Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
24


__ADS_3

Hatma sudah menceritakan segalanya yang telah terjadi kemarin hari. Muka Reza lekas bermuram kaget setengah mati, selepas Hatma memberinya ponsel, sama sekali tak ada riwayat panggilan dari Reza seusai kejadian tersebut.


"Gimana bisa?" Tanya Reza. Seraya dia mencoba tuk tenang kembali dengan mengatur napas.


"Entahlah.. tapi yang pasti ada musuh kita yang bisa menyamar sangat mirip, kita akan menggunakan sesuatu agar bisa saling membedakan nantinya."


"Kalo kau pake busana yang agak beda?" Saran Reza dengan wajah percaya diri saat mengajukan saran.


Hatma menjentikkan jari dan Silvi dapat bergerak lagi. Mereka kini terduduk di lantai, selagi Hatma dan Reza bersila depan layar laptop, gadis ini meniduri ranjang Hatma meninggalkan aromanya pada kasur seorang laki-laki dengan kesengajaan.


Silvi dalam hatinya waswas takut jikalau Hatma mulai curiga kepadanya. Karena ia sadar, memasuki dunia itu memerlukan izin, entah bagaimana dirinya bisa tau mengaktifkan Gapura Loka dekat seseorang yang memiliki izin mampu memanggil pintu itu.


"Ini pasti sengaja dari orang itu. Kenapa aku harus nurut ke dia? ... Keluarga biadab!" Batinnya.


***


"Eh! Kalian serumah?" Tanya Reza.


Hatma mengangguk selagi Silvi masih menempel erat. Sementara Reza tertampak agak kaget, tetapi waktu yang sama dia kelihatan senang. Dengan wajah gembira remaja itu meninggalkan kediaman Hatma dan lenyap dari pandangan mereka.


Pemilik rumah menutup pintu. Bulan putih terlihat jelas, awan-awan tak tengah menutupi rupa rembulan, Hatma menutup pintu selepas menikmati keindahannya dan kembali ke biliknya. Meskipun ia masih ditempeli oleh hama menggelantung.


"Kamu ngapain liatin bulan kayak gitu?" Tanya Silvi.


"Tidak, rasanya bulan itu sangat cantik." jawabnya.


"Keluargaku punya tradisi keturunannya menari bawah rembulan. Kamu mau liat?"


Hatma menatap muka Silvi yang merona merah, dia mendekap lebih erat menenggelamkan wajahnya pada Hatma. Laki-laki ini tidak memiliki alasan untuk menolak dan penasaran dengan tradisi keluarga itu, dimaksudkan sebagai apa, lalu apa tujuannya.

__ADS_1


Mereka berdua pindah ke halaman. Silvi dan Hatma melihat ke angkasa, bulan masih menampakkan dirinya. Ketika Silvi melepaskan pelukan tangan, dia memutar tubuhnya, tiba-tiba menghunuskan pedang seketika buat Hatma terkesiap kaget.


"D-Dari mana itu pedang berasal?"


"Pedang apaan?" Tanya Silvi.


Perlahan-lahan pemandangan mulai berubah, Silvi yang asalnya berpakaian layaknya remaja kekinian, kini busana yang dikenakan jauh berbeda. Hatma tidak sanggup berkata-kata, pemandangan berubah menjadi tempat luas serupa taman dimana Silvi tengah menari dikelilingi oleh banyak orang-orang.


Semua wanita di tempat ini membungkuk, semuanya meletakan dahi ke tanah dengan kedua belah tangan kecuali Silvi yang tengah bergerak bebas. Sedangkan para pria lagi berlipat kaki dan berapat lutut, serupa mereka tengah menghormati Hatma, selaku rajanya.


"Rembulan suci nan selaka senantiasa menyuar alam dunia," ucap Silvi bernada seperti melantunkan lagu.


Sesudah lisan Silvi selesai. Cahaya bulan menyinari gadis ini, membuat gaun putih, dengan perhiasan perak berkelap-kelip. Hatma pun menganga terpesona kecantikan Silvi. Disusul semerbak aroma bunga-bunga tercium oleh Hatma, tumbuh cepat dibelakang Silvi.


Tidak lama seusai Silvi mengangkat senjata, para wanita bertumpu pada kedua kaki, mereka turut ikut mengikuti tarian Silvi dengan memutari dirinya. Pikiran Hatma dibuat bingung, hingga dia hanya bisa mengikuti arus karena situasi terpaksa ini.


"Adiraja Adipurna membela majikan," kata Silvi lagi melanjutkan nyanyiannya. Bahkan suara alat musik masuk ke pendengaran Hatma secara misterius.


