Sidik Jari

Sidik Jari
Episode 20 ■Desa Ehokija■


__ADS_3

■Desa Ehokija■


"Oh ya, aku bayar kosan dulu yaa" ujar Muliyan bangkit dan mulai menemui Pemilik Kosan.


Setelah menemui Pemilik Kosan, Muliyan pun membayar dan berkata, 'Besok pagi Muliyan dan sahabat-sababatnya meninggalkan Kosan'.


Setelah itu, Muliyan pun kembali ke kamar, dan mereka pun menghabiskan makanan mereka.


■☆■☆■☆■


Sebelum mentari menyinari kosan *** **, Muliyan dan sahabat-sahabatnya sudah bangun, dan mereka sedang berkumpul di kamar Muliyan dan Garinge lagi, setelah mandi.


Mereka pun memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu.


"Oh iya Muliyan" ujar Garinge disela-sela makannya


"Mending kita tanya saja ke Pemilik Kosan, Desa setelah Desa ini apa ya, dan dimana?" usul Garinge


"Iya Muliyan" setuju Nitara dan Aleme


"Tadi aku berfikir seperti itu" ujar Muliyan


"Yaudah, kita tanya saja ke dia" ujar Nitara


"Iya" setuju Garinge dan Aleme


"Baiklah" ujar Muliyan 


Setelah sarapan usai, mereka pun menemui Pemilik Kosan, untuk bertanya


"Poermoisoi" ["Permisi"]


"Oeoeoe, moaou noanyoa..." ["Eee, mau nanya.."]


"Doesoa soetoeloah Doesoa oinoi, Doesoa oapoa yoa???" ["Desa setelah Desa ini, Desa apa ya???"] tanya Muliyan


"Ohhh, oitou... Doesoa Ehokija" ["Ohhh, itu... Desa Ehokija"] jawab Pemilik Kosan


"Ohh, oitou doimoanoa yoa? Joaloan koemoanoa oajoa ountouk soampoai koesoitou???" ["Ohh, itu dimana ya? Jalan kemana aja untuk sampai kesitu???"] tanya Muliyan


"Toinggoal koe Poasoar *-***, hoabois oitou koe Taman *** *****, hoabois oitou joaloan toerous, oaboaikoan poertoigoaoan, moaoupoun poeroempoatoan, joaloan toerous, soampoai koetoemou Goang, noah moasouk oajoa, oikoutoi toerous Goang oitou, loalou poas koelouoar Goang, boelok koanoan, soetoeloah oitou, joaloan toerous, oaboaikoan poertoigoaoan, poeroempoatoan loagoi, dan boakoal koetemou Goerboang koelouar Doesoa oinoi" ["Tinggal ke Pasar *-***, habis itu ke Taman *** *****, habis itu jalan terus, abaikan pertigaan, maupun perempatan, jalan terus, sampai ketemu Gang, nah masuk aja, ikuti terus Gang itu, lalu pas keluar Gang, belok kanan, setelah itu, jalan terus, abaikan pertigaan maupun perempatan lagi dan bakal ketemu Gerbang keluar Desa ini"] jelas Pemilik Kosan


"Ohhh, boaik! Toeroimoa Koasoih Boanyoak!!" ["Ohhh, baik! Terima Kasih Banyak!!"] ujar Muliyan dan Nitara


"Yoa" ["Ya"] ucap Pemilik Kosan


Mereka pun meninggalkan kosan itu


"Eh Muliyan, Pasar *-*** itu yang kemarin (kita kesana) kan??!" tanya Nitara


"Iya" jawab Muliyan


Nitara mengangguk paham


"Tapi Taman *** ***** itu bukan Taman yang kemarin kita temuin kan???" tanya Nitara


"Kayaknya bukan" ujar Muliyan


Nitara pun mengangguk lagi


"Eh, tadi katanya apa aja???" tanya Garinge dan Aleme yang tidak bisa mengartikan ucapan Pemilik Kosan yang cepat itu.


