Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
13


__ADS_3

Perihal malas seringkali melekat pada diri para remaja, tidak dengan kecuali. Mereka menyibukkan diri dengan menggeser layar handphone, sembari tersenyum memberi senyum pada layar ponsel yang semestinya benda mati. Meskipun ada beberapa memakainya untuk keperluan penting.


Mayoritas pengguna ponsel menggunakannya untuk bersenang-senang, pikir seorang remaja yang sedang merokok di tepi jalan. Matanya melekat pada sekumpulan anak sekolah unggulan, tidak seperti diri yang menimba ilmu di tempat bobrok.


"Napa mereka pada senang-senang? Padahal gue kesulitan buat sekolah.. malah disia-siain.." batinnya.


Dari siang hingga malam, anak laki-laki bekerja paruh waktu demi biaya sekolahnya dan pulang larut malam dengan sekotak martabak di tangan. Walau cuma sisa, Reza menyimpannya diatas meja dan melahap kudapan tersebut, tanpa keluh-mengeluh.


"Eja!" Seseorang memanggil nama panggilannya dan mengatakan, "elu udah pulang?"


"Mak, ngapain!" Bentak Reza menemukan ibunya dengan tangan berlumuran darah.


"Hahaha.. ibu kegores pisau," ucap ibunya dengan senyum kecut. "Bapakmu balik tadi pagi dan titipin seragam baru buat lu.." tambahnya.


"Udahlah mak, jangan tiru cara bicaraku.." keluh Reza seraya menutupi kedua mata. Dia mengambil plester luka dari laci sambil menghela napas.


Usai merekatkan plester menampal luka di jari-jari tangan ibunya, Reza masuk ke kamar dan menutup pintu. Matanya menjeling ke dinding, seragam sekolah SMA baru dari ayahnya, melihat pakaian itu dia tersenyum kecil menampakkan secuil bahagia.


Reza mencoba pakaian dari ayahnya. Selepas dicoba nyatanya agak kebesaran, menciptakan helaan napas keluar dari mulutnya. Dia tak peduli dan hanya mengabaikannya, dengan pemikiran nanti juga tubuh miliknya akan menjadi tumbuh lebih dari sekarang.


"Reezaa!!"


Reza yang lagi menikmati kegembiraan mendadak terperanjat kaget, mendengar teriakan ibunya memanggil namanya. Bersicepat Reza keluar dari kamar. Dia menuju kamar ibunya, menjumpai wanita yang telah melahirkannya duduk bersimpuh dengan keadaan menangis terisak-isak.


"Ayahmu pulang besok. Yes!"


"..."


"Akhirnya dia pulang. Ibu udah kang--"


"Kukira ada sesuatu yang ... Ah, sudahlah Reza mau tidur aja.." ucapnya mencuaikan cakap ibunya.


Ibu cemberut mendapati reaksi datar anaknya. Dia kembali ke biliknya, seusai menutup pintu melupakan ibunya, Reza pula sama gembira serupa laki-laki yang mendapatkan keinginannya. Remaja ini jatuh ke dalam kebahagiaan manis, atau mungkin akan bertukar rasa menjadi asam maupun pahit.


***


"Lu bakalan gue bunuh!"

__ADS_1


Alpa menghindari semburan api yang melelehkan benda-benda sekitaran. Hatma pun terkena dampak, meskipun dia menggunakan jubah tempur, panas api tidak memberi luka. Biarpun rasa nyeri menghambat dirinya, Hatma dengan berat hati mengangkat pedang dan melempar senjatanya ke langit tinggi.


[Skill: Pawana Kencang 10x]


Angin kencang yang sepuluh kali lipat lebih besar dari sebelumnya memporak-porandakan seluruh barang di gudang. Tidak dengan mengetahui maksud tindakan adiknya, Alpa berupaya memanggil antek-antek miliknya, walaupun dia kelihatan enggan melakukan pemanggilan Rablis.


"Kakak. Adikmu datang," ucapnya memberi sebuah senyuman tipis kecil.


[Jantur: Keakasan]


Hatma menggunakan kecepatan yang tinggi, buat Alpa terkejut dan menghindar. Tetapi sebuah motor yang lagi melayang menabrak dirinya di udara. Alpa pun tau alasan tindakan adiknya ini, dia semakin mahir menggunakan sihir dan mengontrol Pawana kencang setiap dia bergerak.


Alpa memegang sebuah cambuk. Dia mencambuk lantai sembari meneriakkan kata. Namun, tiada suara yang melontar keluar dari mulutnya dan sikapnya barusan tidak hanya kosong. Melainkan satu Golem atau sekumpulan batu yang membentuk perawakan manusia raksasa dengan kristal biru di dada.


"Reza?"


"Gue bakalan lawan kakak lu," ucapnya dingin.


"Kenapa? Padahal tadi kau kelihatan sangat susah banget mengalahkan Alpa."


"Manusia batu itu tidak akan mempan terhadap serangan api."


