
Silvi membuka pintu bilik Hatma. Gadis ini menonton wajah tidur laki-laki yang disukainya, dari pikiran dia tau bahwa melakukan ini ialah sebuah ketidakjelasan serta tindakan sia-sia. Pada akhirnya, gadis ini tetap menikmati momen baru pada pagi hari.
Lelaki yang merasai sakit mengerang. Dalam kondisi seusai bertarung, Hatma cukup menderita, seluruh tenaga diperas habis pada malam hari. Sementara di siang hari, ia juga musti memeras keringat, walaupun hanya sekolah dan ekstrakulikuler cukup memakan begitu banyak stamina.
"Andaikan aku bisa denger Hatma panggil dirinya pake kata 'aku' atau semacamnya.. pasti.." Silvi mulai menjeda kisikan. Dia berdiri dan bercakap, "mengapa dia memiliki kemampuan pengendalian jiwa sejak lahir? Kenapa orang yang kucintai, harus ku bunuh?"
Gadis ini perlahan-lahan mendekati pintu sebelum Hatma membuka mata. Silvi sudah meninggalkan biliknya semasih belum kesadarannya kembali, dirinya yang terlelap dalam tidur, diselimuti mimpi manis nan asam terbangun dengan wajah seolah-olah baru kembali dari medan pertempuran.
[Tugas opsional: membunuh Rablis]
[Hadiah: tidak ada]
"Mimpi ya?" Batin Hatma menjumpai layar beserta tulisan mengambang pada penglihatan.
Mimpi terkadang memperlihatkan sebuah tontonan sementara yang disimpan dalam kategori ingatan jangka pendek. Namun, Hatma senantiasa ingat, dari awal hingga bangun seakan-akan dirinya belum satu kali pun tidur dalam hidupnya.
Keinginan dan hajat kenyataan orang-tua tak pernah membuangnya sama sekali naik, bagaikan mayat tenggelam naik ke permukaan, seonggok daging tak bernyawa itu mulai memandangi cakrawala berharap dirinya bisa terbang bebas selayaknya burung.
"Bahkan banyak burung yang tertembak manusia, dikurung, diperjualbelikan, dan sebagainya.." ucapnya dengan senyum palsu. Sembari bertanya-tanya, "gila orang gila ini sedang menyenyumi siapa?"
***
Hatma memakai jubah tempurnya. Pelat pelindung dada serta pundak nyaris rusak, meskipun dia cukup menyayangkan jika satu-satunya zirah hancur pada saat semacam ini. Dia tau kalau takkan mungkin dia mendapatkan hal semacam itu di zaman ini.
"Lagi pula.. kalaupun ada, Hatma bisa beli?" Tanya Hatma pada dirinya sendiri.
[Jantur: Pertahanan Mutlak]
__ADS_1
Refleks Hatma berbalik badan dan menolak pukulan seseorang, begitu pula pukulan balasan didaratkan membuat Hatma kaget, ia tak kuasa mengendalikan gerakan tangannya. Sehingga Silvi terlempar sampai menabrak pintu kamar menghasilkan jeritan gadis.
Hatma tak peduli. Dia menuju jendela, sebelum dia pergi tangannya melambai, meskipun Silvi tampak kesakitan gadis ini membalas pamitan hatma. Biarpun gadis ini bertukar raut wajah sesudah Hatma menjauh dari kediamannya ini.
"Gimana mengarahkan Hatma ke panti asuhan? Ini cukup sulit. Ma gimana lagi, panggil Rablis aja dekat panti asuhan itu saja.." batin Silvi.
Sementara itu, Rablis yang dipanggil dapat muncul pada siang hari sekalipun, biarpun Hatma tahu kalau kasus ini cukup aneh. Sebabnya mereka tidak masuk dalam kategori Rablis alami, bahkan Hatma merasa jika Rablis yang muncul siang, memiliki akal.
Hatma melirik ke sebuah lapangan besar. Bersama Reza yang sedang dalam perjalanan, Hatma duluan memburu lawannya. Kali ini Rablis berwujud kucing setengah manusia. Lelaki ini tak bersicepat maju, ia memperhatikan gerak-gerik lawan terlebih dahulu.
"Dia takkan menyerang jika tidak diganggu," ucapnya sedikit memahami monster itu.
Teknik berpedang Hatma tiba-tiba muncul dengan sendirinya, bahkan orangnya langsung tak menyadari hal tersebut. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke bawah, bertepatan saat kedua kakinya menyentak tanah, dorongan kuat dari Pawana Kencang memberi tambahan kecepatan.
Hatma melesat dengan gerakan yang menyilaukan pandangan, ia melepaskan serangkaian tebasan pedang kuat yang menyala. Dia membunuh Rablis, memotongnya menjadi tiga bagian, meskipun begitu seperti dugaan Hatma. Rablis ini punya regenerasi.
