Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
12


__ADS_3

Hatma nyaris celaka. Namun, Reza datang tepat pada waktunya melenyapkan seluruh serangan yang mengarah padanya memakai api biru. Mereka saling menjejak tanah. Satu dorongan menciptakan angin beserta debu-debu berterbangan, menghasilkan satu dari para Rablis menyeringai dan masuk ke tengah.


[Skill: Pawana Kencang]


Semasa Reza sibuk dengan Rablis tingkat tinggi, Hatma berupaya untuk menyingkirkan semua Rablis tingkat rendah terlebih dahulu. Kekuatan mereka tak sebanding, tapi jumlahnya pula tak bisa dianggap remeh. Meskipun satu goresan pedang mereka mati Hatma pikir akan merepotkan bila berkelanjutan.


"Cih. Hatma mau tidak mau harus menggunakan kartu truf.." ucapnya.


"Ha! Dari tadi dong goblo--!"


"Diamlah bebal. Cepat lindungi Hatma satu menit dan menyingkir setelah diberi tanda," perintahnya.


Reza berpindah ke hadapannya. Selagi Hatma kini menutup kelopak mata, sembari memfokuskan perhatian pada satu sihir. Dia membaca pemaparan beserta penggambaran mengenai sihir, sihir yang dilepaskannya bisa melenyapkan semua mahkluk, asalkan mencakup jangkauan.


Hatma mengulurkan tangan. Muncul sebuah titik putih dengan uap meluap-luap, angin yang awalnya tidak terlihat. Kini menampakkan wujudnya dengan debu-debu melayang, membentuk sekumpulan pisau kecil yang perlahan-lahan mulai berputar.


Waktu proses sebelum Hatma menyelesaikan sihir ini, suara decitan keras beserta suara serupa kisikan seseorang melatarbelakangi suasana tersebut. Bahkan Reza tidak fokus saat melindungi Hatma, dia terus meleset saat memukul musuhnya.


"Lekaslah mengirat selepas menggubris kisikan si prahara sang pengundang maut.." ucap Hatma melantunkan mantra.


[Sihir: Prahara Pengundang Mair]


"Menyingkir!" Teriak Hatma menjejak bumi dengan tekanan yang amat luar biasa. Seusai Reza menjauh dari tempat tersebut, Hatma melemparkan sekumpulan pisau-angin yang kini membentuk bola menuju angkasa segenap tenaganya.


Tiba-tiba saja bola itu meruak melemparkan begitu banyak pisau, layaknya hujan deras menggempur Rablis yang tengah bermaksud akan menyerangnya, justru saat berdekatan dengan pengguna sihir ini pasti kan diberi undangan maut.


"Napa kagak dari tadi aj--!" Tanya Reza.


"Sungguh menyedihkan. Kau memberhentikan kata-katamu saat melihat tangan Hatma.." balasnya.


"T-Tangan lu Kenapa? Woi!"


"Hmph dek, asal lo tau ya.. kau juga akan begini jika melempar ratusan pisau angin yang memutari tangan.." jawab Hatma sambil tersenyum bertepatan keringat mencicik dari dahinya.


Tangan kanannya dipenuhi darah segar. Bekas luka cakar hewan memenuhi pergelangan, akibatnya Hatma sangat kesakitan dan kelelahan. Dia sekarang memburu napas menikmati rasa sakit, dengan satu tindakan yang pasti akan membuat lengan hancur.

__ADS_1


Waktu Hatma berusaha menahan rintihan rasa sakit, tiba-tiba seekor Rablis berwujud kelelawar muncul dan menyerang tangannya. Mata Hatma membelalak tersentak kaget menjumpai lengannya putus, cepat saja Hatma langsung berteriak-teriak. Dia menekan lengannya dengan tangan yang lain.


"Si anjing!" Reza menendang mahkluk yang terbang mencari makan pada malam hari tersebut.


"Itu kelelawar!" Teriak Hatma.


"Napa lu ngomong nggak jelas, lu lagi kesakitan, kan?!" Jawab Reza sambil memukul udara mencipta Bolide biru membakar semua Rablis kecil yang bisa terbang. Dia semasih belum yakin, mengapa Hatma dapat luka yang sangat parah.


[Sihir: Penyembuhan]


Cahaya hijau sekarang lagi memutari bahu Hatma dan mulai menumbuhkan tangannya kembali, serupa tanaman yang tengah berkembang. Reza pun bahkan tersentak kaget ketika melihatnya. Selagi Hatma menyembuhkan diri, Reza melihat sekumpulan para Rablis yang tercabik-cabik di hujan pedang-angin.


"Ugh!"


"Udah selesai?" Tanya Reza.


"Belum bebal! Kau tidak melihat Hatma sedang apa hah?" Sahut Hatma seraya menahan sakit.


