Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
10


__ADS_3

"Terima-kasih atas bantuannya," ucap seorang bapak-bapak menundukkan kepala. Hatma menggeleng, kemudian pergi dengan durja bermuram.


[Konsekuensi kegagalan: petunjuk keberadaan Sahir Perusak]


Kedua kaki Hatma berhenti tergerak. Dia membaca teks berulang-ulang hingga lenyap, remaja laki-laki ini berusaha memahami maksudnya. Namun, yang ditangkap olehnya hanya satu, bahwa Reza sendiri yang menjadi petunjuk keberadaan targetnya selama ini membuat Hatma menjambak rambutnya.


Kekesalan memenuhi isi kepalanya. Dia sekarang menemui Reza kembali, manusia setengah Rablis itu tengah bertumpu pada kedua kaki, bersusah payah berdiri. Hatma menghampiri dan mengulurkan kedua tangannya bermaksud menolongnya bangkit.


"Lu mau ngapain lagi sekarang?"


"Kau akan tahu jawabannya nanti," ucap Hatma mulai mengawali sekelumit kisah tentangnya. Dia menjadikan Reza sebagai rekan, rekan Hatma saat belum menemukan dan menghabisi target beserta kakak kandungnya yang telah meninggalkannya.


Karena ulah keluarganya Hatma menjadi yatim-piatu menyebabkannya sulit berekspresi. Yang hanya bersemayam dalam pikiran dan sanubarinya, yaitu amarah dan kebengisan. Selain dua hal serupa itu, ia tahu bahwa ekspresif lain sulit diungkapkan.


Hatma membuka mulut mengutarakan segalanya mengenai tujuannya, semasa warita hidup dan perkara sumber kekuatan Hatma, Reza tertampak ketakutan dan gemetaran waktu mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.


"Ok. Gue bakalan bantuin lo, karena ulah si biadab Alpa.. nyokap gue sampai ..." Lirih Reza menggeram.


"Rablis ialah mahkluk ..."


"Gue nggak menyerap energi kehidupan orang lain, tenang aja. Karena mau gimana pun juga gue itu manusia yang jadi Rablis.. bukan Rablis."


"Tidak, Rablis merupakan man---lupakan saja."


Mereka melakukan gencatan senjata. Dia menerima jabat tangan Reza, dengan muka penuh keringat dingin lelaki menatap Hatma bertepatan rasa takut mengunjunginya. Kesepakatan pun tercipta diantara mereka berdua, satu tujuan yaitu membinasakan Alpa dari salah satu sahir target Hatma.


***


Seminggu kemudian, Hatma telah menguasai cukup banyak jantur dan skill yang sulit digunakan olehnya pada waktu dulu. Rablis tingkat 7 berperawakan harimau putih melarikan diri, tentunya Hatma tidak dapat membiarkan. Pergerakkan Hatma menyulitkan Rablis untuk kabur, begitu melihat ketangkasannya.


[Skill: Bolide]


[Jantur: Penguatan Tubuh]

__ADS_1


Hatma melemparkan pedang dan bola api ke udara, lalu dengan keakasan abnormal melakukan pukulan melambung dari samping, posisi lengan membentuk siku-siku, menghasilkan kekuatan lebih. Dia gencar mendaratkan rentetan pukulan pada harimau.


Meskipun harimau sangat lincah dan sulit dijangkau, Hatma sangat mudahnya memukul serta menghajar Rablis harimau. Seusai menghujankan serangan berturut-turut, Hatma memfokuskan tenaga lengan kanan dan melepaskan pukulan terakhir, yang buat lawan terpental puluhan meter dari tempat berpijak.


"Jangan kecewakan Hatma.." batinnya.


Tiba-tiba Hatma membuat lompatan besar ke depan, mengacungkan tangan di atas kepala, sehingga dapat kembali menggenggam pedang yang terbungkus api merah. Di udara Hatma memutarkan tubuh tiga kali, putaran pertama melepaskan sebuah tebasan api dan putaran kedua pun sama.


Putaran ketiga Hatma sesegera mungkin lenyap ketika putaran berakhir, dengan cepat bilah pedang miliknya menembus kepala harimau yang lengah karena serangan api. Sampai dia tidak menyadari bahwa Hatma sudah menusuk kepala dari belakang.


[Hadiah didapatkan!]


[Sihir bernama 'pengikat' mampu digunakan]


Hatma menghela napas lega. Dia sekarang melihat kompas Rablis, masih ada buruan lain belum tergerak dari kandang. Sesudah menyiapkan senjata Hatma hendak angkat kaki, justru menemukan Reza lagi menunggu bawah pohon, dengan muka sebal.


"Ada apa. Apa kau ingat sesuatu?"


