Sidik Jari

Sidik Jari
Episode 18 ■Pasar■


__ADS_3

■Pasar■


"Dimana Muliyan (pasarnya)??" tanya Garinge


"Itu, katanya kita jalan terus aja, sampe lewati 3 perempatan, baru belok kanan, dan sampaii" ujar Muliyan


"Okeehh"


"Eh Muliyan, sorry ya, tadi aku gak bisa jawab, abisnya aku gak bisa mengartikan ucapan mereka secepat ituu" ujar Garinge merasa bersalah


"Kau tidak bersalah Garinge" ujar Muliyan


"Wajar jika kau tidak bisa mengartikan ucapan mereka secepat itu" ujar Muliyan


"Benarkahh?" tanya Garinge gembira


"Benar" jawab Muliyan


"Yeay"


"Oh iya, berarti kita jalan terus nih??" tanya Garinge


"Iya" jawab Muliyan


"Sippp"


"Ohh iya Muliyan, kalau makanannya gak cocok, gimana??" tanya Garinge


"Ya gak usah beli" jawab Muliyan


"Tapi kalau gak cocok, satu pasar, gimana??" tanya Garinge


"Ke pasar satu lagi" jawab Muliyan


"Eh, emang ada??" tanya Garinge


"Ada"


"Katanya ada Pasar *****-** sama Pasar yang *-***" jawab Muliyan


"Kita mau ke Pasar mana??" tanya Garinge


"Ke pasar *-***" jawab Muliyan


"Ohhhh"


"Kalau pasar *****-**, dimana???" tanya Garinge


"Kurang tau deh" jawab Muliyan


"Terus, kalau (makanan di) pasar *-*** gak cocok sama kita, kan kita ke Pasar *****-**, terus kalau kita gak tau, kita mau gimana??" tanya Garinge


"Yaa tanya sekitar" jawab Muliyan


"Ohh iyaya"


"Lalu, kalau kedua pasar tersebut (makanannya) gak cocok sama kita??" tanya Muliyan


"Kita pakai Koin Emas Pakan, yang diberi Ayah ku" jawab Muliyan


"Oh iya-ya!" ujar Garinge baru ingat


"Semogaa di pasar *-***, ada kue diisi selai kacang yang lumerrrrrr" ujar Garinge membayangkan betapa enaknya kue tersebut.


"Ohh iya, kalau gak ada" ujar Garinge menunduk sedih


"Tinggal pesen ke Koin Emas Pakan yang diberi Ayah ku" ujar Muliyan


Garinge pun mengangkat kepalanya penuh gairah


"Yeeeyyyyyyy" senang Garinge


Mereka terus berjalan, sambil menikmati udara sore hari, yang terus menyambut mereka


Satu persatu perempatan mereka lalui, hingga akhirnya tinggal satu perempatan lagi, mereka harus lalui


"Tinggal satu perempatan lagi yang harus kita laluii" ujar Muliyan


"Iyya" setuju Garinge


Merasa sedari tadi Nitara dan Aleme tidak mengangkat suara sedikit pun, Garinge pun berusaha membuat Nitara dan Aleme mengangkat suara


"Hei kalian berdua" ujar Garinge berjalan mundur, menghadap mereka berdua


"Eeee, gak ada gitu sepatah kataaaa gitu, yang keluar dari mulut kalian???" tanya Garinge


Nitara melihat Garinge dengan tatapan sedang berfikir, dan kini tatapan Nitara pun kemana-mana lagi. Sama halnya dengan Aleme

__ADS_1


"Kalian sedang memikirkan apa sih??" bingung Garinge


Tak ada jawaban sepatah kata pun, untuk Garinge


"Ah bingunglah" ujar Garinge menghadap depan lagi


Dan akhirnya mereka pun sampai di pasar yang besar dan ramai.


Namun di depan pasar tersebut ada security yang menjaga, dan ada mesin Sensor Sidik Jari lagi seperti di depan Gerbang Desa Okhire.


Dan terdengar suara yang ramai dari dalam pasar.


Di luar pasar, ada beberapa orang yang baru masuk dan baru keluar, dan ada juga sedang berinteraksi di luar pasar.


