Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
37


__ADS_3

Kakak beradik ini saling melihat satu sama lain, pada beberapa saat, Rablis terpelesat cepat dan menerjang Hatma. Dia menebaskan pedangnya, lalu memenggal Rablis sekali ayunan pedang, meskipun begitu Rablis langsung menumbuhkan kepala baru dan memberi tendangan telak dengan muka Hatma.


"Mengesalkan!" Hatma menancapkan pedang pada tanah. Dia memegang tangkai memakai kedua tangannya sembari menatap kedua lawan tersebut.


[Jantur: Penguatan Kekuatan]


[Jantur: Ketahanan Senjata]


[Jantur: Netra Elang]


[Skill: Napas Api]


Usai yakin Alpa takkan menyerang jikalau bawahan tidak mati, Hatma menghirup udara lebih banyak, pipinya kini mengembung. Dia menyemburkan angin panas kepada Rablis. Musuhnya hanya menerimakan serangan panas, walau badan terbakar, ia tertampak cukup tenang terkesan seolah merendahkan Hatma.


Panas udara tidak mempan terhadapnya, disebabkan kemampuan regenerasi tinggi. Hatma pun tidak terpikirkan hal lain, selain rentetan serangan untuk melawan musuh seperti Rablis kali ini. Apalagi waktu sebelum jadi Rablis dia seperti sedia dijadikan iblis sekalipun oleh Alpa tanpa sedikit perlawanan.


"Apa ini hanya perasaanku saja? Rablis ini semakin kuat!" Hatma beradu senjata. Dentingan antara pedang dan pisau terdengar dengan tempo cepat.


"Lindungilah tuanmu.. mengayomi tuanmu.. berkat serata jahat dan kebajikan, sahutlah seruan tuanmu, Puaka Naungan!"


[Panggil: Puaka Naungan]


Mahkluk putih berperawakan manusia tinggi muncul dan menendang Rablis, sorot mata merah milik Puaka memancarkan intimidasi bertepatan sekujur tubuhnya mengeluarkan aura mengerikan. Pada saat yang sama Alpa pun memanggil Puaka Penunggu, itu sebuah langkah yang tepat, pikirnya Hatma jikalau dirinya berada diposisi kakaknya.


Kedua Puaka saling bertarung satu sama lain, dalam keadaan terdesak, Hatma bermaksud memasukan mereka ke dalam Gapura Loka. Namun, Alpa tampak takkan bisa membiarkan hal tersebut terjadi, biarpun harus mengalami luka berat Hatma tak cukup peduli membiarkan warga tak salah tewas akibat ulah Alpa.

__ADS_1


"Gusti pangeran. Abdi lekas bertandang terhadap mahligai istana paduka.."


[Panggil: Gapura Loka]


Waktu memikirkan cara untuk Alpa membuka mulut, bertepatan Gapura Loka terbentuk, dia merasa akan sulit membuat kakaknya membocorkan informasi begitu saja. Maka cepat Hatma merendahkan posisi dengan pedang sejajar dengan kaki kanan, kaki kiri maju sedikit lebih depan, memperlihatkan Kuda-kuda yang sulit ditembus bila lawannya ialah Sahir.


Bagi orang biasa posisi yang dilakukannya terlihat cuman sebuah teknik atau gaya pedang biasa, namun Alpa langsung menyadari, jikalau dia maju menerjang maka pasti akan tercabik-cabik. Hingga dia memutuskan untuk mengirim Rablis bertujuan mematahkan serangan adiknya tersebut.


"Konyol sekali," ujar Hatma. Dia menggerakkan seinci pedangnya memotong leher Rablis tanpa suara.


Alpa mengetahui bahwa mengirim Rablis suatu hal konyol untuk melawan Hatma, saat ini, Hatma berada dalam kondisi dimana ia mengalahkan Puaka dengan cepat. Terlebih lagi sekarang ia berkembang tanpa henti sehingga Alpa kesulitan untuk melawan.


Hatma menghembuskan napas. Alpa mendadak saja tiba di sisi adiknya, tapi si kakak terkena tebasan, Hatma menggerakkan pedang ke atas dan memutar tangkai pedang membuat luka Alpa semakin fatal. Ia bersicepat memukul Hatma meski hal tersebut tidak memberikan kerusakan yang cukup besar.


"Ini kesempatan!" Batin Hatma. Dia mencekik Alpa dan membatin, "hamba meminta Sangkala melaun-laun jarum jam waktu. Sangkala Laun."


[Sihir: Jarahan Memori]


Alpa sedang memberontak berkeinginan lepas dari cengkeraman adiknya sendiri. Selama dia belum mendapat solusi, dia tidak berniat melepaskan Alpa, Hatma terus mencari-cari informasi dengan merebut serpihan-serpihan memori dari Alpa walau kakaknya ini sangat terlihat kesakitan saat memorinya direbut.