Reza berdecak kesal. Dia merasakan kehadiran dari manusia yang dibencinya, segera saja remaja ini menarik napas dan berpose seakan bermaksud siap siaga mencegah sesuatu hal. Justru kewaspadaan Reza terhadap yang akan datang salah.


"H-Hatma?"


[Sahir Perusak ditemukan!]


Hatma menyeringai lebar. Dia menuju tumpukkan mayat Rablis, matanya mengerling ke satu bangunan tua dan menunjuknya. Hatma seakan-akan sedang mengucapkan sesuatu. Namun, Reza sama sekali tidak dapat mendengar lisan tutur katanya.


Perlahan-lahan Hatma terjatuh dan terkapar di tanah seperti kelelahan. Hendak Reza melihat keadaan anak remaja ini, sebuah cahaya keluar dari dadanya dan sebuah batu permata merah muncul dari balik cahaya tersebut buat Reza terkesiap kaget.


"Biarkan hamba yang menjaga tuan. Anda silakan pergi menemui sang Sahir Perusak, selaku pembawa kemalasan Alpa.." kata Hatma dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan seperti layaknya perempuan.


"Alpa? Mahkluk itu ..." Gumam Reza menggeram.


Reza masuk ke dalam bangunan semacam gudang dan menemukan Rablis, dengan sekali bogem mentah berhasil menumbangkannya. Sementara itu suara tertawa seseorang menggema, lirikan Reza pun bersicepat mendapati seseorang, bertepatan waktu pemandangan mengerikan terjadi.


Seorang pria membentuk tubuh abnormal. Daging di sekujur tubuhnya mengembang, layaknya roti yang mengembang dalam oven. Tak lama kemudian usai pemandangan itu, tubuhnya meledak serupa balon, buat tawa orang itu terhenti. Sedangkan Reza diam.

__ADS_1


"Baajingaan!!"


Manik mata kiri Reza melebar. Seusainya muncul sebuah mata lain di bawah mata kirinya, disusul tangannya menampakkan begitu banyak perubahan dan keluarlah cakar dari kantong jari-jarinya. Dengan api biru menyelimuti setengah tubuhnya.


"Oh Eja. Ngapain kamu disini?"


"Sialan. Lo bakal gue bunuh di sini, sekarang jugaa!!"


"Napa kamu marah gitu? Padahal nyokap lu itu beban elu doang.." ucap seseorang berjubah dengan ringannya memicu amarah Reza.


Reza mendorong diri memakai kecepatan tinggi memelesatkan tubuh. Alpa menaikkan pandangan, tangannya menangkap leher Reza dan mencampakkan dirinya ke lantai. Menggunakan mata sinis menentang Reza, Alpa menarik sesuatu dari lingkaran yang muncul disisinya.


"Lihat.. ini jantung ibumu loh."


"...!"


"Haha. Alpa suka banget sama ekspresi wajahmu itu yang dijumpai keputusasaan," ujarnya.


Meskipun demikian Reza yang tenggelam dalam kemarahan, api biru bertukar menjadi putih buat Alpa terkejut dan mundur. Dia menukarkan senyum sinis dengan muka cemberut. Menemukan ciptaannya itu hampir melampaui si penciptanya sendiri.


"Cih. Sungguh mengesalkan banget!" Keluhnya Alpa dengan nada setengah membentak.


Sementara mereka tengah berkelahi Hatma yang pingsan akibat melebihi batas, mulai terbangun dan membuka kelopak matanya perlahan-lahan terbuka layaknya bunga. Dia bergegas bangkit walaupun dia masih merasai nyeri. Menyusul Reza masuk ke dalam gudang, menjumpainya sedang mengamuk.


"Kau jadi tidak berguna jika ada yang melawan para antek-antek milikmu.." ucap Hatma pada seseorang.


"Kau.." Alpa menjeda sebelum berlanjut, "ah adikku tersayang lagi ngapain di sini?"


"Hatma merasakan kesan serta pengalaman yang sama saat menggunakan skill penyembuhan, dulu, apa kau menggunakannya padaku?"


"Kalau iya, kenapa? Darah adik itu istimewa. Tidak seperti ibu atau ayah.. kita bisa mengatur duni--"


Hatma menghunuskan pedang dan berpindah ke depan muka kakaknya. Tanpa secuil pun perasaan keraguan, dia mengayunkan pedang, memberikan Alpa luka gores. Membuat kakaknya ini mundur ke belakang dengan cukup waspada.


Hatma menoleh pada Reza, Reza yang kini dilahap amarah sedang membunuh para Rablis. Melihat proses perubahan manusia menjadi Rablis, dia pasti merasa terguncang, pikir Hatma. Walaupun demikian dia sedikit salah mengenai sebab Reza menjadi murka.

__ADS_1


__ADS_2