
Hatma melepaskan pedangnya membuat api yang padat berwujud pedang itu menusuk Puaka, lalu membawanya turun ke tanah seperti meteor jatuh dan menyebabkan kawah berapi terbentuk serupa bekas jatuhnya meteor. Sedangkan pemilik pedang itu memutar tubuh seolah-olah lagi menari.
Saat mencapai tahap akhir gerakan. Hatma sekarang memutar tubuh bagian bawah dan atas dengan keras, ke-sepuluh jarinya mengeluarkan aliran air dan petir yang mengikuti ayunan tangan pengguna. Dia menjatuhkan diri menyusul Puaka berniat menyerang musuhnya dengan sihir gabungan air dan petir.
[Dimohon untuk menonaktifkan pembatas kekuatan dan beristirahat.]
DIAMLAH DAHULU! BIARKAN AKU MENAAANG!
Bukannya ledakan yang menggema, melainkan ada pusaran air yang memotong segala benda yang tersangkut didalamnya hingga mencapai level partikel maupun debu. Sehingga tubuh Puaka tidak mampu menahan serangan Hatma, dengan lambat dia hancur berkeping-keping menjadi debu hitam.
"Woi yang bener aja, anjir.." gumam Reza.
"Tidak mungkin. Bagaimana bisa? Puaka sudah... dikalahkan..." Lirih Alpa kaget tidak main.
Debu hitam tersebut meruak ke angkasa menyingkap muka bahagia debut Hatma. Bagaikan seorang remaja yang pertamakali menikmati cinta pertama, sensasi kemenangan terhadap situasi fatal memicu kesenangan, layaknya kelainan pada diri Hatma.
Walaupun darah segar mencicik dari kening beserta pelupuk matanya. Hatma membuka mulut, darah melimpah mengucur dan kedua kakinya mengayun menuju tempat mereka. Sekarang remaja ini mulai mematikan senyum yang layu.
[Pembatas diaktifkan kembali.]
[Anda akan masuk ke dalam mode tidur.]
"Sial.. kenapa..," umpatannya. Dia tergeletak di tanah serupa seonggok mayat buat Reza geleng-geleng kepala.
Alpa melihat kesempatan dan berniat lari, tapi Reza bertindak cepat mencuaikan situasi Hatma dan menghadangnya. Dalam bentuk Rablis Reza tampak mengerikan, seluruh tubuhnya secara total bertukar menjadi Rablis sepenuhnya.
Lawannya menghela napas. Dia menghunus pedang bersiap-siap menghadapi Reza, dimana kerugian lagi berkunjung kepada dirinya. Biarpun Sahir memiliki kemampuan serta mampu menggunakan sihir serta jantur, mereka memiliki batasan tertentu, tidak punya keabadian yang berakar pada suratan takdirnya.
"Elu kagak pernah bakal gw maafin," ucapnya Reza.
__ADS_1
"Hahhhhh.." Alpa menghela napas panjang kemudian mengatakan, "datanglah padaku. Kau takkan mampu memukul wajahku pastinya!"
Reza mendorong tubuhnya melebihi kecepatan angin dan memukul muka Alpa, lawannya pun terdorong ke belakang bertahan dari bogeman itu. Reza tanpa dipikir menyerang lagi, dengan serangkaian pukulan berapi, gencar mendaratkan pukulan dan meledak-ledak melatarbelakangi suasana sekeliling.
Sementara Alpa menyilangkan kedua tangan depan disertai jantur Pertahanan. Baginya yang tak punya Pertahanan Mutlak, berkuat-kuat menahan segala serangan pada situasi ini adalah perkara yang tepat, dikarenakan Alpa ialah bentuk dari Sahir kemalasan.
"Hamba menghajatkan penghuni negri fana sang kesatria batu!" Teriaknya.
Sahir Perusak, dengan julukan selaku kemalasan senantiasa menggunakan antek-antek dan mencipta Rablis sebagai anak buah. Dia memiliki umur panjang beserta energi sihir melimpah, diatas rata-rata manusia bumi, buat dirinya dapat memanggil banyak raksasa batu bahkan sebanyak satu pasukan.
Dia lebih memilih untuk mengirim Rablis bertujuan menuntaskan pekerjaannya. Walaupun demikian, satu kelemahannya ialah lawan yang bisa memberi serangan bertubi-tubi, dan sayangnya musuhnya kali ini ialah Reza yang menggunakan pukulan.
"Sial!" Umpat Reza.
Reza menerjang musuh dan menendang kepala dari raksasa batu, hingga bagian atasnya retak sedikit menghadiahi Alpa kejutan. Ciptaanya itu memulai menentang sumber kekuatannya.
"B-Bagaimana bisa ...!" Ucap Alpa terkesiap kaget.
Kobaran api tiba-tiba datang mengelilingi Reza dan menghapusnya dari pandangan lawan. Melihat hal tersebut Alpa waspada, lalu melirik ke segala arah, meminimalkan dampak yang kan terjadi kedepannya. Dia sedang berpikir jika kondisi sekarang tak memungkinkan bertarung.
