Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
17


__ADS_3

Apatah guna dunia dimana tidak ada mahkluk yang menghuni selain isinya monster beserta Sahir, warna angkasa yang ungu bercampur biru dan kekosongan belaka cerminan dunia nyata. Ke-empat Sahir itu bersikap layaknya entitas bernama tuhan, nyatanya jauh dari kata penguasa dan tuhan.


"Mati mati mati mati mati mati!"


Kata itu diulangi Hatma yang lagi mengayunkan senjata menebas Puaka, walaupun itu hanya goresan tetap saja memperoleh kerusakan dan serpihan baru mulai kelihatan. Layaknya orang gila yang permanen kehilangan akal sehat.


Reza yang kesulitan menahan diri berlari mendekati rekannya tersebut. Namun, pada waktu jarak mereka berdekatan Reza tiba-tiba tiada sedikitpun gerakan karena memasuki jangkauan Sangkala Laun miliknya Hatma. Hingga seribu tebasan lebih barulah terjadi ...


"Eh? Barusan ada ..." Reza yang baru terbebas dari Sangkala Laun tersadar. Dia menoleh ke sampingnya jikalau Hatma sudah bertekuk lutut.


Sementara si Puaka masih bisa bergerak walaupun banyak luka di tubuhnya itu. Dia melangkah maju, kedua matanya membelalak dengan perisai bulat ini akan menjatuhkan pukulan menarget kepala Hatma, hanya saja Hatma bereaksi dan memukul tanah.


"Penguatan masih aktif. Jangan remehkan lawanmu, apalagi Hatma!" Teriak Hatma sembari membalas dan mereka saling beradu pukulan.


"H-Hatma?"


[Pembatas dinonaktifkan. Anda dapat menggunakan semua jantur dan skill tanpa pengaktifan.]


[Waktu tersisa: 10 menit dari sekarang]


[Akan ada notifikasi bila sudah mencapai 1 menit, diharapkan anda segera mengaktifkan kembali pembatas.]


[Selesaikan ini dalam waktu singkat.]


Rentetan pukulan mendorong Puaka yang lagi dalam posisi bertahan dengan perisainya. Sesudah melewati banyak pukulan, Puaka berniat akan balik menyerang, tetapi dia lambat selangkah saat Hatma berpindah dengan Teleport ke lawan muka si Puaka.


Dengan kepalan tangan terselimuti api hitam. Hatma membogem bagian belakang kepala Puaka, Puaka itu langsung terpental beberapa meter jauhnya. Saat melihat peristiwa barusan, Alpa yang tengah berada dalam kubah pelindung kaget, bahwa pukulan si adik dapat melemparkan dirinya sejauh lima kilometer.

__ADS_1


"Dia dapat kekuatan yang besar mendadak?" Batin Alpa merasa keheranan.


Hatma mengulurkan tangan ke depan. Dia memakai Pawana Kencang, mengatur supaya sihirnya tersebut berbentuk angin topan yang berputar-putar didalam penuh pisau angin bergerak. Tak usai dengan hanya itu saja, listrik mulai menyusul bergabung.


Menyaksikan Hatma dalam proses akan melepaskan sihir, Puaka hendak bertindak. Namun, dia tidak dapat bergerak dan sadar jika badannya sudah kena sihir Pengikat. Dimana sihir ini bukan mengikat tubuh, melainkan sihir ini mengikat langsung jiwa target memaksa jiwanya tuk tetap diam ditempat.


Selama musuh tidak memiliki sihir atau kemampuan yang dapat memainkan jiwa, musuh tidak akan dapat bergerak maupun lepas dari sihir ini.


"Reza. Pergilah menjauh, jangan menghalangi Hatma mending kau bunuh saja Alpa dan tuntaskan balas dendammu saja!" Perintah Hatma.


Reza mengigit bibir mengungkapkan kekesalan dan mundur ke belakang dengan cepat meski kelihatan enggan. Sedangkan Hatma menarik angin topan yang memiliki petir menyelimuti kepalan tangan, dia mengambil kuda-kuda menerjang musuh, tapi tidak kunjung melakukannya.


Dia mencondongkan muka ke depan bawah dengan mengelukkan bagian belakang tubuhnya, perlahan-lahan dia menghembuskan napas dan menarik kuat-kuat petir memakai imajinasi untuk memadatkannya agar serupa tadi. Perjuangannya melawan rasa nyeri lengan pun terbayar dengan petir mengecil.


"Kau mungkin berpikir Hatma akan menggunakan sihir kecil dan tidak mengambil risiko. Namun, kakak salah ... Hatma akan menuntaskan tugas tanpa memberi kesempatan menunda pada diri," ucapnya.


