Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
33


__ADS_3

Sebuah angin topan besar menjebak Rablis untuk dibakar habis, tapi disebabkan Reza ialah Rablis tipe api tidak ada efek apapun. Mereka justru beradu pukulan dalam putaran angin ribut bersuhu panas ini, tanpa adanya keuntungan bagi Hatma sendiri.


"Tuan. Apa yang Anda lakukan? Bukankah itu hanya akan membuatnya semakin kuat.."


"Diamlah!" Jawab Hatma. Hatma mengumpulkan seluruh panas pada lengan kanannya. Sementara angin merubah pergerakan menjadi lebih kencang, membuat tekanan besar, sehingga Rablis tercabik-cabik dan tidak mampu untuk bergerak sedikitpun.


Uap panas mengelilingi kepalan tangan Hatma. Dia mendekati Reza, lalu tanpa lisan apapun, pukulan pada lawannya sekarang membuat tubuh Rablisnya mengelupas. Ketika dia bermaksud kan melanjutkan pemaksaan Reza kembali ke bentuk manusia, pada saat Hatma tidak waspada seseorang menyerang.


Hatma refleks menggunakan kedua tangannya untuk mempertahankan diri, namun dia tetap terlempar keluar dari badai buatannya. Dia bertumpu pada dua kakinya bersanding dengan Mirah, mereka bersiaga penuh, ada Alpa tengah berdiri didekat Rablis itu.


Alpa menghela napas. Dia memotong tangan sendiri, lalu memberi makan Rablis itu. Dalam waktu singkat Rablis menjerit-jerit dengan suara Reza, melihat hal tersebut Hatma naik darah dan memelesat sangatlah cepat hingga keduanya tidak sempat bereaksi.


"Sanggupilah seruan hamba.. balaslah nan bersua jutaan kali, Gegana!" Teriak Hatma.


[Sihir: Gegana Kematian]


Selepas seruan Hatma, muncul rentetan sambaran petir ditembakkan pengguna ke segala arah. Walaupun Hatma seakan-akan menembak asal-asalan, hal tersebut mencegah kakaknya pergi, tapi berlindung menggunakan Reza selaku tamengnya.


Hatma menjejak tanah menghancurkan segalanya dalam radius beberapa meter, sewaktu Hatma menyeru nama Rablis tersebut. Tercipta berpuluh-puluh bola api berkumpul menjadi satu, raksasa api pun menyusut berwujud pedang lebar, Hatma bukan memperkecil melainkan menekan api tuk lebih kuat.


"Bagaimana bisa? Hal tersebut bukannya mustahil dari segi logika.." Alpa bergumam terkaget.


Hatma menarik napas sembari memegang pedang api tersebut, mengubah rupa pedang menjadi lebih kecil dan menentang Rablis. Dia berlari seraya mengayunkan dan menekuk pedang dalam gerakan supaya berputar bersama tubuh, pada pola serangan bebas, lalu mengiris segalanya yang didekatnya.

__ADS_1


Tertampak Rablis membuat tubuhnya sedikit agak melebar, kemudian menciptakan tameng raksasa sebagai perlindungan. Sementara Alpa melempari adiknya dengan sihir tanah, setiap sihir tidak mengenai Hatma, justru ditebas tanpa terlihat dirinya mengayunkan pedang dan terlihat lurus berlari saja.


"C-Cepat sekali.." ujar Mirah terkesiap kaget melihat bahwa Hatma kini sedang serius menantang mereka.


Di masa yang akan datang, pada waktu Mirah, Hatma senantiasa menggerakkan pedangnya satu kali ayun dan membunuh musuh dalam waktu singkat. Jikalau tanpa keberadaan Mirah, hal tersebut yang akan terjadi, tetapi tidak menutup kemungkinan dia serius.


Sesudah mencapai hadapan Rablis, Hatma menaruh ujung pedang dekat tameng dan mengentakkan senjata lebih dalam. Hatma langsung mundur ketika pedangnya tertancap, semasa dia melepas senjata, senjata api itu membesar menjadi pedang lebar dan membuat Rablis tertusuk dengan luka lebar.


"Gusti pangeran. Abdi lekas bertandang terhadap mahligai istana paduka.."


[Panggil: Gapura Loka]


Gapura raksasa muncul di udara pada angkasa, lalu bertepatan dengan terciptanya benda tersebut Hatma menengok ke belakang dan tersenyum tipis sebelum dia mengambil pedang dari tangan Mirah dengan sedikit paksaan. Dia mengangkat pandangan menyaksikan gapura itu masih terbuka.


"Kenapa di masa depan aku menciptakan sihir dengan kata-kata yang jarang digunakan?" Tanyanya pada Mirah tanpa menolehkan kepala.