"Tadi katanya 'Tinggal ke Pasar *-***, habis itu ke Taman *** *****, habis itu jalan terus, abaikan pertigaan, maupun perempatan, jalan terus, sampai ketemu Gang, nah masuk aja, ikuti terus Gang itu, lalu pas keluar Gang, belok kanan, setelah itu, jalan terus, abaikan pertigaan maupun perempatan lagi dan bakal ketemu Gerbang keluar Desa ini'." ujar Muliyan memberi tahu

__ADS_1


"Pasar *-*** yang kemarin kita bukan???" tanya Garinge


"Iya" jawab Muliyan


"Ohh itu yang Nitara tanya Pasar *-*** sama Taman *** *****" ujar Aleme baru sadar


"Ya" respon Nitara


"Yaudah, yuk jalan" ujar Muliyan melangkahkan kakinya dan diikuti sahabat-sahabatnya


Mereka jalan saat mentari baru saja mengintip.


Angin saat ini benar-benar sejuk. Angin yang sepoi-sepoi menyambut mereka dengan lapang dada.


Mereka pun berjalan sambil menikmati udara yang sangat sejuk ini. Sejuk sekali... Luar Biasa...


Muliyan memimpin jalannya menggunakan ingatannya.


Hampir saja Muliyan lupa jalan menuju Pasar *-***, dan menyebabkan mereka tersesat, namun Muliyan ingat lagi, jalan menuju Pasar *-***.


Mereka tinggal berjalan lurus, dan melewati 3 perempatan.


Satu persatu perempatan tersebut mereka lalui.


Dan akhirnya mereka belok kiri untuk ke Pasar. Dan di depan pasar tersebut sudah ramai orang-orang yang berada di depan Pasar, baik yang sedang berjalan kedalam dan yang keluar.


Muliyan pun memutuskan untuk bertanya kepada salah satu orang yang sedang ingin masuk kedalam pasar tersebut.


"Poermoisoi" ["Permisi"] sapa Muliyan


"Toamoan *** ***** doimoanoa yoa??" ["Taman *** ***** dimana ya??"] tanya Muliyan


"Ohh, oitou koeboeloakoang koaloiaon, boelok koanoan, joaloan toerous doan koaloau oadoa poertoigoaan, boelok koiroi, doan soampoai doi Toamoan *** *****" ["Ohh, itu kebelakang kalian, belok kanan, jalan terus dan ada pertigaan, belok kiri dan sampai doi Taman *** *****"] penjelasan orang yang Muliyan tanyai


"Ohh, boaik. Toermoimoa Koasoih Boanyoak!" ["Ohh, baik. Terima Kasih Banyak!"] ujar Muliyan putar balik dan mengajak sahabat-sahabatnya putar balik dan belok kanan, dan sahabat-sahabatnya mengikuti Muliyan dengan lapang dada.


"Lurus terus, abis itu belok kiri pas ada pertigaan" jawab Muliyan


"Owhhh"


Mereka pun berada di pertigaan itu, lalu mereka pun belok kiri.


Dan benar, ada sebuah Taman yang besar nan indah. Dan tidak lupa dengan keramaiannya yang sudah ramai saat ini.


Dan di depan Gerbang Utama Taman itu, ada mesin juga, dan Mesin itu adalah Mesin Sensor Sidik Jari, untuk bisa masuk ke dalam Taman itu. Dan di Gerbang Utama Taman itu ada tulisan: "Toamoan *** *****" yang di dekor seindah-indahnya.


Mereka berjalan sambil melihat ke arah Taman tersebut. Taman yang besar, indah nan ramai.


Dan akhirnya mereka melalui Taman itu, dan mereka pun jalan terus, dan mengabaikan pertigaan dan perempatan, sesuai perkataan Pemilik Kosan.


Setelah melewati kira-kira 10 pertigaan dan perempatan, mereka pun menemukan sebuah Gang di sebelah kiri jalan.


Dan mereka pun memutuskan untuk memasuki Gang tersebut.


Kini mentari sudah menyapa mereka.


Angin bercampur dengan mentari yang hangat, menyapa tubuh mereka, itu pun saat sebelum masuk Gang. Saat masuk Gang, mereka tidak merasakan Angin yang sejuk lagi bercampur mentari yang hangat, namun hanya mentari hangat yang menyapa mereka berempat, saat berjalan di dalam Gang.


Akhirnya mereka pun keluar Gang tersebut.


