
"H-Hatma?!"
"Ssstt.. diamlah, biarkan Hatma merasakan memeluk seorang gadis, kesannya bagaimana.. begitu."
Sementara wajah Silvi merona merah karena malu, laki-laki yang merangkulnya gemetar waktu teringat mahkluk hitam sebelumnya. Setelah durasi pelukan kini menjadi lama, Silvi mulai menggerakkan tubuh, selagi Hatma berpikir cara agar menghilangkan asap yang mengepul di depan matanya.
"Gusti pangeran. Abdi lekas bertandang terhadap mahligai istana paduka.." kata Hatma.
"Aku kesenangan kalo dipeluk sama kamu," ucap Silvi nyaris tak terdengar sembari membatin, "tapi ini udah.. terlalu.."
"K-Kata-kata itu benar, bukan?" Tanya Hatma. Dirinya terbata-bata saat bertanya berupaya semaksimal mungkin agar Silvi tidak menoleh ke lawan mukanya.
Meskipun setelah di ucapkan, asap itu tetap saja ada dan tidak lenyap membuat Hatma semakin bingung kehilangan akalnya. Dia bersikeras untuk Silvi tak menolehkan kepalanya ke belakang, walaupun Silvi sangat kelihatan penasaran dengan mata Hatma.
Silvi melingkarkan kedua tangan pada Hatma, balik memeluknya. Dia menenggelamkan wajahnya pada dada Hatma, seraya mengeluarkan isak tangis yang cukup pelan hingga Hatma tidak mendengarnya. Namun, setiap tetesnya air mata itu tjatuh ke lantai.
"Abdi lekas bertandang terhadap mahligai istana paduka.." ucap Hatma.
Tidak lama setelah Hatma bertutur kata melisankan kalimat sebelumnya tanpa menyebutkan pangeran, asap itu lenyap dan meredup, layaknya cahaya yang tertelan dalam kegelapan. Selagi perlahan-lahan Silvi keluar dari dekapan tangan Hatma.
Gadis ini menaikkan pandangan, menemukan remaja laki-laki ini tersenyum dengan mata yang terkesan menganggap semua hal cuai tak berharga. Nyatanya Silvi melihat jauh lebih dalam, dikala itu saat Hatma melempar dadu dan menari bersama sang Darma.
Kedua bola mata itu memicu Silvi mengunci mulut, seakan-akan jutaan percakapan memenjarakan hak untuk bicara. Dia tiada sekalipun memohon ampunan, dengan caranya sendiri, dia menari dan menyentak tanah disandingkan bersama tiga dadu suratan takdir yang berputar-putar.
"Makasih udah kasih aku pelukan. Sayangnya, aku diminta ayah buat pulang bentar lagi.. padahal kamu boleh lanjutin aja semau kamu.."
"Jangan memicu terjadinya serangkaian peristiwa yang membuahkan keburukan," batinnya merespon ucapan Silvi barusan.
Sesudah mengucapkan kalimat itu Silvi pamitan, dia keluar bilik Hatma dengan senyum kecil terukir pada wajah cantiknya dan pintu tertutup dengan lambat seperti Silvi enggan pergi. Meskipun begitu gadis ini mengatupkan pintu secara total.
__ADS_1
Di luar bilik lelaki itu. Silvi bersandar di pintu kamar Hatma, dirinya menatap pijakan kaki dan mengutuk belenggu kewajiban dalam hidup. Gadis ini tiada memiliki satu pun hak, jalan hidupnya telah diatur, lambat laun dia musti menjawab arti kehidupannya.
Disitulah gadis ini tersungkur jatuh, terduduk sambil membungkuk menghadap pemberi darma. Serasa benang menarik tangan dan kakinya, tapi perempuan yang satu ini bertumpu pada kedua kakinya, menemukan motivasi tak langsung dari kedatangan.
***
Satu Minggu berlalu, layaknya seperti pemain dalam game. Mereka membasmi Rablis yang berkeliaran, setelah mendapatkan hasil yang diinginkan, Reza dan Hatma memperoleh pengalaman serta hal lain yang berguna untuk melawan para Rablis.
"Ingatlah. Setiap kata-kata dari mirah tidak pasti benar.." ucap Hatma.
"Ya. Kayak tadi kan? Lu bilang Rablis belalang nggak bisa terbang, tapi ada juga yang bisa.. walau nggak semuanya sih."
"Kesimpulannya.. kami tidak dimanja olehnya dan disuruh untuk tetap belajar pada setiap situasi," kata Hatma dalam hatinya sedikit merasa kesal.
Mereka sudah siap dalam segala aspek terkecuali senjata, karena mau bagaimanapun juga kedua-duanya kesulitan memperoleh senjata dan meskipun Hatma mendapatkan beberapa senjata. Dia tak bisa membaginya pada Reza yang memakai tinjunya.