"Ha?" Reaksi Hatma hanya menganga. Sembari mendatangi keberadaan Rablis kedua, Hatma dan Reza berniat untuk membangun kerjasama diantara mereka agar bisa kompak saat melawan Sahir Alpa dan dapat mengalahkannya.


Tanpa terasa mereka sampai di belakang gedung menjumpai Rablis tengah menyerap energi kehidupan seorang karyawan, segera setelahnya Reza memasuki mode tempur, dengan cepat dirinya memelesatkan diri dan memberi tonjokan. Rablis pun terpental beberapa meter.


"Orang ini kagak bangun," ucap Reza berupaya untuk membangunkannya.


"Biarkan saja," sahut Hatma sambil melemparkan orang tersebut menjauh. Mengira bahwa Hatma lengah, Rablis menerjang masuk ke jangkauan mereka. Justru Reza bergerak cepat dan memukul balik Rablis dengan pukulan api beruntun.


[Jantur: Pertahanan Mutlak]


Melihat Hatma bermaksud menyerang. Reza mundur seusai melakukan tendangan dari samping, buat kaki Rablis patah. Satu kali tebasan pedang leher Rablis terpenggal. Keduanya kini saling pandang, jikalau ini ialah Alpa mereka takkan selamat, pikir Reza.


"Jadi, lu temuin gue lagi ngelamun waktu berburu Rablis di jalanan? Apes banget deh."


"Itu tugasku."

__ADS_1


"Kalo nggak salah, lu cerita kalo tugas lu itu bunuh Sahir Perusak, bukan? Kok malah jadi memburu Rabli.." ucapan Reza terhenti bertepatan kedua kaki juga berhenti mengayun buat Hatma bingung.


Hatma menoleh selingkungan menjumpai keanehan seusai Reza mematung. Dia menghunuskan pedang, seketika Pertahanan Mutlak aktif dan mematahkan serangan pertama, tetapi serangan kedua berupa tembakkan cahaya mengenai Hatma. Membuatnya terpelanting belasan meter.


"Teleport!" Teriak Hatma.


Spontan saja cahaya menelan tubuhnya dan Hatma muncul diatas seseorang berjubah, jubah putih dengan aksesoris emas. Sebuah mahkota di kepala beserta pedang emas di tangan, Hatma bergegas melepaskan tembakan bola api ke target, secara tak tanggung-tanggung melemparkan puluhan Bolide.


[Skill: Bolide]


"Aaarrrggghh!"


Secara perlahan-lahan skill Bolide mendorong tubuh Hatma naik. Menyadari upayanya sia-sia, Hatma turun ke bawah dan berniat memakai pedang, namun tidak disangka-sangka Reza bergerak dan langsung adu jotos dengan pria berjubah itu. Hatma pun diam, bertumpu pada kedua kaki dengan Sord di tangan.


[Jantur: Netra Elang]


Pergerakan keduanya sungguh gesit hingga Hatma kesukaran membidik. Dia menyimpan satu Sord Kembar di bahu, dengan keadaan cengkraman tangan terbalik dan menunggu momentum tepat tuk mendorong senjatanya. Memakai bantuan jantur memberi penglihatan lebih baik, Hatma berhasil melihat sebuah celah agar mengenai target.


Sekuat tenaga Hatma melemparkan pedang rusak dalam sekejap. Senjata itu menusuk pundak targetnya, memberi lengah kepadanya, Reza pun tak menyia-nyiakan kesempatan dan segenap tenaganya memukulkan buku tangan yang terbakar api mengenai muka musuhnya.


"Kerjasama yang bagus. Tapi.." kata-kata si laki-laki berjubah mulai pudar.


"Hah?!"


Reza terkesiap kaget bahwa dia memukul dinding bangunan, musuhnya pula membalas serangan. Dia memukul punggung Reza sampai remaja ini menghantam tanah dengan keras, cukuplah keras sampai teriakannya didengar Hatma. Hatma pula kesulitan melihat jelas setelah menggunakan jantur.


"Kesalahan besar. Hatma lupa belum menguasai jantur ini dengan sempurna!" Batin Hatma.


"Hamba menanti Gusti. Sampailah Anda di gapura, hamba akan menerima Gusti.." bisiknya dekat telinganya Hatma memberikan tutur kata pendek.


Hatma mencoba untuk menyerang dalam keadaan mata tertutup, tetapi dia justru memukul sesuatu benda yang keras. Selepas pukulan barusan, Hatma membuka kelopak mata perlahan-lahan bahwa dia menampak Reza telah terkapar di tanah.


Begitu pula dengan dirinya. Pedang yang dilempar olehnya sudah menusuk dadanya, menggunakan napas terengah-engah, Hatma terduduk dan mencari jantur lain selain pertahanan. Ada sebuah sihir yang dapat menyembuhkan luka, namun bayarannya tidak main-main, membuatnya geleng-geleng kepala.

__ADS_1


__ADS_2