Sidik Jari

Sidik Jari
Episode 31 ■Pemuda Misterius■


__ADS_3

■Pemuda Misterius■


"Duiua suekuaruang, suetueluah muenguetuahui sueduang dualuam Puencuaruiuan, duia suekuaruang Purua-purua Duiuam." ["Dia sekarang, setelah mengetahui sedang dalam Pencarian, dia sekarang Pura-pura Diam."]


"Duan suduah tuiduak luagui mueluakukuan hual uitu" ["Dan sudah tidak lagi melakukan hal itu"]


"Juadui tuguas kualuiuan uadualuah Muenuemui Sueseuoruang Yuang Muencuruiguakuan, duan kualuian Cuobua Tuempuelkuan Suiduik Juaruinyua, kue Kuertuas uitu" ["Jadi tugas kalian adalah Menemui Seseorang Yang Mencurigakan, dan kalian Coba Tempelkan Sidik Jarinya, ke Kertas itu"]


"Kualua Kuertuas uitu buerubuah wuarnua, muenjuadui Mueruah, uitu uartuinyua Uoruang Uitu Pueluakunyua! Duan sueguerua Kuabuarui Suayua, duenguan muenuekuan-nuekuan Suensuor uitu, duenguan bueguitu, suayua tuahu luokuasui kualuiuan, duan suayua luangsung kuesuanua" ["Kalau Kertas itu berubah warna, menjadi Merah, itu artinya Orang Itu Pelakunya! Dan segera Kabari Saya, dengan menekan-nekan Sensor itu, dengan begitu, saya tahu lokasi kalian, dan saya langsung kesana"]


"Puahuam?!" ["Paham?!"] tanya Kepala Desa


"Puahuam" ["Paham"] jawab Muliyan.


"Buaik" ["Baik"]


"Juadui, kuapuan kualuian luasksuankuan Tuantuanguan duarui Suayua?!" ["Jadi, kapan kalian laksanakan Tantangan dari Saya?!"] tanya Kepala Desa


"Suekuaruang" ["Sekarang"] jawab Muliyan


"Buauik" ["Baik"]


"Nuih, puakuai uinui, tuempuelkuan kue luengeuan kualuian" ["Nih, pakai ini, tempelkan ke lengan kalian"] suruh Kepala Desa, sambil mengeluarkan benda bulat, yang kecil, kepada mereka berempat


Dan mereka berempat pun mengambilnya. Lalu mereka pun menempelkan benda itu di lengan mereka.


"Uitu buendua uakuan muelueduak, juikua kualuian kuetuahuuan Kuabur. Duan tuak buisua kualuiuan luepuas, juikua kualuian buelum muenyueluesuaikuan Tuantuanguan duari suaya uinui" ["Itu benda akan meledak, jika kalian ketahuan Kabur. Dan tak bisa kalian lepas, jika kalian belum menyelesaikan Tantangan dari saya ini"] ungkap Kepala Desa


"Huah!!" ["Hah!!"] kaget Muliyan dan Nitara


Mereka mencoba tuk melepas benda itu, benar, tak bisa..


"Yua, suiluahkuan kualuian sueluesuaikuan Tuantuanguan duarui suayua" ["Ya, silahkan kalian selesaikan Tantangan dari saya"] ujar Kepala Desa


"Suiluahkuan Muasuk" ["Silahkan Masuk"] suruh Kepala Desa


Mereka pun menyentuh Sensor Sidik Jari di mesin-mesin tersebut, lalu mereka pun melanjutkan jalan mereka, tuk mulai mencari Pemilik Sensor di Kertas yang Nitara pegang.


■☆■☆■☆■


"Jadi, benda ini akan meledak jika kita kabur?!" tanya Aleme setelah mendengar penjelasan dari Nitara


"Iya"


"Berarti kita harus cepat temukan Pemilik Sensor ini!" ujar Aleme


"Ya!" setuju mereka bertiga


"Eh, ayo ke Gang, siapa tau dia ngumpet-ngumpet di Gang" usul Nitara sambil berjalan masuk ke Gang. Dan diikuti yang lain


"Ayoo dong ketemu" harap Aleme


"Makanya kita harus jalan cepat" ujar Nitara mempercepat langkah kakinya

__ADS_1


"Ayo" setuju yang lain, sambil mempercepat langkah kakinya


Dan mereka dihadapkan dengan perempatan, di gang yang sempit.


Selama didalam Gang, mereka tak sama sekali ditemani Angin yang sejuk tadi.


"Kemana nihh?!!" tanya Nitara


"Keee, lurus" ujar Aleme


"Oke" ujar Nitara berjalan lurus, dan diikuti yang lain.


Saat mereka sudah meninggalkan perempatan tadi, tanpa disadari, di lorong kanan mereka tadi, ada seorang Pemuda Misterius yang berjaket topi, yang seperti sedang mengumpat, dari kejaran seseorang. Saat mereka meninggalkan perempatan, Pemuda itu pun pergi, lanjut mengumpat.


