendiri pun lebih jauh kurang ajar. Sebenarnya Bi Narti sedang membicarakan diri sendiri, bukan? Tolong bercermin dulu sebelum mengatakan itu pada orang lain. Ah, aku lupa di rumah Bi Narti tidak punya kaca ya. Jadi, tidak tahu bahwa dirinya itu seperti apa. Bi, uang tujuh juta kemarin mendingan di belikan kaca besar, deh. Agar tau seperti apa sih bentuk pribadi kalian." Sesantai dan setenang mungkin Riska menghadapi Narti.
"Hai anak kecil, jaga ucapanmu! Aku tidak pernah mengganggu kebahagiaan kalian, bila ibumu tidak pernah menghancurkan kebahagiaan kami! Apa yang kami lakukan saat ini adalah upaya dalam mengambil kebahagiaan yang kalian rampas." Narti benar-benar bebal. Dia selalu saja mengatakan bahwa semua yang terjadi dalam hidupnya gara-gara Ratih.
Padahal sejatinya Ratih tidak ada sangkut pautnya dalam hal ini. Bahkan kemarin sudah di jelaskan dengan gamblang oleh Ratih di depan umum sebelum pergi ke kota menemani Riska. Akan tetapi pemikiran Narti tidak juga berubah. Wanita yang pernah melahirkan Siska hanya mengikuti apa yang ada di dalam otaknya. Menuduh Ratih menjadi penyebab kesengsaraannya. Susah memang kalau hati sudah di kuasai iri dan dengki.
Ah, bukankah benar apa yang dikatakan pemuka agama, apabila rusak seonggok daging yang bernama hati, maka seluruh tubuhnya pun akan rusak. Ya, karena hatinya kotor maka tindakan, ucapan Narti dan Siska pun selalu kotor dan penuh kebencian.
"Terserahlah, Bi Narti mau ngomong apa. Toh, nyatanya ibuku tidak pernah merampas kebahagiaan kalian. Ibuku pun tidak pernah membuat kalian sengsara. Justru perempuan yang bernama Ratih lah yang selalu membantu kalian di saat kalian susah dulu. Tapi, kenapa hati dan pikiran Bi Narti tidak pernah terbuka tentang hal itu. Tidak pernah bisa menerima kebaikan ibuku. meskipun semua bantuan nya di terima. Uluran tangannya pun di sambut dengan gembira. Bahkan, di butuhkan. Tapi hati kalian tetap saja di penuhi kebencian. Mungkin, memang benar, ya. Kalau Bi Narti adalah manusia yang terbuat dari tabah sengketa. Sehingga tidak pernah bisa damai, ingin selalu saja mencari ribut!." Mata riak menatap nyalang ke arah Bibinya yang wajahnya sudah memerah.
__ADS_1
Narti kehabisan kata-kata setelah di kuliti oleh Riska. Tidak ada satu ucap pun yang mampu keluar dari bibirnya. Perempuan itu mendengus kesal
Riska pun terdiam. Di tatapnya orang-orang yang sedang sibuk membelah kayu jati tersebut.
"Aku tidak akan mencari ribut, Riska. Seandainya kamu tidak memotong dan menjual kayu jatiku dengan seenak udelmu sendiri." Narti lagi-lagi berkacak pinggang, membantah ucapan keponakannya setelah sekian menit terdiam.
"Bibi nggak sadar juga? sudah mengambil uang Ibuku dengan paksa? padahal, bibi masih punya aset yang bisa di jual. Kayu jati ini misalnya. Seandainya, kemarin uang ibuku bibi kembalikan. Tidak mungkin aku menjual kayu ini. Jadi, di sini siapa yang berbuat ulah? Situ atau ibuku? sekarang kembalikan uang tujuh juta tersebut kalau mau uang kayu jatimu aku kembalikan. Sanggup mengembalikan uang tujuh juta tersebut?