Alpa telah memanggil tiga Golem kemari. Selagi Hatma sedang berpikir, Reza menerjang masuk pada jangkauan musuh dan berhasil menghindari serangkaian serangan. Entah berupa lemparan batu ataupun pukulan, semua serbuan Golem sia-sia.


Hatma mengalihkan pandangannya pada bilah pedang. Dia menghela napas dan memasukan balik pedangnya pada sarung, semasih sudah dia sekarang memasangkan keling pada kedua tangan dan menunggu Reza sampai depan muka si alpa.


[Jantur: Pertahanan Mutlak 10x]


[Jantur: Netra Elang]


[Jantur: Keakasan]


[Jantur: Sangkala Laun]


Jantur Keakasan bisa membuat pengguna bergerak dengan gesit, bahkan tergantung siapa pemakai, jantur ini dapat melihat serangan berikutnya dari lawan, seakan-akan memprediksi langkah serangan musuh. Sedangkan Sangkala Laun mampu memberi pemakai kesakitan luar biasa, jika gagal.


Sebabnya bila ketika Sangkala Laun diaktifkan, sang pengguna memiliki sedikit otoritas agar kuasa melaun-laun waktu. Sehingga jika pemakai gagal menggunakannya, pengguna akan merasakan tubuh miliknya seperti diremas-remas.

__ADS_1


"Fiuh. Hatma bisa menggunakan jantur ini dengan baik," batinnya melepaskan kelegaan.


Meskipun waktu sedikit melambat, bagi Alpa yang bisa merasakannya bukanlah hal spesial, tetapi merugikan dirinya selaku musuh pengguna. Membuat raut mukanya kesal, dengan dahi mengerut melukiskan kekesalan hatinya.


"Hatma.. adikku, kakak ingatkan sesuatu sebelum tuan dari kita mengambil alih.."


"Apa maksudmu?"


"Batu permata yang jadi sumber kekuatan kita, Mirah Perusak dan Bengis. Ialah wujud dari..."


[Skill: Bolide]


Semasih belum Alpa menyelesaikan ucapannya, dia terlelap dalam tidur sementara tubuhnya bergerak sendiri begitu Hatma melemparkan Bolide kepada dirinya. Dia menghindari serangan dengan mulus, biarpun gempuran bola api yang memelesat cepat, Alpa mampu menangkis dan menghindar.


"Apatah guna, engkau manusia mencabut nyawa segala khalayak yang menyungkum daratan pertiwi selaku asma sang pencipta.."


"Apa yang diucapkannya, apa itu mantra?"


"Bersicepat lah engkau mendelik tatkala masih sempat terlindung. Singgahlah puaka daratan ini!"


Tiba-tiba sontak Hatma terdorong oleh angin yang tiba-tiba datang entah dari mana asalnya, satu hal yang pasti Hatma tahu ini pertanda buruk. Dia menoleh pada Reza, Reza yang sudah melenyapkan seluruh Rablis di tempat terengah-engah kelelahan.


Waktu kembali melihat Alpa, kakaknya. Dia sedang berlutut di hadapan mahkluk hitam dengan titik cahaya merah kehitam-hitaman. Asap-asap yang keluar dari sekujur tubuhnya, membuat napas Hatma tidak beraturan dan pikirannya semakin kacau.


[Peringatan. Puaka penunggu tengah menargetkan Anda!]


[Permintaan untuk lari sesegera mungkin!]


Hatma tidak dapat melakukan perintah. Dia merasa bila selangkah saja kakinya terayun, maka mahkluk tersebut akan langsung menyerangnya. Selagi Hatma berpikir mahkluk itu mengulurkan tangannya, menarik setiap tetes darah dari para Rablis hasil dari pembasmian Reza sebelumnya.


Tidak hanya darah. Api yang membakar separuh tubuh Reza pun diserap, refleks menyaksikan hal itu Hatma melesat dan memukul Reza terpelanting jauh hingga membentur dinding gudang. Tidak hanya itu saja, Hatma mengulurkan tangan dan mengigit bibir tanpa kehendaknya sendiri, dia menggunakan skill.


[Skill: Pawana Kencang 3x]


Segera saja angin dari Hatma melemparkan Reza jauh dari gudang, membuat lubang seukuran tubuh manusia pada dinding.


"Celaka!"

__ADS_1


Hatma melirik ke samping. Mahkluk itu sekarang ini bersikap akan memukul, cept Hatma menghunuskan pedang dan menebas. Meskipun pergerakannya sangat cepat, mahkluk itu dapat menghindari ayunan berkekuatan penuh Hatma, membuat Hatma kaget terperanjat mendapati dia mengatasi serangannya.


Mahkluk hitam ini pun menyerang balik. Satu pukulan telak mendarat di wajah Hatma, Hatma pula terpental jauh-jauh dan terguling-guling hingga diri menabrak mobil truk. Kelopak matanya terbuka dan menampak gudang hancur akibat pukulan itu, begitu juga wajahnya yang nyaris remuk sebabnya.


__ADS_2