Sidik Jari

Sidik Jari
Episode 29 ■Desa Ujaroke■


__ADS_3

■Desa Ujaroke■


Saat mandi, mereka menyambilnya dengan menyuci pakaian, setelah selesai mencuci, mereka pun keluar, dan menyelimuti tubuh mereka dengan selimut di dalam kamarnya, yang pastinya tubuh mereka sudah dikeringkan terlebih dahulu, menggunakan Handuk, masing-masing. Setelah itu, mereka menggantung pakaian mereka menggunakan gantungan pakaian, lalu mereka taruh di lemari pengering.


Setelah 5 menit, bunyi 'Nut' pun berbunyi. Segera mereka mengambil pakaian mereka, lalu mereka pakai, pakaian mereka, dan mereka pun segera keluar kamar.


"Keren" kagum Garinge


"Iya" setuju Aleme yang sudah tahu alur dari omongan Garinge


"Iyalah" ujar Nitara menggantikan Muliyan


Dan Nitara juga sudah tahu alur dari omongan Garinge.


"Bisa lima menit, kering baju yang basah kuyup!!" kagum Garinge


"Wiuh!" imbuh Aleme


"Sudah-sudah" ucap Muliyan memberhentikan omongan mereka


"Jadi bagaimana nih? Kita mau endap-endap sampe cari jalan keluar dari Desa ini, atau~" ucapan Muliyan dipotong oleh suara beberapa mobil bermesin truck seperti masuk kedalam komplek yang mereka tempati, dan juga beberapa mobil besar.


Mereka semua jadi melihat kearah jendela Tenda.


"Hah! Kepala Desa datang!!" teriak Nitara panik


"Hah!!!" kaget Garinge dan Aleme


"Kok tau kita disini?!" tanya Nitara dan Aleme panik


"Tenda kita hilang kan, dari pandangan mereka, Muliyan?!" tanya Garinge panik


"Iya" jawab Muliyan yang berusaha mengontrol paniknya


Mereka mengintip dari jendela Tenda.


Mobil tersebut ada yang berhenti di depan tenda mereka, dan ada yang berhenti di depan Rumah samping mereka.


Dan ada Bapak-bapak yang turun dari mobil, yang berhenti di rumah samping Tenda mereka.


Dan ada pengawal-pengawalnya, dan mobil yang berhenti di depan Tenda mereka pun, ada yang keluar, mereka bersenjata. Padahal cuma mau tangkap 2 Pemuda dan 2 Pemudi saja. Yaa walau begitu, mereka pun memiliki kekuatan yang keren dan kuat. Apalagi tenaga mereka masih banyak, karena masih muda umur mereka.


Bapak-bapak tersebut adalah Kepala Desa.


Kepala Desa berhenti di depan rumah samping Tenda mereka, dan keluarlah Seorang Ibu yang menggendong anaknya, dan keluar juga Seorang Bapak yang disamping Ibu menggendong Anak.


Kepala Desa berbicara dengan Ibu-ibu itu, dan terdengar sama mereka berempat, namun yang tahu makna hanya Muliyan dan Nitara.


"Edeimeanea deuea Pemeudea dean deuea Pemeudei eiteu?!" ["Dimana dua Pemuda dan dua Pemudi itu?!"] tanya Kepala Desa kepada Ibu-ibu itu


Ucapan itu membuat Muliyan dan Nitara terkejut.


"Maksudnya?!!" tanya Nitara yang tak paham dengan ucapan Kepala Desa itu.


"Eteadei seayea (eaneak seayea) leiheat merekea eadea deiseiteu?!" ["Tadi saya (anak saya) lihat mereka ada disitu?!"] jawab Ibu-ibu itu sambil menunjuk kearah Tenda, dan arah tunjukan itu diikuti Kepala Desa, pengawal-pengawalnya dan Bapak-bapak disamping Ibu-ibu itu.


"Eteapei teibea-teibea seayea (eaneak seayea) leiheat merekea measeuk kedealeam Tendea, dean teibea-teibea Tendea eiteu Mengheileang, begeiteupeulea merekea" ["Tapi tiba-tiba saya (anak saya) lihat mereka masuk kedalam Tenda, dan tiba-tiba Tenda itu menghilang, begitupula mereka"] ujar Ibu-ibu tersebut


"Uwwwaaa, ternyata ada yang lihat kitaaaa!!!!" teriak Nitara panik


"Lihat kita apa?!" tanya Garinge dan Aleme tak mengerti


"Ternyata Ibu-ibu itu ngeliat kita, dari dalam rumahnya!!" panik Nitara


"Pas kita kesini, pas Muliyan munculin tenda, dan pas kita masuk tenda dan pas tenda Muliyan hilangi!!"


