Sidik Jari

Sidik Jari
Episode 12 ■Gapura Desa Okhire■


__ADS_3

■Gapura Desa Okhire■


Dan lampu yang menyala pun berwarna Hijau. Seketika Mesin itu pun hilang, dengan arti mereka boleh masuk.


"Soeloamoat, koaloioan toernyoatoa Boaoik sounggouhoan" ["Selamat, kalian ternyata Baik sungguhan"] ujar Kepala Desa sedikit senang


"Youoadoah, soiloahkoan, koaloioan boloeh moasouk" ["Yaudah, silahkan, kalian boleh masuk"] ujar Kepala Desa


"Boaoik Poak! Toeroimoa Koasoih!" ["Baik Pak! Terima kasih!"] senang Nitara


"Yoa!" ["Ya!"]


Mereka pun akhirnya berjalan menelusuri jalan yang berada di Desa Okhire...


Mereka berjalan, ditengah-tengah ladang padi yang cukup luas, yang terlihat sangat indah. Dan disebelah sana Padi, ada ladang Gandum!


Mereka puas menghirup udara sore hari ini.


Dan Garinge pun mengangkat suara duluan


"Eh, sekarang sore kan, disini???!!!" tanya Garinge memastikan dan memancing agar mereka mengobrol, bukannya diam-diam lagi.


"Iya" jawab Muliyan


"Enak ya udaranya" ucap Nitara sangat kagum dengan Desa Okhire


"Iya!" setuju mereka bertiga


"Sejuk" ucap Nitara menutup matanya, agar ia tambah bisa menikmati sejuknya di Desa Okhire dengan segenap jiwa raganya.


"Iya" ucap Aleme melakukan hal yang sama dengan Nitara


Obrolan singkat mereka pun berakhir.


Karena mereka pun memilih untuk menikmati angin sore yang sedari tadi menyambut mereka.


Seperti tadi, rambut Nitara dan Aleme berderai halus, diterjang angin sore yang sepoi-sepoi. Sama halnya dengan rambut Muliyan dan Garinge yang tidak terlalu panjang.


Begitupula pakaian mereka, berkibar indah, diterjang angin sore.


Dan lagi-lagi semua pikiran yang cukup memberatkan pikiran dan hati mereka, terlempar begitu saja, oleh angin sore yang sejuk dan pemandangan yang indah.


Nitara berjalan sambil memejamkan matanya, Aleme melakukan hal demikian pula, Muliyan melihat kiri kanan, dan Garinge melakukan hal demikian pula.

__ADS_1


Sekarang yang berjalan di depan Nitara, dibelakang samping kiri adalah Aleme. Muliyan dan Garinge berjalan bersama dibelakang mereka berdua.


Mereka harus melewati jalan lurus yang panjang, baru sampai ke pemukiman penduduk Desa Okhire.


Terlihat cukup indah, rumah-rumah disana, jika dilihat dari sejauh ini.


Rumah-rumah disana cukup berdekatan sekali. Yang menyebabkan hubungan sosialisasi mereka sangat bagus. Saling menghormati tetangga, saling perhatian, saling menjaga, saling menjaga nama baik, satu sama lain, dan masih banyak lagi.


Tapi sebelum masuk ke pemukiman penduduk Desa Okhire, mereka harus melewati Gapura yang cukup bagus, seperti baru dibaguskan lagi, yang bertuliskan: "Soeloamoat Doatoang, doi Doesoa koamoi, Doesoa Okhoiroe" ["Selamat Datang, di Desa kami, Desa Okhire"]


Namun tulisan di Gapura tersebut, belum terbaca oleh Muliyan, Garinge, Nitara dan Aleme, karena penglihatan mereka bukan seperti penglihatan burung Elang, mangsanya saja terlihat walau dia berada cukup jauh dari permukaan bumi.


Mereka masih berjalan, sambil menikmati angin sejuk disana.


Lagi-lagi Garinge pun mengangkat suara, agar bisa memancing mereka mengobrol panjang, namun sepertinya sia-sia lagi.


"Oh ya, sekarang kita mau kemana?" tanya Garinge


"Mungkin cari kosan dulu" ujar Muliyan


"Iya" setuju Nitara dan Aleme lagi.


Mereka sudah menghilangkan senjata mereka, agar tidak ada satu orang pun yang memiliki prasangka buruk, terhadap mereka.


