
Hatma sedang bercakap-cakap dengan seseorang, memerintahkan dirinya untuk mengambil barang yang ada di panti asuhan. Lelaki ini cukup tak ingin melihat seorang mayat wanita itu, yang bagaikan ibu kandungnya dan memilih diam.
Dia tahu jikalau anak-anak lain juga tak sanggup tuk melihat mayatnya, banyak dari mereka enggan, cepat atau lambat Hatma pikir dia akan mati. Meski tugasnya belum usai takdir takkan saling menautkan tangan, mereka bahkan mungkin tak punya lengan.
"Apa yang Hatma pikirkan?" Batinnya.
"Elu ngelamun mulu.. nih paket lu dah nyampe, gue tagih bayarannya sekarang.." cakap Reza bicara depan jendela kamar Hatma. Hatma turun dari kasur dan memperoleh dia lagi membawa kotak.
Hatma menerima kotak tersebut dan menyimpannya sebelum Silvi datang, dia mengeluarkan seluruh barang-barang yang kebanyakan mainan anak pada saat dirinya masih kecil. Sisanya surat-surat berharga obat baginya kala itu terutama saat rindu ayah-ibu.
Reza meminta upah. Hatma menghela napas dan mengambil dompet, saat ia menaruh sejumlah uang, mata Reza berkaca-kaca dan kebahagiaan seperti meruak ke sekujur tubuhnya ibarat api. Mengabaikan Reza, Hatma sibuk membaca surat-suratnya.
Waktu berjam-jam pun berlalu begitu cepat. Bahkan sesudah menjelang tengah malam, lampu kecil masih hidup menerangi kertas-kertas tua itu, depan remaja yang haus akan kenyataan.
"Hatma. Kamu bisa sakit loh," ucap Silvi memilah barang-barang Hatma dalam kotak. Dia mengambil boneka dan berkata, "kamu pasti nggak butuh ini, jadi aku ambil aja."
"Terserah kau saja," jawabnya.
Silvi buru-buru berdiri, mukanya muram seperti menemukan hantu dalam kotak dan bersicepat dia berdiri izin ke toilet. Dengan langkah terburu-buru gadis ini menutup pintu kamar mandi, seusai masuk dia melihat benda di telapak tangannya.
Sebuah permata merah seukuran kelereng menitikan darah ke lantai. Silvi menaruh tangan lain di dekat daun telinga, memakai telepati dengan seseorang, ia bicara tanpa suara sembari muka Silvi yang sedang menahan tangisan untuk keluar.
"Bagus.. kirimkan besok pagi," ucapnya. Silvi hanya mengangguk pelan seraya mengelap muka.
***
Hatma melakukan lompatan tinggi, pada udara dia mulai menembakkan peluru cahaya, menghujani Rablis besar di tanah. Sementara Reza menolak serangan lawan, bersicepat dia melakukan serangan balasan, pukulannya mencapai Rablis.
[Skill: Kilap Peluru]
[Jantur: Penguatan Kekuatan]
__ADS_1
Lelaki yang mengangkasa turun ke bumi. Ia memberi hadiah pukulan pada lawan, Rablis berukuran dua meter ini terpelanting jauh akibat serangan dari sihir Hatma. Hatma mengulurkan tangan untuk memakai sihir serangan lainnya.
Cuaca cerah bertukar menjadi gelap, awan-awan berkumpul di atas Hatma, tanpa aba-aba maupun peringatan petir turun dan menghantam tanah menghasilkan suara keras. Tidak berhenti dengan satu sambaran, rentetan Gegana dilepaskan Hatma.
"Akhir-akhir ini Hatma kayaknya jadi agak brutal," kata Reza dalam hati menyaksikan pemandangan ini.
[Pembatas dinonaktifkan.]
[Semua jantur diaktifkan bersamaan.]
[Durasi: 2 menit 30 detik.]
"Dua menit? Terlalu lama, kan Hatma selesaikan dengan waktu 20 detik.." ucapnya.
Waktu Rablis menggunakan sihir air tingkat paling tinggi, Hatma bergeming tanpa suara dan berdiri menatap lawannya. Rablis meraung-raung sesudah air itu mengurung bayangan Hatma dalam kubah, sadar jika Hatma lolos dan tengah menunggu, Rablis bermaksud akan kabur darinya.
Hanya saja, keterlambatan singgah padanya bahwa dia tidak dapat kabur dari mati. Hatma menarik pedangnya, dia menyentak tanah, menghasilkan kabut tebal menghalangi pandangan. Dengan cepat Hatma berlari menggunakan kegesitan menyilaukan, memberikan tusukan di dada musuh.
Lelaki ini melompat, menggunakan pijakan ujung pedang, menancapkan pedang lebih dalam. Hatma yang sudah menjauh mengambil batu, batu tersebut dia lemparkan kepada lawan. Lemparan tersebut menghadiahkan kerusakan besar pada tubuh lawan.