"Haahh!!!" panik Garinge dan Aleme


"Gawat doongg!!!!" panik Aleme

__ADS_1


"Makanya ituuu!!"


"Ayoo Muliyan, keluarin Portal mu, untuk ke Desa setelah iniii" ucap Nitara panik


"Gak bisa. Kalau kita langsung pindah, tenda ini akan tetap disini, walau gak keliatan dari luar." ujar Muliyan memberi tahu


"Kepala Desa ituu mendekaatt!!" teriak Garinge panik, melihat Kepala Desa ini berjalan kearah Tenda mereka


"Hah!??!" kaget Nitara dan Aleme


"Tenang, kita gak bakal ketahuan" ucap Muliyan membuat sahabat-sahabatnya tenang.


Benar, Kepala Desa itu berjalan, bahkan sampai tengah tenda, dia tak sadar.


Sontak mereka bertiga menutup mulut, karena takut membuat Kepala Desa tahu, dan karena takjub.


"Tenang, dia gak bakal dengar kita" ucap Muliyan mengangkat suara


Benar, Kepala Desa ini tak mendengar Muliyan, bahkan ia berjalan mendekat Ibu-ibu tadi


"Benar" ujar Nitara tertawa, dan diikuti Aleme


"Oh. Gini aja!" ujar Nitara mempunyai ide


"Gimana nanti aku drama, aku ngaku, nah abis itu aku langsung kasih tantangan, jika dia  bisa jawab pertanyaan ku, dia boleh tangkap aku, bahkan kalian juga ditangkap, nah jika dia gak bisa jawab, kita bakal dilepasin" ucap Nitara


"Nanti kalau dia gak mau?!" tanya Aleme


"Yaa aku punya ide!" ujar Nitara


"Eee, aku ragu" ujar Muliyan ragu


"Apa yang harus diragukan?!" tanya Nitara meyakinkan


"Tapi kalau kamu ditembak mati, secara tiba-tiba?!" tanya Garinge


"Tidak mungkin" ucap Nitara mantap.


"Bisa" jawab Garinge


"Abis itu, Muliyan tolong munculkan tenda  ini, agar aku bisa masuk. Bisa kan Muliyan?!" tanya Nitara


"Eee ya bisa" jawab Muliyan


"Nah abis itu, abis aku masuk, eh jangan. Pas Garinge masang Pelindung Kulit Kacang, kalian langsung lari keluar, abis itu kamu, Muliyan, langsung hilangkan ini tenda, setelah itu, baru kamu pasang portal ke dalam Desa setelah ini." ucap Nitara


"Tapi kita mesti tahu dulu, nama Desa setelah ini, apa?" ujar Muliyan memberi tahu


"NAH! Itu dia aku mau drama begitu tuh, tujuannya untuk tau, Desa setelah ini apa, abis itu kan kita bisa kesana, melalui Portal milik Muliyan. Dan tentu supaya tau juga, bahasa Desa setelah ini apa?!" ungkap Nitara


"Nah gituuu"


"Waaww" kagum Garinge dan Aleme, karena ide Nitara sangat bagus.


"Yaudah, Muliyan dengar, pas aku bilang, 'Hmmm' pake bahasa Desa ini, langsung suruh Garinge seperti tadi ya?!" tanya Nitara


"Baiklah" ujar Muliyan mengerti


"Oke..." ucap Nitara maju mendekat ke pintu


Lalu ia pun keluar, melalui pintu.


Saat keluar, sontak mereka semua kaget, akan kehadiran Nitara yang tiba-tiba ada dihadapan mereka. Dan mereka mengangkat senjata mereka.


"Eteunggeu!" ["Tunggu!"] teriak Nitara mengangkat tangan


"Eheuheu" ["Huhu"] Nitara mulai drama


"Eeiyea, seayea dearei Negerea Reatjeir" ["Iya, saya dari Negara Ratjir"] ngaku Nitara

__ADS_1


Saat Kepala Desa hendak berbicara, Nitara pun memotongnya


"Eteangkeap seayea! Teangkeap! Teapei Seayea Meoheon, bebeaskean Seaheabeat-seaheabeat seayea!" ["Tangkap saya! Tangkap! Tapi Saya Mohon, bebaskan Sahabat-sahabat saya!"] ujar Nitara mulai menangis drama.


