
Zainab tidak pernah menyangka Riska begitu berani saat ini. Bahkan Zainab merasa sudah tidak lagi mengenali Riska.
Sepanjang jalan menuju rumahnya, bibir Zainab terus saja mengumpat Riska. Tidak sedikit tetangga yang menatap heran ke arahnya. "Mengapa Bu Zainab ngomel seorang diri?." Pertanyaan itu muncul di benak orang-orang yang melihatnya melintas di depan rumah mereka.
Sampai di rumah, Zainab membanting bayam ke arah baskom dengan kesal. Darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun.
Di cari nya handphone jadul yang hanya bisa untuk menelpon dan kirim SMS.
"Kemana sih hp itu?." tidak kunjung menemukan benda tersebut membuat Zainab uring-uringan sendiri.
Di bolak balik bantal tempat biasanya kepala nya beristirahat. Di situ biasanya benda itu di simpan. Namun, sudah berulang kali di obrak-abrik tempat tersebut, tidak juga ia temukan. Zainab pun mengendarkan pandangannya ke seluruh ruangan sempit tempat melepas lelah dengan perasaan campur aduk.
"Kurang ajar! ternyata kamu di sini. Dari tadi aku cari-cari nggak ketemu!." benda mati yang tidak berdosa di marahi habis-habisan oleh Zainab. Padahal, sejak awal benda itu tetap tergeletak di samping ia menaruh minyak kayu putih.
Dengan segera benda yang bisa di gunakan untuk berbicara dengan orang yang berada di jarak jauh itu ia ambil. Lalu, mencari nama Danang di sana. Zainab berharap anaknya akan mengambil tindakan setelah ini. Setidaknya akan memperjuangkan haknya di rumah itu.
"Halo Nang. Rumah kamu sudah di jual oleh Riska!." Begitu sambungan telepon terhubung Zainab langsung berbicara pada intinya tanpa salam terlebih dahulu.
"Danang sudah tahu, Bu." Dengan malas Danang menjawab pernyataan ibu nya.
"Kenapa kamu diam saja. Di situ ada hak kamu." Zainab terus mengompori.
__ADS_1
Entah terbuat dari apa otak Zainab. Sudah di jelaskan oleh Riska, bahwa Danang tidak berhak atas harta gono gini tersebut karena semua itu warisan dari keluarga Riska. Padahal, harta yang di kasih oleh keluarga istri, suami tidak berhak mendapatkan apapun.
"Bu, bukan kami tidak ingin bagian harta Riska, tapi memang saat ini sudah tidak mungkin menuntutnya. Kami sudah resmi bercerai, Bu." Satu tangan Danang mengacak rambutnya frustasi.
Danang benar-benar pusing saat ini di salahkan semua orang. Ibu, mertua dan Siska sendiri. Sebab tidak bisa mendapatkan harta gono gini setelah resmi berpisah dengan Riska.
"Memang sialan perempuan mandul itu. Kamu sih dari dulu di suruh bergerak cepat juga susah. Ini kan akibatnya, Riska bergerak lebih dulu dan hasilnya kamu tidak mendapatkan apapun." Zainab ikut menyalahkan Danang yang tengah frustasi setengah mati.
Ya, Zainab sempat mengompori Danang agar meminta Riska untuk membalikkan sertifikat rumah. Tujuannya adalah bila sewaktu-waktu terjadi sesuatu dengan rumah tangga mereka maka Danang masih bisa mendapatkan hasilnya.
"Bu, berhenti menyalahkan aku. Jangan menghubungi kalau ingin menyalahkan. Coba ibu pahami perasaan ku kali ini." klik sambungan telepon di pututs sepihak oleh Danang.
Otaknya mendidih seketika sebab semua orang turut memojokkan nya.
Siska yang sejak tadi menguping pembicaraan ibu dan anak itu pun masuk ke ruang tengah dan menyerang suaminya.
Dengan tangan di lipat dada, Siska berdiri tepat di depan suaminya.
Siska yang minim pengetahuan berpikir jika harta yang dimiliki Riska bisa di jadikan harta bersama. Padahal sejatinya harta warisan keluarga istri, tidak akan bisa di jadikan harta gono gini. Mungkin sebab itulah Siska tanpa ragu merebut suami dari sepupu nya itu, hanya demi mendapatkan harta milik Riska.
