Sepupuku Maduku

Sepupuku Maduku
Part 49


__ADS_3

Riska sudah mulai terbiasa menjalani aktifitas di lingkungan baru nya. Toko miliknya pun sedang dalam proses pembangunan, mungkin untuk 1 bulan ke depan akan rampung.


Pagi ini Riska memulai aktifitas nya dengan menyiram tanaman yang ada di pekarangan rumahnya, melihat tanaman hijau di pagi hari memang satu hal yang mengejukkan mata. Apalagi jika sudah di guyur hujan maka bertambah segar di pandang. Namun sudah beberapa bulan ini hujan tidak turun. Bahkan tetangga yang menggunakan air PDAM, mengeluhkan karena air tidak mengalir. Beruntung Riska menggunakan air sumur dan sampai saat ini air nya masih ada.


"Bagus yah, orang-orang pada susah mendapatkan air. Ini malah buang-buang air." sinis Suci melirik Riska yang sedang menyiram tanamannya.


Sejak perkenalan pertama mereka, Suci selalu bersikap sinis kepadanya. Entah apa yang salah dalam dirinya, tapi Riska sama sekali tidak memperdulikan Suci. Toh memang dia merasa tidak berbuat salah kepadanya.


"Hei kamu punya telinga, tapi pura-pura tidak mendengar yah." Tangan nya bersidekap di dada, berdiri dengan angkuh di hadapan Riska.


Riska menurunkan selang air dan tak lupa mematikan kran nya. Lalu berdiri berhadapan dengan Suci.


"Mbak Suci ada masalah apa sebenarnya dengan saya? saya heran sejak pertama bertemu, Mbak Suci selalu bersikap sinis kepada saya." ujar Riska masih bersikap ramah walaupun sebenarnya dalam hati dia merasa dongkol karena mendapatkan tetangga semacam Mbak Suci.


"Apa kamu tidak menyadari kesalahan apa yang sudah kamu perbuat?." justru Suci bertanya balik.


Riska mengenyitkan alis bingung.


"Karena kamu itu seorang janda yang suka nya tebar pesona!"


'Hah kapan aku tebar pesona?' Riska semakin bingung.


"Gara-gara kamu suamiku selalu memuji kamu, bahkan tidak memperdulikan aku sebagai istrinya." ucap Suci menatap emosi ke arah Riska.


"Hei Mbak, siapa yang tebar pesona?." tanya seseorang yang kebetulan lewat di depan rumah Riska.


Teriakan nya mengundang beberapa orang yang lalu lalang berhenti. Karena lingkungan ini termasuk padat penduduk. Sehingga teriakan Suci membuat semua orang penasaran dan ingin mengetahui apa yang tengah terjadi dan Riska paling tidak suka menjadi pusat perhatian seperti ini.


"Ini Mbak Ivy, Riska itu janda gatal, mungkin dia sudah lama tidak mendapatkan belaian jadi suka nya tebar pesona dengan suami orang." jelas Suci.

__ADS_1


"Jangan suka asal bicara Mbak, nanti jatuhnya fitnah. Kapan saya tebar pesona sama suami Mbak, bertemu saja tidak!."


"I-itu mana aku tahu, yang jelas mungkin kamu bertemu tanpa sepengetahuan saya di belakang." ucap Suci sedikit gugup. Matanya tidak berani menatap mata Riska, mata nya bergerak ke kanan dan ke kiri seolah apa yang ia katakan hanya sekedar omongan dusta belaka.


"Mbak punya bukti?." tanya Riska.


"I-itu bukti nya suami saya selalu membicarakan kamu, pokok nya aku nggak terima. Kamu harus di adili dan pindah dari sini!."


"Aku tidak akan pergi dari sini. Karena aku tidak berbuat salah. Mbak juga nggak punya bukti kan? kalau perlu ayo kita bawa masalah ini ke pak Rt dan bawa suami kamu itu. Saya nggak terima di perlakukan seperti ini." tegas Riska.


Suci gelagapan, rencana hanya ingin mempermalukan Riska di depan semua orang. Justru ia


"Mah ada apa? kenapa ribut-ribut di sini?." tanya seorang pria yang di taksir sebagai suami Suci.


