
■Hambatan■
Mereka pun berhenti, saat sudah sangat dekat dengan Gerbang tersebut
Penjaga-penjaga tersebut mencoba mendekati mereka berempat, dengan senjata ditodongkan ke mereka.
Dan ada yang terus menodongkan, ada yang mengecek mereka, apakah mereka membawa senjata, dan ada yang menjadi di Gerbang.
Setelah penjaga yang mengecek, mereka pun mundur, dan memberi tahu, bahwa mereka aman, bukanlah penjahat.
Dan yang menodongkan senjata pun menurunkan senjata mereka.
Dan dari belakang mereka, ada seorang pria cukup berumur, menghampiri mereka, yang dijaga 2 prajuritnya.
Pria tersebut adalah Kepala Desa Ehokija.
Kepala Desa tersebut berhenti dihadapan Muliyan dan sahabat-sahabatnya
"Eceobea, sebeutkean eideinteas lengkeap kealeiean" ["Coba, sebutkan identitas lengkap kalian"] suruh Kepala Desa
"Eseayea Meuleiyean, eumeur seayea deleapean beleas teaheun, seayea dearei Negearea Reatjeir" ["Saya Muliyan, umur saya delepan belas tahun, saya dari Negara Ratjir"] ujar Muliyan
"Eseayea Neitearea, eumer seayea sepertei Meuleiyean, seayea dearei Desea yeang seamea sepertei Meuleiyean" ["Saya Nitara, umur saya seperti Muliyan, saya dari Desa yang sama seperti Muliyan"] ujar Nitara
"Edeiea Geareinge, emeur nyea seamea sepertei seayea, easeal negearea tenteu suamua sepertei seayea, deiea seaheabeat keceil seayea" ["Dia Garinge, umur nya sama seperti saya, asal negara tentu sama seperti saya, dia sahabat kecil saya"] ujar Muliyan mewakili Garinge, karena tentunya Garinge pasti kesulitan tuk memperkenalkan dirinya sendiri menggunakan bahasa Desa ini
"Edeiea Ealeme, emeur seamea sepertei seyea, easeal negearea peun seamea. Deiea jeugea seaheabeat keceil seayea, yeang selealeu eadea eunteuk seayea" ["Dia Aleme, umur sama seperti saya, asal negara pun sama. Dia juga sahabat kecil saya, yang selalu ada untuk saya"] ujar Nitara mewakili Aleme, karena tentunya Aleme sama seperti Garinge, pasti kesulitan tuk memperkenalkan dirinya sendiri menggunakan bahasa Desa ini
"Ekealeiean dearei Negerea Reatjeir yeaea" ["Kalian dari Negara Ratjir yaa"] gumam Kepala Desa dengan nada penuh penekanan, entah apa maksudnya.
Tentu Muliyan dan Aleme mendengar Kepala Desa bergumam. Dan tentu mereka bingung.
"Kalian tahu, saya tidak percaya kalian" ujar Kepala Desa penuh penekanan
"Ah?!!" kaget mereka semua
Bukan karena arti ucapannya, namun karena ia berbicara menggunakan bahasa Negara Ratjir
"Kalian dari Negara Ratjir kan?" tanya Kepala Desa lagi
"Ya, kami dari Negara Ratjir" jawab Muliyan
"Izinkan kami melewati Desa anda" ujar Nitara
__ADS_1
"Saya tidak mengizinkan warga Negara Ratjir untuk tinggal ataupun hanya melewati Desa saya ini!" ujar Kepala Desa dengan lantangnya
Tentu mereka berempat kaget + bingung.
"Izinkan kami" mohon Nitara
"Tidak!"
"Saya benci warga Negara Ratjir, karena warga tersebut dipimpin dengan Raja yang Penipu!"
Tentu mereka berempat terkejut
"Itu Raja dulu" ujar Muliyan memberi tahu
"Iya, Raja dulu, tapi yang sekarang lebih." ujar Kepala Desa pedas
"Tidak!" ujar Muliyan lantang
Karena, Muliyan merasa yang dibilang Raja sekarang penipu, adalah Ayahnya.
"Hei anak muda, kau tidak tahu apa-apa" ujar Kepala Desa
"Apa kau bilang?!!!"
"Kau yang tidak tahu apa-apa!"
"Tahu tidak, Raja sekarang tuh A~" ucapan Muliyan terpotong dengan adanya tangan yang menutup mulut Muliyan. Yah, tangan tersebut adalah tangan Nitara
"Hei, sembunyikan identitas mu" bisik Nitara benar-benar di telinga Muliyan
Muliyan terkejut, hampir saja ia membuka identitas intinya yaitu Anak Raja Negara Ratjir, tanpa sengaja.
"Raja sekarang tuh baik banget! Menolong rakyat kecil tanpa pamrih! Jangan sok tau kamu!" ujar Nitara setelah berbisik ke Muliyan
"Kalian yang jangan sok tau. Kalian hanya anak muda yang tak tau apa-apa, udah sok tau" ujar Kepala Desa membuang muka
"Raja sekarang tuh telah menipu banyak orang! Bahkan warga yang berada di Desa pun, ia jahati. Sampai-sampai tak ia kasih makan, ia biarkan mereka merintih kelaparan, sampai mati kelaparan!"
"Jangan fitnah kau!!!!!" teriak Muliyan
"Bapak jangan fitnah dong!!" ujar Nitara membela Muliyan
"Fitnah!!!????" teriak Kepala Desa Ehokija tak terima
__ADS_1
"Kalau tak ada bukti, itu fitnah!" celetuk Aleme dari belakang
Kepala Desa Ehokija sangat murka dengan mereka, namun akhirnya dapat ia padamkan.
Kepala Desa Ehokija membuang nafas berat. Dan ia pun berbicara lagi
"Bahkan, anak satu-satunya ia tipu! Bersama ketiga sahabat-sahabatnya!" ujar Kepala Desa Ehokija
Jujur saja, Muliyan sangat terkejut, seperti disambar petir hidup-hidup! Tak terkecuali sahabat-sahabatnya.
Muliyan kaget + bingung + tak percaya, begitupula sahabat-sahabatnya.
Muliyan percaya tak percaya, ucapan barusan dituju kepada Ayahnya. Karena katanya: 'Raja Sekarang'.
Kalau benar, Raja menipu Anak bersama ketiga sahabatnya apa?! Tipuan itu berupa apa?! Apa maksudnya sih!?!
Batin Muliyan~
"Tidak mungkin Ayah adalah Raja yang Penipu!"
"Dan kalau benar Ayah menipu Aku bersama ketiga sahabat-sahabatku, kita tidak merasa tertipu! Ayah menipu apa ke kita?!"
"Namun itu sangat mustahil!!!"
Batin Garinge~
"Ayah Muliyan nipu kita?! Nipu apaan?! Gak jelas dah!"
"Dan mustahil Ayah Muliyan melakukan itu!"
"Apa salah kita!?"
"Dan mustahil Ayah Muliyan melakukan seperti yang dikatakannya, bahwa Ayah Muliyan menyiksa warga di Desa Negar Ratjir!"
Batin Aleme~
"Maksudnya, Ayah Muliyan nipu kita?! Nipu apa emangnya?!"
"Apa benar Ayah Muliyan penipu dan kejam seperti itu?!"
■☆■Next Episode■☆■
^Like-nya, Fav-nya, Vote-nya, Gift-nya, Rate-nya, Ask-nya, Follow me-nya, Don't Forget :*)^
__ADS_1