
"Woy bro! Kok lu kagak mampir ke tongkrongan akhir-akhir ini?" Kata temannya.
"Ahaha.. maafin gue, banyak kerjaan banget tau dan kali ini gue dapetin kerjaan tetap yang mudah tanpa ganggu kegiatan sekolah!" Jawabnya Reza tampak senang menanggapi pertanyaan temannya.
Selepas Silvi mengikuti dan berhasil mengejar mereka berdua. Hatma pun berjalan di samping Reza seperti biasa, tanpa menghilangkan secuil waspada sekalipun. Kebencian terhadapnya kian bertambah sesuai Hatma punya hubungan dengan Silvi beserta Reza yang memiliki nilai terbaik di kelas.
Hatma menghentikan langkahnya dan mengangkat tangan, menepuk pundak Reza dengan senyum tipis sembari mengangguk-anggukkan kepala. Silvi tak paham dan bermaksud akan bertanya, tetapi mereka meminta Silvi duluan, sementara mereka pergi ke tempat lain terlebih dahulu.
"A-Ah ya nggak apa-apa.." ucap Silvi melambai pelan melihat keduanya berlari memasuki gang kecil. Samar-samar terlihat Hatma memaut bilah besi nan tipis bertangkai yang memiliki api di ujungnya.
Silvi menghela napas dan melihat ke sekeliling, dia menyentak rantai muncul dari udara. Gadis ini menarget seorang preman, yang dulunya rekan kerja Reza, dia melemparkan rantai dan tali dari cincin api saling berkaitan menusuk pria tersebut di kejauhan.
Dengan tidak berbelas kasihan kepadanya, Silvi menarik pria itu hingga tubuhnya terseret ke jalanan dan tubuhnya mengembang sesudah api dari rantai melahap sekujur badannya. Tidak lama sesudahnya dia berada di hadapan Silvi, Rablis bangkit dan berlutut depan penciptanya.
"Pergi dan bunuh Reza, akan aku pinjamin kekuatan untuk sementara.." titah Silvi kepadanya.
***
"Reza, incar bagian belakang tubuhnya, Hatma akan mematahkan senjatanya.." titah Hatma kepadanya
Reza berlari menuju musuh. Rablis ini memakai kapak besar untuk menghantam tanah, membuatnya kesulitan bergerak karena guncangan. Biarpun Hatma menolong dari belakang, ia tahu jikalau rekan setimnya sedang memanfaatkan dirinya.
Hatma menarik anak panah, busur melontarkan anak panah memotong tangan Rablis. Walaupun demikian dia tetap terlihat menyerang, Reza menangkis serangan dan menyerang balik. Adu pukul pun mulai terjadi diantara keduanya hingga Rablis tumbang.
[Skill: Cenangkas Pawana]
"Jangan sia-siakan sihir Hatma. Bunuh ia dalam satu kali pukulan, jika tidak.. upahmu akan berkurang."
"Jangan kah asu!" Teriak Reza membelakangkan tangan sebelum api hitam menyelimuti buku tangan dan dia pukulkan pada lawan sekuat tenaganya.
Bertepatan ketika Pawana Cenangkas merobek-robek tubuhnya, Reza melakukan tinju yang membuat lawan terpental jauh hingga menabrak dinding. Walaupun separuh tubuhnya telah terbakar dia tetap berupaya bangkit, tapi Hatma dan Reza tak membiarkannya bangkit semudah membalik tangan.
__ADS_1
Hatma menyimpan pisau dekat pundak, semasih belum dia menjejak tanah sekuat mungkin, kemudian menyentak pisau seperti tengah mencabut senjatanya dari sarung. Senjatanya terpelesat bagai peluru dan menusuk kepala Rablis dengan brutal.
Belum cukup dengan kepalanya pecah. Rablis itu masih berusaha bangkit, melihat hal tersebut, Reza mengumpulkan kekuatan api di jari telunjuk dan ibu jari tangannya dan membidik lawan. Dia menjetikan jarinya menyampaikan angin panas menuju Rablis.
Angin panas itu membuat Rablis meleleh. Seperti biasa, kristal ungu pun jatuh sesudah kematiannya dan Reza tampak bermuram seketika mengenal wajahnya. Dia menarik napasnya dalam-dalam, lalu berpose layaknya orang merayakan kemenangan.
"WIND OF DESTRUCTION FIRE!"
"Reza, apa yang kau lakukan? Sungguh teramat amat aneh diluar nalar.." komentar Hatma menyaksikan remaja yang tengah menirukan gaya karakter di film.
"Elu juga baca kalimat aneh pas ngeluarin sihir yang kuat, kok! Lah itu apaan?" Tanya Reza balik bertanya.