"Lupakan saja. Kembali pada tugasmu," titah Hatma sembari menggerakkan kakinya perlahan-lahan menuju tempat Rablis itu. Mahkluk ini pun berpasrah sesudah Hatma menunjukan akibat meraung-raung menentang kembali matanya.


Angin mulai mengangkat tubuh Rablis. Sihir Pawana Kencang buat Rablis mengangkasa jauh hingga berada depan pintu raksasa, Hatma meniup udara kepada Reza, lalu seluruh tubuh Rablis mengelupas saat tubuh manusianya terlepas dan jatuh ke jalanan.


Hatma mengangkat tangan dengan jari-jari tangan terbuka, tiba-tiba lingkaran sihir muncul, pancaran sinar cahaya putih muncul dan membakar bekas tubuh Rablis. Kemudian gapura langsung menelan Rablis yang telah terbakar tersebut, lalu semuanya berakhir dengan cukup singkat.


Setelah Hatma menarik napas. Dia mendengar bunyi langkah kaki dan bersicepat menjentikkan jari, begitu dia menoleh ke belakang, terdapat seorang tentara yang tampaknya akan mengajukan pertanyaan pada dirinya. Karena Hatma pula enggan menerima lontaran tanya dan mengentakkan kakinya ke tanah.

__ADS_1


"Dusta diantara mereka yang tersilap nan lupa.." ujar Hatma melisankan mantra sihir pengendali pikiran dan menghapus sejarah tentang kemunculan suatu mahkluk atau monster yang buat sejarah dunia pada waktu Mirah menghilang lenyap tanpa bekas.


[Sihir: Tersilap nan Lupa]


Seketika cahaya putih meruak ke seluruh penjuru dunia dalam waktu puluhan detik. Tindakannya Hatma memberi hadiah tanpa nilai kepada Mirah, dia menganga sembari menangis, meskipun Mirah telah mencoba mengubah sejarah berulang-ulang kali sampai dimana dia nyaris depresi dan gila nyatanya Hatma telah mengubah perkara itu sekarang.


Dalam pikirannya, seluruh kilas balik terbit, tetapi dia melihat sesuatu yang berbeda jauh. Dikarenakan Mirah datang dari waktu yang berbeda, semua yang dialami olehnya telah berubah, begitu pula pecahan semua memori diubah habis-habisan oleh Hatma.


"Apakah saya harus bertanya, bagaimana ini untuk kedepannya? Jawab Tuan.." lirih Mirah.


"Pada waktumu, aku tidak akan mengatakan apapun, tetapi aku akan mengatakannya sekarang saja. Meski kata-kataku sudah ada dipikiranmu, akan aku ulang saja perintahku kepadamu.."


"Silakan. Saya senantiasa menantikannya," ucapnya Mirah bersimpuh di hadapan tuannya. Hatma kini menaruh telapak tangan pada kepala Mirah, lalu dia bertekuk lutut di depan Mirah dan memberi kecupan.


"Kau ialah kepunyaan tuanmu, Darma bukan pemberi tugas hidupmu. Melainkan hanya pion kecil, engkau di masa depan akan pergi ke masa lalu, kemudian melemahkan tuanmu.. itu bukan keinginan murni dari pikiranmu, melainkan tuanmu sebab kau hanyalah alat yang tidak berpindah-pindah tangan.." ucapnya.


Sesudah memberikan perintah kepada Mirah, Hatma menggunakan sihirnya sendiri untuk membuatnya lupa dan dia terlelap. Sementara yang lain sekeliling terbangun, begitu pula para tentara, mereka ternyata sedang menyerang sekelompok ******* dan nyatanya Reza tidak mengamuk justru sedang terlelap juga.


Mirah membangunkan tuannya, mereka pergi untuk mengamankan diri bersama warga lain yang ikut dievakuasi oleh para tentara. Dia membawa Hatma dengan membantunya berjalan, selagi dia kelihatan sangat lemah, walau Mirah tau dia dengan sengaja melemahkan dirinya sendiri.


"Elu tuh sebenarnya siapa. Gue bingung, tadi gue jadi Rablis, kan?" Tanya Reza menyusul mereka berdua.


"Kau berhasil Hatma kalahkan. Lalu, ada ******* yang mengambil kesempatan.." ujar Hatma dengan lelah.

__ADS_1


"Saya juga bantu Anda, tuan!" Katanya Mirah menyela percakapan mereka berdua. Mereka pun berjalan menuju kediaman Hatma, dengan memakan empat menit berjalan, mereka bertiga sampai depan rumah Hatma dan memperoleh Silvi tengah meneguk kopi.


Silvi menghela napas. Dia membantu Mirah untuk membawa Hatma ke kamar, selama Reza tertampak sangat kebingungan mendapatkan informasi janggal beserta kurang jelas. Reza melupakan semua itu dan menyusul mereka berdua menuju kamar Hatma.


__ADS_2