"Kenapa sih ya, selalu aja pas kita di Gang kayak gini, pasti Angin gak ada yang mau masuk" bingung Aleme


"Mereka enggan masuk ke jalanan yang Sempit, lagi jelek" ujar Nitara


"Ehmm"


"Eh, ada anak kecil!" ujar Nitara mendekati Anak Kecil tersebut


Dan semua sahabat-sahabatnya pun langsung mengetahui, apa dan maksud tujuan Nitara mendekati Anak Kecil itu.


Didepan mereka, ada pertigaan lagi. Namun Anak Kecil itu agak jauh (sebelum) dari Pertigaan.


Nitara pun berhenti disamping Anak Kecil tersebut.


Dan diikuti yang lain.


"Duek, Kuakuak buolueh puinjuam Juarui Tuelunjuk Uaduek guak??!" ["Dek, Kakak boleh pinjam Jari Telunjuk Adek gak??!"] tanya Nitara


Belum sempat Anak Kecil tersebut menjawab, Nitara pun menarik jari telunjuknya, lalu ia tempelkan di Sensor Sidik Jari yang berada di Kertas itu.


Kertas berubah warna!


Berubah warna menjadi warna Biru?!


"Kok warna Biru, kertasnya?!" tanya Nitara bingung, melihat kertasnya berubah warna menjadi warna biru.


"Itu, mungkin kalau bukan dia pelakunya, kertas bakal jadi warna Biru" ujar Muliyan


"Ohh iya, bisa-bisa" ucap Nitara mengembalikan jari telunjuk Anak Kecil tersebut.


"Muakuasuih Duek" ["Makasih Dek"] ujar Nitara


"Ayo, bukan dia pelakunya" ujar Nitara kembali berjalan, dan diikuti sahabat-sahabatnya.


"Haha" tawa Aleme


"Lagi, Anak Kecil disangka gitu" ujar Aleme terkekeh


"Yaa tidak ada yang tidak mungkin" ujar Nitara

__ADS_1


"Ya tapi bukan kayak gitu juga, Nitara" gemas Aleme


Nitara tak lagi menghiraukan Aleme, ia pun terus berjalan, sampai dekat dengan pertigaan


Saat sedang bertanya, tuk jalan ke kiri atau ke kanan, tiba-tiba ada Pemuda Misterius, yang berjaket topi, sedang melintasi mereka. Namun saat ditengah-tengah jalan, sepertinya Pemuda itu menyadari akan kehadiran mereka, sehingga Pemuda itu berlari, dari sebelah kiri, menuju sebelah kanan.


"Ya ampun" kaget Nitara


"Eh tunggu" ucap Muliyan


"Lihat gak, pemuda itu mencurigakan!" ujar Muliyan


"Haa!!! Jangan-jangan dia pelakunya!!" ujar Aleme


"Ayoo kejaarr!!" ujar Garinge, Nitara dan Aleme


Mereka berempat pun mengejar Pemuda itu.


Namun Pemuda itu menyadari, bahwa mereka lari mengejar dirinya, sehingga Pemuda itu mengencangkan larinya.


"Biar Aleme yang tahan" ujar Aleme siap berlari cepat, namun tindakannya dicegah oleh Nitara


"Tunggu" ujar Nitara


Tiba-tiba Nitara berteriak, sekencang-kencangnya


"MUASS UUANGNYUA JUATUHH NUIUIHH!!" ["MASS UANGNYA JATUHH NIIHH!!"] teriak Nitara menipu, agar Pemuda itu berhenti


Dan benar saja! Pemuda itu berhenti, lalu membalikkan badannya, tuk menghadap mereka, sambil mencek kantong celananya


"Nuih" ["Nih"] ujar Nitara pura-pura mengambil uang di tanah, lalu ia pun genggam, dan pura-pura ingin memberi ke Pemuda itu.


Padahal ia tak memegang apapun, selain ia genggam saja tangannya. Namun tangan satu lagi tetap memegang Kertas dari Kepala Desa.


Nitara berjalan mendekati Pemuda itu, sedangkan Pemuda itu berhenti, untuk menunggu Nitara yang mendekatinya saja.


Nitara berjalan mendekati Pemuda tersebut, sahabat-sahabatnya Nitara pun berjalan mendekati Pemuda itu juga, dari belakang Nitara.


Saat sudah dekat...


"Niuh" ["Nih"] ucap Nitara seakan-akan menaruh uangnya di telapak tangan Pemuda tersebut, padahal ia buka (diatas Telapak Tangan Pemuda itu) tangannya, kosong, tidak ada Uang.


Pemuda itu terkejut.


"Niuh, cuobua Suentuh" ["Nih, coba Sentuh"] ujar Nitara menunjukkan Kertas itu, dan siap menyentuhkan Jari Telunjuk Pemuda itu ke Sensor Sidik Jari yang berada diatas kertas.


Namun Pemuda itu menarik tangannya, seperti menolak.


Dengan tindakan itu, sudah menunjukkan kepada mereka semua, bahwa benar, Pemuda yang dihadapan mereka itu adalah Pemilik Sidik Jari itu.


Dan siapa sangka?! Pemuda itu mendorong Nitara keras, sehingga Nitara terjatuh, dan Pemuda tersebut berlari menjauh.


■☆■☆■☆■

__ADS_1


^Like-nya, Fav-nya, Vote-nya, Gift-nya, Rate-nya, Ask-nya, Follow me-nya, Don't Forget :*)^


__ADS_2