Sidik Jari

Sidik Jari
Episode 23 ■Menyusun Rencana■


__ADS_3

■Menyusun Rencana■


Mereka pun seketika sudah berada di sebuah Gang yang sangat sempit, dan tembok-tembok disekitarnya sangat tinggi ke atas.


Tiba-tiba ada suara dari beberapa helikopter, yang berterbangan, mengumumkan sesuatu...


"EKEPEADEA WEARGEA KEU, JIKEA KEALEIEAN MELEIHEAT DEUEA PEMEUDEA DEAN DEUEA PEMEUDEI, YEANG TERLEIHEAT EASEING, SEGEREA TEANGKEAP, DEAN KEABEAREIN SEAYEA... SEKEALEI LEAGEI....." ["KEPADA WARGA KU, JIKA KALIAN MELIHAT DUA PEMUDA DAN DUA PEMUDI, YANG TERLIHAT ASING, SEGERA TANGKAP DAN KABARI SAYA... SEKALI LAGI......"]


Yah! Suara tersebut adalah suara Kepala Desa Ehokija dari atas helikopter


"Kita harus cari tempat persembunyian!!!" ujar Nitara berlari ke arah depannya


Dan diikuti yang lain


Dan Gang tersebut tidak hanya lurus, namun sedikit berbelok-belok.


Nitara pun lari yang diikuti sahabat-sahabat lainnya, dan Nitara ketemu belokan, dan ia pun berhenti di pertigaan di dalam Gang ini, dan terlihat jalanan ke sana jauh. Tak terlihat ujungnya, karena jalannya sedikit berbelok-belok.


"Ayo belok saja" ujar Nitara lari belok, dan diikuti yang lain


"Jangan sampai kelihatan dari helikopter" ujar Muliyan


"Iya. Sepertinya Kepala Desa ini mencari pakai helikopter" ujar Nitara


"Tapi bukan hanya helikopter yang kita harus hindari, mungkin kendaraan darat sedang mencari kita juga" ujar Muliyan


"Ya" respon Nitara sambil terus berlari dan diikuti yang lain


"Aha, ada tempat sampah. Ayoo" ujar Nitara berhenti di depan tempat sampah berukuran besar sekali, dan ia buka perlahan tutupnya. Ia sudah siap menahan nafas, agar aroma busuknya tidak menyengat hidung.


"Tunggu, apa kita layak bersembunyi disini?!" tanya Garinge ragu


"Kalau dalam keadaan urgent ini, layak kok!" ujar Nitara


"Masalahnya jika kita ketahuan, kita bakal ditangkap ke hadapan Kepala Desa tadi" ujar Nitara mulai memasuki tempat sampah itu.


Untungnya tidak ada sampah, jadi tidak menggangu, namun tetap saja baunya sangat menganggu


Jantung Aleme berdetak cukup cepat, karena ia merasa panik sekali, berada di situasi yang buruk ini.


"Ayo masuk" ujar Nitara yang sudah masuk


Aleme pun disuruh masuk duluan, untuk disamping Nitara, lalu Garinge dan setelah itu Muliyan, dan disusul dengan helikopter yang berada di atas mereka persis. Untung penutupnya sudah tertutup...


"Muliyan, Nitara, berarti di Desa ini ada Transportasi?! Gak kayak Desa Okhire" ujar Garinge

__ADS_1


Mereka berada di sebuah tempat yang bau, pengap, dan gelap.


"Mungkin saja" ujar Muliyan dan Nitara bersamaan.