Alpa bersicepat menghentakkan kaki ke bumi memanggil dinding batu. Seperti dugaannya Reza muncul dari samping, dia menggunakan serangan yang memusatkan kekuatan pada buku jari, masa penggunaan teknik gaya bertarung menggunakan fisik ini dapat meretakkan tulang sekali serang.
"Ugh!"
Namun, tangan pengguna akan merasa nyeri jikalau gagal meninju musuh, sebabnya tinju ini nyaris memicu tangan rusak. Selagi Reza merintih merasai sakit, Alpa berjalan mundur dan mencapai raksasa batu miliknya, dengan muka bermuram sedikit kesal.
Usai merintih sakit, Reza menghentakkan kaki dan memendamkan telapak kaki kirinya pada tanah, lalu segenap tenaga kaki yang lain terayun dan bergerak menciptakan angin kencang disusul api berwujud badai angin dan melahap musuh ke dalam lingkaran.
"Gw terinspirasi jurus ini dari Hatma. Persiapkan dirimu, Alpa!" Kata Reza bernada tinggi seakan-akan berusaha membangunkan Hatma di dekatnya.
__ADS_1
Reza melakukan lompatan kecil. Namun, cukup kuat untuk melemparkan benda-benda kecil di sekitaran entah krikil ataupun benda lainnya. Dia menarik napas kiat-kiat, kemudian membelakangkan tangan kanannya yang melebarkan api, sementara tangan kiri menghembuskan angin mengendalikan benda.
"Kenapa kau bisa menggunakan sihir angin?"
"Tentu, gw musti ucapin terima-kasih ke adik lu, karena udah pinjemin batu sihir angin.." balas Reza.
Batu-batu menembak Alpa layaknya peluru. Gencar tanpa henti tak membiarkan Alpa bertindak, selagi raksasa batu melindungi tuannya, Reza pun tidak tinggal diam dan berniat akan mengeluarkan segala macam cara agar tujuannya tercapai.
Tidak tinggal diam Alpa memanggil begitu banyak pasukan raksasa batu dan Rablis. Sementara Reza memukul dada berulangkali, seusainya menarik udara masuk ke dalam tubuh dan mengulanginya hingga belasan kali, kemudian menahan napasnya.
Kedua pipinya membulat mengembung terpenuhi oleh angin panas, Reza mengumpulkan udara masuk ke dalam tubuhnya dan menyemburkan napasnya serupa meniup peluit. Api keluar lewat mulut Reza memiliki suhu sangat panas dan mampu merubah pergerakan udara, menjadikannya sebagai serangan yang masuk ke kategori mematikan.
"Begitu? Tujuanmu mengurungku bersama para raksasa milikku untuk ini ya ..." Lirih Alpa.
Alpa melakukan upaya terakhir. Satu raksasa besi dipanggil, membuat Reza berdecak kesal mendapati mahkluk itu datang padanya, dia sekarang menghela napas dan melebarkan jangkauan apinya. Reza mulai memendamkan kakinya lagi, bagai peserta lomba lari di garis start, dia menunggu momen yang tepat.
Waktu raksasa mencapai hitungan meter. Reza cepat memelesatkan diri, ibarat kilat yang membelah raksasa besi itu, dia bergerak sangat cepat. Bantuan Hatma bukan hanya sekedar lisan, melainkan bukti nyata bahwa dia lebih kuat ketimbang sebelumnya.
"Danawa Adipurna. Penuhi panggilan hamba!" Teriak Alpa meneriakkan mantra panggilan.
Tiba-tiba saja mahkluk raksasa yang melebihi golem Danawa Adiraja muncul, dari segala aspek tampak memiliki kekuatan lebih dari Adiraja, karenanya Alpa telah memanggil raksasa yang berada ditingkat paling atas. Karena setiap dari Danawa punya cerita sendiri-sendiri berdasarkan namanya.
Kali ini Adipurna, yang bercerita mengenai seorang raja yang dimaksudkan ialah Adiraja telah sempurna menjadi seorang raja dan memenuhi segala aspek dari makna raja itu sendiri. Satu-satunya Danawa yang berdiri dipuncak kesempurnaan nan kekuatan.
"Mau sampe kapan lu sembunyi dipelukan raksasa batu itu hah?!"
"Terserah padamu, kau harusnya menyadari siapa yang tengah berada di dekat jurang kematian.."
"Kak. Bagaimana Danawa Adiraja berevolusi menjadi Adipurna?" Tanya Hatma memasuki percakapan.
__ADS_1
Begitu mendengar suaranya, Reza maupun Alpa tak bisa menahan kaget memperoleh Hatma bertumpu pada kedua kakinya, tentu dengan luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya mustahil dia dapat bergerak. Namun, mata mereka tidak menipu pemiliknya dan tidak mengubah fakta bila Hatma lagi berjalan.