
Hatma menjentikkan jarinya, bertepatan Sangkala Laun aktif pria misterius menghentikan sihir kematian instan dan memukul udara. Tekanan dari pukulan pria ini membuat Hatma terdorong, dengan lambat, Hatma mengayunkan belatinya.
Luka goresan yang susah payah sembuh hanya dengan durasi beberapa detik. Hatma melemparkan pisau miliknya, tapi itu ialah tindakan yang sangat sia-sia, pria ini menangkapnya dengan mudah. Dia menatap pintu sejenak sebelum mendekati Hatma.
"Terimalah kekuatan ini untuk membimbing dirimu kepada sang kehidupan," ujarnya sembari menyentuh kepala Hatma.
Hatma menusuk pria di depan menggunakan belati miliknya, semakin senjatanya tertancap lebih jauh, pria ini kelihatan tersiksa. Namun, dia bersikukuh tuk tetap menyentuh kepala Hatma, serupa tengah memasukan sesuatu kedalam kepala Hatma sendiri.
Remaja ini mulai kehilangan kekuatan serta tenaga untuk melawan. Dia pun terlelap dalam tidur, hingga membuat pria ini bebas sesuka hati. Bermaksud akan menghela napas lega, ia menyadari bahwa ada seseorang tengah menunggu momen yang tepat.
Sewaktu pintu tersingkap perlahan-lahan, mendadak pria ini terkesiap melihat perbedaan suasana. Saat dia berupaya menggerakkan tubuh, sekujur tubuhnya enggan bergerak dan dia membeku bersama waktu dikarenakan seseorang. Orang itu ialah Silvi.
"Matilah," ucap Silvi.
Dari lantai, muncul bongkahan es yang membentuk rupanya sebagai pedang lebar agak panjang dengan ujung tumpul. Silvi bersikap akan mengawali pertarungan, dia menunduk dengan mengelukkan bagian belakang tubuh, bersicepat dirinya terpelesat ke hadapan musuh dengan waktu singkat.
"Serahkan tombak air lekat membatu!" Kata Silvi merapalkan mantra sihir.
Tercipta empat senjata menombaki pria misterius ini tanpa peringatan. Silvi tidak tinggal diam, dia memukulnya dan memanggil Gapura Loka, mereka pun masuk ke dalamnya. Secara paksa pria ini dibawa oleh Silvi ke dunia ini lagi.
"Gusti pangeran. Abdi lekas bertandang terhadap mahligai istana paduka.." lirih Silvi.
"Jadi begitu.. siapapun yang memanggil Gapura Loka harus mendapat izin. Sangat merepotkan untuk mendatangimu setiap saat.." ujar pria berjubah.
"Siapa kau sebenarnya? Mengapa sampai segitunya ingin memberi Hatma kekuatan dan ingin agar dia berkembang sejauh mungkin. Ya, itu sekarang tidak penting, akan aku bekukan waktu dan membuatmu mati tanpa sedikitpun rasa sakit.. bersiaplah!"
__ADS_1
"Haha.. terima-kasih atas kebaikanmu," jawabnya.
Silvi mengambil langkah pertama dengan melempar pedangnya ke arah target, semasih belum lawannya menyelamatkan nyawanya sendiri. Gadis ini memulai suatu perkara gila, waktu membeku kembali, pria ini bergerak lambat. Dia melihat bila gadis itu sedang mencoba memakai sihir berskala besar.
Pria ini berupaya memakai sihir perpindahan ruang dan waktu, tetapi semua sihir yang bersangkutan tidak dapat dikeluarkan. Silvi memekik keras disusul meteor raksasa datang dari angkasa. Selagi napas Silvi memburu, benda itu semakin mendekat.
Benda angkasa itu sangat besar hingga tidak habis terbakar sebelum mencapai daratan. Bahkan karena ukurannya, batu tersebut menutupi matahari dan langit di atas kepala mereka. Ini adalah dunia cermin dan tak ada hubungannya dengan dunia nyata, tetapi pria ini ragu akan hal tersebut.
"Asal kau tau aja, aku nggak bakal bikin gapura Loka muncul dan membiarkan musuh sepertimu kabur begitu saja.." cakapnya dengan muka kelelahan. Dia sadar telah melewati batas, tapi Silvi merasa ia perlu membunuh pria ini meskipun harus berkorban.
"Meteor itu seukuran setengahnya bulan," batinnya pria ini menyaksikan benda itu semakin dekat.
Sementara mereka saling menatap satu sama lain, ada ke-empat penonton tengah melihat tontonan yang menarik. Kausa dan Alpa saling menukar benda berbentuk persegi serta segitiga, ketika keduanya melemparkan benda itu ke langit, meteor tersebut hancur sekejap dilahap lubang hitam yang terkendali.