Sudah lah, Bi. Berhentilah membuat ulah. Toh sampai kapan pun sampean akan tetap kalah menghadapi aku. Sebab aku tidak akan menyerah dan membiarkan diri kalian menginjak harga diri ibuku lagi. Sudah cukup fitnah kejam yang kau dengungkan selama ini. Jadi sudah paham ya? mengapa kayu ini di jual. Dan percuma memperkarakan hal ini. Anda tidak punya uang untuk mengurus persidangan. Sudah, ah aku mau pulang. Kalau berani macam-macam. Penjara urusannya." Setelah puas mengeluarkan unek-uneknya Riska melenggang pergi meninggalkan Narti yang terpaku di tempatnya berdiri.
"DASAR bocah cilik! Kamu pikir berhasil menggertak aku! Aku ini sudah tua. Tidak mempan kamu bodohi dengan ancaman mu tersebut. Aku tidak akan pernah menyerah sebelum mendapatkan apa yang kami inginkan. Kehancuran keluarga kalian, Ratih! Aku tidak peduli seberapa besar pengorbanan kami untuk membuat mu hancur!." Narti mengomel sendiri di tempatnya. Padahal sudah berapa kali dia kalah oleh Riska. Tapi manusia itu tetap bebal.
Riska berjalan dengan hati tenang. Pikiran nya lebih plong. Masalah nya dengan Narti sudah selesai.
"Bagaimana sudah selesai urusan dengan gajahnya?." Riska tersentak kaget dengan suara itu. Matanya melotot sempurna pada sosok yang berdiri di hadapannya. Saking tak percaya nya, Riska menutup mulutnya sendiri.
"Alhamdulillah kabar baik. Sengaja nggak ngabarin biar jadi surprise. Sudah selesai urusan dengan gajahnya?." Septia membalas pelukan Riska dengan erat.
Di sebut nama gajah Riska pun tersenyum. Ini pasti karena Ratih yang memberitahu kalau Riska habis berantem dengan gajah.
Tidak bertemu beberapa minggu dengan Septia membuat nya rindu. Kami berpelukan erat seolah sudah menahan rindu berat, saking rindu nya mereka berpelukan sambil bergoyang-goyang karena asyiknya.
"Orang tua kayu sudah baikan?." tanya Riska.
Kami melerai pelukan. Kutatap wajah Septia dengan seksama.
__ADS_1
Ya, Septia baru saja pulang dari menjenguk kedua orang tuanya yang sedang sakit. Itulah alasan kenapa mereka tidak bertemu selama itu.
"Ngomong-ngomong kamu ke sini sama siapa?." celingak-celinguk mencari seseorang dan juga kendaraan di halaman rumah. Tidak kutemukan kecuali kendaraan sendiri.
"Tadi bareng Mas Reza. Kebetulan dia memang sedang ada urusan di sini jadi aku minta ikut saja. Udah lama nggak ketemu kamu jadi kangen. Sekalian jalan-jalan." panjang lebar Septia menjelaskan hanya di balas dengan oh.
"Kamu sudah kembali Nak? sudah selesai urusan dengan gajah? Neng Tya ini minuman nya." Ratih muncul dari dapur dengan membawa nampan berisi segelas teh manis dan sepiring ubi rebus.
"Ah Ibu, padahal nggak usah repot-repot. Terima kasih yah Bu." ujar Septia berbasa basi.
Riska mendongak menatap ibunya dengan serius. Bukankah kemarin beliau yang melarang nya memanggil sebutan jelek untuk Bi Narti. Tapi kenapa justru dia sendiri yang menyematkan nama gajah untuk adiknya?.
Ah, mungkin dia lupa. pikir Riska.
"Sudah, Mah. Alhamdulillah." Ratih mangut-mangut memberikan respon pada Riska kemudian langkah perempuan itu kembali ke belakang.
***
"Ibu kenapa ngomel-ngomel nggak jelas di telepon?. Ada apa?." Siska yang tengah pusing bagaimana nasib nya ke depan itu kini harus di hadapkan dengan masalah ibunya.
"Tadi si Riska menebang kayu jati milik ibu. Siska! bagaimana ibu nggak kesel coba? Semakin kurang ajar bekas istri suami mu itu." Di sebut kayu jati, mata Siska membelalak sempurna.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...