
Danang bersiap akan mengemasi barang-barangnya. Perasaan Danang pun harap-harap cemas, apakah Siska akan terpengaruh dengan ancaman nya atau tidak. Kalaupun tidak terpengaruh, Danang sudah tidak peduli lagi kalau harus kembali ke rumah ibunya. Atau bahkan ia harus menulikan telinga nya saat saudara nya mencemoh nantinya.
Lain Danang, lain pula Siska. Ancaman Danang adalah kiamat baginya.
Mendengar ucapan Danang, Siska membeku di tempat. Otaknya kembali memilah ingatan dimana Riska pernah memberikan peringatan kepadanya saat di taman waktu itu. Bahwa tidak menutup kemungkinan dirinya pun akan dijadikan janda oleh Danang.
"Nggak, itu nggak boleh terjadi. Kalau Mas Danang pergi berarti kami siap-siap berpisah. Itu artinya aku kalah dari mbak Riaka. Dan siap-siap menjadi bulan-bulanan keluarga besar di kampung." batin Siska menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
'Aku tidak boleh bercerai dengan Mas Danang!.' Siska melanjutkan monolognya dalam hati lalu dengan tergesa-gesa berjalan mengejar Danang yang masuk ke dalam kamar nya.
"Mas jangan pergi!." Siska memegang tangan Danang yang hilir mudik membuka lemari bajunya.
"Kenapa? bukan kah ini yang kamu inginkan? perpisahan dengan pria yang tidak memiliki penghasilan dan selalu merepotkan mu. Biarlah saja aku pergi agar hidupmu bahagia."
"Jangan, Mas!. Aku tidak mau menjadi janda. Aku tidak mau anak ini lahir dan bertumbuh kembang tanpa sosok ayah. Apa kamu tidak kasihan dengan anak ini nantinya?. Bukankah dia yang kamu tunggu-tunggu selama ini?." Siska mengelus perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit itu.
Danang menatap lekat wajah istrinya dengan tajam. Tapi, hatinya bersorak senang sebab keinginan nya pun terkabul.
Ketukan pintu di luar membuat Siska maupun Danang menoleh ke arah sumber suara. Dengan tergesa Siska berjalan ke arah pintu. Matanya membelalak sempurna saat tahu siapa yang datang. Jantungnya berdetak kencang dari biasanya. Hatinya ketar ketir melihat siapa yang bertamu ke rumah nya.
***
Hari berlalu, sebagian warga melakukan aktivitas di pagi hari. Penduduk yang memiliki profesi sebagai petani mulai sibuk.
 Biasanya Ratih, ibunya Riska sudah pergi ke sawah atau ke kebun nya. Namun berbeda untuk hari ini, aktivitas itu tidak akan dia lakukan untuk beberapa bulan ke depan demi anak tunggalnya yang akan tinggal di kota. Sawah pun Ratih percayakan kepada orang untuk menggarapnya, hasilnya tinggal di bagi dua. Semua itu dilakukan supaya sawah nya masih tetap bisa menghasilkan walaupun bukan dia yang menggarap nya.
Ratih tidak tega melepaskan anak satu-satunya selama masa idah. Kasih ibu memang tidak ada batasnya walaupun anak itu sudah dewasa sekalipun.
Ratih memilih untuk mendampingi anak satu-satunya di saat sedang terpuruk daripada tetap menggarap sawah. Riska adalah anak satu-satunya sepeninggal suami nya. Perceraian Riska dengan suaminya Danang membuat Ratih tidak tega melepas kan anaknya pergi seorang diri.
__ADS_1
"Sudah tidak ada yang ketinggalan, Mah?." Riska mengendarkam pandangan ke sekeliling takut jika ada barang-barang ibunya ketinggalan di rumah itu.
"Sepertinya sudah tidak ada, Nak " Ratih mengecek kembali isi tas nya, lalu mengangguk kan kepala merasa sudah beres.
Ya, sesuai dengan keinginan Riska, hari ini ia memboyong ibunya ke kota untuk tinggal bersama nya hingga masa iddahnya selesai. Tentu saja Riska bahagia dan akan jauh lebih nyaman tinggal bersama ibunya selama masa iddah.
Bisa saja Riska tinggal bersama ibunya di kampung seandainya tidak ada bibi nya yang tinggal kampung itu juga. Sebab, luka itu muncul di sebabkan oleh adik ibunya itu.
Oleh karena itu, Riska tidak ingin berlama-lama singgah di rumah tempat tinggal masa kecil nya itu. Biar bagaimana pun luka itu belum kering sepenuhnya.
Setelah memastikan semuanya beres. Ratih mengunci pintu. Lalu berjalan ke rumah Bu Ningsih yang terletak di sisi rumah Ratih.
Beruntung tetangga yang hendak di tuju nya itu sedang menyapu di teras.