Mereka pun mengakhiri obrolan mereka itu, yang berasal dari Garinge. Agar bisa menikmati udara sejuk disana, lebih lanjut.


Mereka pun membaca tulisan tersebut, di dalam hati mereka. Namun Muliyan, Garinge dan Aleme tidak mengerti, makna dari kata tersebut. Namun tidak untuk Nitara.


Muliyan teringat sesuatu, namun Muliyan tidak ingat sesuatu. Muliyan berusaha agar teringat kembali, namun tidak bisa, atau tidak teringat sama sekali.


Mereka pun mendengar suara-suara penduduk Desa Okhire yang sedang mengobrol asik, menggunakan bahasa mereka. Mereka mengobrol di depan rumah masing-masing.


Namun elitenya, rumah-rumah yang ada di Desa Okhire seperti rumah yang berada di perkotaan! Mungkin memang begitu rumah-rumah di Desa-desa di Negara Sidik Jari?


Namun rumah mereka tidak memiliki pagar ataupun halaman. Tidak ada kata pagar ataupun halaman, di depan rumah mereka. Dan tidak ada kata Garasi, karena mereka tidak memiliki mobil. Hanya sepeda yang menjadi alat transportasi mereka.


Pintu-pintu rumah mereka tidak lagi menggunakan kunci, mereka memasang Sidik Jari mereka sebagai kunci rumah mereka. Dan pintu mereka tidak memiliki knop, setelah Sensor Sidik Jari berubah menjadi warna hijau, pintu akan terbuka otomatis.


Rumah mereka rata-rata memiliki warna yang senada, yaitu berwarna Hijau. Terlihat sangat Cantik.


Sebelum melewati Gapura, orang-orang yang sedang berbincang di rumah yang dekat sekali dengan Gapura, langsung menoleh ke mereka, dan mereka pun memberhentikan pembicaraan mereka.


Mereka berempat jadi tidak enak, namun mereka terus melangkah, karena bagi mereka, mereka bukan orang jahat, yang menjadi panik/gelisah jika dilihati, takut terbongkar rahasia mereka. Namun langkah mereka jadi sedikit lambat.

__ADS_1


Mereka pun melewati Gapura, dan kini mereka sedang berjalan melewati orang-orang yang sedang berada di depan rumah mereka, yang sedang saling menukar suara.


Dan baju-baju mereka saja seperti baju yang ada di kota-kota, bahkan baju mereka tidak ada di Negara Ratjir.


Mereka pun melewati orang-orang tersebut dengan sopan.


"Poermoisoi" ["Permisi"] ujar Nitara pelan, sambil menganggukkan tubuhnya.


Meski sudah berlalu, mereka berempat masih menjadi sorotan orang-orang yang ada di depan rumah, yang dekat Gapura.


Lalu, mereka pun dilihati lagi oleh orang-orang yang sedang berada di depan rumah setelah rumah urutan pertama.


Nitara pun mengucapkan 'permisi' pakai bahasa Desa Okhire.


Nitara memberi kode ke mereka untuk berjalan belok, karena jalan belok sepertinya jalan sempit nan sepi atau sering disebut Gang.


Dan mereka mengikuti Nitara yang sudah berjalan belok.


Maksud Nitara, agar mereka bebas dari penglihatan orang-orang yang sedari tadi memperhatikan mereka.


Bukan seperti penjahat yang takut terbuka Rahasia mereka, karena dilihati, namun karena merasa Risih semata yang membuat Nitara berjalan belok ke jalan yang sempit dan sepi.


"Malu tau diliatin kayak tadi" ucap Nitara saat sudah memasuki Gang tersebut.


"Iya bener" setuju mereka bertiga


"Sekarang kita nyari kosan dulu kan?!" tanya Nitara memastikan


"Iya" jawab Muliyan


"Cari yang aman, nyaman, dan pastinya Murah" ujar Garinge dan Aleme bersamaan


"Eh tunggu" ujar Nitara memberhentikan langkahnya, yang membuat mereka bertiga berhenti pula.


"Apa?" tanya Muliyan


"Ada apa?" tanya Garinge


"Kenapa?" tanya Aleme


"Kita emang punya uang?" tanya Nitara


"Emang sekarang kita megang uang?" tanya Nitara

__ADS_1


■☆■Next Episode■☆■


^Like-nya, Fav-nya, Vote-nya, Gift-nya, Rate-nya, Ask-nya, Follow me-nya, Don't Forget :*)^


__ADS_2