Sidik Jari

Sidik Jari
Episode 9 ■Desa Okhire■


__ADS_3

■Desa Okhire■


Mereka pun melihat pemandangan baru


Mereka baru melihat pemandangan yang Sangat Indah. Luar Biasa...


Mereka disambut angin yang sangat sejuk.


Angin tersebut terasa bukan angin pagi, melainkan angin sore.


Mereka yakin, kalau sekarang sore hari.


"Apakah Desa Okhire di bawah sana?" tanya Garinge melihat sebuah Desa di bawah dari posisi berdiri mereka.


Mereka seperti di tebing jurang. Karena sangat curam melihat ke bawah.


"Iyaa mungkin" ujar Muliyan


"Tapi, terlihatnya Desa Okhire itu Desa yang Damai, dan tidak ada kekerasan"


"Tapi kok kata Ayahmu, kepala Desanya bakal ngasih perintah yang sedikit sulit" ujar Garinge


"Ya mung~" ucapan Muliyan dipotong oleh suara seseorang dari belakang mereka.


"SOIOAPOA KOALOIOAN!!!!" ["SIAPA KALIAN!!!!"]


Mereka pun menengok ke sumber suara


Ternyata ada seorang Bapak-bapak bersama 5 orang bersenjata jarak jauh, yang senjatanya ditodongkan ke mereka.


Sepertinya bapak-bapak tersebut adalah Kepala Desa Okhire!?


"SOIOAPOA KOALOIOANN!!!!" ["SIAPA KALIANN!!!!"] bentak Kepala Desa Okhire


Terus terang mereka sangat bingung, apa yang sedang bapak-bapak dihadapan mereka bicarakan? Apa iya bapak-bapak itu sedang bicara? Atau sedang berkumur-kumur?


"JOAWOAB!!" ["JAWAB!!"] bentak Kepala Desa lagi


"Dia ngomong apa Muliyan?" tanya Garinge berbisik

__ADS_1


"Ah, mana aku tau" jawab Muliyan balik berbisik


"Emang dia lagi ngomong?" tanya Nitara


"Bukannya dia lagi kumur-kumur?" tanya Nitara


"Kayaknya dia itu Kepala Desa Okhire ini?!!" ujar Garinge berbisik


"Sepertinya" setuju yang lain


"JOAWOAABB!!!!" ["JAWAABB!!!!"] bentak Kepala Desa lagi


"Hei, mereka itu sudah ingin menembak mati kita tau!" ujar Aleme melihat 5 orang bersenjata yang sudah menodongkan senjata mereka ke arah mereka berempat


"Kita harus ngapain?!" panik Aleme


"Masa kita harus nyerang mereka sih?!" tanya Aleme


"HOEOI! KOALOIOANN! DOENGOARR TOIDOAAKKK!!!" ["HEI! KALIANN! DENGARR TIDAAKKK!!!"] teriak Kepala Desa Okhire


"Sepertinya dia ingin kita menjawab omongannya itu" ucap Nitara


"Okoe joikoa koaloioan toidoak moaou moenjoawoab!" ["Oke jika kalian tidak mau menjawab!"] ujar Kepala Desa, yang dilanjuti gerakan kelima orang itu memajukan tubuh mereka, dan mereka sudah siap-siap menembakkan peluru mereka ke arah Muliyan dan sahabat-sahabatnya


"Tuh kan, mereka benar-benar ingin menembak kitaa!" ujar Aleme


'Apa itu bahasa mereka?!' batin Muliyan


'Kok Ayah gak ngasih tau akuu' batin Muliyan


"TOIGOA!" ["TIGA!"] Kepala Desa mulai menghitung mundur


"DOUOA!" ["DUA!"]


"Sepertinya dia sedang menghitung munduurr"


"SOATOU!!!" ["SATU!!!"]


"TOEMBOAKK!!" ["TEMBAKK!!"]

__ADS_1


DUK...


