Sidik Jari

Sidik Jari
Episode 10 ■Tantangan Selesai■


__ADS_3

■Tantangan Selesai■


Terus terang Nitara sangat terkejut.


Melihat Nitara terkejut, Muliyan, Garinge dan Aleme tambah bingung, sebenarnya mereka sedang berbicara apa sih?!


"Boagoaoimoanoa?" ["Bagaimana?"] tanya Kepala Desa Okhire


"Koaloaou toidoak moaou, goak moakosoa kok" ["Kalau tidak mau, gak maksa kok"]


"Hoanyoa soajoa soayoa ouboah toantoangoan soayoa" ["Hanya saja saya ubah tantangan saya"]


"Soiloahkoan" ["Silahkan"] ujar Nitara


"Boaoik" ["Baik"]


"Koaloaou boegoitou, moaroi kotoa boerpoeroang" ["Kalau begitu, mari kita berperang"] ujar Kepala Desa itu dilanjut kelima orang bersenjata itu kembali menodongkan senjata mereka yang tadi sempat diturunkan. Dan Kepala Desanya pun mengambil sebuah Pedang yang sedari tadi ia taruh dipinggang kanannya, dan Pedang tersebut diacungkan ke mereka


Nitara mundur, begitupula Muliyan, Garinge dan Aleme


"Ada apa??" tanya Aleme ke Nitara


"Mereka mengajak perang" jawab Nitara


"Perang?" tanya Garinge


"Iyah" jawab Nitara


"Sebaiknya kita harus siap juga" ujar Muliyan mengangkat Pedang Emasnya


Lalu Garinge pun menyiapkan kedua tangannya untuk siap menembak mereka menggunakan Peluru Tangannya.


Lalu Aleme pun mengangkat Tongkat yang Panas Membakar, dan Nitara pun memunculkan Tongkat Sihirnya, yang tadi ia hilangkan dulu, saat berhadapan dengan Kepala Desa Okhire.


"Woaw, toernyoatoa koitoa soedoang boerhoadoapoan doengoan Woanoitoa Poenyoihoir" ["Waw, ternyata kita sedang berhadapan dengan Wanita Penyihir"] ujar Kepala Desa ke 5 orang bersenjata, yang melihat Nitara memegang tongkat sihir


"Oakou boukoan woanoitoa poenyoihoir, hoanoya soajoa oakou moenyoeroang koaloioan moenggounoakoan tongkoat soihoir oinoi" ["Aku bukan wanita penyihir, hanya saja aku menyerang kalian menggunakan tongkat sihir ini"] ujar Nitara

__ADS_1


"Boukoannyoa soamoa soaja?" ["Bukannya sama saja?"] tanya Kepala Desa sedikit menahan gelak tawanya


"Boedoa!" ["Beda!"] ujar Nitara mengacungkan Tongkat Sihirnya ke arah Kepala Desa tersebut


"Ohh, oadoa yoang boeroanoi moenodongkoan soenjoatoanyoa koe soayoa yoa" ["Ohh, ada yang berani menodongkan senjatanya ke saya ya"]


Nitara pun menurunkan Tongkat Sihirnya


"Koitoa oakoan boerpoeroang, boersoioap?" ["Kita akan berperang, bersiap?"] tanya Kepala Desa


"Toapoi joikoa boapoak moatoi, koamoi boerloepoas doiroi ya?" ["Tapi jika bapak mati, kami berlepas diri ya?"] tanya Nitara dengan beraninya


"Hoahoahoa, poercoayoa doiroi soekoaloi, koaou bocoah koecoil" ["Hahaha, percaya diri sekali, kau bocah kecil"] tawa Kepala Desa Okhire


"Koaloaou boeogoitou, koitoa douoel. Boeroanoi?!" ["Kalau begitu, kita duel. Berani?!"] tanya Kepala Desa


"Koitoa toidoak soeboandoing Poak, boisoa soaja boapoak koaloah doaloam soekoejoap moatoa" ["Kita tidak sebanding Pak, bisa saja bapak kalah dalam sekejap mata"] ujar Nitara berani


"MOEROENDOAHKOAN SOEKOALOI YOAOAOA!!!" ["MERENDAHKAN SEKALI YAAA!!!"] geram Kepala Desa


Terus terang Muliyan, Garinge dan Aleme sangat terkejut.