Pukulan tangan buat lawan terpelanting jauh hingga menabrak tiang lampu. Efek Sahir menciptakan sedikit keringanan, pasalnya manusia biasa, jarang bisa melihat pertarungan Sahir. Walaupun demikian Hatma tahu tidak semua manusia tak melihat.
Hatma berlari sekencang angin, tanpa suara tanpa menjejak bumi, gerakan menyilaukan beserta ayunan pedang dengan serempak menyembulkan cahaya, ia menebaskan bilah dan memotong musuhnya sekali tebas. Disusul Cenangkas Pawana mencabik-cabik lawannya, meski tak mati.
"Cukup daging saja yang alot. Jangan kau," ujarnya sembari melukis wajah jengkel.
Usai melakukan serangan, Hatma mundur ke lawan muka, melihat jikalau lawan hendak menyerang balik lelaki ini mulai waspada. Ia mengambil perisai bulat dari penyimpanan dan bersikap siaga. Rablis bukan mendekat, melainkan memakai proyektil.
"Asal lo tau ya dek, gua nggak diajak pesta tuh satu masalah!" Kata Reza.
Reza menerjang musuh dan memukul benda yang berbentuk silinder itu, semasih belum ada tembakan terlontar, mereka menjaga jarak. Hatma melihat Reza dan memberikannya sarung tangan. Tanpa berkata apa-apa, dia menerima dan bersicepat memakainya.
__ADS_1
"Gue harus ngapain?" Tanyanya.
"Benda itu bisa menyerap ledakan dan sihir tingkat tinggi, tapi hanya bisa 10 kali.." kata Hatma. Melihat bila Reza masih butuh penjelasan, Hatma mengatakan, "alihkan perhatian mahkluk itu. Sisanya kau harusnya bisa menebak masa depan."
Reza tersenyum kecil sebelum berlari. Selagi rekan mengalihkan perhatian, Hatma melirik ke belakang, sesudah dia menggenggam kapak, lalu melepaskan tangkainya. Hatma membidik targetnya. Melantingkn logam tajam tersebut, begitu lemparan mendekat, Reza langsung menghindarinya.
Selepas Rablis kehilangan keseimbangan, Hatma cepat bergerak dalam gerakan menyilaukan, dirinya mengelilingi musuh dengan tindakan yang berliku-liku. Melihat hal semacam ini buat si Rablis bingung melihat Hatma yang bergerak dengan cepat.
"Gue lagi kayak liatin kilatan lampu doang," kata Reza bernada pelan dengan senyum kecut.
Sesudah memakan cukup waktu, Hatma muncul di belakang lawan, lawan tahu akan hal itu dan melepaskan hembusan pisau angin. Terlihat bahwa Hatma terpotong-potong oleh serangan Rablis itu barusan, menyaksikan hal itu Reza memburu napas.
"Sayang sekali. Itu hanya bayangan Hatma," ucap Hatma di atas kepala Rablis.
"Hatma?" Reza membelalakkan matanya.
[Jantur: Sangkala Laun]
Waktu yang melambat memberikan kesempatan tuk Hatma menebaskan pedang, disertai angin yang tajam. Mendadak lima serangan serentak tercipta, buat siapa yang melihat Hatma melakukan sekali tebasan, melainkan dia menebas berulangkali dalam kecepatan tinggi bertepatan Sangkala Laun aktif.
Rablis pun meraung-raung sebelum badannya hancur menjadi beberapa bagian. Bertepatan dengan Hatma melihat senjatanya pecah, membuat semua pedang patah, maupun pedang rusak tak ada. Ia memerlukan pedang karena itulah dia memperbaiki Sord Kembar.
"Ini yang ke berapa Hatma memperbaiki pedang yang sudah hancur?" Tanyanya dalam hati.
Reza melemparkan krikil, lalu pergi selepas pamitan dengan cara aneh. Hatma tak mengindahkan Reza dan balik melihat ke debu-debu berterbangan, layak disebut jiwa ataupun ruh, meskipun begitu Hatma tak cukup percaya telah membunuh banyak nyawa.
Hatma melepaskan pakaian tempur dan mengganti menjadi busana anak remaja. Dia merasa enggan jalan kaki, kemudian memakai Teleport langsung bertujuan ke halaman belakang. Cahaya pun segera menyelimuti sekujur tubuhnya dan menelannya.
__ADS_1
Begitu membuka mata, Hatma terkesiap kaget, dia melihat Silvi yang tengah menangis dibawah pohon dengan terisak-isak memanggil dan menyebut nama seseorang yang memiliki makna nyawa. Hatma tak lekas mendatanginya, tapi membuat suara terlebih dulu menandakan kedatangan seseorang.