
Silvi berserah pada Hatma. Melihat situasi semacam ini membuatnya hilang arah, tanpa pikir panjang seolah-olah pikiran dikendalikan, Hatma memeluk gadis ini ke dalam dekapannya. Begitu memperoleh pelukan perempuan di dada Hatma balik memeluk.
"Makasih... Aku dapet hiburan dari laki-laki yang udah lama kusukai.." ucap Silvi.
Hatma tidak menanggapi ucapannya. Dia melihat ke wanita penampar lagi menghampiri mereka, tampak jikalau raut mukanya tak senang. Sewaktu hendak Hatma membuka mulut, wanita ini menyela ucapan Hatma, dia menggebrak meja menghentikan Hatma.
Remaja ini mulai membayangkan kembali imaji yang diimpikan sejak dahulu, perkara di kediaman ini memicu terbitnya ingatan dan khayalan berkecamuk di dalam pikirannya. Dia membela Silvi ketika ibunya mengatakan hal buruk tentang anaknya walaupun tak tau menahu mengenai keluarga harus di sisinya.
"H-Hatma bener ibu! A-Aku juga berpikir demiki.."
"Kamu berani ngelawan!" Bentak wanita paruh baya ini menatap Silvi dengan sinis.
Hatma menegaskan tentang bagaimana sikap dan cara bicara ibu yang seakan-akan menganggap anaknya sebagai rendahan. Yang tidak memiliki hak untuk bicara ataupun mengutarakan komentar, dia melihat ini layaknya masalah kecil, tapi berdampak besar kepada renggangnya hubungan keluarga.
Enggan masuk lebih dalam, Hatma berniat angkat kaki dari kediaman Silvi dan memfokuskan pikiran pada perihal lain. Lelaki ini memahami bahwa Silvi memiliki kekuatan aneh yang mampu membuat orang lain terpikat padanya, dirinya juga tak kecuali.
"Kamu cuma ngebelain aku bentaran?" Tanyanya.
Hatma menghela napas panjang. Dia melangkahkan kedua kakinya, lari dari tatapan sedih Silvi, yang nyaris membuatnya duduk kembali. Laki-laki ini pun bersicepat pergi, seusai melewati gerbang rumahnya Silvi, ada sebuah notifikasi menyembul.
[Kemampuan baru didapatkan!]
[Pengendalian Pesona tingkat tinggi.]
"Ha?" Hatma menganga. Dia memahami pesona ini memiliki daya pikat maupun tarik kuat, guna-guna pemikat lawan jenis lebih masuk akal dibandingkan Pesona Silvi yang menarik perhatian Sahir pengguna jiwa manusia celam-celum dengan bebasnya.
"Mari kita lihat dompet," batin Hatma.
Dia membuka tempat uang yang terbuat dari kulit dan menemukan sejumlah uang, buatnya terperanjat kaget. Mengesampingkan mengenai uang, matanya teralihkan pada seorang wanita yang memasuki gang sempit, dengan mata tertutup. Namun, dia bisa memasuki tempat semacam itu tanpa alat bantu.
__ADS_1
"Tak heran. Pasti ada manusia seperti Reza, tapi dia tidak bisa mengendalikannya.." Hatma berjalan menuju padanya dan mengatakan, "kemungkinan jika Reza hilang kendali.. selama kebencian terhadap Alpa belum hilang dia takkan hilang akal sepertimu."
[Panggil: Gapura Loka]
Dibelakangnya muncul asap, sebuah gapura muncul dan Hatma menendang wanita itu masuk ke dalam tanpa mempedulikan apapun. Kan tetapi, senantiasa Hatma menemukan jika manusia yang memiliki kesadaran ataupun menjadi Rablis, kebanyakan tak memiliki keluarga membuat Hatma sedikit lega.
Hatma menyusul masuk ke dalam. Dia memperoleh kalau manusia ini menuliskan kata "help" di tanah, sebelum dia menerjang dan memasuki jangkauan si pemburu Rablis. Hatma melangkah dan menebas tangan Rablis wanita ini.
Rambut-rambut di kepalanya memanjang. Bertugas layaknya cambuk, menyaksikan itu Hatma menukar belati ke tombak. Akhir-akhir ini dia mendapatkan senjata selain pedang, tapi tidak cocok dengan cara bertarungnya, membuat dirinya cukup kerepotan.
"Bisakah Hatma memesan tugas yang diberikan itu hadiahnya pedang?" Tanya Hatma. Dia menunjuk target dengan tombak dan berteriak, "sanggupilah seruan hamba.. bersua dan balaslah.. Gegana!"
[Sihir: Gegana]
Sebelum cambuk itu sampai kepada musuhnya, ada petir yang menyembul keluar dari ujung tombak Hatma. Petir itu menggelegar suara keras beserta bunyi meledak-ledak menghiasi langit, memberi kesan layaknya langit tengah murka. Tidak memberi kesempatan kedua pada musuh, lawan mati sekejap.
