Sepupuku Maduku

Sepupuku Maduku
Part 50


__ADS_3

"Kamu ngga papa kan Riska?." tanya Vino menoleh ke arah Riska setelah dia membubarkan orang-orang.


"A-aku ngga papa, makasih sudah menolong ku." ujar Riska. "Tapi apa yang kamu lakukan di sini?." tanya Riska menatap laki-laki berpostur tinggi dengan kemeja kotak-kotak, Riska masih tidak menyangka jika pria tampan di hadapan nya ini adalah teman sekolah nya dulu.


"Aku tinggal disekitar sini," ujar Vino menatap intens Riska, di tatap intens seperti itu Riska menjadi salah tingkah.


"Tamu nya nggak di ajak masuk, Nak?." tanya Ratih yang tiba-tiba datang dan di anter oleh goj*k. Dia menghampiri Riska dan Vino. Ratih baru saja pulang dari berbelanja sehingga dia tidak tahu keributan yang terjadi tadi.


Vino tersenyum tipis kemudian hendak menyalami tangan Ratih. Ratih menyambut uluran tangan tersebut dengan ramah.


"Saya Vino Tante, salam kenal. Ga papa di sini saja Tante."


"Oh ya, ayo masuk dulu, Vin." Riska kemudian menawarkan tamunya itu untuk masuk ke dalam rumah nya.


"Biar di sini saja, Ris!." tolaknya halus.


Riska pun menurut kemudian menggeser salah satu bangku plastik yang ada di dekatnya. Mereka duduk bersisian diantara meja yang berada di tengah nya.


"Kalau begitu Tante masuk dulu yah, Nak Vino mau minum apa?." tanya Ratih.


"Tidak usah repot-repot Tante!." jawab Vino tampak sungkan.


"Tidak merepotkan kok." jawab Ratih kemudian berjalan masuk dan mempersiapkan jamuan untuk tamu nya Riska.


Setelah kepergian Ratih, mendadak suasana menjadi canggung.


"Ehem, Riska." Sengaja lelaki itu berdehem untuk mengawali pembicaraan mereka.


"Eh, ii-iya.." Riska tergagap.


Vino tersenyum melihat respon Riska, dalam hati Riska terlihat sangat menggemaskan.


"Kenapa diam saja?." tanya Vino.


Riska mendongak menatap lelaki tampan, pandangan yang tadi nya menatap ke depan beralih menatap paras tampan bak aktor negeri ginseng. Sejujurnya Riska tidak begitu yakin, apakah benar Vino adalah teman sekolahnya dulu.


"Sejujurnya aku masih belum yakin apakah kamu benar teman sekolah ku dulu." jawab Riska dengan jujur.


Vino terkekeh mendengar alasan Riska.


"Jadi sejak tadi kamu diam, karena kamu masih belum mengenal aku?." tanya Vino lagi. Dan di balas anggukan oleh Riska.


"Wajar sih, penampilanku dulu dengan yang sekarang berbeda. Dulu aku cupu dan sering jadi bahan bulyan teman-teman. Tidak ada yang mau berteman denganku kecuali kamu. Aku senang bisa mengenalmu, Riska. Dan aku selalu kagum saat melihat keberanian mu dulu saat menghadapi Rendy dan geng nya." tutur Vino yang mengingat masa kelam nya yang pernah menjadi objek bulyan di sekolah karena penampilan nya itu.

__ADS_1


Riska tersenyum mendengar penuturan laki-laki itu.


"Aku senang bisa membantu, tetapi aku tidak sekeren itu." jawab Riska merendah.


"Kamu memang keren Riska." puji Vino membuat pipi Riska bersemu merah.


"Oh yah sudah siang, maaf aku pamit dulu. Lain kali kita mengobrol lagi. Tenang saja tetangga mu itu aku yakin tidak akan mengganggu mu lagi." pamit Vino seraya berdiri.


Riska mengangguk dan mengantar kepergian teman sekolah nya itu hingga pintu pagar rumah. Vino berjalan ke arah mobil yang ia parkir di pinggir jalan. Riska masih berdiri menatap punggung Vino hingga Vino masuk ke dalam mobil.


Deringan ponsel menyadarkan Riska. Lalu mengambil ponsel yang berada di saku celana nya, ada pesan masuk dari suami nya Septia.


"Inalillahi..." ucap Riska terkejut setelah membaca pesan singkat dari Reza, suami Septia.


"Loh tamu nya mana, Nak?." ucap Ratih yang membawa nampan berisi air dan cemilan.


Riska menoleh dan berbalik badan menghadap Ratih.


"Sudah pergi Mah, katanya pergi ke kantor." jawab Riska.


