Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
16


__ADS_3

"L-Lu salah paham! Gw kagak.."


Silvi membanting pintu. Dia kembali balik masuk ke dalam rumahnya dengan muka kesal. Selagi Reza kelihatan geli membayangkan imajinasi Silvi, Hatma melantunkan mantra sebelumnya, tiba-tiba dengan lambat kumpulan asap ungu bercampur biru muncul.


[Panggil: Gapura Loka]


Dia memalingkan muka ke belakang memperoleh Reza yang lagi tampak murung. Menyaksikan pemandangan ini, dengan paksaan Hatma menarik dia masuk melewati gapura besar dan menghilang lenyap seperti gambar meredup dalam vidio.


Mereka berpindah ke dunia sebelumnya. Dimana Hatma segera menemukan bongkahan batu bekas tubuh Danawa Adiraja, meskipun begitu tertampak wajah Hatma sedikit kaget, dia mendapati sebuah batu permata biru atau inti Golem.


"Oi Hatma. Gimana kalo kita nemuin musuh kayak kemaren lagi?" Tanya Reza.


"Kemaren Hatma sudah menemukan penjelasan mengenai mahkluk hitam itu.."


Puaka Penunggu memiliki sifat yang berbeda-beda tergantung pemanggil. Mereka bertugas melindungi daratan tempat mereka dilahirkan, kekuatan serta ketahanan Puaka Daratan tak dapat dianggap remeh, sebabnya mereka ialah entitas yang tidak dapat dilihat oleh manusia biasa maupun Sahir.


Mau bagaimanapun juga mereka mengambil bentuk yang bisa dilihat oleh Sahir, dikarenakan Puaka tak menguasai bahasa manusia entah dari segala penjuru dunia, tiada yang tahu lisannya beserta cara mereka berkomunikasi. Namun, Hatma tahu secara pasti jikalau mereka menggunakan tubuh palsu.


Para Golem yang dipanggil Alpa, dijadikan sebagai badannya dan karena itulah dia mampu dilihat oleh manusia. Puaka Daratan dan Puaka penunggu sangat berkebalikan, tugas atau darma mereka ialah menjaga wilayah, tetapi Puaka Penunggu hanya bisa diam di tempatnya layaknya penunggu.


Puaka Daratan mempunyai daratan yang dilindungi atau bisa disebut seluruh daratan dengan tanah yang luas, dengan nama lain pulau. Sementara Puaka Penunggu hanya melindungi bangunan atau kota, tempat dimana mereka dipanggil dan akan tetap tinggal hingga tubuhnya hancur.


"T-Terus yang kemaren Puaka Daratan atau Penunggu?"


"Penunggu. Dia menguasai kota ini, dari mantra Alpa sebelumnya.. artinya dia akan segera menyerang kita setelah mendekati gudang itu.."


"Kota? Satu kota dong, woi!"


"Artinya kita harus bisa membunuhnya dengan sihir jarak jauh.." ucap Hatma.


Mereka sekarang turun ke bawah melalui tangga kediaman Silvi. Benar-benar layaknya cermin, mereka tengah menginjakkan kaki di dunia yang meniru sempurna bumi. Melihat situasi kini Hatma tidak habis pikir lagi dan berniat membeli makanan mahal setelah menyelesaikan tugas.

__ADS_1


"Memberi hadiah pada diri seusai melakukan tugas berat itu cukup wajib bila ada uang.." gumamnya.


Kedua lelaki ini berjalan menelusuri kompas pelacak Rablis. Sembari melangkahkan kaki dia memahami Puaka Penunggu, kekuatannya cukup kuat, tapi tidak sepantasnya disebut entitas paling kuat. Tekanan maupun intimidasi darinya sungguh kuat, sampai dia kehilangan amarah beserta Reza dendamnya.


"Reza," panggil Hatma. Reza menoleh dan Hatma mengatakan, "pikirkan apapun yang membuatmu dendam pada Alpa dan jangan biarkan ketakutan menguasai pikiranmu."


"Gimana coba caranya? Gw dengernya aja kayak mustahil deh.." jawab Reza tersenyum masam.


"Kenapa nada bicaramu agak berubah?" Lirih Hatma seraya menutupi mata bertepatan saat mengerutkan kening dengan wajah dingin acuh tak acuhnya.


"Penuhi panggilan hamba. Singgahlah Puaka Penunggu!" Teriak seseorang.


"Goblo--! Ugh!" Sebelum menyelesaikan umpatannya dia terpukul oleh Puaka dan berteriak, "siiaalaan!"


"Kakak. Kau kenapa membohongi adikmu jika itu Puaka Daratan? Saat kemarin."