Rablis itu bangkit lagi meskipun separuh badannya hancur menjadi debu, tubuh baru tumbuh kembali menyadarkan Hatma, bila Rablis di hadapannya kali ini memiliki kemampuan regenerasi cepat. Selama ini dia belum pernah menemukan Rablis selangka ini.
Hatma mengambil lagi belati dan memanjangkan bilah tebal tersebut, pisau bertangkai ini pun memiliki bilah panjang serupa pedang pendek. Sukar sekali menggunakan sihir pembesar objek, apalagi sihir semacam tak menggunakan lantunan mantra, melainkan membayangkannya diimajinasi.
"Dia memiliki banyak cambuk," batin Hatma.
Begitu para cambuk mendekatinya, dia melepaskan tebasan melengkung ke atas dan buru-buru balik mengayunkan senjatanya ke bawah membentuk busur. Saking banyaknya serangan dari Rablis tingkat tinggi ini, Hatma mengayunkan senjatanya dengan gerakan melingkar tuk bertahan dari setiap serangan masuk dengan beberapa target satu gerakan tangan.
Hatma tak berniat untuk bertahan selamanya. Sebab petir bekas Gegana mulai terlihat, sisa-sisa petir bukan menghilang di udara, justru naik mengudara ke angkasa dan menciptakan awan badai. Suara berisik sebelumnya pun berasal dari awan tersebut.
"Seperti yang diharapkan sihir tingkat tinggi," batin Hatma menjumpai dampak serangan Gegana.
Petir besar nan kuat turun dari langit menghantam tanah tempat berpijaknya Rablis. Daya ledaknya pun mampu untuk menghancurkan gedung pencakar langit, sehingga tempat berpijak lawan berubah, jadi kawah besar berapi layaknya bekas gunung berapi.
__ADS_1
Hatma berniat lekas pulang ke tempat asal. Tetapi matanya melirik ke kanan, remaja ini refleks mengelukkan badan, menghindari tembakan peluru cahaya. Begitu hendak membalas serangan, Hatma menurunkan tangannya dan menghela napas.
"Kabur," kata Hatma.
Dia menyimpan kembali senjata pada penyimpanan, benda di tangan Hatma ditelan cahaya dan hilang. Meskipun mukanya tidak memperlihatkan keadaan batin, kini ia tengah menghadapi atau merasai suatu perihal yang buat amarahnya tiba-tiba meluap.
Hawa keberadaan penyerang sangat amat tipis, buat Hatma mengigit jari sembari melewati gapura loka dan memperoleh Silvi lagi bermain-main dengan pasir di taman. Hatma menjumpa gadis tersebut dan menginjak pasir berbentuk persegi buatannya.
"Kamu ngapain sih? Aku capek loh bikinnya!" Ujarnya menciptakan raut wajah cemberut.
"Lebih baik kau pulang."
"Aku broken home," Silvi berkata begitu ketika dia menatap Hatma. Matanya berkaca-kaca lalu mengatakan, "boleh nggak aku tinggal sama kamu bentaran sampe masalah reda?"
"Hatma pikir ada kasur dua," gumamnya dalam hati sewaktu Silvi sedang menatapnya. Hatma berpikir jika ini waktu yang tepat.
Membongkar rahasia beserta mencari jawaban dari sangkut pautnya Silvi dengan Sahir, dia memerlukan orangnya langsung, meskipun agak sedikit perasaan enggan di hatinya. Dia menerima uang Silvi beserta kehadirannya pada kediamannya.
Hal ini menerbitkan memori kebahagiaan, sekaligus luka lama terkelupas lagi. Ayah angkatnya telah menyerahkan hak atas tanah dan rumah itu, walau ia belum sepenuhnya memegang, bibi atau adik dari ayah angkatnya menjadi pemegang sementara.
"Kita perlu izin sama bibi dulu," ucap Silvi. Senyum masam terlihat, tapi bersamaan Hatma mendengar jikalau gadis ini berdecak kesal.
"Tidak, tidak perlu melakukan hal merepotkan seperti itu. Langsung saja ke rumahku besok," kata Hatma.
"Eh? Udah kayak tuh rumah punyamu aja."
"Memang," jawab Hatma pendek. Reaksi Silvi tidak percaya pada ucapan laki-laki ini. Namun, usai mulut Hatma tertutup rapat, Silvi merasa bahwa kalimatnya barusan tanpa sedikitpun kebohongan tertanam.
Ketimbang mengambil baju dan pakaian. Silvi tidak berniat balik rumah, melainkan langsung mengikuti Hatma dan berniat membeli baju, mengingat jikalau nyaris tidak ada pakaian yang cocok tuk aktifitasnya akhir-akhir ini, pikir gadis berambut warna perak ini.
__ADS_1