"Apa maksud kamu Siska?. Kamu tahu sendiri kalau aku lagi sakit kan? Jadi bagaimana bisa aku memenuhi panggilan itu. Dan asal kamu tahu aku menjadi begini itu karena gara-gara kamu. Seandainya kamu tidak menuntut ku untuk bekerja di bangunan, aku pasti tidak akan kecelakaan." Danang pun membalas tatapan tajam istrinya, lalu di putar lah kursi roda ke arah luar.
__ADS_1
Danang benar-benar muak pada Siska. Menikah baru hitungan bulan, sudah hilang rasa cinta pada istrinya keduanya. Di mata Danang, Siska sudah tidak ada baik-baiknya. Namun, pria itu masih mempertahankan Rumah tangga demi sebuah kenyamanan, setidaknya saat ini Siska masih mampu memberikan tempat tinggal dan makanan gratis selama ia sakit. Alasan lain, Danang tidak ingin di tertawakan oleh saudara nya karena telah salah mengambil langkah. Dengan berani meninggalkan Riska, wanita yang loyal demi Siska yang hanya seorang perempuan penuntut.
"Apa aku salah menuntut nafkah dari suami? seandainya kamu lebih berhati-hati dalam bekerja, kecelakaan itu tidak akan terjadi. Dasar pria pemalas!." Suara Siska membuat Danang memutar kursi roda ke arahnya. Danang menatap tajam perempuan yang menjadi istrinya itu dengan penuh amarah.
"Ternyata kamu itu perempuan egois yah yang hanya mementingkan diri sendiri. Berbeda jauh dengan Riska. Dulu, Riska tidak pernah keberatan aku tidak bekerja. Sebab, dia mau berkorban. Dia tidak pernah hitung-hitungan dalam mengeluarkan uangnya untuk aku dan Ibu. Tapi, kamu uang banyak pun pelit nggak ketulungan. Baru aku sadari kekeliruan terbesar dalam hidup ini. Membuang berlian demi batu kali murahan macam kamu." Dada Danang naik turun sebab menahan emosi.
Tidak jauh berbeda dengan Danang. Siska pun mendadak panas hatinya. Sebab di katakan batu kali murahan oleh suaminya sendiri. Dia pun sudah menyusun kata-kata untuk membalas serangan Danang.
"Karena mbak Riska itu manusia bodoh. Yang mau di peralat oleh suami yang tidak memiliki harga diri macam kamu. Aku berbeda dengannya. Aku tidak mau memiliki suami macam kamu yang pengangguran!." dengan senyum sinis Siska menjawab ucapan suaminya.
"Riska justru perempuan cerdas, karena dia tahu bagaimana menjaga suaminya. Sayangnya, aku tergoda pada perempuan macam kamu, Siska. Biar bagaimanapun Riska itu juh lebih baik dari kamu. Seharusnya kamu itu sadar diri aku begini gara-gara kamu." Danang yang merasa harga dirinya di injak-injak pun mulai menyalahkan Siska.
"Memangnya aku manusia macam apa, Mas? Aku dan kamu itu sama. Jadi, jangan merasa menjadi manusia sok suci. Satu lagi kalau kamu berani mengatai aku macam-macam silahkan pergi dari rumah ini. Aku rasa hidupku akan jauh lebih bahagia tanpa kamu." Siska mengusir Danang.
Danang tidak boleh gentar saat Siska berusaha mengusir nya. Lagi pula dia masih membutuhkan Siska karena dirinya masih sakit. Namun ia tidak boleh menunjukkan hal itu pada Siska, bagaimana pun dia adalah seorang laki-laki. Yang dimana laki-laki harus lebih unggul dari perempuan.
"Baik. Aku akan pergi dari rumah ini. Tapi, jangan pernah mencari aku ketika anakmu lahir ke dunia ini. Dan satu lagi, aku akan ikut menertawakan kamu saat Riska mencemoh kamu yang tertawa puas melihat kamu yang akhirnya hanya menjadi seorang janda dari pria bernama Danang Hermansyag. Sama seperti apa yang di katakan waktu itu di taman saat itu." Dengan mata merah dan rahang mengeras serta dada naik turun Danang menatap tajam ke arah Siska. Detik berikutnya ia pun kembali memutar kursi roda.
bersambung...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...