Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
38


__ADS_3

Hatma menyaksikan muka rupawan gadis berambut perak ini kucam selayaknya tidak pernah diurus. Dia kebingungan, perubahan Silvi patut tuk mengagetkan Hatma, mata sayu dengan bibir kering dan Silvi meruyupkan kedua kelopak matanya begitu Hatma melihatnya. Bagaikan bunga dengan daun yang alun.


"Apa yang terjadi?" Hatma mendekatinya. Bersicepat Silvi menyembunyikan sesuatu benda semacam botol kaca agak besar yang di belakang punggung.


"Nggak..." Silvi menggelengkan kepala, "nggak.. aku.. nggak apa-apa.. kok.."


"Apa kau tengah berbohong?" Hatma menatap tajam memberi kontak mata pada Silvi. Tak membutuhkan waktu lama gadis ini menggosok-gosok mukanya, dia berupaya untuk menghilangkan wajah pucatnya.


Cahaya memasuki ruangan yang bersekat dinding ini dari celah pintu ketika tersingkap, dua orang tengah mengintip dari luar. Silvi buru-buru menyeka keringat dan mengayunkan kedua kaki. Dia tergesa-gesa pergi melewati pintu kamar, justru, tiba-tiba Hatma memegang pergelangan tangan dengan sangat kuat.


Hatma sudah melihat botol sebelumnya, berisi cairan kental merah mirip darah. Awalnua Hatma kira ini minuman keras. Tetapi usai mencium aromanya, malah tercium bau amis, bahkan Hatma rasa cukup sedikit familiar, dengan sekali mengendusnya saja.


"Apa kau meminum darah?" Tanya Hatma. Sewaktu pertanyaan terlontar, sontak Silvi gemetar takut, seolah dia baru melakukan kejahatan terhadapnya.


"Nggak," lirih Silvi. Begitu Hatma mengulang-ulang pertanyaannya hanya anggukan yang menyahut pertanyaan berkali-kali terkesan seperti kecaman itu.


"Bukan vampir. Aku bukan ras kayak... minum darah orang yang dicintai itu bodoh.." lirihnya Silvi memberi jawaban secara tidak langsung. Hatma mendekatkan jarak diantara muka mereka, membuat perempuan ini sangat kebingungan dan merasai malu luar biasa.


[Sihir: Jarahan Memori]


[Sihir: Pengendali Pikiran]


Hatma mengecup pipi Silvi sembari menyibukkan ia untuk tidak merasai sakit. Dia tidak membuatnya mengirimkan sinyal rasa sakit, melainkan membuat Silvi semakin terlelap dalam rangkulannya, sembari Hatma menyelami isi pikirannya dengan paksa dan sekaligus mengabulkan salah satu dari impian Silvi.


Dalam mencari isi pikiran. Hatma menyadari jikalau banyak memori yang tidak dapat dijarah, serupa penghalang kuat, pada saat menyelami pikiran Silvi lebih dalam terdapat percakapan dengan salah satu anggota Sahir Perusak. Silvi dan Darma bercakap-cakap tentang bagaimana kemampuan musuhnya.


"Yang tidak lain ialah Hatma, bukan? Dan kekonyolan apa mencoba merebut ingatan seseorang yang memiliki pengaruh tugas hidup dariku. Ahahahaha!"

__ADS_1


"Apa yang lu bicarakan. Jangan mengatai Hatma-ku dengan kata-kata, apalagi konyol."


"Ahaha. Maafkan aku.. aku prediksi dia bakalan buat kamu semakin menyukainya dan merebut ingatan."


"Mengesalkan!" Batin Hatma melepaskan rangkulan dan menjauhkan muka Silvi darinya. Seakan-akan Darma di ingatan Silvi mengetahui tindakannya saat ini dan menyindir Hatma secara tidak langsung.


Sesudah itu Hatma mengajak Silvi pergi dengannya tanpa dibarengi oleh Reza dan Mirah. Semasih belum Hatma menggunakan Teleport, Mirah tampak menampilkan muka mencemooh pada Silvi, sembari mengeratkan genggaman tangan seakan-akan kesal.


Cahaya menelan sekujur tubuh mereka sebelum Silvi dan Hatma berpindah tempat. Penglihatan mereka segera bertukar kesilauan sekejap, lalu, berubah jadi pemandangan hutan belantara. Silvi awalnya sedikit keheranan, tapi sesudah Hatma menunjukkan suatu tempat, muka gadis ini cukup trkaget setengah mati.


Seperti dugaan Silvi, Hatma berjalan menuju tempat itu dimana keluarganya mengubur benda itu. Hingga membuat gadis ini cukup kaget dan bertanya-tanya, darimana Hatma tahu rahasia yang telah terbungkam rapat oleh keluarganya? Dikarenakan lokasi benda itu tidak bisa diucapkan layaknya kutukan keluarganya.