Senjata di tangan Reza hanyalah keling beserta sarung tangan kulit, tantangan atau segala hambatan harus dihadapi, demi tugas dan dendam. Kedua laki-laki ini mempertaruhkan nyawa, atas tujuan berbeda yang bahkan hampir tidak berkaitan.
"Tentu. Gw nggak bakalan lepas kendali lagi kayak kemaren, tenang aja.."
"Jikalau Hatma ada diposisimu pasti dunia sudah hancur karenanya," jawab Hatma ringan tanpa sedikit pun beban di pundaknya.
Hatma melantunkan mantra seperti dulu. Tetapi dia tidak dapat memunculkannya, setelah berulang-ulang pun tetap gagal. Namun, Hatma bersikukuh mencoba dan sesudah percobaan ke-delapan puluh empat remaja laki-laki ini menyerah untuk seperti orang gila yang berupaya membaca sebuah mantra.
"Ini masih jadi beban pikiran Hatma. Darimana Silvi dapat kertas itu, lalu, apa hubungannya dia dengan Rablis dan Sahir?"
"Gw juga nggak tau. Terus.. kenapa sihir lu kagak bawa kita ke dunia kemaren? Ini udah hampir sore!"
"... Apa mungkin pernah didekat Silvi?" Lirih Hatma bergumam dan membatin, "kemudian perempuan itu mengapa jarang menemui Hatma lagi."
__ADS_1
Hatma memutuskan untuk pergi ke kediaman Silvi dan melantunkan mantra di dekatnya. Sedangkan Reza tidak berkomentar apapun, ia hanya mengikuti Hatma dengan harapan, mereka dapat membunuh Alpa. Menghindari untuk orang-orang diubah menjadi Rablis dan membunuh sebagai bukti balas dendam.
Mereka berjalan cukup lama. Sesudah melewati pohon rambutan yang sudah berbuah matang, depan rumah besar bagai istana, Hatma melihat bahwa dia orang kaya yang tidak peduli harga. Walau dirinya tau Silvi orang kaya, orang ini tetaplah tidak peduli dan mengabaikan perasaan Silvi kepadanya.
"Gimana? Kita nggak mungkin bilang, 'kita mau buat sihir bareng kamu' gitu.. mana mungkin!"
"Kau tau kamarnya berada di lantai mana?"
"Mana gw tau," jawab Reza menatap tajam kemudian mengatakan, "gw sama sekali kagak suka pada gadis macam dia."
Raut wajah Hatma kini mulai bermuram menerbitkan ingatan kelam. Dia mengingat letak kamar Silvi berada, ketika orangnya langsung mengatakan letak kamarnya dan langsung Hatma mengulurkan tangan ke atas. Lalu, menunjuk sebuah jendela yang terbuka dengan muka kalem, mengabaikan wajah najis Reza.
"Dia pernah berkata jika kamarnya ada di lantai dua, saat itu dia minta Hatma datang dan bawa kabur kalau dia dijodohkan.." cakap Hatma.
"Uwahh.. jijik banget, kalian dah ngelakuin sampai tahap apaan sih?" Kata Reza seraya menutupi dahi.
Hatma tidak mempedulikan kata-katanya dan cepat-cepat pergi ke belakang kediamannya. Diikuti Reza dari belakang. Belakang rumahnya ialah taman, biar mereka tahu letak kamarnya, secara pasti Hatma tak mengetahui yang mana. Karena itu Hatma bingung.
Hatma dapat menggunakan Teleport untuk sampai di loteng, tapi belum pernah sekalipun Hatma membawa orang lain. Sesudah mengatakan alasan, Reza tersenyum hampa dan bertukar menjadi bentuk Rablis, membuat Hatma menepuk jidatnya.
"Hatma kagak peduli kalau kau mati ya!"
"Buruan aja deh, kalo gw mati.. balaskan dendam gw aja. Mudah sekali, bukan?" Ucap Reza mengangkat jempol tangan kirinya memicu amarah Hatma.
[Jantur: Netra Elang]
Dengan berat hati Hatma mengiyakan maksudnya dan menggunakan jantur, melihat jikalau tidak ada siapapun di loteng rumahnya. Mengingat bila Silvi seringkali bercerita, kalau orang-tuanya jarang pulang karena pekerjaan, sedikit melegakan bagi Hatma dan Reza.
Hatma sekarang memeluk Reza dari belakang, walau keduanya enggan saling berpelukan. Mereka kini saling berpeluk, disusul cahaya menelan mereka dan dua-duanya berpindah ke tempat tujuan, tentunya tanpa sedikitpun goresan maupun luka.
__ADS_1
"H-Hatma? Ngapain sama ..."