
"Siska!." sekali suara itu memanggil.
Wanita yang di panggil namanya membeku di tempat.
"Apa kabar kamu? Bagaimana keadaan anak bapak?." Lelaki berumur 50 tahun lebih itu mendekat ke arah Siska yang tidak mampu menelan saliva nya sendiri.
Beberapa pengunjung IndoApril menoleh ke arah mereka. Orang-orang tersebut memandang Siska dengan berbagai respon. Tak sedikit yang mengejek, merendahkan dan menghakimi dengan pemikiran nya sendiri. Bagaimana mereka tidak memandang rendah Siska, ada seorang laki-laki yang menanyakan seorang anak pada perempuan tersebut. Dengan gamblang di otak para pengunjung IndoApril menilai bahwa Siska adalah seorang simpanan Kakek-kakek.
Laki-laki yang bernama Max yang merupakan orang kepercayaan Sanusi itu terus memandang Siska dengan tatapan yang sulit di artikan.
Pakaian yang mencolok membuat mereka menjadi pusat perhatian, di tambah dengan dua bodyguard di samping laki-laki itu.
"Kita bicara di luar, Siska!" Siska yang belum sempat mengambil es krim pun di tarik oleh laki-laki berjas itu keluar dari IndoApril.
Tatapan garang dari kedua bodyguard itu membuat nyali Siska menciut, mau tidak mau Siska mengikuti Max di belakang dengan kepala menunduk.
Keluarnya mereka dari pintu IndoApril mendapat tatapan dari sekeliling orang-orang dengan berbagai spekulasi.
"Apa kabar Siska?." tanya Max kembali sembari berbalik badan dan menatap tajam ke arah Siska yang terus menunduk.
"Ba-baik Pak. Bapak apa kabar?." Dengan terbata Siska menjawab dan menyapa pria di hadapan nya. Rasa takut mulai menggerogoti seluruh tubuhnya, dia belum siap menghadapi pria di hadapan nya. Apalagi ibunya belum juga menemukan bayi pengganti dari bayi miliknya yang sudah meninggal.
"Saya baik seperti yang kamu lihat. Sekarang jawab pertanyaan saya! Dimana anak itu?" tatapan laki-laki kepercayaan Sanusi itu mengunci Siska.
Susah payah perempuan itu menelan ludah nya kembali. Namun detik berikutnya otaknya sudah menemukan jawaban.
"An-anaknya di curi orang Pak." Siska memasang wajah sedih. "Sebab itu saya tadi diam, karena tidak tahu harus menjawab apa saat bapak bertanya demikian. Saya sudah memprediksi Bapak pasti akan menanyakan itu." Dengan memasang wajah sedih Siska menatap Max.
Hanya Itu satu-satunya jawaban yang ada di atas Siska Sebab Dia tahu jujur dengan asisten Pak Sanusi tidak mungkin. Kemurkaan jelas akan ia dapatkan apabila mengatakan terus terang pada lelaki di hadapannya.
__ADS_1
"Apa? anak itu hilang, Ssika?." Max terlihat syok. Assisten kakek tua tajir melintir itu terlihat tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Pundak laki-laki yang mengenakan arloji bergerak dengan harga jutaan tersebut menurun. Gurat kecewa serta marah tampak jelas di wajah pria berusia puluhan tahun tersebut. Bagaimana tidak? anak harapan satu-satu nya sebagai pewaris kerajaan bisnis Pak Sanusi tidak ada.
"Jangan bohong kamu! cepat katakan di mana anak itu?." teriak Max membuat Siska kesusahan menelan air liurnya sendiri.
Siska hanya tertunduk ketakutan. Apalagi kedua bodyguard di samping Max menatap tajam ke arahnya.
"Kalau begitu kembalikan uang ratusan juta saya yang sudah kami kirim untukmu, Siska!" Max menatap tajam ke arah Siska.
Bagai di siram air es satu drum besar, tubuh Siska membeku di tempatnya. Bagaimana tidak, uang ratusan juta yang telah ia habiskan harus di kembalikan.
