
■Kamar Muliyan dan Garinge■
Mereka pun kembali ke kosan, dengan tangan kosong.
Tak ada satupun makanan di pasar itu, yang cocok bagi mereka.
"Apa di Desa ini, seperti itu?!" tanya Garinge
"Tidak ada makanan yang ada di Negara kita?!!"
"Apa bahkan di Negara ini?!"
"Ah, sudahlah. Bingung"
"Sepertinya sih begitu" ujar Muliyan
"Tapi kata mu tadi..."
■Flash Back Nitara》
"Ohh iya Muliyan, kalau makanannya gak cocok, gimana??" tanya Garinge
"Ya gak usah beli" jawab Muliyan
"Tapi kalau gak cocok, satu pasar, gimana??" tanya Garinge
"Ke pasar satu lagi" jawab Muliyan
"Eh, emang ada??" tanya Garinge
"Ada"
■》
"Ohh iya Muliyan" setuju Garinge
"Enggak, aku baru ingat, kan kata Ayah ku..."
■Flash Back Muliyan》
"Eee, semua makanan di Desa-desa, di Negara Sidik Jari, enggak ada di kita" ujar Ayah
■》
Mereka mengangguk saja
"Muliyan, ayoo cepat, perut ku sudah demo nih" ujar Garinge
"Aku bisa pesan (Ke koin emas pakan) kue diisi selai kacang yang lumer kann??" tanya Garinge yang mulai capek
"Bisa"
"Bisa apa saja" ujar Muliyan menghibur
"Yeyy" senang Garinge dengan capeknya.
■☆■☆■☆■
Setelah sampai depan kosan.
Mereka pun menyentuh sensor yang ada di depan pintu kosan.
Setelah mereka menyentuh sensor tersebut, pintu terbuka otomatis, dan tertutup otomatis.
Mereka dapat melakukannya kerena Sidik Jari mereka sudah terdaftar di Kosan tersebut. Dan jika mereka sudah meninggalkan kosannya, tentu Sidik Jari mereka pun dihapus, dan tidak terdaftar lagi, agar mereka tidak bisa membuka pintu itu, saat mereka sudah tidak tinggal di kosan lagi. Itu berlaku di semua kosan.
__ADS_1
"Makannya di kamar kita (Kamar Muliyan dan Garinge) aja" ujar Muliyan
"Ayu" setuju Garinge
Muliyan pun menyentuh Sensor Sidik Jari di pintu kamar Muliyan dan Garinge, lalu pintu terbuka sendiri, dan mereka pun memasuki kamar Muliyan dan Garinge, setelah semua masuk, Muliyan pun menutup pintunya lagi dengan menyentuh Sensor itu lagi.
Di balik CCTV, pemilik kosan tersebut berkata:
"Moeroekoa toeloah koemboaloi" ["Mereka telah kembali"]
■☆■☆■☆■
Mereka pun duduk membentuk pola lingkaran di lantai kamar Muliyan dan Garinge yang bersih dan mengkilat.
Muliyan pun bangkit lagi tuk menyalakan kipas angin, dengan nomor 3, yang mana kalau mau nomor 3, harus menyentuh sensor sidik jari tuk nomor 3, begitupula nomor yang lain, dan tuk mematikannya.
Muliyan kembali duduk.
"Ayoo (keluarkan koin emas pakan)" ujar Garinge sudah lapar
Muliyan pun mengeluarkan Koin Emas Pakan tersebut, dan ia pun taruh di tengah-tengah mereka.
Dan diantara mereka pun kembali ada yang berkata dalam hati:
"Koin emass! Ah!! Tahan-tahan, jangan langsung gegabah mengambilnyaaaa!!! Ihh!!!" ~menggebu-gebu
"Ayo sebutkan apa saja yang kalian inginkan, tapi gantian yaa" ujar Muliyan
"Aku duluan!" ujar Garinge sedikit berteriak
"Ya silahkan"
"Aku mauu...."