"Oh ya, tadi Nitara kepikiran aja gitu ya" ujar Garinge


"Iya" setuju Muliyan


"Kita mah gak kepikiran ya Muliyan" ujar Garinge


"Bener" setuju Muliyan


"Aku tuh pas serang pakai angin badai, aku lihat dia tidak bisa melihat ke luar, karena tertutup dengan angin ku, yaudah aku putuskan untuk mencari kesempatan" penjelasan Nitara


"Kerenn" kagum Garinge


"Gak ada udara disini, jadi susah nafas, apalagi bau lagi" keluh Aleme


"Yaa kalau diluar, ya tambah gak aman" ujar Nitara


"Sudahlah, sabar sedikit, sabar sedikit" ucap Nitara


"Heisshh" keluh Aleme


"Kayaknya Kepala Desa murka deh sama kita yang main masuk-masuk aja" ujar Nitara


"Oh ya?? Haha" tawa Nitara


"Oh ya, tadi dia ngomong apa pas di helikopter? Aku tak tahu lahh" ujar Garinge


"Iya, dia bilang 'KEPADA WARGA KU, JIKA KALIAN MELIHAT DUA PEMUDA DAN DUA PEMUDI, YANG TERLIHAT ASING, SEGERA TANGKAP DAN KABARI SAYA... SEKALI LAGI......'. Gituu" ujar Muliyan memberi tahu


"Ya ampunnn" bingung Garinge


"Oh ya, tadi dia bisa ngomong pakai bahasa kita ini ya? Bahasa Negara Ratjir?! Lancar lagi" ujar Garinge


"Iya" jawab Muliyan dan Nitara


"Kaget banget tadi aku, pertama kali dia pakai bahasa Negara Ratjir" ujar Garinge


"Iya sama" setuju Muliyan sam Nitara


"Eee kemarin Kepala Desa Okhire bisa gak ya kira-kira, ngomong pakai bahasa Negara Ratjir?!" tanya Garinge


"Gak tau juga deh" ucap Muliyan dan Garinge

__ADS_1


"Huh, ribet banget pokoknya, bahasa Desa di Negara Sidik Jari ini."


"Bahasa Desa Okhire aja susah, apalagi ini. Ini mah bahasanya susah betul" keluh Garinge


"Yaa memang kita gak bisa bahasa ini kan?! Cuma latihan kalau mau lancar, bener-bener lancar, supaya gampang" ujar Muliyan


"He'em" setuju Garinge


"Oh iya Muliyan, kenapa kita gak portal langsung ke luar Desa ini aja, ke Desa habis Desa ini?!" usul Aleme


"Oh iya!" ujar Muliyan dan Garinge


"Yaa tadi panik" ujar Nitara


"Enggak panik juga sihhh" ujar Nitara


"Yaudah, gimana caranya sekarang juga kita harus keluar dari Gang ini, dan harus cepat meninggalkan Desa ini!" ujar Nitara bertekad


"Iya nihh!!" setuju yang lain


"Semoga di Desa berikutnya tidak lagi seperti di Desa ini" harap Garinge


"Iya nih!" harap Muliyan, Nitara dan Aleme


"Jadi gimana nih kita keluar Gang ini, tanpa dicurigai" ujar Nitara


"Apa kita berubah penampilan aja kali ya??" tanya Garinge


"Tapi, mending pakai baju seperti orang-orang biasa saja" ujar Muliyan dan Nitara


Tiba-tiba ada beberapa helikopter melintasi di atas mereka.


"Iya juga sih" ujar Garinge


"Jadi bagaimana nihh??" tanya Aleme


"Kita harus bagaimana sekarang?!" tanya Aleme


"Eeee"


Tiba-tiba ada suara langkah kaki banyak yang hendak melintasi tempat sampah yang menjadi tempat persembunyian mereka.


Mereka pun menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, sambil menunduk dan berdoa, agar mereka tidak ketahuan.


Namun sepertinya suara langkah kaki banyak itu hendak menghampiri tempat sampah yang menjadi tempat persembunyian mereka.

__ADS_1


■☆■Next Episode■☆■


^Like-nya, Fav-nya, Vote-nya, Gift-nya, Rate-nya, Ask-nya, Follow me-nya, Don't Forget :*)^


__ADS_2