"Loh kan ini udah siang, apa nggak kesiangan jam segini baru ke kantor?." tanya Ratih bingung karena sekarang sudah menunjukkan pukul 9 lebih 30 menit. Biasanya orang mulai bekerja pukul 8 pagi.


"Entah lah Mah, Riska tidak tahu." jawab Riska lesu.


"Septia masuk rumah sakit Mah." jawab Riska.


"Innalillahi. Apa yang terjadi."


"Aku juga tidak tahu, aku di kabari suami nya tadi." tutur Riska.


"Ya sudah tunggu apalagi, sekarang siap-siap kita ke rumah sakit."


Riska mengangguk dan mengikuti ibunya masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap.


***


"Danang jualan tisu?." Ratih menatap bekas menantunya di sebrang sana.


Saat ini Riska dan Ratih sudah sampai di parkiran rumah sakit, mereka menatap seseorang yang pernah menjadi bagian keluarga mereka sedang berada di sebrang jalan.


Ibu dan anak itu sedang memperhatikan Danang yang sedang menjajakan tisu ke tenda pecel lele dengan kursi rodanya. Ya ia sedang menawarkan tisu ke pedagang pecel lele tapi di tolak secara halus karena masih ada stok. Tak putus asa, Danang juga menjajakan tisu ke orang-orang yang sedang makan di tenda pecel lele tersebut. Tak lama kemudian Danang keluar lagi dengan tisu yang masih ada di tangannya. Dan itu masih dalam pengamatan Ratih dan Riska.


"Apa Siska sekarang sudah benar-benar bangkrut sehingga Danang harus berjualan seperti itu?." Ratih tersenyum meremehkan.

__ADS_1


"Biarin mah, dia memang seharusnya seperti itu. Agar kalau hidup itu butuh perjuangan dan pengorbanan. Riska ingat bagaimana dulu dia lah yang menopang kehidupan laki-laki itu, tapi justru di balas dengan pengkhianatan.


"Apa dia tidak malu?." Ratih paham betul bagaimana sikap mantan menantu nya yang memiliki gengsi tinggi.


"Sejak dulu dia tidak punya urat malu, Mah. Biarin lah supaya Danang bisa merasakan pahit nya mencari uang." Riska segera menggandeng tangan ibunya menuju lobby rumah sakit.


Riska segera menemui resepsionis dan menanyakan letak ruangan VIP.


"Sudah nggak usah tanya resepsionis, ikutin aku aja." suara bariton itu membuat Riska menoleh. Lalu menyipitkan mata saat bertemu dengan pria berkaca mata tersebut.


Menyadari ada Abian, Ratih pun segera menanyakan ke mana arah mana ruangan Septia. Lalu wanita setengah baya itu memilih untuk jalan duluan.


"Kenapa nggak bilang kalau mau ke sini juga?." Riska mensejajarkan langkah dengan pria yang sedang berjalan santai tersebut.


"Kan kamu juga nggak nanya Bu Riska, jadi buat apa aku ngomong? nggak penting juga, kecuali nanti ... pasti akan selalu laporan sama kamu." Abian kembali memasang wajah datar dengan pandangan lurus ke depan. Tangan kanan nya menjinjing parsel buah. Tangan kiri nya ia masukkan ke dalam saku celana.


Riska tak mengerti apa maksud ucapan sahabatnya itu pun menoleh ke arah Abian dengan mengerutkan keningnya. Otaknya berusaha mencerna ucapan dari pria yang memiliki pekerjaan sebagai pengacara tersebut. Sayangnya, tidak paham.


"Otakku nggak nyampe, sehingga tidak sanggup memahami ucapan mu, Bapak pengacara." Riska benar-benar tidak paham apa yang di maksud dengan Abian.


"Syukurlah kalau kamu nggak paham." Abian mulai menapaki tangga menuju lantai atas. Sebenarnya ada lift tapi khusus di peruntukkan untuk karyawan dan pasien rumah sakit saja.


Tak ada satu orang pun yang berbicara, hanya ada suara alas kaki mereka yang saling bersahutan selama menaiki undakan tangga yang jumlahnya tak terhitung itu.


"Kenapa berhenti?." tanya Riska menatap Abian yang sudah berada di lantai atas.


Riska mengerutkan keningnya saat mendapati Abian yang menatap ke arah tangga, bukannya langsung berjalan lagi.


"Takut kamu nggak sampai atas." Enteng sekali dia berucap.


"Memangnya kalau aku nggak sampai ke lantai atas, kamu mau ngapain?." tantang Riska sembari menaikan dagu.


"Ya kalau kamu jatuh, aku tinggal memanggil perawat." Abian menaik turunkan alisnya ke arah Riska.


"Dasar..." Riska mencebikkan bibir nya kesal.


Setelah Riska sudah sampai di lantai atas, Abian berjalan mendahului Riska.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2