'Bagaimana ini aku harus mengganti uang sebanyak itu? uang dari mana sebanyak itu? Sial! Bagaimana bisa aku bertemu dengan pria tua bangka ini. Masalah satu belum selesai, mengapa udah ada masalah yang lain? Tuhan mengapa engkau berikan ujian di hidupku sebanyak ini?.' Siska mengeluh di dalam hati.
Siska bilang itu ujian padahal ujian itu Allah berikan kepada mereka yang taat kepadanya. Sementara masalah Siska? semua itu adalah ulah perbuatannya sendiri. Karena keserakahan nya ia menuai dari apa yang ia perbuat.
"Kalau kamu ceritakan apa adanya ke Pak Sanusi aku yakin dia akan meninggal dalam waktu dekat ini. Kamu mau itu terjadi? Bukankah sumber keuangan mu berasal dari dia?." Siska sedikit menggertak Max.
Siska menatap kedua bodyguard garang yang hendak menghampirinya.
"Oke, aku ikut kalian."
***
Keesokan hari nya di kediaman Riska. Ibu dan anak itu sedang sibuk memasak di dapur. Kegiatan yang sering mereka lakukan saat masih tinggal bersama dulu. Riska sangat senang membantu ibunya memasak di dapur, sesuatu hal yang membuat mereka selalu kompak.
Riska melupakan masalah yang terjadi kemarin. Setelah membuat Siska kalah telak olehnya, dia ingin bersenang-senang hari ini bersama teman-teman nya di acara kondangan sekaligus ajang reuni angkatan sekolah Riska.
"Kamu jadi kondangan pagi ini, Nak?." tanya Ratih yang sedang membalikkan bakwan di dalam penggorengan itu bertanya pada anaknya tanpa menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Jadi dong, Mah." Di tengah kesibukan nya memasak, Riska menjawab.
***
Riska mematut diri sejenak di depan kaca.
"Sudah cantik." Dia tersenyum memuji dirinya sendiri.
Pagi ini, Riska tampil memukau dengan gamis Dress kondangan yang di lapisi dengan brokat itu. Perempuan yang memiliki tinggi badan seratus enam puluh itu tampak anggun dengan polesan make up tipis di wajahnya.
Dengan hati yang bahagia, Riska keluar dari kamarnya.
"Masya Allah cantiknya anak mama." Ratih yang bertemu dengan Riska di ruang tamu pun tak berkedib memandangi anaknya. Perubahan wajah Riska kian terlihat jelas setelah melakukan perawatan. Berpisah dengan Danang membuat nya lebih banyak memiliki waktu dan uang untuk merawat diri yang selama ini ia abaikan.
"Riska berangkat, Mah." Riska menatap lekat wajah ibunya dengan senyum sumringah. Lalu, punggung tangan Ibunya yang telah di raih di ciumnya dengan takdzim.
"Assalamualaikum," Riska melambajkan tangan ke arah ibunya sambil berjalan meninggalkan rumah.
"Waalaikumsalam. Hati-hati." Ratih melepas kepergian anaknya.
Riska pun segera masuk ke kendaraan roda empat miliknya. Tak butuh waktu lama dia pun mulai meninggalkan rumah ibunya menuju tempat lokasi. Rumah Rizki cukup jauh dari kediaman Riska. Satu jam jarak tempuh dengan kendaraan roda empat. Dulu, Rizki adalah murid yang tinggal di kos-kosan sebab rumahnya terlalu jauh dari sekolah.
Rizki, teman Riska semasa putih abu-abu dulu telah kembali ke rumah orang tuanya. Mengapa Ayu dibela-belain datang, meskipun jauh? Sebab di grup alumni sma-nya mereka sepakat untuk hadir di hari bahagia Rizki tersebut. Mereka menjadikan acara kondangan sekaligus reunian angkatan mereka.
Di tengah perjalanan tiba-tiba mobil Riska mogok. Padahal, jarak ke rumah Rizki masih jauh.
"Ya Allah... ini kenapa?." Riska panik di dalam mobil setelah berulang kalo mencoba menyalakan mesin kendaraan tersebut, tapi tak kunjung menyala. Riska pun segera mengendarkan pandangannya ke seluruh penjuru daerah situ.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...