Mereka pun mendekati mesin tersebut.


Dan mereka dipersilahkan untuk menyentuh Sensor Sidik Jari tersebut.


Dan setelah menyentuh, dan Sensor tersebut memancarkan warna Biru, mereka pun dipersilahkan masuk.


Mereka pun memasuki pasar yang besar nan ramai.


Aroma wangi dan busuk bersatu padu dalam pasar tersebut.


Namun aroma busuk, hanya 10%, dan aroma tersebut tidak membuat orang-orang jadi keluar pasar lagi, karena aroma wangi telah membuat orang-orang seakan-akan terhipnotis dengan aroma wangi tersebut, dan sangat menggugah selera.


Tak terkecuali mereka berempat. Mereka berempat pun memutuskan untuk To The Point, yaitu mencari makanan yang cocok dengan lidah mereka.


Mereka pun berjalan ke lorong kiri, yang menurut mereka disitulah tempat aneka makanan yang terlihat sangat sedap.


Namun na'asnya semua makanan di lorong tersebut asing bagi mereka, dan tentunya tidak cocok dengan lidah mereka.


"Yahh, makanannya gak cocok sama kita" sedih Garinge


Mereka terus menelusuri lorong tersebut, sambil melihat kiri-kananya yang banyak sekali jualan makanan, yang asing bagi mereka.


Makanannya memang tidak cocok bagi mereka, namun wanginya sangat menggugah selera mereka.


"Hei, itu mesin untuk apa??" tanya Nitara melihat sedari tadi, setiap di depan toko di dalam pasar ini, pasti ada sebuah mesin berukuran sedang.


Mereka bertiga pun jadi memperhatikannya juga


"Iya-ya, mesin apa itu??" tanya Garinge dan Aleme


"Itu mesin ada Sensor Sidik Jari" ujar Muliyan


"Dan setiap kita membayar, tinggal sentuh saja, dan melakukan itu sama dengan kita membayarnyaa" jelas Muliyan


"Berarti, kita tinggal menyentuh sensor itu, sama dengan kita membayarnya???" kaget mereka bertiga


"Betull" jawab Muliyan


"Jadi gak ada yang namanya 'uang'??" tanya mereka bertiga


"Lalu, yang bayar kosan pun sama???" tanya Nitara


"Iyap" ucap Muliyan


"Jadi semua yang di negara kita harus bayar pakai uang, disini tidak, cukup menyentuh sensor di mesin misalnya pedagang, atau di mesin pemilik kosan, dan sebagainya" jelas Muliyan


"Wawww" kagum Garinge dan Aleme


"Maaf Muliyan, tadi aku gak tauu" ujar Nitara menunduk merasa bersalah


"Aku kira harus bayar pakai uang" ujar Nitara


"Tidak masalah. Kan kamu gak tau" ujar Muliyan


"Tapi, itu sampai kapan kita bisa tinggal sentuh sensor di mesin, sama dengan kita membayar??" tanya Aleme


"Selama sensor itu menunjukkan kalau kita baik" jawab Muliyan


"Hah?!!" kaget mereka bertiga


"Jadi kalau yang jahat, harus membayar??" tanya Aleme


"Di Desa ini gak ada yang namanya uang" ujar Muliyan


"Kalau yang jahat, ya diusir, kalau gak terima, yang di pidana" ujar Muliyan


"Kau tau itu dari mana, Muliyan???" tanya Nitara


"Dikasih tau Ayah" jujur Muliyan


Nitara mengangguk


"Keren banget dong yaa" kagum Garinge

__ADS_1


"He'eh" setuju Aleme


"Iya" ujar Muliyan


"Jadi satu pasar ini, disetiap toko ada mesin itu??" tanya Garinge


"Iya" jawab Muliyan


"Disetiap pasar" ujar Muliyan


"Waw" kagum Garinge dan Aleme


Mereka pun keluar dari lorong tersebut, dan sama sekali hasilnya nihil. Tidak ada satupun makanan yang cocok untuk mereka.


Mereka pun dihadapkan dengan lorong kanan, lorong kiri, lorong depan, dan tangga menuju lantai 2.


