Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
20


__ADS_3

Seminggu kemudian berlalu dengan cepat, mereka beraktifitas seperti biasa, paginya bekerja dan sekolah, malamnya memburu Rablis. Tiada berbeda dari sebelumnya dimana keduanya hanya remaja biasa, yang memiliki kegiatan layaknya anak remaja.


"Reza! Pukul Rablis capung ke tanah."


"Gimana gw mukulnya? Tuh mahkluk jauh di atas loh!" Jawabnya.


[Jantur: Lompatan Tinggi]


[Target: Reza]


Reza menghela napas. Dia melakukan lompatan ke udara, setelah mencapai Rablis campuran manusia dengan capung, dia memukul hingga menghantam tanah. Hatma pun melakukan perannya dan menghunuskan pedang, melakukan tebasan lurus tunggal diikuti petir yang menyambar.


Rablis capung yang terkena tebasan dia terpotong menjadi dua bagian. Sesudah itu tubuh Rablis menghilang, bertukar menjadi debu merah lenyap pada udara, seperti asap yang mengepul. Selagi Hatma melihat sekeliling Reza menghampirinya.


"Napa lu waspada begitu. Masih ada musuh?" Tanya Reza ikut memperhatikan sekeliling.


"Waktu di dunia ini berbeda dengan waktu bumi. Kita tidak perlu khawatir tentang sekolah maupun aktifitas kita. Namun, tenaga serta stamina tetaplah tak tergantikan," ucap Hatma.


"Bener juga. Kadang gw gak bisa mengendalikan diri atau perasaan, kayak ada yang mengatur.." ucapnya.


"Mungkin ini hanya perasaan Hatma saja. Jikalau ada seseorang yang mengawasi kita selama ini, kadang memicu sifat dan sikap kita berubah.." jawab Hatma.


Reza menggaruk-garuk kepalanya seolah-olah lagi bingung. Sementara Hatma mengulurkan tangan mencuaikan reaksi Reza, dia melemparkan sebuah cahaya ke angkasa, tapi tidak terjadi apapun. Buat dia menghela napas lega dan melantunkan mantra.


[Panggil: Gapura Loka]


"Hatma telah menggunakan sihir pelacak. Tidak ada Rablis atau mahkluk di sekitar," ucapnya.


"Baguslah.." gumam Reza. Reza menghela napas sebelum berkata, "bakalan repot kalau kita melawan Rablis di bumi. Kayak orang yang lagi bikin konten, tapi nggak jelas.. kayak bertarung lawan angin misal."


"Itulah alasan Hatma memintamu membeli topeng pada saat itu.. ya, lupakan saja itu dahulu dan lebih baik kita balik ke dunia asal.." kata Hatma.

__ADS_1


Mereka melewati gapura dan sampai di belakang kediaman Silvi. Reza langsung pamitan, anak remaja itu terburu-buru pergi, melihat rekannya tergesa-gesa Hatma tau bila orang itu bekerja paruh waktu. Karena kedua orang-tuanya telah tiada dan agar tetap hidup dia bekerja, untuk biaya sekolah serta hidupnya.


[Tugas opsional: menangkap jambret bermotor]


[Hadiah: uang]


"Uwah peka sekali," gumam Hatma bernada datar menduga hal ini akan terjadi.


Hatma mengedipkan mata menghilangkan layar yang menutupi pandangannya. Dia melihat ke kanan ada dua pria, mereka tengah mengintai ketiga siswi yang sedang bercakap-cakap, bahkan Hatma melihat salah satunya membawa belati di sakunya.


Dia berjalan mendekati kedua pria. Setelah didekati ada motor di belakang mereka, mereka tampak seperti waspada. Namun, kewaspadaan itu sebuah tidak ada apa-apanya bagi Hatma, Hatma berjalan dihadapan mereka dengan cepat.


[Jantur: Sangkala Laun]


"Hei paman berjenggot," panggil Hatma. Hatma kini mencabut kunci motor mereka dan berkata, "kalian tidak membutuhkan ini lagi?"


"Saya tidak mendengar suara langkah pak!"


Hatma tersenyum jahil dan berlari memasuki sebuah gang. Mereka menyusul remaja ini memasuki tempat gelap, sunyi nan sepi. Begitu menemukan Hatma, dia menatap mereka dengan sinis, beranggapan bahwa kedua pria ini tidak pantas hidup. Tapi Hatma berniat tidak membunuh mereka dan hanya memukuli saja.


"Ini yang berapa kalinya akting tersenyum?" Batinnya mengingat-ingat senyuman pada waktu itu.


"Kembalikan oi bocah!" Teriak pria ini. Kedua lelaki ini menghampiri Hatma dan berniat menusuknya, tapi sayang, lawannya ialah bocah yang telah biasa bertarung bahkan dengan monster raksasa.


