
Satu Minggu pun berlalu, kelopak mata Hatma mulai terbuka menjumpai dua Silvi tengah memeluknya dari kiri kanan. Dia berusaha untuk bangun, tetapi dia merasai jikalau sekujur tubuhnya kaku serasa batu, begitu dia membuka selimut ternyata ada tali diikat pada kedua tangan beserta kakinya.
Seakan-akan dirinya memberontak sewaktu dirawat oleh dokter. Hatma melihat ke sekeliling, terdapat suster yang membereskan tempat tidur pasien lain dan sewaktu Hatma ingin bicara, justru suaranya itu terdengar seperti decitan tikus membuat terperanjat kaget durinya walaupun Hatma tidak panik.
"Tuan...?" Mirah menaikkan pandangan memperoleh Hatma menatapnya balik. Sontak dia menampar Silvi yang memeluk Hatma dari sisi lain dan tertampak menggeram nan kesal srupa serigala sedang marah.
"Apa yang kamu lakuin sih? ..." Silvi menoleh kepada Hatma dan berteriak, "akhirnya kamu bangun!!"
"Ah! Apa yang kau lakukan, bajingan?" Bentak Mirah mendorong muka Silvi yang tiba-tiba saja memeluk Hatma lebih mendekat ketimbang sebelumnya
Hatma yang melihat kedua gadis di hadapan segera menyundul keduanya, lalu dia berupaya lepas, kedua tangannya dia tarik berusaha melepaskan ikatan. Sehingga setelah menggunakan kekuatannya, ikatan yang terbuat dari kulit robek dan Hatma mulai bebas untuk bergerak beserta dapat beranjak dari ranjang.
Suster yang melihat Hatma melepaskan diri cepat-cepat bergegas pergi, dia terlihat panik sewaktu meninggalkan ruangan. Hatma menghela napasnya dan menghancurkan semua tali, selagi kedua gadis ini melihatnya dengan muka khawatir. Ketika Hatma berniat mengajukan pertanyaan datang seseorang.
Dokter memasuki ruangan, ada empat laki-laki yang menatap tajam kepada Hatma, dikarenakan adanya tali kulit lagi. Dia beranjak dari ranjang sembari waspada, semasa akan membuka mulutnya, mereka mendekat perlahan-lahan seraya berkeringat dingin.
"Jangan memberontak. Kami pasti akan membuat Anda sembuh," ungkap dokter seraya mendekat.
"Ugh!" Rintihan Hatma terdengar jelas bahwa dia lagi menahan rasa sakit. Dalam bayangannya dia melihat dirinya sendiri tengah memberontak sewaktu akan disuntik, ingatannya menampilkan Hatma berteriak-teriak sangat keras sampai suaranya seperti tikus.
Saking kencangnya pita suara Hatma pecah, hingga kini dia belum melakukan penyembuhan dan dia terjebak di situasi musti melawan orang lain. Sebab tidak punya pilihan Hatma mengangguk, dia pergi menuju ranjangnya kembali dan merebahkan dirinya.
Sesudah perbincangan cukup lama. Dokter sepakat mempulangkan Hatma setelah mengecek keadaan dari tubuhnya, mengingat kerusakan pada badan, bahwa ada detakan lain selain dari jantung di tubuh Hatma membuat para dokter riuh ramai tak karuan.
"Pemerikasaan akan dimulai tujuh jam lagi," katanya dokter sembari menutup pintu.
__ADS_1
Sesudah dokter angkat kaki dari ruangannya, Hatma menarik napas lega dan menatap kedua gadis yang sedari tadi bertengkar. Mirah berdiri menundukkan kepala, dia berkata bila detak jantung itu berasal dari batu permata di dada Hatma, namun karena orang-orang tertentu bisa melihat rupanya mereka kaget.
"Sudah kuduga," ujar Hatma. Tiba-tiba Silvi sekarang memejamkan mata seolah sedang menunggu suatu.
"Katakan padaku, Silvi. Sebenarnya siapa kau itu dan beberkan segala rahasiammu kepadaku.." ujar Hatma menaruh tangan di atas kepala Silvi. Mendapatkan tindakan Hatma ini, Silvi tahu jikalau ia lagi diancam.
[Skill: Bolide]
Dari telapak tangan Hatma muncul sebuah bola api dan lenyap seketika, menjumpai perihal tersebut, Hatma sudah tidak kaget. Terlebih lagi sewaktu dia mendengarkan kata-kata Mirah, muka kebingungan pada durja miliknya sama sekali tidak murni bingung.
"Aku nggak bisa cerita. Kalau kamu maksa pengin aku cerita, kita bakalan saling mengentakkan senjata masing-masing, loh.." kata Silvi terang-terangan menyatakan secara tidak langsung bahwa dia lawan.