"Bu Ratih mau kemana ? kok udah cantik dan rapih." Ningsih menilai penampilan tetangga nya yang tampak tak biasa.
Biasanya Ratih hanya menggunakan daster sebagai pakaian sehari-hari, atau baju khusus untuk pergi ke sawah. Maka kentara sekali jika Ratih akan bepergian.
"Boleh bu, nanti saya matikan. Riska semoga kamu menjadi wanita yang kuat setelah melewati masa sulit mu ini. Yang sabar yah, pasti akan selalu ada hikmah di balik apa yang terjadi. Semoga kamu di berikan jodoh yang lebih baik lagi dari sebelumnya." Tanpa di minta Ningsih mendoakan Riska dengan tulus sembari menepuk-nepuk pundak anak tetangga nya itu.
"Aamiin Bu. Terima kasih sudah mendoakan saya. Semoga ibu juga selalu sehat. Nitip rumah yah, ini ada sedikit rezeki untuk putri," sesuai rencana Riska menyisipkan amplop putih itu ke tangan Bu Ningsih sembari berpamitan.
"Ya Allah... Neng nggak usah di kasih uang jajan untuk Putri. Insyaallah Putri tidak akan kekurangan uang jajan, ini sebaiknya neng simpan untuk keperluan Neng di sana. Sudah sewajarnya kita saling tolong menolong, Ibu pun sering kok merepotkan ibumu." secara halus Ningsih pun menolaknya, ia mengembalikan amplop itu kepada Riska.
Riska tersenyum menatap Ningsih, seorang janda beranak satu itu hanya sekadar basa basi. Riska sering mendengar kabar dari ibunya jika Putri sering menahan diri untuk sekedar membeli sesuatu sebab anak itu tahu kalau ibunya tidak memiliki banyak uang.
"Bu, ini saya titip uang jajan untuk Putri bukan untuk upah Ibu mematikan lampu. Lagian saya sedang ada rezeki lebih, tolong di terima yah." Riska kembali menyisipkan amplop itu ke tangan perempuan yang di tinggal meninggal oleh suaminya 4 tahun yang lalu.
"Terima kasih banyak, Neng. Semoga Allah mengganti rezekimu dengan yang lebih banyak lagi." Ningsih membalas dengan suara bergetar saat menerima amplop. Doa Ningsih di aminkan oleh Riska dengan Ibunya secara bersamaan.
__ADS_1
"Sok baik terhadap orang lain. Padahal, zalim terhadap mantan suami. Seolah berlagak sok kaya hingga membagi-bagikan uang ke anak yatim, padahal juga merampas harta anak yatim." tiga orang perempuan yang berdiri di rumah Ningsih pun menoleh ke arah sumber suara.
Ningsih menggelengkan kepala, Ratih hanya mengelus dada. Riska beristighfar sembari menggeleng halus saat mata mereka menatap seorang perempuan yang sedang melintas. Wanita itu sengaja menyindir Riska dengan suara yang cukup lantang. Siapa lagi kalau bukan Ibunya Siska.
"Bi kalau mau ngomong itu sini, jangan hanya berani dari jarak jauh!." Riska tidak tahan lagi bisa bersabar atas fitnah untuk ibu kandungnya.
Namun perempuan yang di ajak bicara itu tidak peduli. Ia terus berjalan melangkahkan kaki nya menuju warung sembako.
Riska pun berjalan menuju bibinya berada.
"Riska, sudah Nak. Nggak usah di ladenin." Ratih mencoba menghentikan langkah anaknya. Namun larangan itu tidak di gubris oleh mantan istri Danang itu.
Sakit hati membuat Riska tetap berjalan ke arah bibinya yang kian mempercepat langkahnya.
"Bi berhenti! jangan jadi pengecut. Kita selesaikan masalah ini secepatnya."
Dengan terpaksa, ibunya Siska itu berhenti. Napas Riska sedikit tersenggal sebab lepas berlari.
"Minggir! jangan halangi jalanku. Aku buru-buru." Narti mencoba berjalan ke sebelah Riska, tapi berhasil di hadang.
"Aku tidak akan berhenti sebelum bibi berhenti memfitnah ibuku!." Riska melipat kedua tangan di depan dada. Kini mereka berhadapan dengan mata saling menatap tajam.
"Bukan fitnah tapi nyata! minggir!." Narti mencoba berjalan ke arah kiri namun Riska juga menghadangnya.
"Kalau memang benar, katakan apa saja yang di rampas ibuku? jangan hanya berani koar-koar ke sana ke mari!." masih segar ingatan Riska saat ia membeli garam di warung kemarin sore, ada beberapa ibu-ibu yang membicarakan ibunya dan termakan omongan Narti.
bersambung...
...----------------...
__ADS_1
...----------------...
...----------------...