"Ini Mas Abdul, Mbak Suci bilang kalau Mbak Riska janda genit yang suka tebar pesona sama Mas Abdul. Apa itu benar?." ujar seseorang menjelaskan karena Suci yang di tanya hanya diam saja.


"Apaan sih kamu Mah, bikin malu aja. Bapak-bapak ibu-ibu itu tidak benar, mbak Riska ini tidak pernah tebar pesona sama saya. Istri saya seperti nya salah paham dengan apa yang saya katakan." ujar pria bertubuh sedikit atlentis dan hanya menggunakan celana pendek tanpa baju. Terlihat otot-otot tangan nya, sepertinya ia baru saja selesai berolahraga.


Sebelum menjawab, Abdul sedikit melirik Riska yang sama sekali tidak menatap nya dan tersenyum. "Saya mengatakan kalau Mbak Riska ini wanita hebat yang mandiri karena bisa membangun ruko sebesar ini." ujar nya sembari menunjukkan ruko milik Riska yang belum rampung.


'Hah tentu istri nya salah paham, kalau suaminya memuji wanita lain.' Batin Riska. Riska menatap Suci yang juga balik menatap tajam kepadanya mendengar ucapan suaminya. 'Tapi kenapa mbak Suci diam saja? Apa dia takut dengan suaminya, dan hanya berani melabrak di belakang saja.'


"Dek Riska, maafkan istri Mas Abdul yah. Jangan di ambil hati. Dia memang seperti itu kalau lagu cemburu. Oh yah kita belum perkenalan Saya Abdul Zaelani, panggil saja Mas Abdul." di depan semua orang bahkan istrinya, Abdul berani memperkenalkan diri kepada wanita lain. Padahal dia adalah pokok masalahnya sejak tadi, yang membuat istri nya marah-marah kepada Riska.


"Sudah lah Mas, kita pulang saja yuk." ujar Suci yang tidak terima suami nya berkenalan dengan wanita lain dan menarik lengan suami nya.


Abdul melepaskan rangkulan istri nya itu "Nanti Mah, Mas belum berkenalan dengan tetangga baru kita."


Entah apa tanggapan orang yang melihat mereka, disini sudah seperti tontonan gratis saja. Riska benar-benar risih tidak memperdulikan uluran tangan dari suami Suci.

__ADS_1


"Dek..." ujar Abdul yang tangan nya di anggurin oleh Riska.


"Ada apa ini kenapa kalian berkumpul dan berkerumun di depan calon istri saya?." ujar pria di belakang orang-orang yang menonton drama i*dosi*r gratis.


'Hah, calon istri?.' Batin Riska kaget.


Orang-orang memberi jalan dan mempersilahkan pria berpostur tinggi dan tampan berkaus kemeja kotak-kotak dan tak lupa kaca mata yang bertengger di mata nya memberi kesan maskulin pada pria itu.


"Vino?." ucap Riska tanpa sadar.


Pria tersenyum karena Riska mengingatnya lalu berjalan menghampiri Riska dan berdiri di sebelahnya sembari merangkul pundaknya.


Riska menegang dan melirik ke sampingnya dan di balas senyum manis oleh Vino.


"Maaf Mas, saya tidak suka melihat calon istri saya berkenalan dengan sembarang orang terutama laki-laki seperti anda." tegas Vino menatap tajam Abdul.


Di tatap seperti itu oleh Vino, Abdul gelagapan karena ia tahu siapa Vino. Ia tidak ingin sampai kehilangan pekerjaan gara-gara ia sudah mengganggu calon istri Vino.


"Maaf Pak Vino, saya tidak tahu kalau Dek Riska ini calon istri bapak. Sekali lagi saya minta maaf."


"Saya maafkan dan nasihati istri mu itu untuk tidak mengganggu calon istri saya. Kalau sampai calon istri saya masih merasa terganggu oleh kalian, siap-siap saja apa yang akan saya lakukan pada kalian." ancam Vino.


Abdul ketakutan dan menarik istrinya untuk pulang ke rumah mereka, Riska heran sekaligus bingung dengan sikap Vino dan juga Abdul.


"Sudah kalian juga bubar!." teriak Vino lagi kepada orang-orang yang masih menonton. Mereka seperti tidak punya pekerjaan saja, kepo dengan urusan orang lain.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2