Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
34


__ADS_3

Ke-tiga Sahir Perusak, rekannya memberikan secarik kertas pada Alpa berisi daftar manusia-manusia yang tepat dijadikan sebagai bidak. Alpa memiliki kekuatan yang bersumber dari kemalasan, andaikata namanya bukan Alpa, tentu sumbernya berbeda.


Dia telah mengubah banyak orang menjadi Rablis, meskipun sedikit lemah, pada akhirnya selepas mendapati manusia yang malas dan tercipta seekor Rablis yang sangat ganas. Terlebih lagi amarah dan kebencian menjadi poin tambahan kekuatan, Rablis akan mempunyai kekuatan utama api.


"Mak.."


"Ah, maaf.. ibumu sangat cantik. Jadi, aku mengganti kepalanya menjadi ulekan.. hahaha!" Alpa tertawa lepas di depan seorang remaja bernama Reza yang tidak lain anak dari wanita yang dibunuh olehnya.


Pupil mata Reza mengecil bertepatan sekujur tubuh mengeluarkan asap, lalu kulitnya mengelupas dan mengganti ke kulit hitam. Tubuh Rablis pertama Reza mirip naga, tapi lama kelamaan, perawakannya lebih menyerupai manusia dengan api membakar.


Mata Alpa membelalak, perubahan manusia menjadi Rablis gagal dengan keadaan abnormal. Malahan Reza bisa melawan sihir perubahan yang diterapkan kepadanya. Alpa mengharap, bila Reza akan berubah menjadi Rablis dalam keadaan marah, lalu menjadikan dirinya sebagai Rablis yang amat kuat.


MATII!!


Reza terpelesat dengan kecepatan menyilaukan, dari penglihatan Alpa mampu mengimbangi gerakan, tapi seiring berjalannya waktu. Lelaki ini semakin cepat dan membakar udara di sekeliling. Alpa bahkan tahu kecepatan manusia ini sekarang melebihinya, dalam keadaan tertentu, Rablis bisa mengamuk dan enggan untuk mengurus ini Alpa angkat kaki dengan kesal.


Cahaya biru cerah muncul dari tanah yang dipijaknya dan menyelimuti seluruh badan Alpa, seketika Reza langsung memberikan hadiah berupa semburan api biru yang sangat panas. Walaupun Alpa berada pada proses perpindahan, dia tetap terkena serangan.


Reza memburu napas dalam keadaan api meruak ke seluruh badannya tanpa henti, dia memasuki rumah dengan muka lesu dan menjumpai mayat ibu tercinta ditemukannya sudah tidak berbentuk manusia. Anak laki-laki ini menghampiri ibunya dan memeluknya.


"...!" Reza terperanjat kaget. Tanpa proses maupun memberi laki-laki ini salam perpisahan, api menyebar dan cuman tersisa abu ibunya sesudah mengalami pembakaran lengkap. Dengan tangannya sendiri Reza langsung mengetahui jikalau dia sudah membunuh wanita yang sudah melahirkannya.

__ADS_1


Pada malam itu, pekikan nan jeritan Reza sampai ke seluruh penjuru kota bertepatan rumahnya terbakar hangus oleh api dalam sekejap. Meskipun tak sesuai harapan Alpa, tubuh Reza berubah menjadi Rablis, bukan hanya kekuatan api melainkan wujud rasukan iblis sudah dia dapatkan dari kemarahan.


"Napa gue inget itu lagi? Otak gue nggak jelas kasih kilas balik yang nggak perlu.." Reza mengusap-usap dada dengan muka bermuram.


"Ada Rablis berjarak 30 meter dari sini, Hatma perlu berangkat.." Hatma mengganti posisi dan beranjak dari kasur berniat pergi. Reza menghalanginya, saat sebelum dia mengajak dirinya, respon Hatma hanya menghela napas dan mengangguk perlahan-lahan.


Sejak kemarin hari Hatma telah istirahat, tanpa luput ingatan mengenai Rablis dan sahir bahkan dalam mimpi sekalipun. Lelaki ini hanya terus mengejar hal yang sekilas tanpa tujuan dan kosong tanpa harapan, mengingat ia mengemban tugas sebagai Sahir pula.


Hatma berhenti di depan rumah besar, dia mendapat Rablis berwujud zombi. Kali ini Reza tidak memiliki hubungan dengan manusia yang dirasuki iblis tersebut. Membuat Hatma menarik napas lega saat jawaban Reza terlontar keluar, meskipun Hatma rasa untuk menjumpai situasi semacam ini cukup langka.


