Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
19


__ADS_3

Empat jam sebelum mereka berangkat,


mereka mempersiapkan diri dan Hatma memberikan Reza sebuah batu permata kuning. Sebuah benda yang bisa mengeluarkan sihir angin, awalnya Hatma ingin menggunakannya pada situasi genting, jikalau dia kehabisan energi dan bisa kabur dengan angin.


"Apa yang musti gw lakuin sama benda ini?"


"Jangan khawatir. Kau pasti bisa memahaminya saat Hatma pingsan atau kalah," kata Hatma sedikit pelan.


"Oi jangan buat gw takut. Lu lebih kuat ketimbang gw tau!" Jawab Reza bernada tinggi. Disertai sedikit kecemasan anak lelaki ini melihat mukanya Hatma.


Selagi Reza menggunakan semua batu permata dan melatih cara penggunaannya, Hatma melihat benda-benda lain dari hadiah tugas. Hampir keseluruhan dia mendapatkan batu permata, hanya sedikit tugas yang memberi hadiah senjata, menyulitkan Hatma karena mendapatkan pedang bukan perkara mudah.


Dia menggeser layar ponsel mencari hal berguna di program Sahir, sesudah memahami semua sihir beserta jantur dan skill, Hatma masih kebingungan mendapat metode mengalahkan Alpa. Dari seluruh informasi dari Reza beserta kejadian kemarin hari.


"Ia ialah Sahir yang menggunakan pasukan daripada sihir atau bertarung jarak dekat," gumamnya.


Bagaikan dua orang yang melawan satu negara kecil, kesulitan ini buat otak Hatma nyaris meledak. Dia tak pernah merasa hilang akal semacam ini. Tapi, Hatma merasa kalau program di ponselnya memiliki fitur yang belum terbuka, memicu rasa penasaran Hatma.


"Hatma. Gw hanya perlu gunain yang kuning aja kan?" Tanya Reza menghampirinya.


"Bagaimana cara pakai kehokian setahun?" Tanya Hatma balik bertanya.


Reza tidak tahu harus bereaksi dan menanggapi soalan Hatma, dia memiringkan kepala, lalu bingung mencari jawaban atas pertanyaannya. Hatma pun mengotak-atik program Sahir, tidak peduli dia salah mengatur apapun, dia penasaran dengan program yang tiba-tiba terpasang di handphone begitu saja.


Sesudah belasan menit berlalu, Hatma menemukan sebuah fitur yang tersembunyi dibawah daftar jantur yang bernama 'Pembatas' memiliki gambar kunci, ia mencoba menyentuh gambar kunci tersebut. Namun, justru ada notifikasi muncul di layar penglihatan.


"Pembatas adalah sebuah sihir yang membatasi kekuatan seorang Sahir, yang memiliki energi yang tak terbatas?" Lisan Hatma membaca deskripsi mengenai sihir pembatas ini.


"Terus? Gw harus ngapain nih!" Kata Reza.


Hatma menjelaskan rencana beserta cara kabur jika berada dalam kondisi gawat. Mereka sepakat usai berdiskusi singkat, sesudahnya kedua remaja ini kan berangkat. Namun, demikian Hatma tertampak kesal dan mengigit bibir sembari mengerutkan keningnya.

__ADS_1


***


Reza menopang Hatma yang sampai disisinya, dia tampak begitu pucat selepas melakukan hal gila. Adik-kakak ini pun saling pandang, keduanya tampak memahami situasi masing-masing dan bermaksud akan angkat kaki. Namun, Alpa bukan ingin kabur tanpa hasil, melainkan ingin mereka mati.


[Panggil: Danawa Adiraja]


Pertarungan antar raksasa pun dimulai. Serupa pertikaian antara raja dan pangeran, masing-masing dari mereka memiliki mahkota serta benda lainnya, yang hanya membedakan secara keseluruhan hanya Adipurna melindungi intinya. Sedangkan Adiraja tak memiliki pelat dada pelindung sepertinya.


Menjadikan dadanya sebagai sasaran empuk dan berbahaya. Adiraja terfokus untuk bertahan, selalu mundur ke belakang dan pukul. Sementara Adipurna berkebalikan dengannya, yaitu menyerang tanpa berpikir panjang dan tak menghiraukan pertahanan.


"Woi. Kalo gini terus raksasa punya lu kalah loh bentar lagi," kata Reza memperingati Hatma.


"Kabur sekarang?"


"Walaupun kagak rela, kita mundur dulu aja dan tingkatkan kekuatan!"


"Sudah seperti cerita umum pahlawan yang terpukul oleh kekuatan musuh saja.."