Dengan cepat, Nitara menghindar sambil mengacungkan Tongkat Sihirnya ke Kepala Desa, sambil berkata: "Angin, Tabrak Tubuh Bapak ini!!!"


Seketika ada angin yang sangat kencang dan keras, menabrak tubuh bapak Kepala Desa, menyebabkan Pedangnya terpental, ke arah ubun-ubun Nitara!


Dengan cepat Muliyan kibas pedang tersebut sampai Pedang tersebut hancur dan patah, tapi untung tidak terkena kepala Nitara, karena Nitara pun sudah menghindar.


Brak...


Tubuh Kepala Desa menabrak Tanah. Dan kelima orang bersenjata jarak jauh tersebut segera menolong Kepala Desa tersebut.


Tiba-tiba Kepala Desa tersebut berteriak, melampiaskan kemarahannya...


"BOUNOUH MOEROEKA SOEKOAROANG JOUGOAAA!!!" ["BUNUH MEREKA SEKARANG JUGAAA!!!"]


Mendengar itu, Nitara pun langsung bertindak, saat kelima orang tersebut balik badan menghadap mereka dan sudah meluncurkan Peluru mereka.

__ADS_1


Nitara pun mengacungkan Tongkat Sihirnya, sambil berkata: "Angin, balikkan Peluru mereka, ke mereka lagi!"


DAR,DAR,DAR,DAR,DAR....


Peluru tersebut pun menghantam tubuh kelima orang tersebut lagi, sehingga mereka berlima langsung Mati, tak tersisa.


Nitara pun menurunkan Tongkat Sihirnya.


"TOIDOAK MOUNGKOIOIOINN!!" ["TIDAK MUNGKIIINN!!"] teriak Kepala Desa Okhire, karena melihat kelima Prajuritnya mati dalam sekejap mata.


"Boagoaimoana Poak, oapaoakoah koamoi soudoah boloeh loewoat Doesoa oandoa ountouk soampoai toujouoan?" ["Bagaimana Pak, apakah kami sudah boleh lewat Desa anda untuk sampai tujuan?"] tanya Nitara sambil sedikit memajukan langkahnya


"TOIDOAK BOLOEH!!!" ["TIDAK BOLEH!!!"] tolaknya sambil hendak berdiri


"Toapoi koan~" ["Tapi kan~"] ucapan Nitara terpotong.


"Oaoaoawwss" ["Aaawwss"] ringis Kepala Desa terjatuh lagi saat hendak berdiri.


"BOLOEH! SOILOAHKOAN!" ["BOLEH! SILAHKAN!"] bentak Kepala Desa Okhire


"Hoah! Sounggouh!???" ["Hah! Sungguh!???"] kaget Nitara tak percaya


"COEPOAOAT! KOEBOUROU SOAYOA BOEROUBOAH POIKOIROAN!" ["CEPAAT! KEBURU SAYA BERUBAH PIKIRAN!"] bentak Kepala Desa Okhire


"Boaik! Toeroimoa Koasoih Poak!" [Baik! Terima Kasih Pak!"] ujar Nitara menganggukkan tubuhnya, dan buru-buru balik badan, menghadap sahabat-sahabatnya


"Ayo kita bisa lewat Desa ini, keburu dia berubah pikiran!" ujar Nitara ke sahabat-sahabatnya sambil berlari


"Wah! Benarkah!"


"Ayoo!!"


Mereka senang, akhirnya bisa lewat Desa Okhire juga.


■☆■Next Episode■☆■


^Like-nya, Fav-nya, Vote-nya, Gift-nya, Rate-nya, Ask-nya, Follow me-nya, Don't Forget :*)^

__ADS_1


__ADS_2