"Gusti suah merangkul jemputan sang Mair.." Silvi menyarungkan pedang dan berjalan menemui Hatma sembari berkata, "Senyampang hamba menari, memohonkan kesejahteraan Gusti paduka Hatma."


"Gusti paduka Hatma!" Teriak para pria yang berdiri tiba-tiba membawa pedang, lalu berbalik badan.


Hatma mendadak tanpa sebab memuntahkan darah hingga menciprati muka Silvi, maka bertelutlah dia duduk dengan kedua kaki dilipat ke lawan muka dan ditindih dengan kedua pantat sambil menangis terisak-isak. Silvi yang masih bertimpuh mengangkat kedua tangan seperti meminta sesuatu dari Hatma.


Dia mengulurkan tangan, telapak tangannya mengalir kan darah dan Silvi berkata, "padam hayat suah menyerukan teriakan keruntuhan cakrawala."


Ketika Hatma menaikkan pandangan, mereka sudah berpindah ke dalam ruangan dan dia sudah terduduk di atas takhta raja. Melihat hal ini membuat Hatma berpikir, ini seperti raja yang menyaksikan permaisuri duduk di depannya menunjukkan kehormatan.


Silvi mengambil tangan Hatma. Sebelum mencium, Silvi menaruh tangan Hatma di atas kepala dan mencium tangannya. Tidak lama kemudian, semua berakhir dengan Silvi sekilas menghilang meredup bagaikan cahaya dalam kegelapan, lenyap perlahan.

__ADS_1


"Silvi..."


Hatma kehilangan kesadarannya. Terjatuh mengenai Silvi dibawahnya, gadis ini menangkap Hatma dan memeluknya sembari menitikkan air mata. Bersama dengan luka-luka yang memenuhi tubuh Hatma, Silvi kelihatan menyesal memberikan luka padanya.


"Aku ingin kamu nafsu lagi sama aku, kamu udah nggak kayak dulu lagi. Padahal kamu udah ngelakuin hal yang nggak bisa dimaafin.." batin Silvi.


Mulut Hatma terbuka dan mengatakan, "bisakah kau menyingkirkan tangan kotormu dari tubuh tuanku?"


"Harusnya aku yang berkata gitu. Padahal kau cuma kekuatanku yang tersegel dalam permata yang punya kesadaran, kenapa kau memilih Hatma dan bukan orang lain? Jawab!" Kata Silvi menyerocos.


"Hmph. Tanpa diriku, Hatma pasti mati.." jawabnya.


Silvi mengigit bibir dan menerimakan kata-katanya barusan. Dia menarik Hatma, merangkulnya erat sambil melihat ke angkasa, bahwa bulan sudah bersembunyi dibalik awan lagi. Melihat hal tersebut Silvi merasakan perasaan campur aduk.


Besok harinya, Hatma terbangun dari tempat tidur dan menemukan Silvi sedang menautkan dua tangan mereka. Bibi pun membuka pintu menjumpai Hatma sudah siuman, ia membawakan secangkir minuman dan menyimpannya diatas meja dekat ranjang.


"Kamu nggak sadarkan diri dua hari. Silvi terus aja nempel, mau siang atau malam," ucap bibi.


"Begitu ya.." sahut Hatma lirih pelan. Selagi dirinya mengamati muka tidur Silvi, dalam hatinya tahu jika dia melupakan suatu kejadian penting semasih belum pingsan. Buat kepalanya sakit memikirkan itu.


Hatma memegang tangannya, mengguncangkan tangannya memicu gadis ini bangun. Lekas setelah bangun dia sontak memeluk Hatma, tiba-tiba tanpa peringatan. Bibi menyingkapkan pintu beserta tirai kamar, membiarkan sinar matahari masuk.


"Panti asuhan menyuruhmu membawa barang milik kamu. Ambil gih!" Perintah bibi.


"Sebentar lagi Hatma ambil," balasnya.


"Bi. Hatma lagi sakit loh," ucap Silvi.


"Halah.. tak heran lagi, nih anak keluar malam-malam hampir setiap hari sesudah rutinitas perkelahiannya tersebut.." ucap bibi seraya keluar dari kamar Hatma.

__ADS_1


Saat Silvi menatapnya, Hatma memalingkan muka dan pura-pura tuli. Walaupun Silvi sebenarnya tau, tetap saja dia melakukan sandiwara, meskipun pada akhirnya dia akan menjadi pengkhianat atau apapun namanya. Gadis ini memiliki tugas hidup serta situasi percintaan rumit.


Baginya takdir itu omong kosong, kemudian masa depan hanya bongkahan batu yang terus memutari isi dunia yang ditendang oleh seorang pencipta, bukan pencipta. Hanya entitas atau mahkluk rendah yang bersikap layaknya pencipta.


__ADS_2