"Kita bereskan dia dengan cepat," titah Hatma. Reza menjawab dengan anggukan selepas rekannya tersebut selesai mengucapkan kalimat perintahnya.


Rablis mendekat sesudah mereka menciptakan tiga suara kencang, beserta hal-hal lainnya, dari yang dilihat Hatma zombi itu hanya membusuk di daging saja dan fungsi pendengaran masih bekerja. Walau Hatma yakin bahwa dia masih memiliki sedikit dari kesadaran yang masih tertanam pada isi kepalanya.


"Ap--!"


Zombi langsung memutar kepalanya mirip burung hantu. Membuat Reza terperanjat kaget, lalu cakaran dapat menggores mukanya dan mulut mayat hidup ini terbuka, dia mengeluarkan suara yang mampu tuk melantingkan seseorang hingga hitungan meter jauh dan Reza cukup kesakitan telinganya berdengung.


"Tampaknya kau takkan mendapatkan pengampunan dari Hatma.." lelaki ini menghela napas dan menarik pedang dari sarung, lalu berkata, "Gusti... Abdi lekas bertandang terhadap mahligai istana paduka.."


[Panggil: Gapura Loka]

__ADS_1


Gapura muncul dengan keadaan terbuka tepat depan muka Hatma, bertepatan zombi terpelesat kencang, malah masuk ke dalam gapura. Hatma bergegas tuk menyusul musuh setelah melemparkan botol ramuan penyembuh kepada Reza. Kedua laki-laki ini pun mengejar lawan mereka berdua.


"Hatma. Bantuin gue buat bisa mukul nih mahkluk biadab!" Teriak Reza sembari menangkis tiap tumbukan yang dilancarkan.


"Zombi ini sangat cepat, bahkan pukulannya mirip ketika Hatma menggunakan Sangkala Lauh.." Hatma memasukan kembali pedang ke dalam sarung.


Dia berkonsentrasi dengan mata terpejam beserta kedua tangannya bergetar hebat. Tanah disekelilingnya hancur, sontak memicu para Sahir di dekat mereka melihat. Titik-titik cahaya berkumpul hadapan Hatma, selama beberapa menit, kemudian ketika dia membuka sebelah matanya sudah berada pada keadaan yang buta.


"Lindungilah tuanmu.. mengayomi tuanmu.. berkat serata kebengisan nan kebajikan, sahutlah seruan tuanmu, Puaka Naungan!" Hatma mengentakkan kaki kanan menjejak tanah sekuat mungkin.


[Panggil: Puaka Naungan]


Tiba-tiba kedua bola mata Hatma pecah dan darah mencicik hebat. Bertepatan dengan perkara tersebut, tercipta seekor mahkluk putih, dia bersinar dalam gelapnya dunia cermin ini. Mata ia merah mambang kuning serta mulut bagaikan jahitan boneka, membri ketakutan mendalam bagi para musuh mereka.


Puaka Naungan bersimpuh terlebih dahulu memberi hormat kepada rajanya, sebelum dia berdiri, lalu dengan sekali ayun tangan menghancurkan Rablis zombi. Meskipun dalam wujud Rablis, Puaka sama sekali tak menyerang Reza, justru menunduk seakan-akan sedikit menghormati dirinya juga.


Sementara itu ke-empat orang yang lagi menonton hal tersebut tercengang. Di atas telapak tangan mereka ada benda melayang, dari kedua belah pihak, mereka sudah memiliki kekuatan baru dan diantara mereka Alpa yang paling geram menjumpai adiknya.


"Mengapa dia bisa memiliki Puaka?!" Alpa memukul dinding disampingnya hingga retak melampiaskan amarahnya. Tetapi Kausa mendekatinya sembari dia tersenyum kecil berusaha menenangkan Alpa.


"Itu bukan Puaka. Walaupun demikian, otoritas puaka milik Hatma saat ini lebih tinggi dari Puaka Penunggu milik kita, tapi tenang saja, dengan adanya kekuatan dari kubus melayang ini kita seimbang."

__ADS_1


"Mair. Saya tidak suka kau menerka-nerka lagi, apa itu benar, Silvi?" Cakapnya menengok ke belakang menjumpai Silvi yang lagi duduk menghisap darah.


"Woi! Kau bisa tidak menghisap darah adikku di tempat lain?" Tanya Alpa setengah membentak. Hal tersebut kini membuat gadis ini mengigit bibir, Silvi menarik napas, dia berdiri dan membawa botol berisi darah laki-laki yang dicintainya tersebut serta telah tampak kegilaan tertanam di otaknya sekarang.


__ADS_2