Sepupuku Maduku

Sepupuku Maduku
Bab 52 Sanusi


__ADS_3

[Apa yang kamu inginkan?.] kembali Siska menanyakan ulang pertanyaan yang sama.


[Apa kamu mau uang? sebutkan! tapi jangan berikan bukti itu pada Riska.]


[Aku tidak butuh uang mu, aku sudah banyak uang.] balas nya.


'Sial. Br*ngs*k.'


Tok... tok...tok...


"Siska, apa yang kamu lakukan? kenapa kamu mengunci kamar nya?." teriak Danang di balik pintu kamar. Ia ingin istirahat dan tidur karena hari sudah larut malam tetapi malah mendapati kamar nya yang di kunci.


Ketukan pintu membuat Siska bertambah kesal, di bukakan pintu kamar nya itu.


"Ada apa sih, Mas?." raut wajah kesal masih tercetak jelas di wajah Siska.


"Kenapa di kunci? Apa yang kamu lakukan?."


"Bukan urusan kamu, Mas." Siska tidak mau suaminya mengetahui masalah ini. Sehingga perempuan itu membuat tameng agar Danang tidak ikut campur perihal ini.


"Apalagi yang akan kamu lakukan Siska? tidak bisakah kamu berhenti berbuat ulah!" Danang geram dengan ulah istrinya yang tidak pernah berhenti berbuat ulah.


Dulu, Danang pikir menikah dengan Siska maka kehidupan nya akan bahagia. Tapi, ekspetasi tidak sesuai dengan kenyataan. Apa yang di angankan Danang tidak sedikitpun terbukti, justru kebalikan nya. Beberapa bulan menikahi Siska, Danang begitu sengsara baik fisik maupun psikis.


"Mas, kamu nggak usah ikut campur dengan urusanku! Satu lagi, selama kamu tidak memberi nafkah untukku, jangan pernah merasa berhak mengatur-ngatur aku. Apapun yang aku lakukan selama bisa menghasilkan uang. Sebab, tidak mungkin aku mengandalkan uang hasil jual tisu yang tak laku-laku. Kamu itu harus sadar diri, kamu tidak bisa menafkahi aku. Jadi suami itu menafkahi bukan menceramahi, paham!" Siska berlalu dari suaminya dan menghentakkan kaki. Dada nya naik turun sebab menahan emosi.


Muka Danang memerah, harga diri nya terluka, ego nya pun di injak-injak oleh perempuan yang status nya masih menjadi istrinya.


Siska lupa kalau beberapa menit yang lalu dia meminta maaf. Tapi mulut tajamnya menorehkan luka kembali pada laki-laki yang bergelar suaminya tersebut.


Siska masuk ke dalam kamar belakang yang akhir-akhir Danang gunakan saat ingin menenangkan diri.


Bolak balik Siska membuka membuka m-banking miliknya yang saldo sudah limit, biasanya tanggal pertengahan ini dia sudah mendapatkan kiriman uang bulanan yang dia dapatkan dari seseorang. Namun sekarang, nihil tidak ada saldo di rekeningnya.

__ADS_1


"Sial, laki-laki tua itu tidak memberikan uang nya. Apa dia sudah mati?." pikir Siska.


Di hubungi nomer assisten pria tua yang menjadi ayah dari anak yang di kandungnya itu. Yap, bukan Farel kekasih nya yang menjadi Ayah kandung dari anak yang di kandung nya tapi pria tua kaya raya.


Seperti hal nya Danang, Farel menjadi batu loncatan supaya anak yang di kandung nya bisa memiliki ayah namun pria yang menjadi kekasih nya itu menolak. Akhirnya Siska memilih Danang, walaupun Danang suami dari sepupunya sendiri. Tapi Siska tidak punya pilihan lain, ia memilih Danang sekaligus untuk menghancurkan rumah tangga rival nya, Riska.


Pria tua kaya raya bernama Sanusi itu menginginkan anak dari kandungan Siska untuk mewariskan seluruh harta nya, karena ia dan Almarhum istrinya tidak memiliki anak. Sanusi tidak berniat untuk menikah lagi apalagi untuk menikahi Siska. Sanusi hanya menginginkan seorang keturunan untuk mewariskan seluruh harta nya, setelah anaknya lahir, hubungan Sanusi dan Siska berakhir. Itulah perjanjian nya dan Siska tidak berhak menuntut apapun.


Untuk menjaga kehormatan nya karena hamil tanpa suami, Siska mencari pria untuk menikahi nya. Namun sayang Farel pacar nya menolak menikahi nya, jadi dia memilih Danang. Pria pengangguran suami dari sepupunya sendiri.


Maka harta kekayaan yang di miliki bukan murni dari usaha yang di milikinya, tapi itu semua karena cucuran dana dari Sanusi.


Tak lama akhirnya telpon di angkat.


"Aku butuh uang!." ucapnya tanpa basa basi bahkan tanpa salam. Ia membutuhkan uang untuk membungkam mulut orang yang meneror nya atau ia akan di penjara.


"Calm down, Siska. Apa uang jutaan yang Pak Sanusi berikan masih belum cukup?." tanya orang di sebrang sana.


"Berani sekali kamu mengancam kami, Siska! Kamu juga harus ingat. Kamu itu bukan siapa-siapa, kamu itu hanya perempuan beruntung yang Pak Sanusi pilih untuk mengandung benih nya hanya karena paras wajah mu yang cantik. Selebihnya kamu hanya perempuan kampung yang hina!" hina assisten sekaligus orang kepercayaan Sanusi.