"Kue isi selai kacang yang lumer banget, 5 kue" ujar Garinge
"Waaww" kagum mereka bertiga
"Giliran kuu" ujar Nitara
"Aku mauu..."
"Kue basah aneka ragam 10 kue" ujar Nitara
Dan muncullah dihadapan Nitara kue basah aneka ragam 10 kue.
"Waww" kagum mereka bertiga
"Aku... aku" ujar Aleme
"Aku mauu..."
"Bubur gula merah 5 porsi besar!!!!!" ujar Aleme menggebu-gebu
Dan muncullah dihadapan Aleme bubur gula merah 5 porsi besar
"WAW" kagum mereka bertiga
"Okelah, giliran ku" ujar Muliyan
"Aku mauu..."
"Coklat batang yang besar dan yang banyak berlimpahhh" ujar Muliyan
Dan muncullah coklat batang yang besar dan yang banyak berlimpah dihadapan Muliyan
__ADS_1
"Wawww" kagum mereka bertiga
"Ayo, mari makann" ujar mereka bertiga
Mereka pun memakan sesuai keinginan mereka.
Makan bersama-sama memang menyenangkan, apalagi diiringi obrolan yang ringan tapi asik dan seru.
"Tinggal pesan minuman" ujar Muliyan
"Oh ya" ujar mereka bertiga
Mereka menghabiskan pesanan mereka diiringi obrolan ringan yang seru dan asik.
"Muliyan, jadi di Desa berikutnya, gak ada makanan yang cocok untuk kita?!" tanya Garinge
"Tidak ada" ujar Muliyan
"Kapan kita ke Desa berikutnya, Muliyan??" tanya Aleme
"Besok pagi" ujar Muliyan
"Kita langsung cari tahu, Desa abis ini apa, terus kita cari tahu, jalannya kemana aja, dan kita harus cepat untuk lewati Desa setelah Desa ini, dan Desa berikutnya, Desa berikutnya, Desa berikutnya, dan berikutnya sampai ke Kota Ocyimonio!" ujar Muliyan
"Sebenarnya kita harusnya saat sudah bertemu Desa satu, kita langsung cari Desa berikutnya, dan berikutnya lagi, sampai bertemu Kota itu! Bukan kayak sekarang yang kita cari kosan!"
"Kita harus cepat mengambil kembali Jari-Jemari semua Raja-raja, termasuk Ayah ku!" ujar Muliyan
"Aku gak mau membuat Ayah menunggu lama" ujar Muliyan menunduk
"Tenanglah Muliyan, besok pagi, kita kumpulkan tenaga untuk langsung lewati beberapa Desa." ujar Nitara meyakini Muliyan
"Iya Muliyan" setuju Garinge dan Aleme
Muliyan mengangkat kepalanya
"Benarkah??" tanya Muliyan
"Tentu lah!" ujar Nitara
"Pasti!" ujar Garinge
"Selalu siap!" ujar Aleme
"Kalian..." Muliyan terharu
"Baiklah, besok pagi banget kita bangun, kita tanya-tanya Desa setelah Desa ini apa, dan dimana, dan kita langsung kesana" ujar Muliyan
"Dan langsung lewati Desa itu, dan menuju Desa berikutnya" timpal Nitara
"Sampai ketemu Kota Ocyimonio" timpal Aleme
"Sampai kita kembali ke Istana" timpal Garinge
"Kaliann..." Muliyan sangat terharu
"Ee ngomong-ngomong Desa berikutnya pakai bahasa apa ya??" pikir Garinge
"Gampang itu mah di cari tahu" ujar Nitara
"Oke, semoga rencana kita lancar!" ujar Muliyan
"Ya!!" setuju mereka bertiga
■☆■Next Episode■☆■
__ADS_1
^Like-nya, Fav-nya, Vote-nya, Gift-nya, Rate-nya, Ask-nya, Follow me-nya, Don't Forget :*)^