
"DASAR manusia serakah! Kamu itu memang tidak punya hati! pantas saja kalau Danang meninggalkan kamu dan memilih Siska. Kamu memang perempuan tidak punya hati. Sudah menghancurkan usaha anakku kini tidak mau membagikan harta gono gini. Benar-benar manusia serakah!." telunjuk Narti menunjuk muka Riska yang tersenyum kecut ke arahnya.
"Bibi bilang aku sudah menghancurkan usaha Siska? Nggak salah ngomong? Aku juga nggak tahu apa usaha Siska. Memangnya apa yang telah aku lakukan pada anak perempuan bibi? Tidak ada sama sekali. Bahkan aku tidak melakukan apapun saat dia menikah dengan Mas Danang. Aku tidak melabraknya. Akupun tidak mencoba mempermalukan dia. Coba kalau madu nya Siska itu orang lain, sudah pasti di permalukan di depan umum." Risk menyudahi ucapannya.
Riska tersenyum meringai saat mata nya melihat beberapa orang di hadapan nya bahkan para tetangga kiri kanan keluar rumah masing-masing. Tujuan nya kini telah tercapai, mempermalukan bibi nya di hadapan para tetangga.
Kasak-kusuk terdengar dari orang-orang yang menonton.
"Halah banyak omong kamu. Buktinya kamu mempermalukan di di taman. Gara-gara vidio pertengkaran kalian viral usaha Siska jadi anjlok. Bahkan gulung tikar. Kamu pasti sudah puas menghancurkan anakku?."
"Oh karena itu! Ingat Bi aku tidak akan mempermalukan Siska seandainya dia tidak menyakiti aku. Siska bangkrut dan viral itu karena perbuatan nya sendiri. Bukan karena orang lain. Satu lagi masalah harta gono gini. Sampaikan ke anak Bibi, jangan harap suaminya mendapatkan apapun dariku. Jadi pulanglah jangan pernah kembali ke rumah ini lagi untuk urusan harta gono gini, paham!." tekan Riska pada bibi nya.
"Hah! Jadi Siska penyebab perceraian Riska dengan suaminya? Inalillahi... jadi benar selama ini Siska itu pelakor? dan sepupu nya yang di jadikan madu?." tiga orang yang menonton pertengkaran mereka mulai menggunjingkan Siska.
"Iya iya aku tidak menyangka Siska tega merebut suami sepupu nya sendiri. Gila memang perempuan itu.
"Sama, aku pun tidak menyangka. Padahal Siska itu cantik, tapi kok mau sih sama laki-laki beristri. Terlebih orang yang ia sakiti itu sepupu nya sendiri."
Riska tersenyum tipis saat ibu-ibu itu mulai mencemoh Siska. Tapi rupanya Narti tidak memperdulikan cemoohan para tetangga nya. Mungkin dalam pikiran nya hanya ada bagaimana cara mendapat harta gono gini Danang.
"DASAR serakah. Sekarang kembalikan bagian harta goni gini hak nya Danang. Buka mata hatimu sedikit saja. Danang sekarang tidak bekerja. Istrinya sebentar lagi mau melahirkan. Apa kamu tidak kasihan sama mereka? Kamu beli mobil sementara mereka untuk makan pun kesusahan." Suara Narti lembut. Tapi menusuk. Seolah Riska adalah manusia tanpa perasaan yang serakah dengan harta gono gini tersebut.
__ADS_1
Riska kembali tersenyum menyeringai sembari berdiri dan melipatkan kedua tangan nya di depan dada. Matanya menatap tajam ke arah bibinya.