"Kamu tidak usah khawatir, kami tidak akan lupa kewajiban kami. Kamu jaga saja kandungan mu itu dengan baik, sampai tiba waktu anak itu lahir, kita tidak punya hubungan lagi. Tapi.... jika sampai terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada anak itu, ingat kamu harus kembali membayar apa yang sudah Pak Sanusi berikan kepadamu."


Glek, Siska menelan ludah dengan susah payah mendengar ancaman itu.


"Ba-baik, aku akan menjaga anak ini. Kalian tenang saja."jawab Siska dengan gugup dan terbata mengelus perutnya nya yang buncit, kandungan nya sudah menginjak usia 8 bulan. Itu artinya satu bulan lagi ia akan melahirkan.


***


Sudah 2 bulan penuh Ratih menemani Riska di perantauan, tiba saat nya ia untuk pulang ke kampung halaman. Tadinya Ratih berencana untuk tinggal 1 bulan lagi sampai Riska selesai masa iddah nya. Tapi karena saudara dari pihak Ibu nya akan mengadakan pesta hajatan pernikahan anaknya. Mau tidak mau Ratih pulang ke kampung.


Begitu pun Riska, ia ikut pulang untuk membantu sanak saudara yang akan melangsungkan pesta pernikahan.


Narti pun terpaksa untuk datang membantu, walaupun sebenarnya ia enggan sekali. Ia pergi mengendarai motor butut yang di belikan anak laki-laki nya waktu itu.

__ADS_1


Butuh waktu setengah jam untuk Narti sampai di tempat saudara nya yang akan mengadakan hajatan. Di parkirkan motornya di halaman rumah, lalu menarik napas dalam-dalam, saat melihat mobil yang baru saja terparkir.


"Kenapa harus bareng dia sih?." Narti mengira Ratih tidak akan datang, ia menyangka Ratih masih berada di luar kota bersama anaknya.


Dari tempatnya berdiri, Narti mendengar seseorang menyapa Riska dengan ramah. Sapaan membuat perempuan yang pernah melahirkan Siska memanas hatinya.


"Nak Riska. Makin cantik saja setelah menjadi janda. Apa kabar, Nak?." Suara seorang perempuan lain menyambut kedatangan Riska dan ibunya.


Ya, semua keluarga besar Ratih dan Narti sudah mengetahui permasalahan yang di hadapi kakak beradik itu. Isu tentang Siska yang merebut suami sepupu nya pun sudah merebak ke mana-mana.


"Alhamdulillah kabar baik, Bude." Riska menyalami perempuan yang merupakan sepupu ibunya tersebut.


"Riska sekarang lebih bahagia setelah bercerai dengan mantan suaminya yang merupakan benalu. Aku bersyukur Siska mengambil nya dari Riska. Sebab, bekas menantulu bukan tipe laki-laki bertanggung jawab. Tapi, entah bagaimana Riska dulu bisa bertahan dengan Danang. Ah? tapi itu sudah masa lalu. Dan aku sangat bahagia Riska bisa lepas dari bekas suaminya. Riska bahagia sekarang." Ratih sengaja mengatakan demikian agar perempuan yang menjadi adiknya mendengar suaranya.


Ratih melihat dengan jelas kehadiran Narti di parkiran, sebab itu dia sengaja memperkeras suara nya. Mata Ratih terus menatap tajam ke arah adiknya yang pura-pura sibuk dengan handphone. Sehingga Narti tidak mengetahui keberadaan Ratih dan Riska tersebut.


Rupanya, tatapan Ratih di ikuti oleh riska dan sepupunha tersebut. Sehingga mereka menutup mulutnya saat sosok Narti di parkiran motor.


"Wah, berarti Siska perempuan bodoh dong ya, merebut laki-laki tidak berkualitas. Kasihan sekali hidupnya kini." Perempuan yang tadi di sebut Bude oleh Riska semakin membuat obrolan mereka memanas. Dia juga sangat tidak menyukai kelakuan Siska dan Ibunya.


"Tidak hanya bodoh, bude. Tapi langsung dapat teguran dari Tuhan. Buktinya, setelah menikahi Danang. Banyak masalah menimpanya. Usahanya terancam bangkrut karena vidio viral kemarin, belum lagi Danang yang tidak bisa jalan. Dan bude tahu apa yang terjadi? Danang, dia jualan tisu sambil duduk di atas kursi roda. Kasihan banget ya, bude. Padahal dulu hidupnya enak bersamaku. Tapi, karena memilih hidup dengan Siska hidupnya kini pun sengsara." Riska tiba-tiba berubah menjadi perempuan yang suka bergosip.


Semua itu ia lakukan untuk membuat Narti semakin tak nyaman dan merasa bersalah.


"Memang selayaknya perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, Nak. Beruntung Allah telah menyelamatkan kamu dari Danang. Melalui Siska. Biarlah dia yang menjadi pasangan abadi nya Danang." sepupu nya Ratih semakin semangat menyumpahi.


"Puas kamu, Bi? kamu semakin terpojokkan. dan aku yakin ini belum seberapa!." Riska mengangkat dagunya sembari membatin. Riska sedikit puas di dalam hatinya.


...----------------...


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2