"Darimana kamu tahu?" Silvi menelan ludah sebelum dia berlanjut bercakap, "kalo salah satu keluarga aku ada yang mengatakan lokasinya maka bakalan mati."


"Kau mengucapkannya secara tak langsung dengan Hatma lewat pikiran," jawab Hatma akan soalannya.


Hatma mengambil sekop dari penyimpanan, segera dia menggali tanah, usai menggali cukup dalam Hatma terhenti usai menjumpai sebuah kotak kayu dan membawanya keluar. Sementara dia bergeming tanpa sedikitpun gerakan bahkan sejari sekalipun.


"Tunggul Khuras. Jelaskan apa itu secara mendetail mengenai guci ini?" Hatma mengambil pedang membuka peti secara paksa dengan senjatanya itu.


Layaknya sebuah pohon, diharapkan pangkalnya kan tetap hidup maupun tumbuh balik menjadi pohon dewasa, harapan keluarga Silvi. Bertahun-tahun ayah dan anak dari pertamakali memiliki kutukan tugas kehidupan, mereka diam-diam mengubur guci berisi harta kekayaan dan harapan bila satu saja keturunan mereka dapat lepas dari rantai mengekang Darma.


Namun, pada akhirnya, Silvi tahu bahwa hal tersebut mustahil. Menguras tenaga untuk melepaskan diri atau meloloskan diri dari cengkraman cakar harimau, biarpun dia memiliki senjata. Apalagi dia seseorang gadis kecil yang depresi hanya karena cinta belaka.


"Mustahil ..." Silvi menunduk dengan suara pelan yang nyaris tidak terdengar.


"Apakah kau tidak ingin membuatku menjadi suami di masa yang akan datang?" Tanya Hatma menoleh tajam mata Silvi. Selagi gadis ini hanya mengangguk-angguk menginginkan tanpa berharap.

__ADS_1


Tugas hidup atau kewajiban hidup memiliki arti atau pandangan yang berbeda pada setiap keluarga. Salah satunya, Silvi, Hatma tahu ini selayaknya Silvi yang sebagai keturunan di keluarga itu ialah boneka hidup yang bisa digunakan semau-maunya si Darma.


Hatma kehilangan akal sebentar, tapi sesudah dirinya berpikir agak lama dia berniat untuk membuka mulut dan berkomentar. Namun, kedatangan seekor Rablis yang tidak terduga membuat Hatma bersicepat mundur menjauh dri tempat gadis yang bersamanya.


"Darimana mereka muncul.." Hatma berdecak kesal dan berkata, "pasti ulah darma!"


[Sihir: Bolide]


[Sihir: Cenangkas Pawana]


Rablis ini masuk ke tingkatan rendah, dengan Bolide dan Cenangkas Pawana membakar, lalu mencabik-cabik tubuhnya saja sudah membuat Rablis hancur seketika. Begitu Hatma melangkah menuju tempat Silvi, tiba-tiba gadis menggelengkan kepala, disertai munculnya cahaya seperti Teleport di belakangnya.


"Ap--!"


Hatma kaget bahwa begitu banyak cahaya proses dari sihir Teleport memunculkan puluhan Rablis sekaligus, Hatma tidak melihat tingkat atas, namun tetap saja jumlahnya tidak sedikit. Bahkan sekarang sudah melebihi seratus lebih setelah melihat teliti.


"Jangan pergi sebelum Hatma memukulmu!" Teriak Hatma menyentak pedang dari sarungnya. Dia terpelesat dengan kecepatan menyilaukan sewaktu Silvi tengah diselimuti oleh cahaya teleport.


"Hamba meminta Sangkala melaun-laun jarum jam waktu. Sangkala Laun.."


[Jantur: Sangkala Laun]


Hatma menebas dan menghindari setiap tumbukan Rablis setiap melewati mereka, tetapi karena banyaknya musuh, Hatma tidak selalu mampu untuk menghindari setiap pukulan serta cakaran. Memakai senjata yang dibalut dengan api biru, Hatma seakan-akan tengah menari ditengah segerombolan Rablis.


Saking banyak hingga mungkin Hatma menewaskan puluhan Rablis, bilah pedangnya patah, membuat dirinya jengkel dan menonaktifkan pembatas. Cepat dia memukul tanah membuat retakan serta dampak besar melemparkan mereka semua, lalu memberi jarak bagi Hatma untuk melancarkan serangannya.


Hatma meregangkan kedua tangan, dia menembak mereka semua dengan rentetan pengulangan Cenangkas Pawana hingga menciptakan badai kecil disekitar. Hal tersebut sangat tidak terlalu efektif, karena Rablis yang selamat, membuat mayat rekan mereka sebagai tameng perlindungan terhadap sihir Hatma.

__ADS_1


__ADS_2