"Napa lu tersenyum?!" Ungkap Reza memukul Puaka hingga terpental jauh. Dalam mode Rablis, Reza tertampak marah disertai benci berupaya tidak tertelan ketakutan kembali layaknya kemarin hari.


Sementara Hatma dengan senyum riang gembira itu bergetar dekat ketakutan. Sesudah sadar bahwa dirinya berada disanding kengerian, ketimbang pergi Hatma mencoba merangkulnya lebih dekat, dia coba untuk memperoleh setitik kegelapan dalam cahaya.


"Apa yang lu lakukan, Hatma?" Tanya kakaknya menggeram marah.


"Untuk menghilangkan ketakutan. Kau musti dapat memahami ketakutan itu," ucap Hatma.


"Puaka Penunggu terlihat lebih lemah.." batin Alpa kelihatan sangat kehilangan akalnya.


[Panggil: Danawa Adiraja]


Mendadak Hatma memanggil raksasa batu. Segera Alpa mundur ke belakang, membuat kubah pelindung dan masuk ke dalamnya. Membuat Hatma menepuk raksasa, raksasa pun bergerak menuju alpa dan berupaya menghancurkan pelindung itu, meski dia merasa mustahil Danawa Adiraja melakukannya.


Hatma bersiul. Dia mengalihkan pandangan selagi Alpa berlindung, lelaki ini melemparkan pedang pada Reza, Reza menerima senjatanya dan menyentak tanah dengan kedua kakinya. Kedua tangannya terus mencengkram erat-erat pedang Hatma membakar bilah pedang itu dengan api.

__ADS_1


"Lima menit selesaikan!" Titah Hatma.


"Tiga menit lebih. Jangan remehin gw anjing!" Kata Reza memberikan senyum lebar.


Hatma melesat cepat bagaikan anak panah. Remaja ini menyepak kepala Puaka di udara, pada waktu yang tepat cahaya menelan tubuhnya, dia berpindah ke belakang Puaka dan menebaskan pedang. Goresan senjatanya pun tampak kecil tiada bekas.


Puaka berbalik badan dan melepaskan beberapa pukulan tempo satu detik, menggunakan Sangkala Laun dan mampu mengimbangi gerakan lawan, tetapi Hatma kesukaan mendapatkan kesempatan untuk menyerang balik dan hanya menghindar.


"Gw kembalikan nih pedang ke Hatma? Mereka kayak angin.. nggak keliatan!" Batin Reza.


"Lempar.."


"Hatma?"


"Lempar ke atas!" Teriak suara perempuan yang bergema dalam pikiran Reza.


Reza melakukan perintahnya. Segera setelah melihat pedangnya di langit, Hatma menusukkan pedang kirinya dan melakukan lompatan tinggi. Ia mencapai pedangnya, serangan Hatma diakhiri dengan dia mengikuti garis lurus pedangnya dan menebaskan pedang secara lencang pada targetnya.


Dia menguatkan kekuatan tangan segenap tenaga membelah musuh dari atas kepala. Namun, tak disangka bila Puaka ini menggunakan tameng bulat menangkis serangan Hatma. Hatma berdecak kesal memperoleh pemandangan ini.


[Jantur: Penguatan Kekuatan -0]


Kedua otot tangannya membesar memberi kekuatan gila. Sesudah ototnya serupa tangan petinju pro, Hatma menekan dan memadatkan tenaga pada satu tangan memicu tubuhnya bereaksi tidak normal. Dia mengeluarkan darah dari pelupuk mata dan mimisan bersamaan ketika dia mempertahankan serangan.


LENYAPLAH KAU HANTU GENTAYANGAN!


Setelah jeritan Hatma. Akhirnya benda itu terpecah menjadi dua bagian, membuat lima penonton ditempat kaget tidak main, pasalnya pedang pada genggaman Hatma patah. Sementara itu perisai bulat yang menyembulkan asap hitam hanya retak.


"B-Bagaimana mungkin ..." Lirih Hatma. Hatma yang kini dimakan amarah berlisan, "lekaslah menjaras balik pada kemalaman."


[Sihir: Pengikat]

__ADS_1


Tanpa peringatan rantai merah keluar dari tanah dan mengikat Puaka, Puaka ini langsung kesukaran hanya untuk menggerakkan jari sekalipun. Selagi itu Hatma berusaha bertumpu pada kedua kakinya, mata kirinya telah buta, sementara mata kanannya buram tidak dapat melihat dengan jelas.


Dia mencabut pedang yang tertancap pada tubuh Puaka dan menebaskan pedang berulang-ulang kali. Hatma sekarang belum kehilangan amarah, dendam miliknya ikut turut menopang tubuhnya tuk tetap bangkit dan bertarung. Walaupun ia sungguh berada diposisi kritis dengan banyak luka fatal.


__ADS_2