Sidik Jari

Sidik Jari
Episode 11 ■Sensor Sidik Jari■


__ADS_3

■Sensor Sidik Jari■


Mereka pun menghentikan lari mereka saat hendak berjalan turun menuju Desa Okhire.


Benar-benar Curam...


Mereka berjalan turun, sambil disambut manis, oleh angin sore.


Rambut Nitara dan Aleme berderai halus, diterjang angin sore yang sepoi-sepoi. Sama halnya dengan rambut Muliyan dan Garinge yang tidak terlalu panjang.


Begitupula pakaian mereka, berkibar indah, diterjang angin sore.


Sangat sejuk. Luar Biasa...


Sepatah kata pun tidak ada yang keluar dari mulut mereka.


Mungkin kali ini mereka sudah terlanjur terlarut dengan angin sore yang sejuk, dan terpukau dengan pemandangan yang sangat Indah.


Dan mungkin semua pikiran yang cukup memberatkan pikiran dan hati mereka, terlempar begitu saja, oleh angin sore yang sejuk dan pemandangan yang Luar Biasa Indahnya.


Mereka sedikit memperlambat langkah kakinya, karena saat mereka sudah sampai Gerbang Desa Okhire, banyak penjaga-penjaga bersenjata, namun mereka sedang saling berbicara, memakai bahasa mereka.


Dan di balik Gerbang Desa Okhire, ada seperti mesin yang ada di Stasiun. Dan mesin ini ada 5, di depan Gerbang Desa Okhire persis.


Mesin itu terdapat sebuah Sensor Sidik Jari, yang artinya mereka harus meletakkan Jari Telunjuk mereka di Sensor Sidik Jari.


Akhirnya mereka pun bersuara


"Ha? Ada gerbang?" tanya Aleme berbisik

__ADS_1


"Iya nih" jawab Nitara berbisik


"Ada penjaga lagi" imbuh Garinge berbisik


"Itu mesin... Di mesin itu ada Sensor Sidik Jari" ujar Muliyan berbisik


"Berarti~" ucapan Muliyan terpotong karena semua penjaga tersebut kaget melihat mereka, menyebabkan mereka langsung menghadap mereka berempat sambil menodongkan senjata jarak jauh mereka, ke mereka berempat.


Dan membuat mereka berempat pun mengangkat Senjata mereka, ke depan tubuh mereka. Kalau Garinge, ia menjulurkan tangan kanannya ke depan (telapak tangan terbuka ke depan), sedangkan tangan kirinya, ia tarik sikunya ke belakang, alhasil tangan kirinya menjulur sampai depan dadanya saja (telapak tangan terbuka ke depan juga).


"Boentoar" ["Bentar"] ujar Nitara menurunkan Tongkat Sihirnya, dan mulai berjalan ke depan dengan hati-hati


"Koamoi boukoan oroang joahoat" ["Kami bukan orang jahat"] ujar Nitara berhenti


"Koamoi~" ["Kami~"] ucapan Nitara terpotong oleh suara bapak-bapak dari belakang mereka


Muliyan, Garinge, Nitara dan Aleme pun melihat ke belakang mereka, dan Kepala Desa tersebut terus berjalan, melewati Muliyan, Garinge dan Aleme, dan akhirnya ia berhenti di samping Nitara.


Semua penjaga tersebut menurunkan senjata mereka, dan mereka pun membukakan Gerbang tersebut, dengan Sidik Jari ketua penjaga Gerbang Desa Okhire.


Dan akhirnya mereka berempat pun menurunkan senjata mereka pula.


"Boeroi joaloan ountouk moeroekoa" ["Berikan jalan untuk mereka"] ujar Kepala Desa ke penjaga-penjaga tersebut.


Penjaga-penjaga tersebut pun memberi jalan untuk mereka berempat.


"Soiloahkoan koaloioan soentouh Soensor Soidoik Joaroi oitou, loalou joikoa loampou yoang moenyoaloa boerwoarnoa Hoijoau, koaloioan boloeh moasouk, noamoun joikoa oadoa yoang loampounyoa yoang moenyoaloa boerwoarnoa Moeroah, toidoak boutouh woaktou loama ountouk koamoi moenoemboakkoin doioantoaroa koaloioan yoang loampounyoa boerwoarnoa Moeroah" ["Silahkan kalian sentuh Sensor Sidik Jari itu, lalu jika lampu yang menyala berwarna Hijau, kalian boleh masuk, namun jika ada yang lampunya yang menyala berwarna Merah, tidak butuh waktu lama untuk kami menembakkin diantara kalian yang lampunya berwarna Merah"] ujar Kepala Desa


"Moengoertoi?!" ["Mengerti?!"] tanya Kepala Desa

__ADS_1


Mendengar itu, membuat Nitara diburu nafasnya sendiri, diselimuti merinding hebat, takut diantara mereka, setelah menyentuh Sensor Sidik Jari, lampunya menyala berwarna Merah! Apalagi jika itu dirinya sendiri.


"Oitou ountouk moengoetoahouoi, oapoakoah doioantoaroa koaloioan oadoa yoang joahoat, oatoau toidoak!" ["Itu untuk mengetahui, apakah diantara kalian ada yang jahat, atau tidak!"] ujar Kepala Desa santai, namun maknanya memburu.


"Boaoikloah" ["Baiklah"] ucap Nitara menyembunyikan ketakutannya itu.


"Soilaohkoan" ["Silahkan"]


Nitara pun menghadap mereka bertiga.


"Kita disuruh untuk sentuh Sensor Sidik Jari kita, dan jika lampu yang menyala merah, katanya 'tak butuh waktu lama, mereka akan menembaki yang setelah di sentuh lampunya menyala warna merah"


"Tapi kalau lampunya berwarna Hijau yang menyala, kita aman, dan boleh masuk" ucap Nitara, yang membuat mereka bertiga sangat terkejut


"Tapi tenang, kita kan baik, jadi pasti lampu yang menyala berwarna Hijau" ujar Muliyan


"Iya betul tuh!" setuju Nitara


"Iya!" setuju Garinge dan Aleme


"Oke, ayu" ucap Muliyan berjalan menuju Sensor Sidik Jari itu


Muliyan pun berjalan ke bilik Mesin paling kanan, lalu Garinge pun berjalan ke bilik Mesin samping kiri Muliyan, Nitara berjalan ke bilik Mesin samping kiri Garinge dan Aleme pun berjalan ke bilik Mesin samping kiri Nitara.


Mereka pun menyentuh Sensor Sidik Jari yang ada dihadapannya bersama.


■☆■Next Episode■☆■


^Like-nya, Fav-nya, Vote-nya, Gift-nya, Rate-nya, Ask-nya, Follow me-nya, Don't Forget :*)^

__ADS_1


__ADS_2