"Ebeahkean Tembeak seayea jeugea geak peapea, teapei Jeangean Tembeak Seaheabeat-seaheabeat seayea!" ["Bahkan Tembak saya juga gak papa, tapi Jangan Tembak Sahabat-sahabat saya!"]


"Eyeudeah, teangkeap deiea!" ["Yaudah, tangkap dia!"] suruh Kepala Desa


Saat beberapa pengawal hendak menangkap Nitara....


"Eteunggeu!" ["Tunggu!"] cegah Nitara


"Ekeameu jeangean beoheong, teapei yea!" ["Kamu jangan bohong, tapi ya!"] ujar Nitara memberi peringatan


Nitara bicara, pengawal yang sedang berjalan, jadi berhenti.


"Eyea" ["Ya"] sahutnya


"Eseayea measeih beleum perceayea!" ["Saya masih belum percaya!"] ujar Nitara berani


"Ejeaweab perteanyeaean seayea terlebeih deaheuleu! Eeagear membeukteikean kepeadea seayea, eandea teak berbeoheong!" ["Jawab pertanyaan saya terlebih dahulu! Agar membuktikan kepada saya, anda tak berbohong!"] ujar Nitara


"Ebeaeikleah!" ["Baiklah"] setuju Kepala Desa


"Eperteamea!" ["Pertama!"]


"Eapea neamea Desea seteleah Desea einei!" ["Apa nama Desa setelah Desa ini!"] tanya Nitara


"Edesea Eujeareoke" ["Desa Ujaroke"] jawab Kepala Desa


"Ebeaeik" ["Baik"]


"Ekedeuea!" ["Kedua!"]


"Ereumeus Beaheasea Desea eiteu, eapea?!" ["Rumus Bahasa Desa itu, apa?!"] tanya Nitara


Kepala Desa bingung, begitupula yang menyaksikannya, selain sahabat-sahabatnya.


Namun Kepala Desa pun menjawabnya


"Eseteaheu seayea, sebeleum heureuf heideup, diseleipei heureuf 'U' terlebeih deaheuleu" ["Setahu saya, sebelum huruf hidup, diselipi huruf 'U' terlebih dahulu"] jawab Kepala Desa


"Esekeareang seayea seudeah perceayea" ["Sekarang saya sudah percaya"] gumam Nitara


"EHHHMMMM" ["HHHMMMM"] kode Nitara ke Muliyan


Begitu menyadari, Muliyan pun berteriak!


"Garinge! Pelindung!!!" suruh Muliyan


"Ah! Siap!!" ujar Garinge


"Kulit Kacang, jadilah Pelindung yang Kuat lagi Jumboo!!" teriak Garinge sambil membuka pintu tenda, lalu ia lempar kulit kacang yang kecil, ke tanah depan Nitara


Dan jadilah pelindung yang kuat lagi Jumbo, dihadapan Nitara.


Mengetahui itu, Muliyan, Garinge dan Aleme berlari duluan, yang dipimpin Garinge


"Ayoo" teriak Nitara berlari mendekat


Muliyan pun menghilangkan Tenda, lalu ia pun memunculkan Portal, namun Portal sempat gagal, karena Muliyan menyuruh menuju dalam Desa Ujaroke, dan setelah mencoba menuju depan Desa, berhasil.


Tanpa membuang waktu, mereka langsung berlari memasuki Portal. Dan mereka sekarang sedang berada di Depan Gerbang Desa Ujaroke.


Tadi, saat ada Pelindung Kulit Kacang, Kepala Desa berteriak, menyuruh pengawal-pengawalnya tuk menembakkan Pelindung itu, namun tak ada hasil. Sampai akhirnya Pelindung tersebut menghilang sendiri, karena Garinge hilangkan.


Saat mengetahui Nitara sudah tidak ada. Kepala Desa semakin murka dan Geram!


Bahkan, ia sempat berfikir tuk mengirim surat ke Istana Negara Sidik Jari, yang berisi pengaduan ini. Dan mengusulkan tuk adakan Perang terhadap Negara Ratjir.

__ADS_1


■☆■Next Episode■☆■


^Like-nya, Fav-nya, Vote-nya, Gift-nya, Rate-nya, Ask-nya, Follow me-nya, Don't Forget :*)^


__ADS_2