
Reza mengubah posisi istirahat dengan terduduk atas ranjang. Dia menengok jendela, Hatma keluar rumah melewati itu, karena Reza cukup merasa malu membiarkan kawannya pergi sendirian dia menyusul Hatma walau kakinya tidak terlalu membebaskannya dirinya untuk berpindah tempat.
Dalam langkahnya Hatma sama sekali tidak melirik ke belakang semasa Reza mengikutinya. Bahkan ia kesulitan hanya untuk berteriak, sehingga Reza kini sudah mencapai batas, kedua matanya terpejam merasakan rasa sakit luar biasa dan dadanya sesak.
Secara perlahan-lahan dia memasuki bentuk Rablis yang terlihat lebih sempurna. Wujud manusianya terlihat dari setengah wajah yang masih punya rupa manusia, dia berusaha bertumpu pada kedua kaki, walau dia tidak sanggup dan justru terduduk lemas.
"Mengapa kau meniduri ranjangnya Hatma? Niatku cuma pengin tinggalin bau aku di sana, tapi, lupakan saja dan cepatlah jadi pelayanku.." ujar Silvi tiba-tiba datang entah dari mana asalnya.
"Silvi?" Belum sempat Reza menyudahkan perkataan Silvi menendang dia hingga terpental cukup jauh. Dia yang menjumpai tindakan aneh Silvi tercengang, yang lebih membuat Reza sulit mencerna situasi ini, kenapa Silvi tidak heran atau ketakutan. Apalagi dia sudah melihat wujud maupun bentuk Rablis miliknya.
Reza lekas menerbitkan ingatan mengenai gapura yang muncul jika didekat Silvi. Dia bangkit, ketika menimbang-nimbang keputusan Reza merasa sudah tak diperlukan. Segenap tenaga dia meluap-luapkan panas di sekujur tubuhnya hingga udara di sekitarnya ikut terkena dampaknya.
"Mengubah manusia jadi Rablis mudah. Tapi, jikalau mengubah Rablis ke Rablis Tua akan sulit.."
"Gw kayaknya lebih suka kali disebut Hing Rablis."
"Lu terlalu banyak nonton film, bangsat!" Jawab Silvi menanggapi ucapan Reza.
Mereka mendorong diri mereka, semasa adu pukulan dengan Reza, Silvi menyadari bila dia sebanding dengan Hatma tanpa kekuatan Mirah. Keberadaan Mirah sendiri sebuah keanehan. Reza hanya korban dari rencana mereka, tapi suratan takdir berubah, sebab ada campur tangan manusia dari garis waktu yang berbeda dengan mereka.
Pasa pertarungan Reza dan Silvi hanya baku hantam biasa, selaku perkelahian biasa, terkecuali kekuatan es dan api tidak termasuk. Meskipun tubuh bergerak Silvi berpikir, dirinya yang lain tak tinggal diam, selagi Sahir Perusak belum betul-betul musnah.
"Lu bisa kagak kasih tau gue siapa lu sebenarnya huh?" Tanya Reza menghela tangan dan memukul tanah menciptakan api yang memutarinya.
__ADS_1
"Hanya satu kalimat, diriku yang lain akan menjadi penulis sejarah dan memicu amarah entitas terkuat yang mengaku pencipta.. walaupun meragukan.."
"Apa yang lu katakan?" Reza sungguh tidak paham dengan jawaban Silvi. Sementara Silvi merasa lega melihat reaksi ketidaktahuan rekannya Hatma ini.
Silvi yang telah bosan adu jotos menarik napas, dia mencabut sehelai rambut dan usai berada di telapak tangan. Rambutnya terbakar begitu saja tanpa ada alasan. Munculah sebuah jam, jam tersebut hadapan Reza membuatnya seolah-olah membeku.
Gadis ini membekukan waktu. Selagi Reza tak dapat bergerak Silvi memakai sarung tangan, dia dengan muka jijik menyentuh kepala Reza, sebelum sesaat lelaki ini merintih kesakitan dan kesadarannya belum seutuhnya pudar walaupun kini dia dikendalikan.
"Temukan Hatma. Potong kedua tangan dan kakinya, ingat, jangan biarkan gadis yang bersamanya itu mengambil hatinya jika dia memperlihatkan wujud aslinya.." titah Silvi sembari menampilkan kekesalan.
***
Gadis berambut perak ini menggoyangkan tubuh tuannya yang sedari tadi tidak bangun. Ia yang panik membawanya ke rumah sakit, dalam keadaan tidak sadarkan diri, Hatma membuka mata dan sehingga dokter tak tahu-menahu mengenai kondisi pasienya.
