
"Siapa ayah anak yang kamu kandung ini, Siska?." suara Danang meninggi beberapa oktaf hingga perempuan yang dulu membuatnya tergila-gila itu mengkerut. Saking takutnya!.
'Sial! Gara-gara pria brengsek tadi jadi kebongkar apa yang selama ini aku tutup rapat. Aku harus cari cara agar mas Danang tidak akan bisa pergi dari sisiku. Betapa malunya aku kalau sampai rumah tangga kami hancur berantakan. Tidak hanya di depan mbak Riska aku mempertaruhkan muka ini, tapi di depan keluarga besar dari ibu. Pasti kegagalan Rumah tanggaku akan menjadi guyonan gratis sepanjang masa untuk mereka, Oh tidak hanya sebagai bahan candaan lebih tepatnya hinaan, cemoohan dan pergunjingan. Dan aku tidak mau itu terjadi. Siska ayo cari cara untuk mengikat Danang!." Panjang lebar Siska bermonolog dalam hati.
Tatapan Siska lurus ke depan. Pikirannya mengawang. Otaknya memilah ingatan waktu itu. Di saat dirinya mengetahui garis dua pada alat yang disebut tespek.
"Aku hamil Mas." pesan singkat Siska kirim waktu itu pada seseorang yang telah mengajaknya melakukan dosa besar. Hal yang tidak boleh dilakukan manusia maupun kecuali suami istri. Saat itu Siska yang sedang dilanda panik luar biasa setelah mengetahui dua garis di alat pengecek kehamilan.
"Lalu aku harus bagaimana Siska ? Tidak mungkin aku harus bertanggung jawab. Sebab Besok pagi aku akan melangsungkan pernikahan. Dan jangan coba-coba menghancurkan masa depanku dengan lelucon konyolmu itu. Aku pastikan ini pesan terakhir kita. Lupakan apa yang terjadi di antara kita termasuk malam panas waktu itu. Saat itu aku tidak sengaja melakukannya. Sebab aku terpengaruh minuman. Aku bahkan tidak sadar telah menghabiskan malam bersama kamu. Dan aku tidak begitu yakin kalau itu anakku. Rasanya mustahil bisa langsung jadi. Padahal kita melakukannya hanya sekali jangan-jangan itu bukan anakku." Pesan balasan dari cowok yang pernah dicintai Siska sepenuh hati waktu itu.
Saat itu Siska hancur seketika harga dirinya merasa diinjak-injak oleh laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya di masa lalu. Padahal dalam ingatannya dengan jelas jika Farel yang mengajaknya untuk tidur malam itu tiba-tiba pria tersebut mengingkarinya dan bilang kalau saat itu ia tidak sadar.
"Kurang ajar kamu Farel!" Dalam frustasi Siska membanting handphonenya hingga retak layarnya. Tidak terima harga dirinya diinjak-injak malam itu juga Siska menemui orang tua Farel untuk meminta pertanggungjawaban anaknya. Namun bukan sambutan baik seperti yang diharapkan Siska tapi sebaliknya.
"Berapa uang yang kamu inginkan ? Aku tidak sudi mengakui bayi itu sebagai cucuku. Tapi aku masih memiliki hati nurani sehingga berbaik hati untuk menyantuni kaum miskin seperti kamu. Aku sudah mendengar siapa kamu dan sudah menyelidiki wanita macam apa dirimu."
"Oleh sebab itu aku menentang hubungan kalian Aku tidak tahu siapa Ayah dari kandunganmu itu, aku akan memberi uang padamu untuk menutup mulut sebab sadar anakku pernah tidur dengan kamu. Aku rasa segini cukup!." ibunya Farel menyodorkan sebuah amplop coklat yang telah diisi uang sebanyak 10 juta.
"Jangan pernah datang lagi ke sini, kalau mau hidup tenang. Aku bisa membeli apa saja termasuk kamu, ingat kamu tidak akan pernah sanggup melawan kami. Silakan pergi dan bawa uang itu."
__ADS_1
"Siska jawab pertanyaanku? siapa Ayah dari Anakmu itu pertanyaan Danang membuat lamunan Siska kembali ke masa sekarang."
Perempuan itu terkesiap tapi sedetik kemudian bisa menguasai keadaan.
"Kamu ngomong apa sih Mas? jelas ini anak mu. Mana ada anak orang lain." Siska berusaha tenang dalam menghadapi suaminya.
Bahkan dia pun tertawa meskipun terdengar sumbang di telinga siapapun yang mendengarnya. Padahal Siska sendiri mengakui dalam hati dan menganggap pertanyaan Danang adalah sesuatu hal yang serius. Biar bagaimanapun Siska sudah tahu anak siapa yang tumbuh di rahimnya. Sayangnya laki-laki yang berhasil membuatnya hamil adalah calon pengantin wanita lain. Ya Siska melakukan itu bersama dengan mantan kekasihnya.