"Terus? Lu mau gimana lagi!" Kata Reza sembari menjitak kepala Hatma. Hatma mencuaikan ucapan Reza dan memerintahkan Adiraja untuk tetap bertahan, lalu pada momentum tepat memberikan titah untuk melakukan pukulan segenap tenaganya.


Adipurna melakukan pukulan keras yang berjaya membuat pundak Adiraja retak, melihat jika bagian kanan lawan ada celah, Hatma memerintahkan Adiraja melakukan pukulan berkekuatan penuh dan bertepatan memberikan jantur kepada Adiraja.


[Jantur: Penguatan Kekuatan 100x]


[Target: Danawa Adiraja]


"Elu bener-bener baik?" Tanya Reza. Reza yang tidak mendapat tanggapan menjitaknya lagi dan mengulang, "kau baik-baik aja? Hatma!"


"Ah, tentu Hatma baik-baik saja. Tapi bohong," balas Hatma tersenyum hampa.


Tinju telak mengenai tubuh Danawa Adipurna. Buat retakan pada sekujur tubuhnya, bertepatan sesudah Adiraja mundur ke belakang, Hatma melemparkan Cenangkas Pawana dan Reza memelesatkan sebuah bola api. Kedua serangan itu bersamaan membunuh Danawa Adipurna yang intinya hancur.

__ADS_1


Alpa berdecak kesal. Dia bermaksud akan melarikan diri. Namun, Hatma menggunakan sihir pengikat tanpa mantra dan pengaktifan. Akibat dari membuka pembatas, beberapa sihir mampu digunakan olehnya tanpa pelafalan, memberi sedikit kemudahan dalam pertarungan. Biarpun akan memakan banyak energi.


"Kau tidak akan dapat bergerak. Menyerah saja dan biarkan Reza membunuhmu, kakak."


"Gw udah nggak sabar menyiksa..." Reza menjeda ucapan sebelum berlanjut, "bentar dulu.. manusia itu abang elu?!"


"Kau nge-lag atau semacamnya."


"Jawab pertanyaan gw!" Kata Reza bernada agak tinggi. Biarpun begitu Hatma tampak enggan untuk memberikannya jawaban atas soal yang dilontarkan.


Hatma tidak menanggapi pertanyaan Reza, Reza yang tak memperoleh reaksi apapun menghela napas dan mendekati Alpa. Setiap langkah kakinya melelehkan benda-benda disekelilingnya, memicu Alpa agak ketakutan, saat tiap detiknya Reza datang.


Perlahan-lahan api yang menyelimuti pergelangan tangannya meruak ke sekujur tubuh. Dia dihadapan Alpa bermaksud hendak menyerang. Namun, seseorang datang dan menyergapnya memakai tendangan, refleks Reza mempertahankan dirinya.


"Cih.. tidak jatuh," ucap penyerang.


"Lu siapa?" Tanya Reza.


"Saya? Perkenalkan namaku Kausa, sang anti-hero di kisah kalian berdua!"


"Banyak bacot sekali," kata Hatma memasuki obrolan dengan serangan tiba-tiba. Dia menerjang musuh, kemudian mengayunkan tangannya menghasilkan aliran angin yang melingkar membentuk pisau melengkung, serangan dapat mengiris lawan secara instan, tapi lawan menghindarinya dengan mudah.


Belum sempat Kausa menginjak bumi, Hatma cepat bergerak bagaikan angin dan menghunuskan sebuah belati agak panjang. Dia menebas terus menerus dalam lintasan pedang lurus, dengan angin ribut yang berpusar dan bergerak cepat mengelilingi suatu pusat, yakni ujung belati di tangan Hatma.


"Dia pandai menggunakan sihir dan mengontrolnya sesuka hati, bahkan memusatkan sihir yang harusnya memiliki jangkauan luas menjadi sebesar ujung pisau.." batin Kausa saat menghindari serangannya.


"Apa tujuan kalian. Mengapa kalian melakukan kejahatan?!"


"Justru sepantasnya, aku yang bertanya, mengapa kamu menuruti perintah bongkahan mirah hanya karena hadiah? Jawablah pertanyaan dariku dahulu."


"Sialan!" Teriak Hatma menjejak tanah dan memukul udara menghasilkan suara angin berhembus. Lalu Cenangkas Pawana berterbangan mencabik-cabik Kausa, tapi Kausa dapat menahan serangan Hatma.

__ADS_1


"Kita nantikan saja.. diakhir, kamu kan menjadi rekan kami atau sebaliknya.." ucap Kausa.


Kausa menjentikkan jarinya. Dia bersama Alpa mulai dilahap cahaya ungu, mereka meredup hilang diudara serupa penghapus melenyapkan bekas pena, melihat itu Hatma bersicepat menggunakan Bolide. Namun, dia terlambat karena mereka keburu lenyap meredup, membuat Hatma merasa kesal.


__ADS_2