Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma

Sistem Sahir Mirah Bengis Hatma
bab 08


__ADS_3

Hatma terengah-engah memburu napas setelah menghabisi musuhnya, tidak tanggung-tanggung lawannya, lemah tidak kuat pun tidak. Membuat Hatma berdecak kesal karenanya. Hatma melihat penyimpanan, membuatnya terperanjat jikalau hadiahnya itu dua pedang dan sepasang pelindung.


Cahaya yang mendadak muncul menyembulkan keluar pedang beserta Jubah Tempur, Hatma mencoba memakainya. Dengan pelat atau logam pipih sebagai pelindung dada, beserta dua sarung tangan kulit dipasangi besi di setiap buku tangan memberikan kesan seperti abad pertengahan.


"Hatma pikir ini cukup keren. Tapi agak mencolok kalau kelihatan orang lain," gumamnya.


Dia melihat ke pundak, baru menyadari bahwa pelindung bahu dan lutut juga ada. Yang berada di pikirannya saat ini, mengapa tidak ada sepatu? Dia tidak menyangka kalau menggunakan bagian atas lengkap sementara alas kakinya sandal.


"Ah, ada beberapa skill dan jantur terbuka. Lalu, ada satu sihir terbuka? Gegana?" Batin Hatma.


Remaja lelaki ini hendak melakukan percobaan sebelum menggunakan, semasih belum memakai sihir ini, ada deskripsi tentang sihir ini. Perihal ini membuat Hatma terkesiap kaget, karena selama pemakaian jantur dan skill tidak ada deskripsi mengenai teknik atau jurus apa yang kan digunakan.


Gegana, Gegana merupakan sihir tingkat paling tinggi dalam skill berelemen petir. Serangan berupa petir yang menyerang target, dampaknya kerusakan sungguh besar hingga bisa meninggalkan bekas semacam kawah pada tanah. Sihir ini tak digunakan dengan sembarangan dan memerlukan media.


"Ini bisa jadi senjata pamungkas, Hatma bakalan menggunakan sihir ini saat melawan musuh kuat saja. Lagi pula, masih ada skill yang terbuka.."


[Tugas wajib: membunuh Reza]


[Hadiah: ???]


[Konsekuensi gagal: ???]


Mata Hatma membelalak kaget waktu menemukan kata-kata di layar pada penglihatan, dia membaca kalimat ini berulang-ulang, tetapi hasilnya tetaplah sama. Ketika bermaksud melangkah balik menuju rumahnya, ada suara anjing melolong panjang dan keras seperti tengah kesakitan.


Dia menoleh ke sekitar, menyadari hawa udara di tempat ini agak pelik. Memutuskan untuk berkeliling sebentar Hatma melangkahkan kaki, dengan tidak melepas Jubah Tempur dan memegang pedangnya tanpa memasukannya ke dalam sarung.


"Apa maksud tugas tadi? Sebelumnya memerintah agar berteman.. sekarang.."


Kaki Hatma berhenti bergerak. Dia menyaksikan lagi target baru tengah merokok. Bukan sebuah pemandangan baru, Hatma telah melihat Reza yang merokok berulang-ulang kali. Hatma terdiam tanpa sedikitpun gerakan, lebih-lebih napasnya pula begitu teratur atau manual seolah tak membutuhkan.

__ADS_1


Pandangan Reza melekat ke angkasa, dirinya seakan tengah melamun sendiri mencoba melepaskan beban di pundaknya, untuk sementara. Dia menghela napas sembari mengigit tangan, tangan pucat yang terdapat kuku-kuku jari panjang seperti mengalami kelainan pada lengan buat Hatma mengigit bibir.


"Ternyata benar. Reza itu seora-- tidak, seekor Rablis setengah manusia.." batinnya.


Hatma menarik Sord Kembar dari sarung pedang, begitu akan diayunkan bilah Sord yang retak serta menampakkan asap menyembul keluar dan patah seusainya. Hatma menganga cukup begitu lama mendapati senjatanya rusak, meskipun beberapa hitungan kali saja digunakan.


[Apakah Anda ingin memperbaiki Sord Kembar?]


[Biaya: umur 1 hari]


[Ya/Tidak]


Reaksi laki-laki ini tersenyum kecut biaya perbaikan yang sungguh mahal, dia lebih memilih menggunakan pedangnya yang baru. Walaupun agak besar dan sulit dipakai, Hatma pikir nantinya akan terbiasa dengan senjatanya. Yang tengah dipikirkan keras olehnya ialah Reza, Reza diam memandangi langit saja mengherankan Hatma.


"Apa yang ingin dilakukannya?" Tanya Hatma pada diri sendiri seraya membuang Sord Kembar ke dalam tong sampah.