Dan dari setiap lorong tersebut, wangi makanan keluar.


"Kanan, kiri, depan, atas??" tanya Garinge


"Semuanya (wangi makannya) manggil lagi" ujar Nitara yang sudah tidak membisu lagi.


"Iya nih" setuju Aleme yang sudah tidak membisu lagi seperti Nitara.


"Gimana kita pencar?" usul Muliyan


"Nanti kalau ternyata makannya gak cocok sama kita?" tanya Garinge


"Kalau kita kesesat?" tanya Aleme


"Yaa kita liat-liat dulu aja" Muliyan menjawab pertanyaan Garinge


"Nanti kita kumpul disini lagi" Muliyan menjawab pertanyaan Aleme


"Muliyan, kalau misalnya aku ketemu, terus gimana manggilnya?" tanya Nitara


"Teriak gitu manggil nama kalian??" tanya Nitara


"Iya Muliyan" setuju Garinge dan Aleme


"Nanti malah diteriakin balik" imbuh Nitara


"Eee, kalau kita sama-sama nyarinya, bakal lama, so waktu kita gak cukup, udah mau malam nih" ujar Muliyan


"Yaa kalau berpencar juga, kalau gak ada hasil, bagaimana??" tanya Nitara


"Yaa kan kita udah usaha" jawab Muliyan


"Yaa kalau usaha kita gak ada hasil??" tanya Nitara


"Yaa namanya kita mencoba" jawab Muliyan


"Gak ada salahnya kan tuk mencoba??" tanya Muliyan


"Ya ka~" ucapan Nitara terpotong


"Sudahlah, sama aja kita membuang waktuu" ujar Garinge dan Aleme


"Iya Muliyan, kita sama-sama aja yaa, kita nyarinya yang cepat dehh" mohon Aleme karena setuju dengan perkataan Nitara


"Iya Muliyan" setuju Nitara


"Iya Muliyann" setuju Garinge


"Baiklah" ujar Muliyan menerima


"Yey" senang Garinge dan Aleme


"Ke depan dulu kali ya" ujar Muliyan berjalan ke lorong depan.


Dan diikuti sahabat-sahabtnya


Mereka melewati orang-orang yang sedang melakukan interaksi jual-beli.


Garinge dan Aleme sangat tidak mengerti, apa yang sedang dibicarakan orang-orang yang ada di pasar ini. Namun tidak untuk Muliyan dan Nitara. Namun Garinge dan Aleme pun memfokuskan untuk mencari makanan yang tidak asing bagi mereka dan tentunya cocok untuk mereka, tanpa perlu memikirkan apa yang sedang orang-orang yang berada disekitarnya bicarakan.


Mereka pun akhirnya selesai di lorong tersebut. Di depan mereka ada lorong-lorong lagi, namun lorong tersebut berisikan pakaian-pakaian, dan barang-barang yang lain, selain makanan.


Lalu mereka pun memutuskan untuk putar balik, dan untuk memasuki lorong yang lain, yang tadi mereka sudah rencanakan.


Dan mereka pun menuju lorong kiri, setelah selesai ke lorong kiri dan hasilnya nihil, mereka putar balik lagi, dan menuju lorong satu lagi, setelah itu mereka naik ke lantai 2.


Dan lorong di depan mereka pun tidak ada juga, mereka pun putar balik lagi, dan naik ke lantai 2.


Dan di lantai 2, mereka menemukan makanan, yang baru dimasak, namun asing bagi mereka. Mereka memutuskan untuk berputar-putar terlebih dahulu di lantai 2. Setelah mengetahui tidak ada yang cocok bagi mereka, mereka pun memutuskan untuk turun saja, dan kembali pulang ke kosan, tidak melanjutkan ke lantai 3, 4, dan 5.


Dan tentu saat keluar pasar, mereka harus menyentuh Sensor Sidik Jari lagi. Untuk mencek, apa mereka mencuri?!

__ADS_1


■☆■Next Episode■☆■


^Like-nya, Fav-nya, Vote-nya, Gift-nya, Rate-nya, Ask-nya, Follow me-nya, Don't Forget :*)^


__ADS_2