Nitara bersimpuh lutut menghadap Kepala Desa


"TOUNGGOU!" ["TUNGGU!"] ujar Nitara menggunakan bahasa mereka


Terus terang Muliyan, Garinge dan Aleme sangat kaget, mengapa tiba-tiba Nitara bersimpuh lutut seperti itu?! Dan apakah Nitara sedang berbicara menggunakan bahasa mereka?! Apa iya?! Tapi bagaimana Nitara bisa tau bahasa mereka?! Terdengar fasih!?


"Koamoi Poendoatoang!" ["Kami Pendatang!"] ujar Nitara


"Oizoinkoan koamoi loewoat Doesoa Oandoa, ountouk soampoaoi koe Kotoa Ocyoimonoio" ["Izinkan kami lewat Desa Anda, untuk sampai ke Kota Ocyimonia"]


"Koamoi mohon" ["Kami mohon"]


"Hoeoeoeoemm" ["Heeeemm"]


"Boeroikoan Oidoentoitoas loengkoap koaloioan!" ["Berika Identitas lengkap kalian!"]


"Doan joeloaskoan ountouk oapoa koaloioan oingoin koe Kotoa Ocyoimonoio!" ["Dan jelaskan untuk apa kalian ingin ke Kota Ocyimonio!"] pinta Kepala Desa


"Koamoi Doaroi Noegoaroa Roatjoir, Koamoi moasoih boeroumour Doeloapoan Boeloas Toahoun, koamoi boersoahoaboat. Toujouoan koamoi poergoi koe Kotoa Ocyoimonoio ountouk boertoemou toentoaroa doisoanoa, koaroenoa toentoaroa yoang oingoin koamoi toemoui oadoaloah boapoak soayoa, SOAYOA KOANGOEN SOAMOA DOIOA, HIKS...HIKS, SOAYOA KOANGOEN... HIKS-HIKS, OIBOU JOUGOA KOANGOEN SOAMOA BOAPOAK, TOAPOI OIBOU GOAK BOISOA OIKOUT KOE SOINOI, OUNOTOUNG OADOA SOAHOABOAT SOAYIA YOANG MOAOU MOENOEMOANOI SOAYA" ["Kami Dari Negara Ratjir, Kami masih berumur Delepan Belas Tahun, kami bersahabat. Tujuan kami pergi ke Kota Ocyimonio untuk bertemu tentara disana, karena tentara yang ingin kami temui adalah bapak saya, SAYA KANGEN SAMA DIA, HIKS...HIKS, SAYA KANGEN... HIKS-HIKS, IBU JUGA KANGEN SAMA BAPAK, TAPI IBU GAK BISA IKUT KE SINI, UNTUNG ADA SAHABAT SAYA YANG MAU MENEMANI SAYA"] saat menjawab tujuan mau ke Kota Ocyimonio, Nitara berbohong, sambil drama menangis yang terisak-isak.


"Hoemmm..." ["Hemmm..."] pikir Kepala Desa


Nitara pun menghapus air matanya, sembari memberhentikan isakan tangisnya.


Terus terang, kebingungan Muliyan, Garinge dan Aleme belum kunjung hilang. Apalagi melihat Nitara bersimpuh lutut sambil menangis terisak-isak.


"Koaloaou boegoitou, oapoakoah koaloioan soioap moenoeroimoa toantoangoan doaroi soayoa?!" ["Kalau begitu, apakah kalian siap menerima tantangan dari saya?!"] tanya Kepala Desa


"Soiap" ["Siap"] jawab Nitara sampai menghapus sisa-sisa air mata, sambil berdiri.


"Toantoangoan doaroi soayoa toidoak souloit" ["Tantangan dari saya tidak sulit"] ujar Kepala Desa


"Oapoa?" ["Apa?"] tanya Nitara


"Boeroi soaloah soatou Joaroi Joemoari kaloian koe soayoa, hahaha" [Beri salah satu Jari Jemari kalian ke saya, hahaha"] tawa Kepala Desa


■☆■Next Episode■☆■

__ADS_1


^Like-nya, Fav-nya, Vote-nya, Gift-nya, Rate-nya, Ask-nya, Follow me-nya, Don't Forget :*)^


__ADS_2