Sidik Jari

Sidik Jari
Episode 24 ■Tempat Kumpulan Sampah■


__ADS_3

■Tempat Kumpulan Sampah■


Dan benar saja, langkah beberapa orang tersebut berhenti, tepat di depan Tempat Persembunyian mereka.


Dan benar saja, tutup Tempat Persembunyian mereka dibuka.


■☆■☆■☆■


Perlahan-lahan mereka semua membuka mata mereka.


Dan langsung disapa oleh Aroma Busuk.


Mereka sudah membuka mata mereka sempurna, dan terlihat mereka sedang berada di sebuah ruangan besar yang gelap, dan bau.


Mereka pun bangkit, dari posisi tiduran.


Dan mereka merasa mereka sedang menginjak sesuatu yang sekali menginjak, kaki mereka ikut masuk, namun tidak dalam. Namun bukan Lumpur Hisap yang mereka injak.


Lalu yang mereka injak sedikit basah-basah.


Dan sekali menginjak, aroma busuk tambah menyerang hidung mereka.


Mereka inisiatif untuk menutup hidung mereka sendiri


"Ini dimana???!" tanya Garinge


"Sepertinyaaa...." gumam Nitara


"INI DI TEMPAT KUMPULAN SAMPAH-SAMPAH!!!" teriak Nitara yang dilanjutkan suara bergemuruh di belakang mereka


Mereka segera melihat ke belakang, dan di sana, ada sebuah lingkaran besar terbuka, dan ada cahaya seperti cahaya api.


Karena cahaya api itu, mereka dapat melihat sekitar yang lebih jelas.


Samping kanan-kiri mereka sangat jauh kesana, tak terjangkau.


Dan ada seperti pintu, menempel di dinding, lumayan jauh dari mereka berpijak. Sangat banyak pintu-pintu tersebut, tapi antara satu dengan yang lain, berjarak.


Dan tiba-tiba tempat pijakkan mereka bergetar, dan mulai maju, menuju lingkaran besar itu, perlahan-lahan.


"KITA AKAN DIBAKAR JUGA SEPERTI SAMPAH-SAMPAH INII!!!" teriak Nitara


Dan mereka menyimpulkan, bahwa cahaya api itu adalah Cahaya dari Api Sungguhan, yang akan membakar semua sampah-sampah disini.


"Jadi kita kemana???!" tanya Garinge

__ADS_1


Mereka semua melihat sekitar, barang kali ada yang dapat dijadikan sebagai topangan agar mereka tak ikut menuju Api, namun semua bergerak, tak ada yang tersisa, semua sedang berjalan menuju Api tersebut. Kecuali pintu-pintu tersebut


"Aha! Ayoo Muliyan tancapkan pedang mu di Pintu itu, dan tahan Garinge, dan Aleme pun sama" ujar Nitara


Semakin menjauh dari dinding, akan menjadi bolong diantara dinding dengan sampah-sampah yang berjalan.


"Ayoo cep~" ucapan Nitara dipotong oleh suara berhentinya tempat mereka berpijak.


Dan semua yang ada disana berhenti, dan Lingkaran besar pun tertutup, alhasil penerangan tidak ada disini.


"Eh, kok gak jalan??!!" kaget Garinge


"Kenapa nih?!" tanya Aleme


"Harusnya bersyukur! Harusnya kita ambil kesem~" ucapan Nitara terpotong dengan suara lift turun, tepat di tengah-tengah lingkaran besar itu.


Dan terdengarnya lift itu berhenti, dan suara pintu terbuka. Dan suara langkah kaki banyak yang keluar dari lift, dan sorotan semua senter, dari semua orang yang keluar dari lift.


"EEADEA BEAREANG BERHEAGREA, TEIDEAK LEAEIN YEAEITEU JEAREI JEMEAREI SESEEOREANG!!!" ["ADA BARANG BERHARGA, TIDAK LAIN YAITU JARI JEMARI SESEORANG!!!"] teriak salah satu orang yang langsung lari mencari dan diikuti yang lain.


"Menunduk!" ujar Nitara


"Jari jemari disini, selain kita, siapa?!" tanya Nitara


"BERARTI KITA DALAM BAHAYA!!" ujar Nitara


"Ayo kita jalan menuju lift, dengan berpencar" ujar Nitara


"Dan hindari cahaya senter itu, jangan sampai kena, kalau kena, kita bakal ketahuan." lanjut Nitara


"Tapi, coba kita sekalian serang orang-orang yang baru datang ini, dan kita cek, apa ada sesuatu mungkin, di kantong celana mereka, di saku baju mereka, dimana?!" usul Muliyan


"Kita lihatnya sekalian dilucuti pakaian mereka" ujar Nitara tertawa maut.