Saat keluar Gang, mereka belok kanan, dan mulailah angin yang sangat sejuk kembali menyapa mereka.


Di jalanan setelah Gang, sangat ramai orang-orang yang sedang berbicara di depan rumah mereka masing-masing.

__ADS_1


Untungnya orang-orang yang sedang berbicara di depan rumah mereka masing-masing, saat Muliyan dan sahabat-sahabatnya melewati mereka, tidak dilihati seperti saat mereka baru masuk Desa ini, hanya sekilas-sekilas saja.


"Eh tunggu!" ujar Nitara melihat sekitar


"Kok kayak kenal yak???" tanya Nitara melihat jalanan ini


"Iya-iya" setuju Garinge dan Aleme


"Bukannya ini jalanan yang kayak pertama kali kita masuk Desa ini yakk???" tanya Nitara


Lalu Nitara pun melihat kebelakang, namun ia tak melihat Gapura Desa ini.


Lalu Nitara melihat sekitar dan melihat ke depan lagi.


"Kayaknya ya???" tanya Garinge dan Aleme


Mereka tidak tahu pasti, mereka hanya melewati jalanan ini, sambil diiringi perkataan: "Permisi"


Kali ini, mentari sudah menyinari satu Desa ini. Hangat bercampur angin sejuk bersatu padu, tuk menyapa satu Desa ini.


Mereka berjalan terus, sambil mengabaikan pertigaan dan perempatan.


Dan akhirnya, mereka menemukan Gerbang keluar Desa ini!


Rasa senang dan rasa tak percaya bersatu padu dalam hati mereka.


Di depan Gerbang keluar Desa Okhire, ada beberapa penjaga yang berjaga, dan ada juga Mesin-mesin Sensor Sidik Jari, seperti di Gerbang Masuk Desa Okhire ini.


Saat mereka mendekati gerbang itu, penjaga yang ada disitu melihati mereka berempat, dan mereka pun sudah di depan persis gerbang itu


"Koamoi moau koelouoar Doesoa oinoi" ["Kami mau keluar Desa ini"] ujar Muliyan ramah


Mereka pun dirujuk untuk menyentuh Sensor Sidik Jari yang berada di Mesin itu.


Mereka pun menyentuh Sensor itu, dan mereka pun dipersilahkan keluar.


Dan mereka pun meninggalkan Desa Okhire.


Jalanan yang sedang mereka lewati, di tengah-tengah sawah-sawah yang hijau-hijau. Sejuk sekali angin disini.


Setelah berjalan cukup jauh di jalan ini, mereka menemukan sebuah Gerbang yang besar. Dan mereka menyimpulkan, bahwa sebuah Gerbang yang besar itu adalah Desa Ehokija.


Mereka sangat senang melihat Gerbang tersebut.


Mereka menambah kecepatan langkah mereka.


Makin lama, Gerbang tersebut semakin terlihat jelas. Dan terlihat juga Penjaga-penjaga yang bertubuh besar dan kekar, yang bersenjata sedang berjaga.


Dan ada mesin-mesin seperti di Gerbang Masuk maupun Gerbang Keluar Desa Okhire.


Mereka pun mendekati gerbang tersebut. Dan penjaga-penjaga Desa Ehokija saat melihat mereka berempat, segera menodongkan senjata mereka.


Mereka pun mengangkat tangan mereka sambil berjalan pelan-pelan mendekati Gerbang tersebut


"Ekeamei beaeik" ["Kami Baik"] teriak Nitara menggunakan bahasa Desa Ehokija


"Ingat, gunakan bahasa Desa Ehokija. Rumusnya yaitu Setiap awal kalimat ditambahi huruf E, dan di depan huruf hidup diselipi huruf E juga" bisik Nitara


"Kok baru ngasih tauu??!!" tanya Garinge dan Aleme


"Okee" ujar Muliyan


"Eseungguh, keamei beaeik" ["Sungguh, kami baik"] ujar Muliyan sekalian mencoba untuk menggunakan bahasa Desa Ehokija.

__ADS_1


■☆■Next Episode■☆■


^Like-nya, Fav-nya, Vote-nya, Gift-nya, Rate-nya, Ask-nya, Follow me-nya, Don't Forget :*)^


__ADS_2