"Manusia dapat secara alami menunda-nunda kesempatan dan tidak mengeluarkan keseluruhan tenaga. Hatma takkan memeras keringat ketika mendadak, melainkan menyelesaikan tugas diawal dan menghela napas lega diakhir tugas!"


"Sifatmu mirip ayahanda. Kata-kata darimu dan dari Ayahanda tidak kan selalu benar, tutup mulut yang tajam melebihi pedang itu. Rangkaian kata hari ini, dapat kau sesali di hari esok, hati-hatilah saat kau melisankan kalimat!" Balas Alpa dipenuhi amarah.


Hatma memijak tanah segenap tenaga. Hingga batu kecil di jalanan mengudara, dengan menggunakan Pawana Kencang, Hatma membuat semua krikil ini mengedari tangannya. Dalam hitungan detik pun tiada sepuluh detik, batu-batu ini bertukar menjadi bara api dan terbakar dalam api hitam.


Mata tajam Hatma membeliak tertuju pada Puaka dan memakai sepuluh kali lipat Pawana Kencang, menerbangkannya pada angkasa. Entitas mahkluk itu pun mengangkasa jauh di atas. Sesegera Hatma mengangkat tangan, tiba-tiba angin dan listrik menutupi area di atas kepala penggunanya.


"Jangan balik lagi," lirih Hatma berucap.


Tidak memerlukan waktu lama angin topan dengan aliran listrik ditembakkan Hatma. Disusul kumpulan kerikil terpelesat bagaikan kilat. Puaka itu terjebak dalam ******-beliung, secara menyakitkan beruntun mencabik-cabik musuh, layaknya neraka.

__ADS_1


Belum usai menyerang, Hatma mengangkat tangan dan setengah badannya bergetar hebat ditarik gravitasi bumi. Kali ini muncul luapan energi merah dari sekujur tubuhnya, energi kehidupan biasanya berupa emas kehijauan, sementara merah kehitaman berarti kemarahan maupun dendam.


"Betul-betul tidak terbatas. Mengapa ayah-ibu perlu meninggalkan anak itu?" Batin Alpa.


"Kayaknya ini gawat deh.." lirih Reza menyadari jika Hatma akan melakukan hal yang teramat gila.


Hatma menginjakkan kaki ke bumi. Namun, bumi seakan-akan tidak sanggup dan retak. Dia kini membungkuk beraama tangan sejajar dengan kaki, matanya yang sudah buta sebelah mulai mendapat fungsinya kembali, Netra Elang aktif dan menilik Puaka sedang mencoba melepaskan jiwanya.


"Takkan Hatma biarkan," ucapnya.


Api merah di pergelangan tangan Hatma membentuk pisau, ujung tajamnya yang berupa api putih terus mengecil tiap detiknya Hatma menunda serangan. Ia lebih kuat menekan tanah lebih dulu, lalu melakukan lompatan besar ke angkasa mencapai targetnya.


Dampak lompatan tinggi Hatma membuat Reza dan para penonton harus berlindung dari angin yang menerbangkan debu dan bahkan menghancurkan sekitar. Maka Danawa Adiraja berubah menjadi batu permata dan lenyap di udara, sebab seluruh energi telah Hatma gunakan untuk hantaman terakhir ini.


[Hitung mundur dimulai.]


[119 ... 118 ... 117 ...]


"Aaarrrggghh!" Teriak Hatma di atas sana sedang berusaha membunuh Puaka.


Mereka yang berada dalam angin kencang diselimuti api dan petir tersiksa di dalamnya. Hatma sekarang menggunakan seluruh tenaganya dan menekan kuat-kuat, menarik seluruh tenaga tertuju hanya pada ujung tombak, hingga hitung mundur mencapai detik ke-71 Hatma belum bisa menusukkan tangannya.


Meskipun demikian remaja laki-laki ini tersenyum tipis dan mendadak kekuatannya mendidih, tiba-tiba dia menarik lengan. Jarak diantara mereka pun sedikit menjauh, karena Hatma terjatuh, dirinya kini membentuk api di lengannya berwujud pedang.


"Tampaknya ini kan menyenangkan!" Pekik Hatma di angkasa dengan nada selayaknya kehilangan akal.


Bongkahan batu muncul dan menjadi pijakan bagi Hatma, Hatma membelakangkan bilah pedang, kemudian melompat kembali pada musuh. Begitu ia sampai depan muka Puaka, dia memutar tubuh dan melepaskan serangan bilah pada gerakan melingkar.

__ADS_1


Waktu gravitasi hendak menariknya kembali. Ada bongkahan batu, memberi pijakan lagi dan Hatma mengayunkan pedangnya serupa memukul bola golf, memberi tebasan miring. Dia tidak usai menyerang melompat lebih tinggi, hingga mencapai awan.


__ADS_2