[Durasi: 2 menit 29 detik.]
Pedang di dada musuh menyembulkan petir, buat api meruak ke sekujur tubuhnya selagi asap hitam keluar dari kedua telapak tangan pengguna sihir. Kumpulan asap itu menggumpal, menjadi kotak hitam, mengurung musuh dan mengecil setiap detiknya.
[Durasi: 2 menit 9 detik.]
Hatma membuka jari-jari tangan dan mengangkat ke atas, sewaktu tangannya terkepal. Kubus tersebut langsung mengecil seukuran kelereng, disusul darah yang bagaikan air terjun memenuhi jalanan. Rablis itu dijepit hingga seluruh badannya hancur seketika.
"Elu bisa nggak kagak sadis-sadis amat?" Tanya Reza mendekatinya sambil membawa kepala Rablis yang dilawannya.
"Kau juga sama," jawab Hatma. Tanpa memalingkan wajah Hatma berkata kepada Reza.
__ADS_1
"Gw jadi takut, elu punya kekuatan waktu, mengapa masih minta bantuan?" Reza bertanya sembari menunggu tanggapn Hatma tentang pertanyaannya.
Hatma menggelengkan kepala saja, membuat Reza berdecak kesal dan mereka keluar dari dunia Loka menuju kediaman masing-masing. Setelah keduanya pamitan dan Reza mendapat upah, dia menyaksikan segalanya dari cermin seraya mengigit ujung jarinya.
Begitu membuka pintu Hatma sudah tiba, matanya menunjukan ketidakpedulian terhadap dirinya, mencuaikan gadis ini dan siapapun. Hatma pernah tidak percaya pada keraguan, lalu akhirnya dirinya menyesal, sebab itulah Hatma berniat menguburnya.
"K-Kamu akhir-akhir ini kenapa? Udah baca surat-surat peninggalan ayah-ibumu malah buat kamu jadi kayak gini.." ujar Silvi menjeda langkahnya.
"Harapan mengetahui alasan itu sudah basi. Jikalau ada kesempatan pasti, pasti 'kan datang. Ada hal di dunia realita ini harapan takkan mungkin mampu dan dapat terjadi dengan kekuatan sendiri," ungkapnya.
Hatma memasuki biliknya sendiri dan terduduk depan layar laptop, buku menumpuk memberitahu bila ujian semakin dekat. Sedangkan menyibukkan diri untuk menyelamatkan dunia, dunia takkan bisa berterimakasih kepadanya, begitu pula waktu.
Dia telah mengetahui alasan untuk tidak mengejar-ngejar masa lalu, fakta orang-tua membuangnya tak mungkin diputarbalikkan. Walau dirinya bisa pergi menuju masa lalu, dia enggan mengambilnya, justru keinginan terbesarnya saat ini adalah perasaan.
"Hatma. Kamu mau makan di kamar atau di rua--"
"Kamar!" Kata Hatma menyela sebelum bibi sudah menyelesaikan ucapannya. Langkah kaki pun lenyap seusai bibi pergi menjauhi kamarnya.
"Perasaan senang mengecap rasa makanan. Sejak kapan terakhir kali Hatma merasakannya?" Batinnya.
Hatma kembali tenggelam dalam kesunyian. Dirinya memulai kegiatan aslinya, sebagai pelajar. Matanya terpejam semasih menulis. Dia bertanya-tanya serta menghajatkan yang lain, mengapa dia tidak mampu untuk mencintai seseorang? Meskipun Silvi sudah menunjukan kepedulian terhadapnya.
Helaan napas keluar. Angin menyibak-nyibakan tirai kamar, bersama rambut Hatma dan tumpukan kertas di atas meja berserakan. Mata kirinya melirik samping menemukan seseorang berdiri. Bersicepat Hatma berdiri, menendang kursi dan menarik belati.
Pria berjubah ini duduk pada kursi bekas lemparan Hatma dan berkata, "Teruntuk kemestian darma tuan hamba, kembali lah kepada pangkuan asmanya.
"Siapa kau?!" Tanya Hatma. Hatma menjentikkan jari terus-menerus menolak kematian.
[Tugas wajib: menahan sihir Melantas Kematian]
[Hadiah: resistensi sihir Melantas Kematian]
__ADS_1
Hatma memiliki sihir ini. Namun, dia merasa takkan mampu menahan efek sihir tersebut, karena kematian instan yang diakibatkannya bisa berbalik kepada pengguna tergantung situasi. Melihat situasi ini Hatma sangat kesukaran melawan balik.
Jikalau dia berhenti menyanggah sihir, maka dapat dipastikan undangan kematian akan diterima olehnya tanpa bisa membela dirinya sendiri. Walau Hatma mampu menyanggah sihir ini, dia tak mampu bertahan selamanya juga.