Silvi mengigit bibir. Dalam hatinya dia jengkel jikalau musuhnya Hatma memperoleh kekuatan baru, serta selaku bawahan mereka, Silvi enggan bertatap muka dan memilih memanggil Gapura Loka, walaupun pria itu ikut kabur bersamanya juga.
"Mair, aku takkan membiarkan hari it datang. Apapun dan siapapun yang menghalangiku, akan aku lemparkan ke ujung tombak dunia.." jawabnya.
Silvi melewati gerbang masuk antara dunia Loka dan Bumi, dirinya berpindah ke kamar tamu. Kesunyian tempat ini sangat terasa. Dia yang kini ketakutan dan gemetaran pergi menemui Hatma, sewaktu berniat membuka pintu, dia mendahuluinya membuka pintu.
Tanpa menanti kedatangan Hatma, Silvi mendapat hasil yang diinginkannya sejak lama. Remaja laki-laki ini mendekat, mencium dengan melekatkan bibir di kening Silvi, sebelum dia terhuyung-huyung setelah memberi kecupan itu dan kehilangan kesadarannya.
***
Hatma bangkit dari lantai. Dengan kedua matanya sendiri, dia melihat proses Gapura Loka menghilang dan pria itu hilang. Kepalanya sangat sakit lagi-lagi seperti seseorang memukul beberapa kali, setiap detiknya membuat Hatma merasakan nyeri.
__ADS_1
[Tugas wajib: dapatkan kekuatan Silvi]
[Upah: semua sihir yang dapat digunakan oleh Silvi]
"Bagaimana caranya?" Tanya Hatma dalam hatinya.
Hatma melihat belati yang tergeletak di lantai, dia berpikir untuk membunuhnya, mempertimbangkan kembali dia ragu melakukanya. Semasa tugas tuk membunuh Reza, pada akhirnya, Hatma tidak boleh menghabisi lelaki itu membuatnya bingung.
Bibi memasuki bilik Hatma. Matanya membelalak sangat kaget, ada bercak darah melumuri pakaian serta lantai, buru-buru bibi menyimpan piring makan siang Hatma. Dia menemui remaja ini seraya melontarinya pertanyaan selyaknya wartawan berita.
Wanita ini cepat-cepat pergi angkat kaki mencari kotak obat. Sementara Hatma terlihat kebingungan, lalu ketika melihat ke pojok kanan atas, petunjuk cara mendapatkan kekuatannya Silvi sangat mudah.
[Petunjuk: memberi kecupan]
"Sebaliknya Hatma melihat ponsel," ucapnya ketika menemukan tulisan yang seperti lagi menyesatkan seseorang yang sedang pusing tak karuan.
Bahkan program Sahir dalam ponselnya mengatakan hal serupa, memaksanya untuk menerima Silvi mendapat ruang dalam hatinya, meskipun dia takkan merasa terpuaskan. Hatma melangkah keluar dari kamar dan melihat pintu kamar gadis tersebut.
Hatma berusaha menggapai pegangan pintu kamar Silvi, hanya saja dia selalu meleset ketika menyadari bahwa matanya seperti rabun. Napasnya yang tengah memburu udara, Hatma berupaya tetap tuk kokoh dan kuat sebelum mendapatkan kekuatan.
Laki-laki ini mendorong pintu kamar, seperti dugaan Hatma, Silvi seperti akan membuka pintu justru menjumpai dirinya. Kontak mata diantara keduanya pun saling terjadi. Hatma mulai melangkah, selagi Silvi diam tidak bergerak, lelaki ini melakukannya.
"H-Hatma?"
Tepat sesudah memberi kecupan, remaja laki-laki ini terjatuh dan tergeletak di hadapannya. Silvi bersicepat melihat keadaan Hatma, dengan tergesa-gesa dia mengguncangkan tubuhnya, tetapi nihil tak ada reaksi apapun darinya buat Silvi menangis.
__ADS_1
Kata-kata orang itu sebelumnya terbit, mengingat bila Hatma senantiasa memaksakan diri, mau tidak mau dia harus mempertimbangkan kalimat dari orang itu. Silvi memepetkan badan pada Hatma dan memberikan kecupan balasan.
Reza menemui rekannya terkapar, sembari dia lagi menjadikan paha Silvi selayaknya bantal. Melihat hal tersebut Ayah Silvi yang bersama Reza mengigit bibir, semasa satu langkah kaki, anaknya melempar pisau. Raut muka kesal mereka begitu serupa nyaris tanpa sedikitpun satu atau dua perbedaan.