Dalam pikiran Mirah, memikirkan bagaimana Hatma dapat membedakan mereka, biarpun wajah diantara keduanya sangat mirip. Dia menghampiri Hatma dan duduk di sampingnya, saat mereka bersentuhan, ada sebuah cahaya merah merubah Mirah menjadi sebuah mirah dan melayang masuk ke tubuh Hatma.
"Bicaralah seperti ini. Jikalau ingin mengaktifkan sihir, pakai cara biasa, kalau soal tugas maupun hal lainnya gunakan mulutmu.." jawab Hatma sembari dia melepaskan telapak tangan dari kepalanya Silvi.
"Apakah Anda bisa mengerti apa yang terjadi?" Tanya Mirah mengingatkan Hatma mengenai Reza. Dia berada di kamarnya sekarang, bila kata dokter benar, dia telah pingsan selama satu Minggu Reza mungkin saja telah bangun dan kebingungan mencari Hatma.
***
Hatma buru-buru turun dari taksi meninggalkan Silvi untuk membayarnya, selagi supir melihatnya serupa seperti kabur sewaktu akan membayar. Dia segera lari ke kamar, tanpa mengacuhkan bibi yang hendak bicara, sewaktu pintu terbuka tak ada Reza maupun tanda-tanda seseorang tinggal di biliknya sekalipun.
"Dia bahkan tidak ada di kamar tamu juga?" Gumam Hatma menggaruk-garuk kepala merasa keheranan.
"Hatma. Kau sebenarnya melakukan apa hingga bisa terluka separah itu? Selama ini kamu ngelakuin apa di belakang bibi, hah!" Kata bibi seraya memukul Hatma dan yang dipukul hanya diam tanpa kata-kata.
__ADS_1
Hatma pun pergi meninggalkan bibi tanpa sekelumit cerita maupun kata-kata, dia hanya pamit, lalu berkata akan menepati janjinya pulang sebelum hari sudah gelap. Janji yang sudah diingkari oleh dirinya berpuluh-puluh, kali mungkin, sekarang kan terulang.
Remaja ini kabur dari pertanyaan yang dilontarkan oleh pengurus dirinya sejak ditinggalkan ayah angkat, Hatma kesal, tapi dia tetap menggerakkan kakinya khawatir dihantui penyesalan. Dia terhenti sewaktu memperoleh keributan dan asap-asap di pusat kota, segera dia berpindah ke tengah kota.
[Skill: Teleport]
[Tujuan: pusat kota]
"Cepatlah, Mirah!" Kata Hatma mendesak. Cahaya menelan ia yang tengah berpindah ke tempat tujuan.
Belum usai terkejut menjumpai para tentara sedang melawan Reza, Hatma menekuk lututnya merasai sakit pada dadanya. Napasnya memburu menimang-nimang keputusan. Tetapi, Hatma enggan mundur, dia bangkit berdiri lalu menghunuskan senjatanya.
Hatma berteriak membuat menjadi pusat perhatian, para tentara pun langsung mundur, ketika mereka melihat Hatma mendorong monster itu. Seketika dia berusaha menendang Reza, tiba-tiba tembakan dari seseorang mengenai punggung Hatma, sehingga dia kehilangan keseimbangan dan Reza memukulnya.
Dia terpelanting belasan meter, saat dihentikan oleh salah satu tentara, ketimbang terima-kasih Hatma justru merebut senjatanya dan membawa pistol dari tentara tersebut. Hatma melompat ke atas, melempar pedang, berhasil mengenai kepala Reza, kemudian mengambil kesempatan.
"Mirah. Keluarlah, lalu kita kepung Rablis itu!" Titah Hatma kepadanya.
"Yah.. janjiku muncul ketika tuan berada pada situasi bahaya," ujar Mirah keluar dari dada. Sebelum mirah bertukar wujud menjadi manusia, batu permata makin membesar setiap detiknya, lalu menjadi dua.
Kedua bongkahan batu permata itu salah satunya menjadi wujud Mirah, lalu satunya lagi menjadi pedang. Hal tersebut membuat Hatma cukup kaget, dia menghela napas, bersicepat mengambil tangan Mirah dan melemparkannya tuk sampai pada Reza.
Mirah membalikkan cengkraman tangkai pedang dan menebaskan pedang, selama satu detik, serangkaian goresan langsung tersampaikan pada lawannya. Disebabkan Hatma kan menerjang maju, Mirah berlari mundur usai memukul balik Rablis, ia menonton tuannya menggunakan sihir angin beserta api secara bersamaan membuatnya tertegun.
"Hebat banget. Tidak kusangka, Atma benar-benar entitas pertama terkuat di alam semesta ini," ujarnya.
__ADS_1