Bertepatan dengan bulan tertutupi awan-awan buat cahaya rembulan tidak mengenainya, tiba-tiba Reza meregang-regangkan serta menarik-narik tangan seperti tengah memberontak pada sesuatu perihal. Karenanya Hatma bersikap siaga bersiap melawan segala ancaman yang ada.


"Apa-apaan itu sih! Gila sekali kedua kakinya itu," kata Hatma menggerutu diatas ranjangnya.


***


Reza menjauhkan ponsel dari dekat telinga, sewaktu seusai mematikan ponselnya, Reza tersenyum ceria mendengar berita sekaligus ajakan yang membuat ia senang tidak kepalang. Dia menoleh ke samping menemukan Silvi tengah berjalan, dengan muka Silvi bermuram seperti sedang merasai sedih.


"Bosenin banget. Kita ke warnet aja yuk, ada game baru yang dipasang loh!" Ajak Reza dengan muka senang nan gembura.


"Kagak minat," balas Silvi spontan.


"Ehhh.." Reza tampak kecewa dan mengatakan, "kali ini Hatma juga ikutan. Dia ajak gue main ke sana."

__ADS_1


Silvi mencengkram gelas di tangan, menghancurkan benda tersebut berkeping-keping menciptakan ketakutan pada Reza. Mereka yang baru pulang sekolah pun, bersicepat pergi ke warung internet, lalu menjumpai Hatma tengah menunggu selagi sudah duduk di kursi menatap layar komputer.


"Njir. Hatma main di warnet loh, ini pertama kalinya banget.. gila.."


"Nggak, Reza perhatikan lagi deh.. dia lagi membuat file untuk tugas pelajaran TIK tau," jawab Silvi menanggapi reaksi Reza yang menemukan Hatma.


Wajah maupun ekspresi Reza seolah mengatakan, 'oh begitu ya' sembari berkecil hati harapannya tak terkabul. Mereka berdua melewati pintu, seusai menghampiri Hatma, Hatma mengerling pada dua remaja ini dengan tatapan tajam.


Silvi tidak mengindahkan hal tersebut. Dia duduk di kursi sisi Hatma, selagi Reza menemui penjaga warnet dan bercakap-cakap dengannya, Hatma kini memberhentikan kegiatan. Dia berdiri, lalu menjumpai reaksi beserta respon penjaga warnet sama sekali tidaklah aneh.


"Waktu itu jelas-jelas Reza mengamuk di tempat ini dan orang itu kena dampaknya juga, tapi mengapa mereka bisa bicara sesantai itu?" Batinnya Hatma berpikir keras menimbang-nimbang keputusan.


Hitungan menit kemudian berlalu, mereka bertiga bersenda gurau cukup akrab meskipun Silvi menguasai pembicaraan. Segala gerak-gerik Hatma begitu minim, namun, matanya terus mengamati dan menilik sekeliling lebih-lebih suara kelereng diindahkan oleh Hatma sekalipun itu sangat kecil.


"Hatma. Kamu kok bisa ajak Reza sementara sama aku nggak mau?" Tanya Silvi memasang cemberut.


"Sederhana saja. Kau perempuan," jawabnya.


"Andaikan aku laki-laki," lirih Silvi nyaris tak terdengar.


"Nggak, kalo lu laki-laki kagak bisa nikahin Hatma dan punya anak dong.." angkat Reza memasuki percakapan mereka. Memicu amarah bersinggah ke Silvi yang sedang adem ayem terusik.


Hatma membuang napas berada ditengah-tengah pertengkaran dua remaja, cek-cok ini melibatkan Hatma membuatnya kesal. Dia menatap wajah mereka berdua, lontaran kata-kata keluar tanpa satu pun beban, menerbitkan ingatan manisnya.


Apatah gunanya kekuatan jika kehilangan hal paling penting bagi khalayak ramai. Hatma menimbang-nimbang keputusannya untuk membunuh Reza, tapi kali ini dia merasa kesukaran memilih keputusan tanpa adanya satupun opsi atau pilihan.


Hatma menelan ludah. Dia menarik perlahan-lahan sebuah pisau, selagi bermaksud akan mengaktifkan jantur, justru Reza menepuk pundaknya dengan ekspresi wajah bahagia. Mendadak seketika itu juga Hatma berdecak kesal dan menatapnya tajam.


"N-Ngapain lu liatin muka gue kayak gitu?" Dengan penuh kegugupan Reza bertanya.

__ADS_1


"Matilah," ungkap Hatma.


"Ugh!" Mata Reza membelalak begitu merasakan rasa sakit dari tindakan Hatma yang spontan barusan.


__ADS_2