"Kau sangat bodoh. Untuk apa engkau membawanya ke rumah sakit?" Tanya Silvi tiba-tiba datang. Mirah yang menjumpai dirinya sendiri dari garis waktu yang berbeda segera mengigit bibir dengan kesal.
"Aku nggak pengin dihamili boneka yang kubuat oleh tanganku sendiri.." ujar Mirah menjambak rambutnya sendiri mengingat sebuah kejadian.
"Tapi, perkara itu belum terjadi, bukan? Pantas, kena---"
"Kenapa kau tidak membangkitkan Hatma? Kenapa kau masih mencintai seseorang yang telah mati? Kenapa kau ..." Mirah menghela napas sesudah dia menyadari ungkapan lisan yang keluar dari mulutnya.
Silvi berdecak kesal semasa matanya memperoleh ruangan Hatma berada, begitu dia menghunuskan pedangnya, Mirah bersicepat berdiri dan menendang Silvi hingga menabrak dinding. Dia memuntahkan darah susai mendapatkan kerusakan pada tubuhnya.
__ADS_1
Kedua gadis ini saling menatap, kekuatan mereka bisa terbilang setara atau sama. Tetapi, perbedaan yang cukup jelas sudah terlihat. Pengalaman Mirah sebagai Silvi di masa yang akan datang lebih melebihi dirinya yang sekarang, bahkan Silvi sudah menyadari jikalau jam itu masih melayang disisinya.
"Kau berada di garis waktu yang beda denganku! Kau jangan mengusik ketenangan dunia ini," kata Silvi yang sekarang tengah dipenuhi amarah meluap-luap.
"Aku tidak tahu apakah perkataanmu itu benar. Tetapi Hatma menyadarkan diriku disaat-saat terakhir, dia memberikanku kasih sayang diluar hubungan sebuah kekasih dan membebaskanku dari kekangan itu.."
Silvi mengulurkan tangan, jam serupa milik Mirah yang membekukan waktu kepada Reza sebelumnya muncul. Sontak saja waktu membeku bagi Mirah, meskipun gadis ini langsung terbebas, membuatnya terperanjat kaget mengetahui Mirah mampu bebas dengan sendirinya tanpa kesulitan.
"Beginilah cara membekukan waktu yang sebenarnya memperbudak durasi, bukan memohon meminta pada waktu untuk berhenti sesaat.." ujar Mirah saat dia memukul jam di sampingnya keras. Sontak saja hal tersebut membuat Silvi terkaget setengah mati.
Di dunia mereka terdapat penguasa waktu, semua yang berjalan di dunia ini akan berada dalam tangannya. Sihir Pembekuan waktu meminta izin dari penguasa waktu tuk memberhentikan durasi lawan, meskipun begitu, Mirah meminta dengan tak sopan.
Silvi menelan ludah sewaktu entitas penguasa waktu datang. Dia berjubah putih dengan membawa pena dengan jam raksasa di belakang punggung, mahkluk tersebut membelakangi Silvi, ia bertekuk lutut depan Mirah membuat nata Silvi membelalak.
"Digaris waktuku Hatma yang memanggil entitas penguasa waktu. Lalu, apa kau tau? Dia bukanlah meminta maupun memohon.. melainkan memperbudak waktu.." ujar Mirah menghela napas.
"Berarti tujuanmu datang kemari untuk apa?" Tanya Silvi merasa tebakannya salah.
"Melemahkan Hatma. Menghancurkan semua Sahir Perusak. Lalu, membuat kita berdua hidup bahagia dengannya.." ujarnya membuat Silvi sangat bingung.
Mirah belum usai menunjukan budak Hatma. Entitas lain muncul dari balik bayangan, mahkluk itu sangat mengundang rasa takut. Silvi sudah tak mampu tuk melihat hak tersebut dan mengangguk. Begitu Mirah melihatnya menyerah dia tersenyum lembut.
Tiba-tiba Hatma keluar dari pintu ruangan, perihal itu tersebut membuat Mirah dan Silvi kaget. Serentak saja dia mengentak tanah menggunakan kaki kirinya, memanggil rantai pengikat, sihir Pengikat murni dari Hatma tanpa campur tangan Mirah sama sekali.
__ADS_1
"Gawat," lirih Mirah. Semua rantai itu memelesatkan cepat menangkap semua entitas penguasa. Mereka semua masuk ke dalam tubuh Hatma, kemudian, remaja laki-laki ini menormalkan balik waktu kembali dan pingsan lagi usai beberapa saat.