"Mungkin saat ini kamu bisa berbohong Siska tapi lihat setelah anak itu lahir, aku akan tes DNA membuktikan omongan pria tadi. Jangan-jangan selama ini kamu hanya memanfaatkan aku sebab pria yang telah membuatmu hamil tidak mau bertanggung jawab begitu kan Siska? tega kamu dan bodohnya Aku telah terjebak dan terbuai dengan rayuanmu dan kamu sudah berhasil menghancurkan semua mimpiku bersama Riska," Danang mengacak rambutnya frustasi lalu meraup muka dengan kedua tangannya sendiri.
Siska memejamkan mata sejenak. Biar bagaimanapun Siska paham betul siapa sebenarnya bapak anak ini, tapi untuk jujur ke Danang sejak awal pun tidak mungkin, sebab itu satu-satunya cara untuk memisahkan Danang dari Riska, sepupu sekaligus musuh yang selama ini dibencinya.
Siska yang awalnya takut ketahuan Danang, akhirnya memilih untuk bertindak tegas agar Danang tidak mengambil keputusan yang akhirnya merugikan dirinya sendiri.
"Jadi benar kalau anak itu bukan anakku? Lalu itu anak siapa?" dada Danang naik turun sebab emosi.
Nafasnya memburu hingga tanpa sadar tangannya mengepal.
Sebenarnya Danang bukan hanya merasa dikhianati oleh Siska tapi juga rasa cemburu yang tidak bisa diungkapkan kepada Riska yang kini didekati oleh pria lain. Laki-laki yang tadi datang menemui mereka cukup mampu memporak-porandakan hati Danang.
__ADS_1
"Anakmu ini anakmu! Kalau kamu tidak percaya silakan lakukan tes DNA."
Siska berusaha setenang mungkin. Padahal di dalam hatinya jantungnya bertalut-talu takut ketahuan siapa sebenarnya Bapak biologis anak yang dikandungnya.
"Seandainya anak itu bukan anakku maka bersiap-siaplah untuk Aku tinggalkan!." Danang yang sudah dikuasai emosi dan tidak mengindahkan ucapan istrinya tadi untuk tetap bertahan agar tidak dicemoh orang-orang.
"Lalu apa kamu akan pergi meninggalkan aku demi kembali kepada Mbak Riska? kamu pikir dia masih mau sama penghianat macam kamu. Baginya kamu itu sampah dan Aku pastikan mbak Riska akan mencari pria yang jauh lebih baik daripada kamu. Aku tahu apa yang ada dalam benakmu, Mas. Kamu marah padaku bukan karena sekedar ingin tahu siapa bapak anak ini tapi ini menyangkut hatimu yang panas mendengar pengakuan pria tadi orang yang mengaku calon suaminya Mbak Riska, ya kan? Nggak usah mengelak semua itu terpancar jelas dari sorot matamu." Siska dengan gamlang menebak isi pikiran suami nya tersebut.
"Oh ya mas karena saat ini kamu sudah resmi bercerai dari sepupuku. Aku ingin meresmikan pernikahan kita secepatnya kita daftarkan perkawinan ini ke KUA."
Mendengar ucapan istrinya Danang melotot dengan sempurna kaget tentu saja seandainya tidak ada kabar tentang benih orang lain di kandungan Siska, Danang pasti dengan senang hati mendaftarkan pernikahan mereka ke KUA. Tapi tiba-tiba saja Danang tidak memiliki keinginan untuk meresmikan hubungan mereka di depan negara.
Siska merubah tempat duduknya kini ia mencondongkan tubuhnya ke arah Danang yang duduk di kursi roda tidak jauh dari sofa yang duduk di Siska.
"Kalau kamu tidak mau meresmikan pernikahan kita berarti siap-siap untuk hidup gelandangan Mas. Sebab aku tidak akan peduli lagi padamu. Bisa jadi aku akan memulangkan kamu ke kampung halamanmu lalu siap-siap menerima hinaan dari orang-orang. Kamu pikir dengan kondisi kaki yang cacat dan tidak memiliki kemampuan apa-apa ada yang mau menerima kamu? sudah kita simbiosis mutualisme saja kamu bisa menyayangi dan menganggap bayi ini sebagai anakmu sendiri. Toh emang ini kan yang kamu inginkan selama ini, kalau kamu menyayanginya dengan tulus maka dia pun akan sebaliknya di masa tuamu nanti." Siska merayu Danang.
Mungkinkah Danang akan mempertahankan pernikahan itu setelah mengetahui kebohongan Siska?.
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...