"Rupanya bibi tidak mengenal siapa menantunya. Baiklah, sebaiknya aku ceritakan sekarang. Jadi, apa yang aku miliki adalah murni menggunakan uangku sendiri. Warisan dari Ayahku. Suami Sisa hasil ramalan dari sisiku itu tidak pernah memberikan apapun padaku. Bahkan, dia pun selama ini menampung hidup padaku. Bibi tahu dari mana biaya hidup ibunya selama ini? Dari Aku! Asal tahu. Apa bibi pikir Danang itu punya uang? Tidak sama sekali. Dia itu pria miskin. Tapi, mengapa Bibi cerita ke orang-orang sini bahwa kekayaan Siska itu berasal dari suaminya? Aku jadi curiga, sebenarnya apa pekerjaan Siska? Apa usaha Siska hingga saat itu tampak seperti orang kaya. Oh ya, Bi tolong di ralat ucapanmu tadi. Bibi bilang aku manusia tak punya perasaan? Atas dasar apa bibi ngomong demikian? Yang tidak punya perasaan itu Bibi dan anaknya! Sudah tahu Mas Danang itu suamiku, tapi tanpa berdosa kalian merebutnya dariku. Apa kalian jenis manusia berperasaan? jawabannya. Tidak. Kalau kalian saja tidak punya itu kenapa berharap orang lain peduli sama kalian!. Tapi aku bersyukur dan harus mengucapkan terima kasih pada Siska. Sebab telah merebut dan mengambil benalu dari hidupku. Aku jadi bebas kan saat ini. Bebas menggunakan hartaku sendiri. Dan apa yang terjadi pada Siska serta suaminya adalah hasil perbuatan nya sendiri. Mungkin, itu teguran dari Allah agar bertaubat dari menyakiti orang-orang di sekitar nya. Katakan pada mereka, berhenti menyalahkan orang lain. Introspeksi diri."
Bibir Narti terkatup rapat. Tidak sepatah kata keluar dari mulutnya. Dia kehilangan kata-kata dan muka. Terlebih saat matanya menatap sekeliling. Banyak Ibu-ibu yang berkerumun di sekitar rumah Ratih. Mereka pun sudah siap menghakimi Narti. Aib nya akan di ketahui semua orang. Narti harus siap-siap kehilangan muka.
Detik berikutnya handphone Riska berdering. Dengan sigap mantan istrinya Danang mengangkatnya.
Riska menghela nafas berat.
"Sebentar yah Mbak, aku telpon lagi."
"Sebaiknya bibi pulang saja. Percuma bibi menunggu di sini, aku tidak akan mau memberikan apa yang bibi minta." ucap Riska lalu beralih menatap ke sekeliling rumah nya. Masih banyak orang-orang yang berkerumun di depan rumah ibunya.
"Maaf ibu-ibu bapak-bapak sebaiknya kalian bubar dari sini. Maaf atas kegaduhan yang terjadi." ucap Riska sembari sedikit membungkukan badan nya dan meminta semua orang untuk membubarkan diri.
Riska berjalan masuk ke dalam rumah dan menutup pintu nya.
Kemudian ia menghubungi kembali Tita, orang yang membeli rumahnya.
Sebelum ia menekan tombol hijau, Riska berpikir keras mencari cara bagaimana membuat perempuan tua itu takut? untuk ke sana sendiri Riska sudah enggan. Hingga di kepalanya seperti terdapat lampu pijar. Beriringan dengan sebuah ide yang tiba-tiba muncul di kepala nya.
__ADS_1
"Gimana ini, Riska?." Suara Tita yang terdengar panik. Di sana dua merasa terganggu oleh kelakuan Bu Zaenab, Ibu nya Danang.
"Sebentar Mbak. Saya akan mencoba berbicara pada Ibunya Mas Danang. Boleh handphone Mbak Tita di mode speaker?."
"Baik, Riska. Silahkan ngomong ke Ibu mertua mu."
Baru saja Riska menerima laporan, kalau Tita tidak di perbolehkan masuk ke rumah nya sendiri yang baru di beri dari Riska oleh Bu Zainab. Dengan alasan itu masih milik anaknya sebab tidak di beritahu kapan rumah itu di jual. Bahkan, menurut Tita, mantan mertuanya Riska itu sudah membawa alat pemukul. Dia akan menghancurkan kaca jendela bila Tita nekat masuk rumah tersebut.
"Ibunya sudah ada di dekat saya, Riska." suara Tita terdengar jelas seiring dengan derap langkah kakinya.
"Bu, Ibu mendengar suaraku?." Riska mencoba memulai komunikasi dengan Ibunya Danang.
"Riska. Kapan kamu menjual rumah itu?." dengan nada tinggi, Zainab bertanya pada perempuan yang dulu membiayai hidupnya tersebut.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1