"Itu mantra, jika tak Hatma ucapkan sihir takkan mau keluar.. itu sebuah keharusan, sementara dirimu?"
"Ini juga keharusan untuk menikmati masa-masa remaja laki-laki pubertas," kata Reza tersenyum lebar nan sombong sembari membusungkan dadanya seakan-akan tengah membanggakan suatu perihal.
Bermaksud akan pergi menuju sekolah, mendadak saja Hatma terpukul oleh seseorang dari kesan muka dan membuatnya terpental. Hatma segera menoleh ke belakang, matanya membelalak menjumpai Reza yang telah tertusuk, seekor Rablis dengan tombak es telah melubangi tubuhnya.
[Skill: Cenangkas Pawana]
[Jantur: Penyembuhan 10x]
Cahaya hijau yang awalnya beberapa, jumlahnya jadi puluhan mengitari bekas tusukan Rablis. Rablis itu semasih diam, tetapi jikalau mereka bergerak sedikit saja Hatma tahu bahwa dia akan menerjang. Buatnya tidak ada pilihan lain untuk kabur sekarang ini.
"Yang pertama keselamatan Reza," ucap Hatma.
Api keluar dari tanah. Menghapus mereka berdua dari pandangan, seperti kertas yang lenyap dilahap oleh api dalam beberapa saat. Mereka berpindah menuju kamar Hatma, Hatma diletakan pada kasur miliknya dan Reza tetap diberi sihir penyembuhan.
[Notifikasi: Rablis sebelumnya mengetahui tempat ini]
[Rablis sepertinya menunggu mangsanya keluar]
__ADS_1
Hatma menjeda penyembuhan, dia menyingkapkan sedikit tirai memperoleh Rablis lagi berdiri diluar pagar menunggu mereka keluar. Melihat hal tersebut saja, dia tahu bila Rablis ini bertingkat tinggi, sama sekali Hatma tidak menyadari keberadaannya sesaat sebelum Reza tertusuk senjatanya itu.
"Kau bisa bicara lebih serupa manusia sekarang," ujar Hatma melihat ke layar mengapung.
[Notifikasi: apakah Anda sedang mempertanyakan mengenai keberadaan saya?]
[Anda dapat menitah saya untuk bertarung pada situasi darurat. Namun, sekarang tidak ada yang bisa dikatakan darurat untuk Anda]
"Hatma senang kau bisa berkomunikasi," jawabnya.
Hatma melihat ke ranjang, bila Reza masih terlelap dalam tidurnya seusai diberikan penyembuhan, luka tusuk itu telah sembuh. Tapi tidak mengembalikan darah yang keluar. Menemukan kesulitan ini, Hatma menarik napas dalam-dalam dan menarik pedang.
Cahaya menelan tubuhnya. Hatma berpindah ke atas Rablis, seketika dia hendak menusuknya dari atas, lawan mendadak menciptakan tameng es besar. Dan serangan kejutan Hatma berlangsung sia-sia, Hatma pun hanya dapat berdecak kesal dan menentangnya.
"Kau lawan yang merepotkan. Apalagi..." Ucapannya terpotong semasa Rablis gencar melemparkan anak panah es ke arahnya.
[Sihir: penghalang]
[Sihir: pengikat]
[Saran: Anda jangan menggunakan sihir api maupun air, sebab itu akan tambah memperkuat Rablis]
[Sihir Pengikat tidak bertahan cukup lama. Sebab jiwa pada wadahnya sudah lenyap.]
"Pantas. Dipikir-pikir lagi, itu sihir yang mengikat sebuah jiwa.. Rablis yang tak memiliki jiwa.." ujaran kalimat Hatma terpotong kembali.
Penghalang yang melindunginya nyaris hancur saat suara kaca retak mulai terdengar. Dia berpindah ke tempat lain, Rablis pun mengejar Hatma yang berlari seraya berharap menjauhi Reza dan terus mengikuti dirinya, untuk menghabisinya di tempat luas.
"M-Monster!" Teriak seorang warga.
Tiba-tiba Hatma terkesiap kaget, dia menyadari jika orang lain mampu melihat wujud Rablis sehingga terjadinya keributan, ketika seorang pria ditusuk oleh Rablis itu. Hatma memasuki sebuah gedung berniat akan menggunakan sihir jarak jauh dari atas.
__ADS_1
"Disaat seperti ini lift penuh?" Batin Hatma kesal memperoleh keberuntungan tidak berpihak kepada dirinya saat ini.
"Maaf kak, tangga ini sedang dibersihkan. Kakak bisa menunggu lift luang, karena kami sedang membersihkan kamar di atas.." ucap seorang pekerja di hotel ini. Perkataannya membuat Hatma tak habis pikir lagi dengan serangkaian peristiwa.