"Jangan gitu jug~" ucapan Muliyan dipotong oleh Nitara


"Ayo!" ujar Nitara mulai memisahkan diri, sambil pelan-pelan melangkah menuju menuju lift, sambil menghindari cahaya senter yang bergerak tak beraturan.


Mereka bertiga pun memisahkan diri juga, dan berjalan pelan-pelan menuju lift, sambil menghindari cahaya senter itu


Orang-orang tersebut berlari-lari tak karuan untuk menemukan Jari Jemari yang berada di ruangan ini.


Srek, srek, srek, srek...


Suara plastik yang terinjak-injak orang-orang yang berlarian.

__ADS_1


Sedangkan Muliyan, Garinge, Nitara dan Aleme tak sama sekali menciptakan suara.


Nitara ke sebelah kanannya, di sana orang-orang dari lift sangat jauh dari Nitara. Bahkan yang paling dekat dengan mereka itu Muliyan, kedua Garinge dan ketiga Aleme.


Nitara lari tanpa menciptakan suara. Dan Nitara pun berhasil sampai ke lift tersebut.


Namun saat Nitara ingin memutari lift tersebut, ada salah satu dari mereka melihat ke arah lift, untung Nitara sempat mengumpat, dan orang itu melihat ke lain lagi.


Nitara pun berniat untuk menghabisi satu persatu, karena sahabat-sahabatnya dalam bahaya. Tanpa ketahuan orang-orang yang lain.


Nitara pun mengikuti pelan-pelan orang yang hampir saja melihatnya. Orang tersebut tidak lari, hanya jalan pelan, tuk bisa mencari lebih jelas, karena cara jitu baginya untuk menemukan barang yang berharga, yaitu Tenang.


Nitara sudah berada di belakang orang tersebut.


Semua sahabat-sahabatnya sudah memperhatikan Nitara, saat ia hendak ke lift, dan sekarang saat ia ingin menerkam orang tersebut.


Sahabat-sahabat Nitara hanya mengumpat, sambil mengendap-ngendap tuk maju, namun sangat susah!


Nitara pun tak membuang-buang waktu, ia pun langsung menutup mulut orang tersebut, dan menekan hidungnya, lalu ia pun masukkan kepalanya ke dalam sampah dibawahnya, dan ia tahan saat orang itu hendak bangkit lagi.


Ternyata dengan Nitara melakukan hal itu, terciptalah suara. Sehingga orang-orang jadi melihat ke arah Nitara, tak lupa dengan Senternya.


Namun untung Muliyan langsung mempunyai ide.


Muliyan pun lari cepat, ke arah dinding-dinding, dan langsung menggelayut di pinggir tempat, yang ada sampah-sampah yang mereka injak. Bawah Muliyan kosong, kalau jatuh kemungkinan jasad Muliyan tak dapat ditemukan. Dan tentu Muliyan bakal Meninggal.


Semua orang-orang jadi melihat ke arah jejak Muliyan, namun mereka tak melihat Muliyan.


Saat Muliyan bertindak, Garinge dan Aleme berfikir, bahwa senter akan menyoroti tempat suara dimulai, dan jika itu terjadi, Garinge dan Aleme akan kelihatan, makanya mereka berdua langsung maju dengan merayap cepat, tanpa menciptakan suara.


Mereka pun melihat sekitar, dan cahaya senter hampir saja mengenai Garinge, Nitara dan Aleme.


Namun Garinge langsung memasukkan tubuhnya kedalam sampah-sampah dibawahnya, Nitara langsung tengkurap, dan Aleme pun berusaha menghindar dari cahaya senter yang tak tentu arah.


"Eseperteinyea Jearei Jemearei yeang sedeang keitea cearei, measeih bereadea di Jeiwea yeang measeih Heideup" ["Sepertinya Jari Jemari yang sedang kita cari, masih berada di Jiwa yang masih Hidup"] ujar salah satu dari mereka


"Eseayea beareusean jeugea berfeikeir sepertei eiteu" ["Saya barusan juga berfikir seperti itu"] ujar ketua dari mereka


"Ekealeaeu begeiteu, EAYEO NYEALEAKEAN LEAMPEU RUEANGEAN EINEIEIEI!!!" ["Kalau begitu, AYO NYALAKAN LAMPU RUANGAN INIII!!!"] teriak salah satu mereka.


Tentu Muliyan dan Nitara sangat terkejut mendengar itu.


Dan mereka berempat juga kaget, karena orang-orang tersebut langsung berlarian ke arah lift.


■☆■Next Episode■☆■

__ADS_1


^Like-nya, Fav-nya, Vote-nya, Gift-nya, Rate-nya, Ask-nya, Follow me-nya, Don't Forget :*)^


__ADS_2