Jarahan Memori, satu sihir tanpa mantra, kegunaan seperti namanya memiliki kekuatan menjarah ingatan seseorang dan dikarenakan memori ingatan pada manusia bagaikan puzzle. Jikalau satu dicabut maka takkan ada memorinya, membuat korban dari sihir ini, akan kehilangan ingatan yang diambilnya.


Pada saat mencari informasi, Hatma terperanjat dan kaget menjumpai sebuah ingatan yang diambilnya, lalu membanting Alpa sekuat tenaga. Tanah sekitar mereka hancur terkena dampaknya. Sehingga Puaka Penunggu langsung mengabaikan Puaka Naungan, kemudian berniat membawa kabur tuannya, justru ia terhantam pukulan Hatma yang sudah diperkuat.


"Saatnya mengakhiri ini.." ujar Hatma menaruh geram pada nada bicaranya. Dia menendang Alpa beserta Puaka miliknya untuk masuk paksa ke Gapura Loka.

__ADS_1


Dia masuk ke dalam gapura loka, melewati gerbang yang menghubungkan dunia nyata ke dunia cermin, seketika itu juga Puaka langsung saling beradu jotos dan Alpa memandang lawannya. Hatma menghela napas, dia berposisi akan menyerang kembali, membuat Alpa berkeringat memperkuat pertahanan.


Hatma berlari maju lurus ke depan, dia mengayunkan pedang dengan gesit memberi dua tebasan dalam bentuk cakaran binatang dan bertepatan badai angin kecil menyebar, menyebabkan kehancuran besar pada cakupan di area kecil. Serangan tersebut tidak melukai Alpa secara fatal, tapi melukai dua kakinya.


"Ugh!"


Akibatnya Alpa kesusahan bergerak dan melangkah mundur, malah Hatma semakin maju, lalu merebut ingatan kakaknya kembali membuat dirinya menjerit keras merasai sakit. Sesudah hitungan menit, akhir dari pekikan kakaknya berhenti, Hatma melepaskan tangan dan mengigit bibir menemukan kebenaran.


"Puaka. Bawa tuanmu pergi," titah Alpa dengan suara pelan sembari merintih kesakitan.


Puaka hitam bergegas membawa Alpa kabur, ketika milik Hatma hendak mengejar, dia menghentikan dan menyuruhnya untuk pergi. Selagi Hatma tengah memikirkan langkah kedepannya, dia melompat keluar dari gapura Loka, menjumpai Reza di halaman kediamannya bersama Mirah lagi bermain ponsel.


Reza kemarin hari menjadi malas, karena dia diberi upah oleh Hatma dan sedikit malas-malasan, sehingga itu memberikan celah tuk kekuatan Rablis miliknya tidak terkendali. Biarpun dia berusaha untuk sekeras mungkin melepaskan kekuatan itu darinya, Hatma tak merasa yakin dia mampu melakukannya.


"Darimana elu? Ah, lupain aja.. main game yuk!" Ajak Reza menyodorkan kontroler game pada Hatma.


"Terima-kasih.." Hatma menerima. Dia duduk dengan Mirah serta Reza memainkan game bersama-sama, selagi ia berpikir keras, Reza dulunya bekerja sangat rajin bahkan tidak ada kata malas.


Pada ingatan kakaknya, Alpa mengambil kemalasan orang-orang yang memiliki hubungan dengan Reza, bisa saja dia mengambil kemalasan orang lain tetapi itu tidak akan berhasil karena tidak punya hubungan dengan Reza. Mengingat jikalau kekuatannya sudah mencapai batas benteng kesadaran manusianya.


Hatma hanya dapat untuk mengintai Reza, sebabnya dia tahu jikalau Reza bekerja seperti dulu tidak mengubah fakta bisa kapan saja dia berubah, lalu kehilangan akal manusianya. Maka Hatma bersimpul untuk membunuhnya jikalau dia sudah tak tertolong.


"Apakah Hatma bisa?" Batin lelaki ini melihat kedua orang ini tengah tertawa girang.


Bahkan Reza tidak melupakan Hatma, dia mengajak dirinya untuk tertawa membuat batin lelaki ini kehilangan akal pikiran. Sembari berjalan menuju ke kamar, dia menjumpai kamar Silvi tertutup rapat, dia membuka pintu memperoleh gadis itu duduk diam.

__ADS_1


Hatma menghela napas sambil menghampirinya, dia menepuk pundak Silvi, sontak gadis ini terperanjat kaget dan menyembunyikan wajahnya. Sedikit tanpa henti Silvi enggan dan memberontak ketika Hatma mencoba untuk melihat mukanya, justru seusai Silvi menampakkan wajah, Hatma bermuram seketika dia mundur beberapa langkah dengan waspada.


__ADS_2