Hatma menghindari ayunan tangan lawan. Namun, temannya menodongkan senjata api ke dahi Hatma dan hendak menarik pelatuk. Hanya saja, dia lambat sedetik, Hatma sudah berpindah ke belakang dirinya dan mencekik leher pemegang pistol dari belakang.


Dia tidak sengaja menarik pelatuk. Peluru mengenai pundak kawannya, mereka langsung pingsan usai Hatma memukul keduanya. Hatma menghirup udara dan berbalik badan, sontak dia terkesiap kaget ada yang menyaksikan aksinya barusan.


Bahkan kebetulan ini membuat kepala Hatma tidak dapat mencerna kejadian ini. Penolongnya dari situasi genting waktu itu dan sekaligus ayah Silvi, dirinya menonton tindakan Hatma barusan, yang anehnya dia tampak tidak heran. Justru melambai kepada Hatma seolah-olah tidak terjadi apapun.


"Sejak kapan Anda menonton?" Tanya Hatma.

__ADS_1


"Muka kalem kamu tampaknya yang buat anak saya jadi mencintaimu. Yah, lupakan itu.. terima-kasih telah membereskan mereka.." ucapnya.


"Apa mereka ada hubungannya dengan anda?" Tanya Hatma melirik kedua pria di belakangnya.


Ayah Silvi mengangguk. Dia mengambil dompetnya dan memberikan uang pada Hatma, Hatma menerima uang tersebut, meskipun dia disuruh untuk diam dan tidak tau apa-apa. Remaja ini mengangguk tanpa keberatan sesudah meminta dia berkunjung.


Hatma menuruti keinginan ayah Silvi. Mereka pergi ke kediaman keluarga Silvi, Silvi pun yang sedang berada di ruang tengah kaget kan kedatangan Hatma yang tiba-tiba. Dia serentak berdiri, lalu mendekati remaja laki-laki ini dengan wajah merona merah.


"Gimana?" Tanya Silvi sembari mengangkat sedikit rok panjangnya ke atas memperlihatkan kedua kaki.


Hatma menggaruk kepalanya sebelum merespon dan berkata, "bagaimana apa maksudnya?"


"Silvi bertanya tentang penampilannya," kata ayahnya mewakili Silvi yang kesulitan bicara. Selagi masih merasai malu gadis ini menggenggam tangan anak lelaki dan menariknya untuk duduk di sofa.


Silvi terlihat layaknya seperti anak gadis pemalu bila berada di sekeliling keluarganya, berkebalikan saat dirinya berada dilingkungan lain. Melihat ini Hatma serasa melihat orang lain. Namun, suasana disekitar gadis ini tetaplah tak bertukar, ada aura Sahir.


Dari semenjak Gapura Loka aktif hanya didekat Silvi, Hatma sudah penasaran. Dia hanya punya pilihan lebih dekat dengannya, memahami Silvi yang tidak memperlihatkan rasa sukanya secara langsung, laki-laki ini sadar bila salah satu keluarganya tidak suka kehadirannya di kediaman ini.


"Karena alasan itulah Silvi tidak agresif seperti biasa kah?" Batin Hatma dalam hatinya bertanya-tanya.


"Hatma. Aku kepengin kamu jadi pacarku," pintanya sambil menjadikan pangkuan Hatma selaku bantal.


Ayahnya kaget setengah mati, kopi yang tengah lagi diteguk menyembur keluar, masuk balik ke dalam cangkirnya. Dia menaruh gelas di atas meja dengan cepat dan menghampiri mereka, bahkan Hatma tak memperhitungkan ungkapan perasaan semacam ini.


Saat ayahnya hendak membuka mulut, Silvi segera melepaskan sebuah sarung tangan transparan dari pergelangan tangan dan menarik plastik yang menutupi wajahnya. Hatma sungguh kaget luar biasa memperoleh Silvi yang sebenarnya.


"Ini gadis benar-benar membuat Hatma kehilangan akal sehat," batin Hatma kebingungan.


"Silvi!!" Teriak wanita yang mendadak datang buru-buru dan menampar Silvi di hadapan Hatma. Hatma menatap wajah wanita ini usainya, tampak mirip dengan Silvi, sekilas mirip jika soal muka. Tapi sikap yang diperlihatkannya barusan sama sekali tidak.


"Maaf.. apa maksudnya ini?" Hatma berdiri kemudian bercakap, "kenapa anda memukul Silvi begitu keras.."

__ADS_1


"Situ siapa?" Kata wanita ini menentang Hatma. Saat Hatma berniat membalas ucapannya, ayah Silvi tiba-tiba menarik istrinya dan membawanya pergi. Selagi Silvi tengah merintih seraya menangis terisak-isak.


__ADS_2